Vanoztra

Vanoztra
13. Cari mati!



Syarat yang diberikan oleh Elgara kemarin, Ayra iyakan saja, padahal hatinya 100% tidak menerima cinta Elgara. Karena dari awal hanya rasa dendam yang ada di hati Ayra untuk Elgara.


Lagi pula, belum tentu juga Elgara mencintai Ayra sepenuhnya. Bisa saja hanya karena syarat atau ada hal lainnya hingga Elgara ingin menjadikan Ayra sebagai pacar.


Di pagi hari, Regina sedang menyiram tanaman di halaman rumah. Aktivitasnya terhenti setelah melihat motor berwarna hitam berhenti di depan rumahnya. Regina sempat bertanya-tanya, tapi setelah orang itu membuka helm—Regina tersenyum.


"Pagi Tante," sapa Elgara sembari mencium punggung tangan Regina.


"Ayra ada?" tanya Elgara.


"Pagi El, Ayra baru aja tadi berangkat," jawab Regina sembari tersenyum.


"Oh, gitu ya, Tan. Elgara kira belum berangkat. Ya udah kalo gitu Elgara pam—"


"Eh, El, Tante mau bicara sama kamu. Masih ada waktu enggak? Kalo gak bisa sekarang nanti pulang sekolah kamu ke sini," ucap Regina.


Elgara melirik pada jam tangannya, kemudian ia mengangguk. "Bisa Tan, lagi pula masih jam 06.30. Elgara biasa pergi jam 07.00. Tante, mau bicara apa?" tanya Elgara.


"Em, kita bicara di dalam aja, yuk," ajak Regina yang langsung diangguki Elgara.


Elgara berjalan mengikuti langkah Regina di belakang. Saat tiba di ruang tamu, Elgara melihat ada Tomi yang sedang membaca sebuah buku ditemani secangkir kopi.


"Pagi Om," sapa Elgara.


Tomi mendongak. "Eh, ada Elgara, pagi," ucap Tomi sembari tersenyum. Saat itu pula Elgara mencium punggung tangan Tomi.


"Ma, foto keluarga kita kemana, sih? Papa cari-cari gak ada loh," tanya Tomi.


"Mama juga gak tau dan sempat cari, tapi gak ada. Nanti kita tanya Ayra, ya, Pa," jawab Regina setelah duduk di kursi.


"Sini El, duduk. Tante sama Om mau bicara sama kamu," ucap Regina, Elgara pun mengangguk sopan, lalu terduduk.


"Jadi gini El, Om sama Tante mau ...." Tomi menjelaskan pada Elgara diselingi oleh Regina juga.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Ayra melangkahkan kaki menuju kelas. Di kelas sangat sepi hanya ada Alia yang tengah terduduk sembari menundukkan kepalanya. Ayra mengernyitkan kening saat memperhatikan Alia yang tak bergerak.


Memang sudah menjadi kebiasaan Alia menyendiri di kelas. Karena ia sulit untuk bergabung. Hingga tak ada orang yang mau berteman dengannya.


Dan rata-rata orang introvert akan menjadi bahan bully. Begitu pun dengan Alia yang sering dibully oleh satu kelas dan terkadang oleh Elgara juga. Mungkin hanya Ayra saja yang mau mengajak Alia mengobrol.


Bagi Ayra, Alia itu baik dan juga ramah, walaupun kita harus mendekatinya lebih dulu. Kini Ayra berjalan menuju meja Alia karena ia merasa heran dengan tingkahnya.


"Alia?" panggil Ayra.


Alia tak menjawab, ia tetap menundukkan kepala. Tidak seperti biasanya Alia tak menjawab panggilan Ayra. Detik berikutnya tangan Ayra menepuk pelan pundak Alia.


"Are you okay?" tanya Ayra masih tidak dijawab.


"Alia, kamu kenapa?" tanya Ayra sekali lagi.


Alia masih tak menjawab. Hingga beberapa detik terdengar suara tawa dari bibir Alia, kemudian berganti suara tangisan. Tingkah Alia membuat bulu kuduk Ayra berdiri.


