Vanoztra

Vanoztra
23. My jantung



Di jam istirahat. Keempat gadis tengah berjalan menuju kantin melewati koridor kelas yang sepi. Saat asik mengobrol, entah disengaja atau tidak, Mega dan sahabatnya berjalan ke tengah mereka. Membuat keempat gadis itu tersenggol karenanya. Alhasil ponsel Nana terjatuh.


"HEH, MEGALODON!" teriak Nana, tapi Mega tak menoleh.


"Na, dia gak akan nyahut kalo dipanggil Megalodon," ucap Ayra.


"Terus?" tanya ketiga gadis itu serentak sembari menatap ke arah Ayra.


"WOI! MEGALONTHE! SINI LO!" teriak Ayra dan ternyata panggilan itu begitu efektif membuat Mega dan sahabatnya menghampiri Ayra.


"Apa-apaan lo panggil gue *****?!" ketus Mega sembari menunjuk wajah Ayra.


Dengan cepat Ayra menepis tangan Mega yang menunjuk wajahnya, kemudian ia menatap Mega tajam. "Lo taukan jalan masih luas? Ngapain ambil jalan tengah, dongo?!"


"Orang gak sengaja juga. Sewot banget, sih!" ketus Cellyn yang tak lain sahabat Mega.


"Heh, jamet! Kita gak oon kayak lo berdua, ya! Kita tau mana yang sengaja, mana yang enggak!" ketus Maudy.


"Ya udah sih, lo berempat gak kenapa-kenapa juga. Sorry-sorry aja kalo gue senggol!" ucap Mega sembari mendelikkan matanya.


"Sorry, sorry, mata lo gue congkel! Layar handphone gue retak, tolol!" ketus Nana sembari mendorong tubuh Mega.


"Bukan salah kita, ya! Suruh siapa lo berempat ngobrol sambil jalan. Cari perhatian mulu!" ketus Cellyn.


"Ngaca ******! Sahabat lo tuh yang suka caper!" bentak Shafira sembari melotot tajam.


"Caper kok sama saudara sendiri. Gak laku lo, hah?!" tanya Maudy dengan nada ngegas.


Mega semakin melotot tajam ke arah Maudy, kemudian ia menjambak rambut Maudy cukup kencang. "KURANG AJAR LO!"


"AW! LO YANG KURANG AJAR!" teriak Maudy sembari menjambak rambut Mega.


"HEH, GAK USAH JAMBAK-JAMBAKKAN! SMACKDOWN SAMA GUE SINI!" teriak Ayra sembari menarik rambut Mega, kemudian Mega menarik rambut Ayra.


"LO BERDUA KOK JAMBAK MEGA! LEPASIN GAK?!" teriak Cellyn sembari menarik tangan Ayra dan Maudy.


"MEGA! LEPASIN TANGAN LO, SIALAN!" teriak Nana.


Kemudian Nana dan Shafira mencoba menarik tangan Mega yang menjambak rambut kedua sahabatnya. Akhirnya mereka bertiga berhenti saling menjambak, tapi perkelahian mereka belum usai. Kini mereka kembali beradu mulut.


"Sekali lagi lo ngatain gue caper lihat aja!" ancam Mega pada Maudy.


"EMANG BENER, LO CAPER SAMA ELGARA!" bentak Maudy.


"KAYAK GAK ADA LAKI-LAKI LAIN AJA LO!" ketus Shafira.


"SADAR DIRI, JAMET! LO SAMA ELGARA TUH SAUDARA!" ketus Nana.


Ucapan Nana sontak membuat Ayra membelalakkan mata. Yang tadinya ia akan menghajar Mega–Ayra urungkan niatnya. Gadis berambut coklat ini mengerjapkan matanya beberapa kali.


Saudara? Jadi, Mega sama Elgara–


-batin Ayra.


"YA, TERUS KENAPA KALO GUE SAMA ELGARA?!" tanya Mega sambil ngegas.


"GUE KESAL LIHAT LO, BANGSAT!" teriak Ayra.


