Vanoztra

Vanoztra
45. Hujan



"Emang salah ya, Ra, kalo cemburu?" tanya Elgara.


Tangan Ayra terulur mengusap rambut Elgara beberapa kali. Di setiap usapan tangan Ayra, Elgara selalu merasakan ketenangan.


"Cemburu itu wajar. Lo gak salah kok, tapi yang salah itu cara cemburu lo," jelas Ayra.


"Lo tiap cemburu selalu pakai emosi. Itu salah, El," lanjut Ayra.


"Gue emosi karena gue takut Anres berhasil rebut lo dari gue, gue gak mau kehilangan lo," ucap Elgara sembari menegakkan tubuhnya kembali.


Ayra tersenyum, kemudian ia menangkup wajah Elgara. "Dengar ya, mau Anres peduli sama gue, mau Anres baik ke gue, suka gue, cinta gue, sayang gue."


"Kalo gue cintanya sama lo, Anres bisa apa?" tanya Ayra.


Elgara menatap Ayra lekat, kemudian Elgara menurunkan tangan Ayra yang menangkup wajahnya, ia menggenggam tangan Ayra erat. "Tetap aja gue takut. Yang namanya cinta itu bisa datang tiba-tiba, Ra," jawab Elgara.


"Ya intinya, udahlah gak usah ribut sama Anres. Gue gak mau pertemanan kalian hancur hanya karena gue," ucap Ayra.


"Udah hancur malahan," sahut Elgara.


"Hancur?" Ayra mengernyitkan keningnya sembari menatap Elgara.


"Iya, hancur. Bukan hanya pertemanan gue dan Anres yang hancur, tapi pertemanan gue dan semua anak Vanoztra hancur juga," jelas Elgara, kemudian menundukkan kepalanya.


"Hah? Kok bisa?" tanya Ayra.


"Gue gak becus Ra, jadi ketua. Di masa pimpinan Vanoztra sama gue, sering kali salah satu dari kita habis dikeroyok tanpa gue atau yang lainnya ketahui," jelas Elgara.


"Gue terlalu banyak mikirin hal yang seharusnya gak gue pikirin. Sampai-sampai gue baru sadar sekarang kalo Vanoztra diambang kehancuran."


"Pertemanan gue dan Anres berantakan. Terus tadi gue ribut sama Anres, sampai-sampai suara komputer yang mendeteksi pukulan sama sekali gak terdengar. Dan hasilnya Brio luka-luka karena dikeroyok," jelas Elgara.


"Semua anggota Vanoztra udah gak percaya lagi gue pimpin Vanoztra. Gue akui emang gue gak becus, gue salah," ucap Elgara.


Elgara semakin menundukkan kepalanya, hingga air mata menetes. Ayra tak tega melihat Elgara seperti ini, ia langsung menarik tubuh Elgara ke dalam pelukannya. Tangan Ayra mengusap pipi Elgara dan membiarkan Elgara melepaskan semua kesedihannya.


Laki-laki itu kini tengah berada di titik lemahnya, Ayra tidak bisa membiarkan Elgara begitu saja. Elgara yang selalu terlihat kuat dan tegar, kini ia menampakkan kesedihan dan kelemahannya di depan orang yang ia sayang.


"Gue gak tau harus gimana, Ra. Gue gak mungkin biarin Vanoztra hancur gitu aja," ucap Elgara.


Ayra melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah Elgara. "Lo bukan gak bener, tapi emang dunia lo bukan hanya Vanoztra, kan? Banyak hal lainnya yang harus lo pikirkan juga," ucap Ayra.


"Mungkin mereka semua geram sama lo yang akhir-akhir ini selalu ribut sama Anres. Siapa sih yang betah lihat temennya gak akur? Gak ada, El."


"Jadi sekarang lo coba minta maaf sama mereka semua. Selesaikan baik-baik masalah ini. Kalo mereka masih gak terima dengan permintaan maaf lo, lo kasih waktu. Ngerti?" jelas Ayra.


Elgara menganggukkan kepalanya secara perlahan, kemudian ia kembali memeluk Ayra dengan erat. "Thanks, my queen," ucap Elgara sembari tersenyum.


"I will always support you," ujar Ayra sembari tersenyum.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Sebelum melanjutkan perjalanannya menuju sekolah. Elgara menyempatkan diri untuk pergi ke basecamp. Ia juga sudah mengirim pesan di grup agar anggota Vanoztra berkumpul di basecamp pagi ini. Elgara tidak yakin mereka semua menuruti perintahnya kali ini.


Beberapa menit kemudian Elgara tiba di basecamp, ia segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam bangunan tersebut. Ternyata mereka masih menuruti perintah Elgara, cukup banyak yang berada d basecamp tersebut.


Elgara menghentikan langkahnya di tengah-tengah mereka. "Thanks, lo semua udah mau kumpul," ucap Elgara.


"Kedatangan gue dan maksud perkumpulan ini, gue mau minta maaf. Gue minta maaf atas perlakuan gue selama ini yang gak bisa menjadi pemimpin yang lebih baik," jelas Elgara.


