Vanoztra

Vanoztra
8. Membagongkan!



Mobil Ayra terparkir di garasi rumahnya. Saat dirinya melangkahkan kaki. Seketika berhenti setelah melihat motor yang terparkir di depan rumah. Ayra mengernyit mencoba mengingat plat nomor motor itu.


Rasa penasaran terus meningkat, Ayra memutuskan untuk melihat lebih dekat lagi. Dan ia menemukan stiker bertulisan Vanoztra. Ayra masih tidak percaya dengan penglihatannya, ia menggosokkan kedua matanya, lalu kembali melihat.


"Hah! Beneran motor anak Vanoztra, tapi punya siapa, ya? Terus mau apa ke rumah gue?" tanya Ayra pada dirinya sendiri.


Damn it! Di rumah ada foto Kak Micho sama gue! Aduh, jangan sampai dia lihat.


Ayra berlari memasuki rumah dan ia langsung mencopot foto keluarga dan juga foto dirinya bersama Micholas. Ia menyembunyikan foto tersebut di sela-sela lemari.


"Haha ... mana mungkin, Tan, orang tua saya keturunan dewa. Manusia seperti biasanya, kok."


Ayra mengerjapkan matanya beberapa kali setelah indera pendengarannya mendengar suara yang tak asing lagi. Ayra mengenal suara itu—suara yang tadi pagi terdengar jelas di telinganya.


"Elgara?"


"Ck! Dari ratusan anggota Vanoztra kenapa harus dia coba?!"


"Sayang, kamu udah pulang? Jangan langsung ke kamar. Sini dulu," ucap Regina setengah berteriak dari arah dapur.


"A—i-iya, Mam," sahut Ayra.


Elgara yang tengah asik menatap layar ponselnya, ia langsung mendongak setelah parfum aroma melon berhasil masuk pada indera penciumannya.


Pandangan Ayra dan Elgara saling bertemu. Beberapa detik kemudian bibir Elgara mencetak sebuah senyuman. Ayra mengalihkan pandangannya setelah Elgara tersenyum padanya.


Gila! Lagi-lagi Elgara berhasil membuat jantung Ayra berdegup tak karuan dan hatinya merasakan perasaan yang aneh.


"Elgara? Kok—lo bisa di rumah gue?" tanya Ayra sembari menunjuk Elgara.


"Loh, kalian saling kenal?" tanya Regina yang langsung diangguki Elgara dan juga Ayra.


"Dia—dia temen Ayra di sekolah baru, Mam," jelas Ayra.


"Oh astaga. Mama gak lihat logo sekolah di seragamnya Elgara. Bagus deh, kalo kalian berteman," ucap Regina sembari tersenyum dan mengusap lengan atas Ayra.


"Elgara tuh ganteng banget, ya. Mama sampai gak percaya ada manusia seganteng Elgara," lanjut Regina membuat Elgara tersenyum malu.


"Cocok sama kamu, sayang," bisik Regina membuat Ayra membelalakan matanya.


'Please deh, Mam! Kalo aja Mama tau, nih orang penyebab kematian Kak Micho. Pasti detik ini juga Mama seret Elgara ke luar.'


"Sutt! Apaansih Mam, dia cuma teman Ayra," gumam Ayra sembari mencebikan bibirnya.


Elgara mendengar percakapan antara ibu dan anak ini sembari tersenyum. Ditambah melihat raut wajah Ayra yang menggemaskan saat memajukan bibirnya. Membuat Elgara ingin menyerah sekarang.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Ayra boleh tolong, Mama?"


"Boleh dong Mam, minta tolong kenapa?" sahut Ayra.


"Tadi pulang dari kantor Papa, Mama mau beli bahan makanan. Eh, Mama hampir dirampok kalo gak ada Elgara sama teman-temannya yang bantu Mama," jelas Regina.


"Mama mau dirampok? Terus Mama gak apa-apa, kan?" tanya Ayra cemas.


"Alhamdulillah. Mama gak apa-apa karena Elgara bantu Mama. Mama salut banget lihat Elgara hajar dua rampoknya sekaligus sampai mereka lemas-lemas loh."


"Mama jadi setuju kalo kalian dekat. Karena Mama yakin Elgara bisa lindungi kamu," jelas Regina.


Ucapan Regina, lagi-lagi membuat Ayra membelalakkan matanya. "Please Mam, i can take care of myself. Gak perlu dia buat jagain Ayra," ucap Ayra di akhiri tatapan tajam pada Elgara.


"Serius?" tanya Elgara sembari terkekeh.


"Apa lo?! Mau gue smackdown?!" bentak Ayra sembari berkacak pinggang.


