Vanoztra

Vanoztra
21. Jangan mengusik!



"Lo kenapa?!" bentak Brio sembari menghempaskan tangan Elgara yang mencekal kuat kerah seragamnya.


Mata Elgara memerah menatap Brio tajam. Napasnya semakin memburu dengan tangan yang mengepal kuat. Keadaan menjadi hening seketika semua orang memusatkan perhatian pada Elgara dan juga Brio.


Mendengar keributan, Abah Suro berjalan menghampiri Elgara sembari membawa nampan berisi es campur milik Mario."Eleuh-eleuh ... naha ribut si kasep teh, kenapa atuh?" tanya Abah Suro. (Kenapa ribut ganteng?)


"Gue salah apa sama lo, El? Gak jelas anjir, dateng-dateng. Kesurupan lo?" tanya Brio sembari menatap tajam ke arah Elgara.


Perkataan Brio yang seperti itu membuat emosi Elgara semakin meluap. Tadinya Elgara akan membicarakannya baik-baik, tapi respon Brio seperti itu membuat Elgara ingin menghajarnya.


"Gue tunggu di luar!" ucap Elgara tegas, kemudian Elgara melangkah keluar Warbah terlebih dahulu.


Brio menatap satu persatu temannya sebelum mengikuti langkah Elgara– seolah ia bertanya soal Elgara, tapi mereka semua terdiam tak bersuara.


"Keluar aja, Bri," ucap Anres.


Mata elang Elgara menajam saat Brio berjalan ke arahnya dengan raut wajah datar. Semakin Brio dekat ke arahnya, semakin meningkat amarah Elgara. Tangannya mengepal kuat hingga Brio berdiri tepat di hadapannya.


Bugh!


Elgara melayangkan kepalan tangannya pada wajah Brio. Darah segara mengalir dari hidung Brio lantaran pukulan Elgara mengenai hidungnya. Laki-laki itu pun mengusap darahnya kasar dengan pandangan menatap Elgara.


"Kalo gue punya salah–LO BILANG, SIALAN!" bentak Brio, kemudian ia melayangkan pukulan ke arah Elgara.


Tapi Elgara berhasil menangkis pukulan Brio, lalu menghempas lengannya. "Lo mau tau


kesalahan lo apa?" tanya Elgara.


"Tanpa gue kasih tau pun, lo udah taukan kesalahan lo apa? Jadi berhenti pura-pura gak tau!"


Bugh!


"GUE EMANG GAK TAU, SIALAN! GUE BUKAN CENAYANG, BANGSAT!" bentak Brio, kemudian ia membalas pukulan Elgara.


Bugh!


Mereka berdua saling melayangkan pukulan demi pukulan. Tak peduli mereka mempunyai ikatan apa karena keduanya sudah tersulut oleh emosi. Semua anak Vanoztra yang berada di Warbah berlari keluar setelah mendengar pukulan demi pukulan di luar sana. Mereka segera melerai Elgara dan Brio yang tengah berkelahi.


"Cukup, El!" ucap Anres sembari menarik tubuh Elgara, tapi cowok bermata elang ini terus memberi pukulan pada Brio.


"Anjir cukup!" Anres berusaha menarik lebih kuat lagi tubuh Elgara agar menjauh dari Brio.


Anggara pun menarik tubuh Brio yang sudah tak berdaya karena terus mendapatkan pukulan dari Elgara. "Ada apa, sih?" tanya Anggara menatap ke arah Elgara.


"LO PENGHIANAT, BRI!" ketus Elgara sembari menunjuk wajah Brio.


"PENGHIANAT APA SIH, HAH?! AING SALAH APA?!" tanya Brio dengan nada ngegas. (Gue)


"LO KENAPA GAK BILANG SAMA KITA, KALO KETUA CAYMIN ITU, RAJA!" jelas Elgara.


Tangan Brio yang mengalung pada leher Anggara, Anggara lepaskan begitu saja setelah mendengar penjelasan Elgara. Membuat Brio terjatuh karena tubuhnya tak kuat berdiri.