Bugh!


"Aaaa!" teriak semuanya.


Mega tersungkur ke lantai akibat bogeman Ayra. Mereka semua tak percaya dengan apa yang dilakukan Ayra. Kini Mega terduduk di lantai sembari memegang pipi nya yang sebentar lagi pasti membiru.


"AYRAAA! ANAK SETAN LO!" teriak Mega, kemudian ia berdiri dan langsung menjambak rambut Ayra.


"Heh, heh, heh! Stop!" ucap Anres sembari berusaha melerai keduanya, dibantu oleh Brio.


Beruntung Anres berhasil menarik tubuh Ayra menjauh dari Mega. Begitu pun dengan Brio yang menarik tubuh Mega menjauh dari Ayra. Keduanya masih melemparkan tatapan tajam.


Tak ingin mereka kembali ribut, Anres segera membawa Ayra ke kantin, disusul oleh ketiga sahabatnya dan juga Brio.


"Sakit ..." lirih Mega.


"Ayo ke UKS, harus buru-buru dikompres," ajak Cellyn yang diangguki Mega.


"Mega, Cellyn," panggil Alia membuat mereka berdua menghentikan langkahnya.


"Lama banget sih, lo! Keburu kita mati kelaperan!" bentak Cellyn sembari merebut kantong plastik di tangan Alia.


"Ma-maaf, tadi kantinnya penuh," sahut Alia sembari menundukkan kepalanya.


Mega menatap ke arah Alia tajam, lalu ia merebut kantong plastik di tangan Cellyn. "Makan aja sama lo!" bentak Mega sembari melempar kantong plastik tersebut ke arah Alia.


"Ih, Mega, gue laper," gumam Cellyn.


"Nanti aja, ayo," ajak Mega, kemudian mereka berdua berjalan menuju UKS.


Perlahan Alia meraih kantong plastik tersebut yang berisi dua roti dan juga susu. Alia menghela napasnya, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kelas.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Gila, gue tercengang Ra, lihat lo bogem Mega," ucap Nana sembari mengacungkan dua jempolnya.


"Gue kesal lihat lo, bangsat! Bugh!" ujar Maudy sembari menirukan tingkah Ayra tadi, "Waktu lo bogem Mega, gue bisa lihat sisi lain dari diri lo, Ra. Woah, amazing!"


"Nanti lo ajarin kita-kita ya, cara menghajar seseorang. Karena kita harus–LAKIKKK!" ucap Shafira dengan suara lantang pada kata 'lakik'.


Melihat para cewek di hadapannya yang tengah mengobrol, sekaligus mencoba menghibur Ayra agar ceria kembali. Membuat keempat pria itu tertawa sesekali.


"Kan, kamu udah aku ajarin, Sha," ucap Anggara.


"Gak bisa fokus kalo sama kamu mah, kebanyakan modus!" sahut Shafira, kemudian memutar bola matanya malas.


"Kamunya, sih, gemesin," ucap Anggara sembari tersenyum ke arah Shafira.


Mario mengernyitkan dahinya saat memperhatikan tingkah Anres. "Res, dari tadi lo cium telapak tangan lo mulu kenapa?"


Anres terkekeh kecil. "Wangi melon–parfum Ayra, gue suka," sahut Anres, kemudian tersenyum.


"Hah? Parfum gue nempel ke tangan lo?" tanya Ayra yang diangguki Anres.


"Tadi 'kan, gue pegang lengan lo, Ra, pas pisahin lo dari Mega," jawab Anres yang langsung diangguki Ayra beberapa kali.


"Oh iya, Mega itu saudaranya Elgara?" tanya Ayra sembari menatap mereka secara bergantian.


"Uhuk! Uhukkk!"


Elgara yang tengah menyeruput es cendol tiba-tiba tersedak karena pertanyaan Ayra. Semua memusatkan mata pada Elgara, begitu pun Ayra, bedanya Ayra menatap tajam ke arah Elgara.