"Kamu kenapa? Baik-baik aja, kan, hei!" Ayra mencoba bertanya lagi.


Alia menatap ke samping di mana Ayra berdiri dengan tatapan tajam, kemudian Alia tertawa kembali sembari memainkan rambutnya.


Oke, kali ini Ayra paham, kali ini Ayra tau, Alia kenapa. Gadis itu melangkah mundur sembari terus melihat ke arah Alia. Saat akan berlari— tangannya dicekal kuat.


"Akh! Lepasin! Alia lepasin!" teriak Ayra sembari berusaha menarik tangannya.


"Eh bukan, lo bukan Alia, kan? Aduh ... lepasin setan! Lo masih pagi gak ada kerjaan masuk ke tubuh manusia! Gak lucu tau pagi-pagi masuk ke raga orang! Pantasnya malam, dongo!" oceh Ayra kesal karena tangannya tidak dilepas-lepas.


Tawa hantu yang berada di raga Alia semakin keras. Membuat Ayra semakin merinding mendengarnya. Detik berikutnya Ayra menoyor kepala Alia cukup kencang.


"Gak usah ketawa, bagong! Eh—setan! Aaaaaa! Mamaaa! Lepasinnnn!" teriak Ayra.


"LEPASIN SETAN! LO MAU, GUE BIKIN MATI DUA KALI, HAH?!" bentak Ayra, kemudian Ayra menendang kaki Alia dan akhirnya tangannya berhasil terlepas dari genggaman setan laknat itu.


Sebenarnya Ayra gak tega menendang kaki Alia karena begitu pun itu tubuh Alia. Pasti saat sadar Alia akan merasakan sakit akibat tendangannya, tapi kalo Ayra tak menendang tangannya pasti tetap dipegang.


Saat berlari menuju pintu—shit! Ayra menabrak seseorang. Untung saja Ayra menarik lengannya jadi ia tidak jadi jatuh kebelakang. Ayra mendongak menatap wajah orang yang baru saja ditabraknya.


"Kenapa lari-larian mulu, sih? Kemarin di koridor sekarang di kelas," tanya Elgara sembari menyibak anak rambut milik Ayra yang menghalangi wajah gadis itu.


"HIHIHIHI!!!"


Ayra semakin erat memegang lengan Elgara saat setan tersebut kembali tertawa. "El! Alia kesurupan, El," ucap Ayra.


"Hah, kesurupan?" tanya Elgara sembari memastikan.


"WOI! BANTUIN, ALIA KESURUPAN LAGI!" teriak Elgara membuat orang-orang yang berada di luar kelas segera masuk ke dalam kelas untuk membantu Alia.


'Lagi? Itu artinya Alia sering keserupan. Gila! Gue baru tau.'


Kini, Ayra dan ketiga sahabatnya terduduk di kursi depan kelas bersama anak Vanoztra. Ayra terus meneguk air minumnya hingga tersisa setengah lagi. Pandangan Elgara terus menatap ke arah Ayra.


"Lo diapain tadi sama setannya?" tanya Elgara.


"Tangan gue dipegang kuat banget. Sampai gue bingung cara lepasinnya. Terpaksa gue tendang kaki Alia," jawab Ayra.


Anak Vanoztra dan juga Fourangels tertawa terbahak-bahak membayangkan kejadian Ayra tadi. Mereka semua langsung mendapati pelototan tajam dari Ayra.


"Tapi lo baik-baik aja, kan?" tanya Nana.


"Iya gue baik-baik aja. Emang Alia sering kesurupan?" tanya Ayra.


"Iya kadang sih. Itu tuh, karena dia menyendiri mulu coba kalo gabung sama kita-kita. Ngobrol kek, apa gitu. Gak akan kosong pikirannya," sahut Maudy.


"Beban sekolah, anjir," ucap Elgara.


"Heh! Gak boleh gitu, dongo!" ketus Ayra.


"Alia tuh cantik sampai makhluk gaib aja suka sama si Alia," ucap Anggara.


