
"Lo sakit?" tanya Elgara sembari meletakkan punggung tangannya di dahi Ayra.
Brak!
"ANJENG!" teriak Elgara. Cowok ini benar-benar kaget karena posisinya berjongkok di samping meja. Suara gebrakan itu terdengar sangat jelas memasuki indera pendengarannya.
Apalagi Ayra, yang posisi kepalanya di atas meja. Ia mendongak sembari meringis— memegang telinganya yang berdenging hebat lantaran telinganya bersentuhan langsung dengan meja. Pasti suaranya lebih kencang dua kali lipat.
"E-Elgara, so-sorry gue refleks karena lihat lo perhatian sama Ayra," ucap Shafira terbata-bata ia takut melihat Elgara yang menatapnya begitu tajam.
Semua orang yang berada di kantin menatap ke arah Shafira, mereka juga ikut kaget.
"Aduhhh! Sorry semuanya, ini salah tangan gue, bukan gueeeeee!" teriak Shafira sembari memohon dengan kedua tangannya yang disatukan.
"Sama aja itu tangan lo, dongo!" bentak Maudy.
"Gemes gue sama tangan lo pengen patahin!" ketus Nana.
"Tangan lo meresahkan! Gue mutilasi lama-lama," ucap Ayra sembari terus memegang telinganya.
"Jahat banget sih kalian. Nanti gue cebok gimana?" tanya Shafira sembari terduduk di kursi.
"Jilat pake mulut!" ketus Ayra, Nana dan Maudy serentak.
Elgara berdiri setelah merasa pegal karena jongkok terlalu lama, ia masih menatap Shafira sebal. "Untung lo cewek," gumam Elgara, tapi terdengar oleh Shafira.
"Sorry El, gua 'kan, gak sengaja. Refleks tau," ucap Shafira sembari mencebikan bibirnya.
Cowok itu mengabaikan Shafira, ia kembali melihat ke arah Ayra, Elgara sampai lupa tujuannya kemari. "Lo sakit?" tanya Elgara kembali.
Ayra hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ketiga temannya memperhatikannya dengan serius. Tangan Shafira kini dipegang oleh Nana dan juga Maudy agar tidak memukul meja lagi.
"Nih." Elgara memberikan satu bungkus kiko.
"Apa ini?" tanya Ayra sembari mengangkat satu alisnya.
"Racun!" jawab Elgara.
"Ya bukan gitu. Buat siapa?" tanya kembali Ayra.
Pertanyaan yang aneh membuat Elgara menghela napasnya pasrah, kemudian ia menarik napas panjang. "Ini apa? Ini kiko. Buat siapa? Buat Ayra. Kenapa beli ini? Karena gue tau hari ini lo gak bawa kiko. Beli di mana? Beli di supermarket kemarin pas gue pulang dari rumah lo. Puas?"
Ayra tercengang semua pertanyaan yang akan ia lontarkan pada Elgara, sudah diucapkan dan dijawab oleh laki-laki ini. Gadis itu pun tersenyum sembari menerima kiko tersebut.
"Hehe, thanks, El," ucap Ayra.
"What? Bentar-bentar. Kemarin pas gue pulang dari rumah lo. Itu artinya lo main ke rumah Ayra, El?" tanya Nana.
"Wah, ada hubungan apa nih kalian?" tanya Maudy.
"Kok gak cerita sama kita sih? Buruan speak up sekarang!" pinta Shafira.
"Gue gak ada—"
"El," panggil Nana meminta penjelasan. Karena meminta pada Ayra pasti akan berbohong, pikir Nana.
Elgara tersenyum miring, ia melirik sejenak ke arah Ayra, lalu menatap ketiga cewek yang menunggu penjelasannya. "Gue sama Ayra–"
"Punya hubungan spesial." Ayra membelalakan matanya atas ucapan laki-laki ini. Tanpa berdosa Elgara melenggang pergi sembari menahan tawa.
"No! Enggak-enggak. Gue gak ada hubungan apa-apa, ih!" ucap Ayra berusaha meyakinkan ketiga temannya.
"Kalo gak ada kenapa lo panik gitu?" tanya Nana sembari mengangkat alisnya dengan senyuman menggoda.
"Acieeee, ekhemm!" ledek ketiga temannya.