"Dan gue mau–"


"Jangan bilang lo ngundurin diri dari jabatan," ucap Mario.


Elgara menghela napasnya. "Gue bukan tipe orang yang gampang tersinggung karena ucapan."


"Mau lo semua ngatain gue gimana pun. Sebelum masa jabatan gue sebagai ketua habis, gue gak akan pernah tinggalin tanggung jawab gue," jelas Elgara.


"Gue gak akan biarin Vanoztra hancur," lanjut Elgara.


"Halah ... anying! Kemarin aja lo bilang 'oh, lo pengen ketua Vanoztra diganti? Oke gak masalah. Nanti gue bicara sama Bang Nando' kalo aja gue gak luka-luka, udah gue timpuk lo!" ucap Brio sembari menatap Elgara kesal.


"Semalam gue bilang kayak gitu karena gue gak mau ribut besar sama lo semua," ujar Elgara.


"Lalu soal Astra–masalah dengan Astra bukan masalah yang besar. Mereka cuma pengen menjatuhkan Vanoztra," ucap Elgara.


"Intinya hari ini gue minta maaf sama lo semua–terlebih lo Anres," ujar Elgara, kemudian menatap ke arah Anres.


"Jadi gimana? Lo semua mau, kan, maafin gue?" tanya Elgara.


Anres berdiri dari duduknya, ia berjalan menghampiri Elgara, kemudian menepuk pundak Elgara. "Oke, kita maafin lo. Jangan ulangi kesalahan lo lagi," ucap Anres.


"Dan gue minta maaf juga soal Ayra, gue gak ada maksud apa-apa. Selagi lo gak nyakitin  dia lagi, gue gak akan deketin Ayra, tapi kalo lo sakitin dia lagi–"


"Putusin Ayra dan biarin Ayra jadi milik gue," jelas Anres, kemudian menepuk pundak Elgara dan melenggang pergi keluar Basecamp.


Serentak mereka semua pun beranjak, kemudian menepuk pundak Elgara tanpa ucapan apapun, lalu melenggang pergi keluar basecamp. Elgara masih terdiam di tempat setelah mereka semua keluar dari basecamp.


Detik berikutnya Elgara mendongakkan kepalanya sembari memejam, kemudian ia mengusap wajahnya kasar. "Baiklah," ucap Elgara.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Nana!" panggil ketiga gadis itu serentak.


Ayra dan kedua sahabatnya langsung memeluk Nana erat. Keadaan Nana belum pulih 100% tapi hari ini ia harus sekolah, lantaran ujian kelulusan diadakan hari ini.


"I miss you babe ..." ucap Shafira sembari mencebikan bibirnya.


"Gue juga kangen lo bertiga," sahut Nana sembari tersenyum.


"Bibir lo pucat banget, Na, gak pakai liptint?" tanya Ayra.


"Iya gue lupa. Lo bawa gak?" tanya Nana yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Ayra.


"Gue bawa, Na," ucap Maudy kemudian merogoh saku celananya, lalu mengoleskan liptint tersebut pada bibir Nana.


"Tenang aja," sahut Maudy.


Ayra mengalihkan pandangannya ke arah samping. Bibir gadis itu mengembang membentuk senyuman, lalu Ayra menatap kembali ke arah ketiga sahabatnya dengan tatapan sendu.


"Gak kerasa. Bentar lagi kita lulus," ucap Ayra.


Raut wajah ketiga sahabat Ayra sontak berubah menjadi sendu setelah Ayra berkata seperti itu. Rasanya seperti baru-baru ini mereka bersama.


"Iya, tinggal beberapa hari lagi," ucap Maudy.


"Aaaa ... gue masih mau SMA. Belum siap lulus ..." ujar Shafira sembari mencebikan bibirnya.


"Yang terpenting kita masih bisa bersama. Lo mau lanjut kemana, Ra?" tanya Nana.


"Entah, gue masih bingung mau lanjut kemana. Pengennya sih gue bareng sama kalian," jawab Ayra.


"Tapi kayaknya gue gak akan tinggal di Indonesia deh, setelah lulus. Impian gue kuliah di London," ucap Maudy.


"Yaahhh ...." Serentak mereka bersorak kecewa pada Maudy.


"Tapi entah deh, gue belum pikir-pikir lagi," ucap Maudy sembari tersenyum.


"Pokoknya sekarang kita harus sungguh-sungguh ujiannya. Biar hasil ujiannya memuaskan," ujar Ayra yang diangguki semangat oleh mereka bertiga.


Beberapa menit kemudian Elgara baru tiba di sekolah, ia berjalan menyusuri koridor kelas menuju kelas Ayra. Semua memusatkan mata ke arah Elgara, lantaran wajah Elgara penuh dengan bekas luka lebam.


Bruk!


Elgara tak sengaja menabrak Alia yang tengah menyapu. Hal itu membuat sampah yang berada di pengki berserakan ke lantai. Alia menghela napasnya sembari menatap Elgara kesal.