"****!" ketus Brio, kemudian ia mencoba berdiri kembali.


"Lo mau khianati kita semua, Bri? Kita tau Raja teman dekat lo, tapi seharusnya lo bilang, sialan! Jangan lindungi dia dari kita!" ujar Anres dengan nada tinggi.


"GUE–"


"Selama ini kita mati-matian cari tau soal Caymin, sedangkan lo–udah tau, tapi gak kasih tau kita, tolol!" ketus Mario.


"GUE–"


"Oh, jangan-jangan lo anggota Caymin juga. Terus selama ini lo hanya memata-matai Vanoztra. Biar Caymin bisa mengalahkan Vanoztra. Sampah lo!" ketus Anggara.


"Wah, anjir. Bener kata si Anggara."


"GUE–"


"Hajar lagi aja, El!"


"GUE–"


"Pengkhianat lo, babi!"


"DENGERIN GUE DULU, SETANNNN!" teriak Brio dengan raut wajah sangat kesal.


"Dosa lo semua udah buruk sangka sama gue! Lo pikir gue deket sama si Raja tau soal dia semua, hah? Ya kagak, lah, anying! Gue temen dia bukan emaknya, tolol!"


"Gue gak tau dia ketua Caymin! Bilang sama gue aja enggak, gue tanya dia aja enggak! Mana gue tau!" jelas Brio dengan nada yang kesal.


"MANA ADA MALING NGAKU! LO SENGAJA SEMBUNYIIN INI DARI KITA SEMUA, KAN?! PENGKHIANAT LO, BANGSAT!" ucap Elgara.


"ANJIR, LO–" Pukulan yang akan Brio layangkan pada Elgara terhenti.


Trit ... trit ... trit ....


Elgara mengeluarkan ponselnya di dalam saku celana, kemudian ia mengklik oke pada layar ponselnya agar pemberitahuan terkirim pada seluruh anggota Vanoztra. Setelah itu Elgara dan anak Vanoztra yang berada di Warbah–termasuk Brio segera naik ke motor dan bergegas pergi ke lokasi.


Berbarengan dengan tenggelamnya matahari, mereka tiba di lokasi. Seluruh pasukan Vanoztra turun dari motor. Saat itu pun seluruh pasukan Alaskar yang tengah menghajar dua anggota Vanoztra terhenti. Lagi-lagi Vanoztra di hadapkan dengan Alaskar.


Melihat ratusan pasukan Vanoztra yang lengkap di hadapannya, lagi-lagi membuat Nathan dan yang lainnya mengernyit heran. Bukan hanya mereka saja, perempuan yang tengah memantau di balik pohon besar pun ikut terkejut.


"Balik ke barisan semula!" titah Nathan pada pasukannya, begitu pun dengan dua anggota Vanoztra.


"Gimana? Perkelahian antar ketua utama dengan anggota inti? Seru banget, ya. Keduanya sama-sama kuat," ucap Nathan diakhiri senyuman miring.


Elgara menggeram kesal sambil mengepalkan kedua tangannya. Di dalam hatinya ia bertanya-tanya kenapa Nathan bisa tau soal ini. Apakah semua ini akal-akalan dia?


Pandangan Elgara beralih pada seseorang yang tak asing di matanya tengah berdiri di barisan Alaskar. Elgara mengernyitkan keningnya saat ia ingat siapa orang tersebut. Ternyata orang tersebut tak lain anggota Caymin yang Elgara hajar waktu itu.


"Lo heran sama dia?" tanya Nathan pada Elgara sembari menunjuk anggotanya menggunakan lirikan mata.


"Dia–anggota Caymin yang lo hajar waktu itu, kan? Kok bisa ya, dia sama Alaskar bukan sama Caymin?" tanya Nathan.


Detik berikutnya Nathan tertawa keras, kemudian ia menatap Elgara kembali. "BODOH!" ketus Nathan.