"Ya karena kalian pasti—"
"Aarghhh ... Elgara!" teriak Ayra.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Hampir setengah jam Ayra memilih pakaian di lemari, tapi tak ada satu pun yang cocok untuk dipakai malam ini. Gadis itu menghela napasnya kasar, kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Ayra kembali memilih baju. Kali ini ia akan memakai pakaian favoritnya saja. Kaos crop dibalut cardigan dan juga rok pendek.
Setelah selesai berurusan dengan pakaian dan rambut. Kini Ayra berada di depan cermin. Ia mulai mengaplikasikan bedak pada wajahnya, lalu menambahkan eyeshadow berwarna peach, kemudian memakai eyeliner dan beralih pada pipinya untuk menambahkan sedikit blush on.
Dan terakhir mengoleskan lipbalm kesayangannya pada bibirnya yang sudah berwarna merah muda alami.
"Wow!"
"You are so beautiful, Ayra!" puji nya pada diri sendiri.
Ayra meraih ponsel yang tak jauh dari jangkauannya, kemudian ia mengarahkan kamera ponsel pada wajahnya. Dirasa arah kameranya sudah pas, Ayra berpose se-cantik mungkin.
Hanya sekali jepretan saja hasil fotonya luar biasa perfect. Ayra membuka akun Instagramnya untuk memposting fotonya barusan.
"Udah berapa bulan ya, gue gak posting foto di Instagram pasti yang like jadi turun," ucap Ayra sembari merapikan rambutnya kembali menggunakan jari.
starrwarss dan 500 lainnya menyukai foto anda.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
"Nah, baru nongol nih anak," ucap Nana yang tengah berdiri di depan pagar rumah bersama Maudy dan juga Shafira.
Ayra menurunkan kaca mobilnya, melihat ke arah temannya yang terlihat kesal karena Ayra telat. Kata orang-orang senyuman Ayra mampu meluluhkan hati. Kalo sahabatnya di senyumin bakalan luluh gak ya? Hem, mari kita coba!
"Sorry gengs! Cantik itu butuh proses yang lama, ya, kan?" tanya Ayra sembari tersenyum manis.
"Bacod!" teriak ketiga temannya serentak sembari mengacungkan jari tengah pada Ayra.
"Ya udah buruan masuk, dongo! Udah tau gue telat, lo pada masih berdiri," ucap Ayra, kemudian menutup kembali kaca mobilnya.
Mereka bertiga pun segera masuk ke dalam mobil Ayra. Maudy memilih duduk dengan Ayra di depan. Katanya sih, kalo ada sugar Daddy lewat bisa kepantau.
Malam ini Fourangels akan pergi ke salah satu mall. Mereka sudah menyusun rencana yang akan mereka lakukan di sana. Ini akan menjadi hari pertama yang seru bermain bersama ketiga temannya bagi Ayra.
"Time to have fun, gengs!" teriak mereka serentak sembari mengangkat satu tangannya ke atas.
Brak!
Anggara membuka pintu basecamp cukup kencang membuat orang-orang yang berada di basecamp terkejut, kecuali Elgara. Mereka melihat ke arah Anggara dengan tatapan heran.
"Lo kenapa, Gar?" tanya Anres.
"Gue udah ngomong sama lo, bego! Maghrib-maghrib gak boleh nongkrong di luar. Habis ngelihat setan, kan, lo?!" tanya Brio dengan nada ngegas.
Anggara melempar kunci motor ke arah Brio— kunci motor itu mendarat dengan tepat di dahi Brio. "Diem anying! Lo kalo ngomong gak pernah slow, gue sihir berubah jadi kutil kadal!" ketus Anggara kesal.
"El, gawat—ada yang mata-matain basecamp Vanoztra," ucap Anggara.
Elgara mengepalkan tangannya erat, lalu ia kembali melihat ke arah Anggara. "Siapa?" tanya Elgara.
"Gue gak lihat jelas karena posisi nya di belakang basecamp—gelap. Pas gue mau samperin, cih! Mereka malah lari," jelas Anggara.
"BANGSAT!"
"Malam ini gue tugasin tiga orang jaga depan basecamp. Tiga orang jaga belakang basecamp," ucap Elgara dengan raut wajah sangar.
Mereka semua mengangguk, kemudia Anres memilih orang-orang yang berjaga di luar basecamp.
"Secepatnya kita harus cari tau siapa yang berani memata-matai basecamp Vanoztra," ucap Elgara, kemudian beranjak pergi ke salah satu ruangan khususnya.