"Beresin," pinta Alia.


"Lah, salah lo diam di depan pintu ngalangin jalan. Napa nyuruh gue beresin, beresin sendiri, lah!" ketus Elgara.


"Lo juga salah! Punya mata gak dipake! Buruan beresin!" ucap Alia sembari menyerahkan sapu dan pengki nya pada Elgara.


"Kagak!" ketus Elgara, kemudian melenggang pergi masuk ke dalam kelas.


Dengan cepat Alia menarik belakang seragam Elgara cukup kencang, hingga laki-laki itu menghentikan langkahnya. "Ck! Kurang ajar banget sih, lo! Apalagi?!"


"Gue bilang beresin!" pinta Alia sembari membentak.


"Mending lo yang introvert ya, daripada lo yang sekarang! Siapa sih, yang udah bikin lo berubah?" tanya Elgara dengan tatapan tajam.


"Gue," sahut Ayra sembari berjalan menghampiri Elgara.


"Ra, lo–"


Ucapan Elgara terhenti saat kedua tangannya ditarik oleh Ayra, kemudian Ayra menyuruh Elgara memegang pengki beserta sapunya. Setelah itu Ayra menatap dua bola mata Elgara.


"Beresin ya, ganteng," pinta Ayra sembari tersenyum manis.


"Tapi, Ra, gue ke sini mau–"


"Beresin atau gue sama Anres?" tanya Ayra.


Setelah Ayra melontarkan pertanyaan seperti itu Elgara hanya bisa menghela napasnya, kemudian ia segera membereskan sampah dan debu yang berada di lantai.


Ayra bertos dengan Alia sembari tertawa. "Makasih ya, Ra," ucap Alia.


"Sama-sama. Ayo, ikut ngobrol di sana," ajak Ayra yang diangguki oleh Alia.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Sepulang sekolah Elgara menghentikan motornya di depan toko. Ayra segera turun dari motor, kemudian melepaskan helm nya. Di sore hari hujan cukup deras turun ke bumi, membuat dua remaja ini memilih meneduh di depan toko menunggu hujannya reda.


Elgara melepaskan jaketnya, ia memakaikan jaket tersebut pada tubuh Ayra. "Ih, enggak mau," ucap Ayra kemudian ia memakaikan jaket tersebut pada Elgara.


"Kenapa harus berhenti sih, El?" tanya Ayra.


"Lo katarak?" tanya Elgara, kemudian ia menggerakkan kepala Ayra oleh kedua tangannya, agar gadis itu menatap ke depan. "Hujan, Ra. It is rain," ucap Elgara.


"Ya terus kenapa? Hujan itu air bukan api jadi gak akan bahaya," sahut Ayra.


"Nanti lo sakit, dongo," ujar Elgara.


"Lo tau? Gue tuh suka hujan, gue gak bisa neduh kalo ada hujan. Ya udah gue mau hujan-hujanan aja di sini," ucap Ayra, kemudian ia melangkahkan kakinya.


Elgara menarik lengan Ayra, membuat Ayra menoleh ke Elgara. "Hujan Ayra," ujar Elgara.


"Ya emang kenapa? Gue bukan mermaid gak masalah gue hujan-hujanan juga. Seru tau!" Gadis itu melangkahkan kakinya kembali.


Tetesan air hujan mulai membasahi seluruh tubuh Ayra. Gadis itu mendongak ke atas sembari memejamkan matanya, ia merasa senang merasakan dinginnya air hujan tersebut. Perlahan Ayra memutarkan tubuhnya sembari merentangkan kedua tangannya.


"Cantik banget," gumam Elgara sembari tersenyum.


"El! Ayo sini, hujan-hujanan!" ucap Ayra setengah berteriak.


"Gak, gak mau!" sahut Elgara.


Ayra mencebikan bibirnya. "Ah, gak seru lo mah!" ucap Ayra, kemudian ia berjalan menghampiri Elgara.


Detik berikutnya Ayra menarik lengan Elgara agar laki-laki tersebut ikut bermain hujan dengannya. Elgara pun menuruti kemauan Ayra. Kini mereka berdua saling tersenyum bahagia merasakan air hujan yang mengguyur tubuhnya.


Ayra menggenggam kedua tangan Elgara, pandangannya menatap Elgara sembari tersenyum. "Hari ini ayo kita buat cerita di bawah rintikan air hujan," ucap Ayra, kemudian memeluk Elgara.


"Gue mau kasih tau ke hujan kalo cowok yang gue sayang namanya Elgara," ujar Ayra.


"Dan gue juga mau kasih tau ke hujan kalo kebahagiaan gue ada di tangan cewek yang namanya Ayra," ucap Elgara.


Laki-laki bermata elang itu terkekeh sembari mengeratkan pelukannya, kemudian Elgara mencium puncak kepala Ayra beberapa kali.


Dari kejauhan ada beberapa orang yang memperhatikan mereka berdua tanpa disadari. "Gue bisa lihat dari matanya–itu bukan misi, tapi itu cinta," ucap Nathan dengan raut wajah kesal.