"Iya, tapi si Mega gak sadar diri, anjir. Kek, anggap Elgara tuh pacarnya. Ya gak, El?" jelas Brio.


"I-iya, dia saudara gue. Bukan anggap gue pacar, dia cuma pengen terkenal aja makanya dekat-dekat gue," jawab Elgara, kemudian menyeruput es cendol nya kembali.


"Mega siapa lo, sih?" tanya Ayra sembari mencebikan bibirnya.


"Pulang sekolah gue tunggu di lapang," ucap Ayra sembari mengaduk-aduk mienya dengan tatapan ke arah Elgara.


"Panas Ra, mending di kamar aja. Gimana?" jawab Elgara, sontak Ayra membelalakkan matanya.


"Anjir! Mau ngapain lo berdua?" tanya Mario.


"Mau bikin adonan mereka, mah," sahut Anggara yang diacungi jempol oleh Elgara.


"Dongo!" ketus Ayra.


Dari tadi Nana terus memperhatikan Brio yang tengah makan. Sadar diperhatikan Brio mendongak menatap Nana, sontak Nana langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Apa lo lihat-lihat?" tanya Brio dengan tatapan dingin.


"Apaansih, siapa juga yang lihatin lo, ge-er!" ketus Nana.


"Psttt!" Mario memberi kode pada Shafira agar cewek itu bertukar tempat duduk. Shafira pun mengerti, ia beranjak dari kursi, berbarengan dengan Mario. Hal itu membuat Maudy mendongak ke arah Shafira.


"Loh, Sha lo mau–" Ucapan Maudy terhenti setelah Mario duduk di sampingnya.


"Cantik banget lo hari ini, Mod," ucap Mario sembari tersenyum manis.


Maudy mengulum bibirnya, kemudian ia memukul pelan lengan Mario. "Apaansih."


"Hidung lo, kok bersih, Mod?" tanya Mario.


"Berisik bulu babi! Bisa gak sih sehari aja lo gak tompel shaming, benci gue sama lo, Yo!" ketus Maudy sembari mencebikan bibirnya.


Tangan Mario terulur mengusap lembut rambut Maudy. "Lo lucu kalo lagi marah," ucap Mario membuat pipi Maudy memerah merona.


"Lo itu suka, kan, Mod, sama Mario?" tanya Ayra.


"ENGGAK!" jawab Maudy sembari menggeleng cepat.


Sebenarnya apa yang Ayra katakan itu benar. Bahwa Maudy mempunyai perasaan pada Mario, tapi perasaan itu selalu Maudy batasi, bahkan ia berniat untuk menghilangkannya.


Itu karena suatu keadaan yang membuat mereka tidak mungkin bisa untuk saling mencintai. Bersama sih bisa, tapi tidak bisa dengan status pacaran.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Lo mau apa, Ra, hm?" tanya Elgara, kemudian ia menyibak anak rambut yang hampir menghalangi wajah Ayra karena tertiup angin.


"Mau pulang," jawab Ayra.


Elgara membungkukkan sedikit tubuhnya agar selaras dengan tinggi Ayra. Mata elangnya menatap bola mata Ayra lekat. "Ra, gue tau lo marah. Makanya sebagai permintaan maaf gue ke lo, lo mau apa?"


"Nyadar juga," gumam Ayra yang terdengar oleh Elgara.


"Sorry, gue udah bohongin lo soal Mega. Haha ..." ucap Elgara yang di akhiri tawaan.


Sontak Ayra memukul perut laki-laki itu sembari mencebikan bibirnya.


"Akh! Sakit Ra, kuat banget sih tenaga, lo. Pantas aja pipi Mega sampai biru," ucap Elgara sembari memegang perutnya.


"Syukurin!" ketus Ayra.


"Ya udah, atas permintaan maaf, gue bakal beliin lo semua varian yupi? terus sama kiko, gimana?" tanya Elgara.


Sorot mata Ayra langsung berbinar-binar, ia mengangguk semangat menyetujui ucapan Elgara. Kalo soal yupi dan kiko gak mungkin Ayra tolak begitu saja.