"Ya udah sana kamu pacarin aja dia kalo emang kata kamu cantik," ujar Shafira, lalu ia melenggang pergi ke dalam kelas.


"Mampus!" ujar Brio sembari tertawa puas, diikuti yang lainnya.


Setelah puas menertawakan Anggara. Mereka kembali mengobrol sembari menunggu bel masuk berbunyi. Karena sudah jam tujuh pun bel belum berbunyi, mungkin para guru sedang sibuk mengurusi Alia.


"Yang jadiin si Alia gebetan kasihan anjir saingannya beda alam," ucap Mario.


"HAHA! Bisa-bisanya lo kepikiran sampai situ," ucap Brio sembari tertawa.


Bukan hanya Brio yang tertawa, mereka semua pun tertawa terbahak-bahak atas ucapan Mario.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Ayra," panggil Elgara.


Niat akan membuka pintu mobil pun Ayra urungkan, ia menoleh menatap Elgara datar. "Apa? Gue mau pulang," ucap Ayra.


"Iya, gue tau lo mau pulang. Besok ke sekolah bareng ya, nanti pagi gue ke rumah lo," ajak Elgara.


"Embung!" ketus Ayra. (Gak mau)


"Bodo amat. Mau lo gak mau kek, mau lo nolak. Pokoknya besok gue jemput lo!" ucap Elgara yang langsung dihadiahi tendangan dari Ayra.


"Maksa mulu ya, lo! Kalo gue bilang gak mau, ya gak mau!" bentak Ayra sembari melotot tajam.


"Lagian lo siapa gue—" Ucapan Ayra terhenti setelah ia ingat statusnya dengan Elgara kini. Cowok yang ada di hadapannya mengangkat satu alisnya.


"Pacar kamu sayang ... kamu mau aku sekap di basecamp, hm?" ucap Elgara, kemudian menggenggam tangan Ayra.


Ayra berusaha melepaskan tangan Elgara yang bertaut dengan tangannya. "Ih! Gak mau! Iya-iya, lo pacar gue, gue pacar lo. Lupa tadi ..." ucap Ayra.


Cowok itu pun menarik Ayra ke dalam pelukannya, kemudian menatap lekat Ayra sembari tersenyum manis. Ayra pun memberikan senyuman semanis mungkin pada Elgara. Damn it! Senyuman itu lagi-lagi membuat raga Elgara runtuh.


Ayra kembali meletakkan kepalanya di dada laki-laki itu. "Gue sayang lo, El," kata Ayra.


"Gue ju—"


"Tapi bohong! Wlee!" ucap Ayra sembari mendorong tubuh Elgara.


Senyuman yang tercetak di bibir Elgara luntur begitu saja. "Gila kali gue anggap lo pacar, apalagi sayang sama lo, dih. Jangan mimpi!" ketus Ayra.


Ia buru-buru masuk ke dalam mobil sebelum laki-laki itu menarik tangannya. Elgara hanya menggelengkan kepalanya sembari terus menatap ke arah kaca mobil.


"Awas aja lo, Ra, gue sumpahin lama-lama lo ngemis cinta ke gue," ucap Elgara.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Di malam hari, Elgara membelah jalanan di kota Bandung, diikuti oleh keempat temannya di belakang. Deruman motor saling bersahutan meramaikan jalanan yang sepi di jam 11 malam. Kelima pemuda ini baru saja pulang dari basecamp.


Di tengah perjalanan tiba-tiba Anggara jatuh dari motor setelah seseorang menendang motornya cukup kencang. Serentak keempat anak Vanoztra menghentikan lajunya.


Elgara membuka helm. Di depannya sudah banyak pasukan Alaskar yang sedang menatap ke arahnya. Ia menggeram marah hingga rahangnya mengeras dan tercetak urat dengan jelas.


"CARI MATI!" bentak Elgara sembari menatap murka pada Nathan.


"Sialan! Motor aing baru juga ganti," ucap Anggara sembari mengangkat motornya.


"Lo semua gak ada puasnya usik Vanoztra! Sekarang mau apa lagi, hah?!" tanya Elgara dengan napas yang memburu.