Elgara memijat pelipis. Ia merasa penat dengan masalah yang tak ada habisnya. Di rumah, ia sedang mempunyai masalah dengan papanya, ditambah kini masalah baru lagi.
anggara.aja_ menyebut Anda dalam sebuah komentar.
bri_erlano menyebut Anda dalam sebuah komentar.
mrioreno menyebut Anda dalam sebuah komentar.
anresmarvino menyebut Anda dalam sebuah komentar.
Kening Elgara mengernyit sempurna. "Ngapain sih mereka?" tanya Elgara.
Ia pun membuka akun Instagramnya. Ternyata mereka berempat menyebut Elgara di komentar postingan Ayra. Kedua ujung bibir Elgara tertarik sempurna membentuk sebuah senyuman.
Seketika rasa penat dan rasa emosinya mereda hanya karena satu foto Ayra yang begitu cantik.
anggara_ajaaa: alah siah boy @elgarargantara
bri_erlano: yang ngaku-ngaku pacarnya minggir! Blm tau lo pawangnya siapa? Nih @elgarargantara
mrioreno: sudahi emosimu kawan, waktunya melihat masa depanmu @elgarargantara
anresmarvino: huakhemmmm! Haciwww! @elgarargantara
elgarargantara: Ayra (ayangnya Elgara)
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Sesudah menonton bioskop, Fourangels memutuskan untuk makan sebelum main ke time zone. Kini mereka terduduk sembari menunggu pesanan mereka tiba.
Ting!
Dari tadi ponsel Ayra terus berdering. Ayra memilih mengabaikan ponselnya, tapi semakin lama dibiarkan semakin berisik ponselnya berdering.
Ayra pun memilih mengeceknya ternyata notifikasi dari komentar Instagram. Saat akan mematikan ponselnya, Ayra terhenti setelah melihat notifikasi dari seseorang.
elgarargantara menyukai foto Anda.
'Gak peduli.' batin Ayra sembari mengangkat kedua bahunya, kemudian memasukkan ponselnya pada tas.
"Gak mau dua kali gue naik mobil sama lo, Ra," ucap Maudy sembari bergidik mengingat di jalan tadi.
"Iya anjir! Gila lo bawa mobilnya," sahut Nana sembari menggelengkan kepalanya
"Mau mendekatkan diri ke tuhan lo mah," ujar Shafira.
Gadis itu tertawa setelah mengingat teman-temannya berteriak histeris saat di jalan tadi. Ayra lupa bahwa mereka tidak sama seperti Zenne yang hobinya sama dengan Ayra, apalagi Zenne sebelas duabelas dengannya jika melajukan mobil.
"Sorry. Tadi gue lupa kalo lagi bawa kalian. Biasanya kalo sendiri gue suka kebut-kebutan, apalagi kalo gue lagi kangen balapan," jelas Ayra.
Seketika mereka mengerutkan keningnya sembari menatap Ayra. Orang yang ditatapnya pun langsung menatap satu persatu.
"Why? Ada yang salah sama ucapan gue?" tanya Ayra.
Dalam hitungan detik mereka bertiga bertepuk tangan sembari menatap kagum pada Ayra.
"Gilaaa! Lo—lo sering balapan?" tanya Shafira yang diangguki oleh Ayra.
"Kagum gue sama lo! Kapan-kapan kalo mau balapan ajak gue, ya?" ucap Nana sembari merangkul pundak Ayra.
"Dari awal juga gue udah duga lo itu bukan sekedar cewek, Ra!" ucap Maudy.
"Heh! Gue 100% cewek ya. Gak lihat gue pake rok?" jawab Ayra.
"Well. Kalo gue mau balapan gue ajak kalian deh, tapi sekarang-sekarang gue malas kalo mau balapan karena Kakak gue—" Ayra berhenti bicara setelah dipikir akan ribet nantinya ia harus menjelaskan.
'Mm, nanti aja deh gue jelasinnya'
"Kakak lo kenapa?" tanya Shafira.
Ayra menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecut. "Gak kok, gak apa-apa," jawab Ayra.
Obrolan mereka terhenti bersamaan dengan datangnya pesanan makanan mereka. Keempat gadis itu pun segera menyantap makanannya sembari diiringi obrolan-obrolan ringan.
Di sisi lain, Elgara menatap terus pada foto Ayra. Beberapa detik kemudian bibirnya mengembang membentuk sebuah senyuman. Senyuman yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, kecuali Ayra.
"I will make you love me," ucap Elgara.