Elgara tersenyum miring, ia menganggukkan kepalanya, "Come here."


"Ya—ya, gak di sini juga, lah. Gila lo!"


"Sudah-sudah jangan ribut. Ayra, karena Mama gak sempat belanja bahan makanan. Tolong kamu yang beli ya, di supermarket," ucap Regina yang diangguki Ayra.


"Nih, uangnya." Regina memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada Ayra dan juga daftar belanjanya.


"Oh iya Elgara, boleh kamu temenin Ayra, ya," pinta Regina.


"A-Ayra bisa sen—"


"Siap, Tan!" jawab Elgara semangat, sedangkan Ayra mematung sembari ternganga.


Elgara pun beranjak dari kursinya, kemudian mendorong pelan tubuh Ayra agar gadis itu mulai berjalan. Regina tersenyum melihat mereka berdua.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Ayra berjalan terlebih dahulu. Ia memilih sayuran yang sudah Regina tulis pada kertas, sedangkan Elgara, ia berjalan di belakang Ayra sembari mendorong troli.


Beberapa orang memasang mata ke arah mereka. Pasti beberapa orang tersebut beranggapan negatif. Mengira Elgara dan Ayra pasutri muda yang baru menikah, tapi masih berstatus pelajar.


"Lama bener lo milih sayurnya. Perasaan Tante Regina nyuruh beli sayuran satu, deh," ucap Elgara yang mulai merasa pegal.


"Diem lo gak usah ngomong!" ketus Ayra sembari mendelik tajam.


Beberapa detik kemudian masih di tempat yang sama. "El, segar yang mana ya, sayurnya? Gue bingung," tanya Ayra.


Elgara terdiam tak menjawab, ia hanya melihat ke arah Ayra saja. Ayra berdecak kesal, ia menendang kaki Elgara, tapi laki-laki itu tak meringis kesakitan.


"Orang nanya tuh dijawab, dongo!" ketus Ayra.


"Gue ngomong disuruh diem, gue diem disuruh ngomong. Mau lo apa sih, Ra?" tanya Elgara.


"Gue suruh lo jawab, bukan ngomong!" ketus Ayra.


"Jadi ini yang mana yang segar?" tanya kembali Ayra.


Kelewat kesal, Elgara merebut asal salah satu sayuran di tangan Ayra, lalu memasukkan pada troli. "Milih sayuran yang segar aja lo butuh waktu satu jam belum yang lainnya. Keburu ganti hari," omel Elgara, kemudian berjalan terlebih dahulu.


"Milih siyirin ying sigir iji li bitih wikti siti jim. Suka-suka gue, lah, makanya ngapain lo ikut?!" ketus Ayra, kemudian berjalan kembali untuk memilih bahan makanan yang lainnya.


"El, tolong ambilin yupi dong," pinta Ayra.


"Di mana?" tanya Elgara.


"Di pabriknya!" jawab Ayra.


"Ya, di rak, dongo!" bentak Ayra sembari mendelik tajam.


"Ngegas mulu lo, itu mulut apa motor!" bentak Elgara. Kali ini ia ikut membentak karena geram dengan sikap Ayra.


Semua orang yang tengah mengantri di kasir memusatkan perhatian pada dua remaja itu, sedangkan orang-orang yang tengah berbelanja menghentikan aktivitas nya hanya. untuk melihat ke arah Ayra dan Elgara.


Sampai pulang pun mereka tidak akur. Kalian tau, Ayra duduk hampir mentok di ujung motor. Ia gak mau tubuhnya menempel dengan Elgara. Jarak Ayra dan Elgara pun tersisa dua jengkal.


"Pegangan nanti jatoh," ucap Elgara.


"Engga akan. Gue bisa tahan tubuh gue sendiri."


"Lo itu cuma mau mo—"


"Aaaa!" Ayra langsung memeluk tubuh Elgara dengan erat setelah laki-laki ini meninggikan kecepatannya.


"Katanya bisa tahan. Mana buktinya?" tanya Elgara.


"AIH! Ya gak usah digas juga, pea!" teriak Ayra sembari memukul helm Elgara. Niatnya agar cowok itu kesakitan, tapi malah tangannya yang sakit.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Sepulang dari supermarket mereka berdua duduk berhadapan di meja makan. Malam ini Elgara makan malam bersama dengan keluarga Ayra. Tanpa bersuara, apalagi mengobrol. Sesekali mereka saling menatap, lalu mendelikkan matanya serentak.


Kejadian di supermarket tadi membuat Elgara tau bagaimana sikap gadis ini. Ternyata sangat, sangat, sangat menyebalkan! Bahkan lebih menyebalkan dari pertemuan pertamanya di sekolah.