Semua anggota Vanoztra terkejut dengan penjelasan Nathan, sedangkan Elgara dari tadi menggeram penuh emosi. Rahangnya mengeras hingga urat-uratnya terlihat.


"Kurang ajar!" geram Elgara dengan napas yag memburu.


"Dan soal Raja ..."


"Bro," panggil Nathan.


Raja yang akan memakai helm– tertunda setelah kehadiran Nathan. Ia mengernyit saat melihat Nathan yang berasal dari sekolah lain berada di lingkungan SMA Bintang Negara.


"Ada perlu apa?" tanya Raja.


"Gue Nathan dari SMA 11. Bro, gue mau minta tolong sama lo," ucap Nathan.


"Minta tolong apa?" tanya Raja.


"Lo pura-pura jadi ketua gangster, gimana? Mau bantu gue?" tanya Nathan.


"Terus gue harus ngapain?" tanya Raja.


"Gampang kok, lo cuma pakai jaket ini dan harus ada anak Vanoztra yang lihat lo. Setelah itu lo bisa lepas jaketnya," jelas Nathan sembari menyerahkan jaket pada Raja.


"Vanoztra? Gak deh, gue gak mau urusan sama mereka," ujar Raja.


"Lo tenang aja, gue pantau lo di sini. Kalo ada apa-apa gue tanggung jawab," jelas Nathan yang kemudian diangguki oleh Raja.


Beberapa detik kemudian, Elgara yang tengah menyalakan motor– mengalihkan pandangan pada Raja yang tak jauh dari jaraknya. Ia tersentak melihat tulisan 'Caymin' pada jaket yang dikenakan Raja.


Elgara menggeram kesal. "Jadi Raja– sialan!"


"Dia cuma suruhan gue. Bodohnya lo percaya gitu aja dan berburuk sangka sama teman lo sendiri. Hahaha ..." jelas Nathan di akhiri tawaan serentak bersama anggotanya.


Emosi Elgara semakin meluap begitu pun dengan seluruh anak Vanoztra. Mereka geram karena telah dipermainkan oleh Alaskar. Di sisi lain Elgara akui ia salah, ia bodoh, tidak berpikir panjang dan langsung saja menyimpulkan bahwa itu benar.


Nathan menyeringai puas dengan keberhasilannya membodohi Vanoztra.


'Ini baru awal percobaan, misi lo hebat Ayra.'


"Sorry, El, gue masih gak terima soal kepergian Kak Micho. Jujur sebenarnya gue gak mau Vanoztra hancur. Karena gue gak mau lihat lo sedih," ucap Ayra sembari menggenggam liontin kalungnya.


"MAJU!" titah Elgara dengan suara lantangnya.


Dalam hitungan detik, ratusan pasukan Vanoztra berlari ke arah pasukan Alaskar. Tangan mereka semua sudah gatal ingin melayangkan pukulan pada pasukan Alaskar–terutama Nathan.


Hingga detik ini pukulan demi pukulan mereka layangkan pada lawannya. Suara pukulan tersebut meramaikan sepi nya lapangan yang luas ini. Satu persatu pasukan Alaskar berjatuhan membuat Nathan panik, tapi detik berikutnya raut wajah kepanikan Nathan berubah menjadi raut wajah penuh kelicikan.


"KELUARKAN!" teriak Nathan dengan suara lantangnya.


Seluruh pasukan Alaskar mengeluarkan belati lipat yang mereka simpan pada saku celananya. Pasukan Vanoztra mundur sejenak mereka tersentak saat mengetahui Alaskar membawa senjata. Ini pertama kalinya pada pimpinan Nathan, Alaskar berkelahi menggunakan senjata.


"Sialan!" geram Elgara, kemudian laki-laki bermata elang ini melirik ke arah pasukannya memberi tanda untuk tidak berhenti.


"JANGAN BERHENTI!" teriak Elgara pada pasukannya.