Senyuman manis pun tercetak di bibir Elgara setelah melihat raut wajah Ayra kembali ceria. "Let's go, baby!" ucap Elgara.


"Mobil gue gimana?" tanya Ayra.


Elgara merebut kunci mobil di tangan Ayra. "Bro! Tolong bawa mobil Ayra, ya?" teriak Elgara pada keempat temannya.


"Yoi, siniin kuncinya," sahut Mario sembari menengadahkan tangannya untuk menerima kunci mobil.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Satu jam telah berlalu. Elgara dan Ayra keluar dari supermarket keduanya menenteng kantong plastik. Selain membelikan yupi dan kiko untuk Ayra, Elgara juga membelikan beberapa makanan untuk Lesya.


"Udah semua?" tanya Elgara.


"Udah sih, karena yupi ice cream, yupi little star sama yupi sea world, gak ada."


"Ayo pulang aja," ajak Ayra.


"Jemput adik gue dulu ya, ke tempat les," ucap Elgara.


"Ayo!" jawab Ayra semangat.


Setelah pergi untuk menjemput Lesya di tempat les. Kini mereka bertiga pulang ke rumah Elgara. Elgara mengajak Ayra untuk main ke rumahnya, Ayra pun menyetujuinya, karena ia malas pulang ke rumah yang kini hanya dihuni oleh dirinya sendiri.


"Yeayyy ... sampai ..." ucap Ayra, kemudian turun dari motor, lalu menggendong Lesya untuk membantunya turun dari motor.


"Teteh Ayra badannya wangi melon. Lesya suka deh," ujar Lesya sembari tersenyum ke arah Ayra. (Teteh: sebutan kakak perempuan di dalam bahasa Sunda)


Arya berjongkok sembari memegang kedua lengan Lesya. "Oh ya? Emang kecium sama Lesya?" tanya Ayra.


"Iya, wangi banget! Lesya tebak ... Teteh Ayra mandinya pakai jus melon, ya?" tanya Lesya


"Iya sama pohon-pohonnya di jus, Sya," sahut Elgara.


"Haha ... bukan, kok," jawab Ayra sembari tersenyum.


"Eh, ada tamu siapa, nih ..." ucap Resta sembari berjalan ke arah Ayra.


"Mama!" Sontak Lesya berlari, kemudian memeluk Resta.


"Kenalin Mam, itu–Teteh Ayra. Baiikkkk ... banget, bajunya wangi melon, Lesya suka," jelas gadis kecil itu.


Resta tersenyum menatap Ayra, saat itu pula Ayra mencium punggung tangan Resta dan memberikan senyuman yang sopan. "Halo Tante," sapa Ayra.


"Cantik banget. Pacar kamu, El?" tanya Resta.


"Still process, Mam," jawab Elgara sembari tersenyum, kemudian menyurai rambutnya ke belakang.


"Oh begitu ... Mama bantu doa aja, ya," ucap Resta membuat pipi Ayra memerah matang.


"Ya udah. Ayra, ayo masuk," ajak Resta yang diangguki Ayra.


Resta dan Lesya berjalan masuk ke rumah terlebih dahulu. Ayra melirik ke arah Elgara yang tengah menatapnya. "Ayo masuk ..." ajak Ayra.


"Duluan," ucap Elgara.


"Gak mau, malu. Gue kalo malu jadi kayak orang bego kalo ditanya. Gue kan mau terlihat good attitude di depan camer, hehe ..." ujar Ayra di akhiri kekehan kecil.


"Camer? Calon mertua?" tanya Elgara dengan raut wajah tercengang.


"Em–ish! Lama lo mah, ah!" Ayra pun berjalan terlebih dahulu meninggalkan Elgara.


Detik berikutnya bibir Elgara mengembang  lebar membentuk senyuman, kemudian ia mengulum bibirnya dengan mata yang berbinar-binar. "Jantung gue, anjir!" ucap Elgara sembari memegang bagian dadanya.