Sembari menunggu Regina memasak makanan untuk makan malam dan juga menunggu Tomi pulang dari kantor, Ayra membuka yupi yang baru saja ia beli di supermarket tadi.


"Lo suka yupi?" tanya Elgara.


"Iya," jawab Ayra, kemudian mengunyah yupinya.


"Pantesan," ucap Elgara.


"Pantesan kenapa?" tanya Ayra sembari menatap Elgara.


"Pantesan—mental lo kayak yupi! Disenyumin sama gue aja langsung meleyot!"


Lagi-lagi jawaban Elgara mengundang amarah Ayra. Kalo saja di rumah ini gak ada siapa-siapa pasti mereka sudah saling baku hantam dari tadi. Sayangnya ada Regina jadi Ayra tak bisa memukul, menendang, membogem, smackdown, laki-laki yang ada di hadapannya.


'Tahan emosi Ayra, cuma dibentak gak akan bikin dia diam.'


Ayra mencebikan bibirnya sembari menatap tajam tak lupa tangannya bersedekap dada. Damn it! Jiwa Elgara runtuh seketika melihat betapa gemasnya cewek barbar ini.


"Lo lucu, Ra," ucap Elgara sembari tersenyum manis.


Benar apa kata Elgara, Ayra tuh mental yupi! Baru dibilang lucu plus disenyumin aja langsung meleyot. Rasanya pipi Ayra memanas dan sudah dipastikan pipi Ayra memerah matang.


Baru kali ini Ayra memberikan senyuman manis pada Elgara, lalu berkata, "Makas—"


"Lucunya sampai melebihi anak monyet di kebun binatang."


Pletak!


Sebuah sendok dilayangkan oleh Ayra ke arah Elgara. Tepat di kepala Elgara sendok itu mendarat dengan mulus hingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Elgara meringis sembari mengusap kepalanya beberapa kali.


"Kalo lo pulang dari sini terus muntah paku, jangan heran. Karena gue yang santet lo!" ketus Ayra.


"Ada tamu siapa nih?" Suara Tomi mengalihkan pandangan Ayra.


"Halo, Om," sapa Elgara sembari tersenyum sopan, kemudian Elgara mencium punggung tangan Tomi, disusul oleh Ayra.


"Pacar kamu, Ra?" tanya Tomi.


"Musuh Ayra, Pah. Ini lagi mau dieksekusi tembak mati," jawab Ayra.


"Jahat bener lo," gumam Elgara.


Tomi tersenyum setelah melihat tulisan pada jaket Elgara. "Vanoztra? Om jadi inget sama masa muda Om dulu," ucap Tomi.


"Emangnya dulu Papa anggota Vanoztra?" tanya Ayra.


"Bukan. Hanya teman-teman Papa saja. Papa ingin sekali bergabung dengan mereka, tapi Papa selalu gak diizinkan untuk kumpul-kumpul kayak gitu sama Oma," jelas Tomi.


"Anak Vanoztra tuh semuanya baik-baik. Papa senang sekali waktu diajak sama teman Papa ke basecamp Vanoztra. Papa kira, mereka akan marah karena ada orang lain yang masuk ke basecamp, tapi ternyata mereka menyambut Papa dengan ramah sekali," jelas Tomi.


'Papa apaansih malah bangga-banggain Vanoztra.'


"Dulu ketua utama Vanoztra tuh teman Papa. Kalo sekarang Papa kurang tau siapa ketuanya," ucap Tomi.


"Saya Om. Saya ketua utama Vanoztra batch 20," sahut Elgara sembari tersenyum.


"Wah, hebat sekali! Dulu anak Vanoztra dikenal dengan kepandaian bela dirinya. Mereka pada jago silat. Bagaimana dengan kamu?" tanya Tomi.


"Saya juga bisa silat, Om," sahut Elgara.


Tomi tersenyum lebar dengan mata yang berbinar-binar. "Nah, kalo gitu nanti kapan-kapan kita latihan silat bareng, gimana?" tanya Tomi.


"Ayo, Om," ucap Elgara.


Entah sejak kapan bibir Ayra tersenyum mendengar obrolan mereka. Perasaan tadi dia kesal karena Papa nya membanggakan gangster yang telah menembak kakaknya.


Elgara melirik ke arah Ayra yang tengah tersenyum, ia pun ikut tersenyum juga. Rasa kesal atas sikap Ayra di supermarket tadi langsung lenyap setelah melihat senyuman Ayra.


'Kali ini gue jujur. Lihat senyum Elgara bikin hati gue tenang. Benar apa kata Mama, Elgara ganteng banget.'


"Nah, gini kalem, kan adem," ucap Elgara membuyarkan lamunan Ayra.