Mereka pun kembali menyerang Alaskar dengan tangan kosong. Beruntung pasukan Vanoztra jago dalam hal menangkis, menghindar dan melawan, tapi tetap saja mereka akan terkena goresan oleh benda tajam itu.


"Dongo! Kenapa–kenapa mereka bawa senjata tanpa sepengetahuan gue?!" ucap Ayra dengan mata yang melebar menatap ke arah perkelahian.


"Sialan! Kepala batu banget sih, mereka!" ucap Ayra dengan nada kesal.


Gadis berambut coklat itu terdiam kembali–memusatkan pandangannya pada mereka. Ia cemas saat melihat satu persatu anggota gangsternya mulai berjatuhan kembali, padahal mereka menggunakan senjata.


"Strategi penyerangan macam apa ini?!" ucap Ayra, kemudian berdecak kesal sembari mengusap wajahnya.


"Gue harus bantu mereka, tapi–arrghh! Nanti kacau kalo anak Vanoztra tau gue."


Menit kemudian pasukan Alaskar terkapar di permukaan tanah dengan keadaan tak berdaya. Kini tinggal Nathan yang masih berdiri tegak, padahal Anres sudah melayangkan berapa kali pukulan pada laki-laki ini.


"Res, awas!" teriak Elgara sembari mendorong tubuh Anres hingga terjatuh bersamaan dengan belati di tangan Nathan.


Hampir saja kesialan menimpa Anres, sebab Nathan berniat akan menghunuskan belati tersebut jika Elgara tidak mendorong tubuh Anres. Kini Elgara memberi perlawanan pada Nathan. Hingga laki-laki itu akhirnya terkapar lemah di permukaan tanah.


"Hancur banget ya, Alaskar dipimpin sama lo. Dengan bantuan senjata, tapi masih kalah," ucap Anres.


"Lo kalo gak becus pakai belati gak usah gaya-gayaan!" ketus Mario.


"Sayang nih belatinya. Gue pake dah buat potong sosis lo, Nat," ucap Anggara sembari meraih belati yang berada di dekat Nathan.


"Sekali lagi gue ingetin sama lo semua! Jangan mengusik Vanoztra lagi! Kita gak mau lo semua mati di tangan kita dan kita gak mau dicap sebagai ajal seseorang!" ucap Elgara dengan suara lantangnya.


Detik kemudian. "VANOZTRA!" teriak Elgara dengan suara kencang.


Mereka serentak menyahut, "TREAT THEM AS THEY TREAT US!"


"HUOOOO!!!!" teriak seluruh pasukan Alaskar sembari bertepuk tangan.


"Cabut! Kita ke basecamp sekarang," pinta Elgara, kemudian ia merangkul pundak Brio.


Brio mendelikan matanya, kemudian ia melenggang pergi. Hal itu membuat sebagian anak Vanoztra tertawa–melihat sikapnya yang sama seperti perempuan ketika marah.


Ayra menggeram kesal ia menghentakkan kakinya, kemudian berjalan menghampiri Nathan. Sebelum melangkah, Ayra menutupi  wajahnya hingga yang terlihat hanya dua matanya dan bibirnya saja.


"Kalian semua gimana, sih?! Gue udah bilang jangan pakai senjata!" teriak Ayra.


"Lo lagi, Nat. Kenapa gak kasih tau gue dulu soal strategi penyerangan ini?!" tanya Ayra dengan nada kesal.


"Bacot lo! Gue lagi kesakitan kayak gini bukannya bantuin dulu. Nanti di basecamp ngomel nya," ucap Nathan sembari berusaha bangkit, kemudian Ayra pun membantu Nathan.


Hal tersebut menjadi pusat perhatian seluruh pasukan Vanoztra. Ayra melirik sejenak ke arah Elgara yang tengah menatapnya, kemudian ia mengalihkan pandangannya kembali sembari memapah Nathan.


Sebelah alis Elgara terangkat sempurna. 'Girl? Who is she?'