Nathan terkekeh dengan tatapan tak lepas dari Elgara. "Sebelum Vanoztra hancur, Alaskar gak akan mundur. Kita gak akan berhenti buat usik Vanoztra sampai kemenangan ada di pihak Alaskar!"


"Kurang ajar! Sampai kapan pun gangster sialan lo itu gak akan pernah bisa kalahin Vanoztra!" bentak Elgara.


"Well. Lo bilang gitu sekarang, tapi nanti lo nangis karena gangster sampah lo itu hancur!" ketus Nathan.


Bugh!


Elgara melayangkan pukulan pada wajah Nathan, hingga cowok itu terjatuh ke permukaan tanah. Nathan bangkit kembali, ia tersenyum miring meremehkan Elgara.


"Mau mulai sekarang?" tanya Nathan, kemudian melihat ke arah belakang Elgara, "Anggota lo belum cukup bro, yakin lo bisa lawan pasukan gue?"


"Gak usah banyak ngomong lo! Sini maju!" teriak Elgara.


Mereka pun mulai melayangkan pukulan demi pukulan pada lawannya. Jumlah Vanoztra dan jumlah Alaskar memang tidak setara, bahkan Alaskar lebih banyak dari Vanoztra. Karena Elgara sangat gatal ingin melayangkan pukulan pada mereka, ia langsung menghajar saja menghiraukan jumlah pasukan Alaskar.


TRIT! TRIT! TRIT!


Denis dan Zino yang sedang bersantai di sofa langsung bangkit dari duduknya setelah mendengar komputer berbunyi. Berbunyi tiga kali, itu tandanya anggota Vanoztra tengah menghajar dengan jumlah yang banyak.


Zino langsung mengklik enter pada komputer dan saat itu pula pemberitahuan terkirim ke seluruh anggota Vanoztra lainnya. Satu persatu anggota Vanoztra sudah mengikuti Zino dan Denis di belakang, hingga terkumpul semua. Mereka menambahkan kecepatan motornya lebih kencang lagi.


Deru motor mengalihkan pandangan Nathan dan sebagian anggota Alaskar. Mereka terkejut melihat ratusan Anggota Vanoztra yang berdatangan. Sembari memberi perlawanan Nathan mengernyit melihat anggota Vanoztra datang secara tiba-tiba.


'Kok bisa? Mereka semua tau.'


Elgara menyeringai melihat raut wajah Nathan yang terkejut. Elgara menyempatkan dirinya untuk menghajar Nathan yang sedang tidak fokus. Nathan langsung tersungkur ke permukaan tanah. Dan saat itu pun Elgara menghajarnya tanpa ampun.


Dalam hitungan menit anggota Alaskar berjatuhan karena perlawanan yang diberikan oleh Vanoztra. Mereka terkapar di jalanan, begitu pun dengan Nathan yang kini terlentang dengan luka lebam penuh di wajahnya.


Elgara meletakkan satu kakinya di atas perut Nathan. "Terbukti? Kalo gangster lo gak bisa ambil alih kemenangan Vanoztra! Jangan terus usik Vanoztra kalo lo semua masih pengen hidup!" Elgara menekan perut Nathan menggunakan kakinya.


"HAHAHA ... LO PIKIR KITA BAKAL KAPOK? KAGAK! HAHAHA ...."


Elgara kembali menekan perut Nathan lebih kencang lagi.


"ARRGHH! SIALAN!" teriak Nathan sembari meringis kesakitan.


"Vanoztra bakal hancur! Ya, lo semua bakal bubar. Vanoztra sampah! Sebentar lagi akan bubar!" teriak Nathan dengan mata memerah tajam menatap Elgara.


"MENTAL YUPI! GAK USAH BELAGU LO! SEKALI PUKUL AJA LANGSUNG TUMBANG!" ketus Elgara, kemudian menendang tubuh Nathan.


"Cabut!" pinta Elgara pada seluruh anggota Vanoztra.


Nathan menggeram kesal. "Lihat aja nanti. Misi Ayra akan berhasil buat hancurin lo semua!" gumam Nathan.