Vanoztra

Vanoztra
16. Perasaan apa ini?



"Lesya diam di mobil dulu, ya. Abang El mau ke warung sebentar. Gak akan lama, kok," ucap Elgara pada Lesya.


"Hem, tapi—Abang El janji ya, gak lama. Lesya takut sendirian di mobil," jawab Lesya.


"Iya gak lama, kok. Ajak main aja kucingnya," ujar Elgara.


Setelah izin pada adiknya, Elgara keluar dari mobil. Raut wajah Elgara kembali sangar menatap ke arah target. Ia berjalan dengan aura yang menyeramkan.


Bugh!


Satu kali pukulan berhasil membuat satu orang anggota Caymin terjatuh dari motornya. Belum siap ia bangkit, Elgara sudah melayangkan pukulan demi pukulan. Hingga tak ada waktu untuk anggota Caymin itu membalas pukulan Elgara.


Laki-laki bermata elang ini semakin membabi buta melayangkan pukulannya. Tak ada ampun baginya, ia benar-benar tersulut emosi. Emosi atas temannya yang dibuat koma dan emosi atas rasa sakit ucapan Ayra, ia pelampiaskan semua amarahnya pada anggota gangster Caymin ini.


Bugh!


"Siapa pemimpin lo?! Atas dasar apa gangster lo keroyok teman gue, bangsat!" teriak Elgara.


"LO GAK PERLU TAU SIAPA PEMIMPIN CAYMIN!" teriaknya sembari mencoba menangkis pukulan Elgara.


"ATAS DASAR APA KEROYOK TEMAN GUE, SIALAN?!" bentak Elgara.


Bugh!


Anggota Caymin tersebut berhasil membalas pukulan Elgara tepat di bagian mata Elgara. Laki-laki bermata Elang ini memejamkan matanya sejenak setelah dirasa pandangannya kabur, tapi tak memakan waktu lama, ia kembali memukul terus menerus hingga anggota Caymin itu terbaring di permukaan tanah.


"KITA GAK MAU VANOZTRA SELALU BERADA DI ATAS!" teriaknya dengan tubuh yang sudah tak berdaya.


"CARA GANGSTER LO SAMPAH, ANJENG!" teriak Elgara.


Bugh!


Kali ini anggota Caymin berhasil memukul bibir Elgara, hingga darah segar keluar di sudut bibir Elgara. Emosi Elgara semakin meluap, ia terus memukulnya tak peduli dengan keadaan lawannya yang sudah tak berdaya. Elgara akan membuat lawannya ini sama seperti temannya, bahkan lebih dari temannya.


"ABANG EL, BERHENTI!!!" teriak Lesya dari seberang.


Elgara menghentikan pukulannya, setelah melihat adiknya yang berteriak dan juga menangis di seberang sana. Jika Lesya tidak berteriak 99% kemungkinan nyawa anggota Caymin mati di tangan Elgara.


"Malam ini lo masih selamat karena adik gue. Urusan Vanoztra dengan gangster sialan lo itu belum selesai!" ucap Elgara, kemudian menendang anggota Caymin itu yang sudah terkapar lemah.


Elgara berlari menghampiri Lesya, yang tengah terisak menangis sembari menggendong kucing. Elgara berjongkok untuk menyamakan tingginya. Tangannya terulur mengusap rambut panjang milik Lesya.


"Maafin Abang El, ya?" ucap Elgara.


"Hiks! Abang El jahat udah bohongin Lesya. Tadi katanya mau ke warung ... hiks! Tapi kenapa malah berantem," ujar Lesya sembari terisak menangis.


"Lesya takut ... Lesya takut Abang El, kenapa-kenapa." Gadis kecil itu terus terisak menangis.


Elgara tersadar atas ucapan Lesya, ia terdiam sejenak membayangkan jika dirinya kalah melawan anggota Caymin. Bagaimana dengan Lesya? Ah, ia benar-benar tidak berpikir panjang soal tadi. Hampir saja membahayakan adiknya.


Elgara menyeka sisa air mata Lesya. "Enggak kok, Abang El gak kenapa-kenapa. Gak terluka juga."


"Ini apa?" ucap Lesya sembari memegang sudut bibir Elgara.


Sontak Elgara memegang sudut bibirnya, ia tak sadar bahwa bibirnya terluka. Laki-laki bermata elang ini menyeka darahnya, kemudian ia tersenyum ke arah Lesya.


"Udah gak apa-apa kok, tinggal diobati. Nanti Lesya yang obati lukanya Abang El, ya?" ucap Elgara yang diangguki Lesya, kemudian ia menggendong adiknya untuk masuk kembali ke dalam mobil.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Semua orang yang berada di basecamp memusatkan mata pada Elgara. Laki-laki itu berjalan masuk ke dalam basecamp sembari menggendong Lesya dan juga menenteng kandang kucing.


"Widihhh ... si Oreo udah perawatan medikyur, pedikyur and cukyur-cukyur ... makin caper tuh janda-janda ke lo," ucap Anggara sembari menghampiri Elgara, lalu meraih kandang kucingnya dari tangan Elgara.


Kucing jantan berbulu hitam dan putih itu dinamai Oreo oleh seluruh anggota Vanoztra. Kucing ini sudah menjadi bagian Vanoztra juga, ia dijuluki sebagai king of Vanoztra.


"Eh, ada Lesya. Ayo main sini sama Aa Gara," ajak Anggara.


(Aa: sebutan untuk kakak laki-laki dalam bahasa Sunda)


Lesya pun turun dari gendongan Elgara, ia berjalan menghampiri Anggara yang tengah mengeluarkan Oreo dari kandangnya. Dari sekian banyak anggota Vanoztra, Lesya lebih dekat dengan Anggara.


"Adik lo masih kecil udah cantik banget. Gimana nanti pas udah gedenya, anjir," ucap Anres.


"El, adik lo gue DP-in dulu, ya. Pakai tanah— sekresek," ucap Mario yang langsung dilempar kerupuk oleh Elgara.


"Lo pikir mau ngubur tai kucing," sahut Elgara sembari mengompres luka pada bibirnya.


Mereka semua baru tersadar mata dan bibir Elgara lebam. "Lo kenapa, El?" tanya Anres.


"Gue ketemu anggota Caymin tadi, gue langsung hajar dia habis-habisan. Kalo Lesya gak teriak panggil gue, gue habisin tuh orang," jelas Elgara.


"Kok gak terdeteksi ke komputer?" tanya Mario sembari menoleh ke arah komputer.


"Gue sengaja tinggalin handphone di mobil. Lagian cuma seorang, gak perlu bantuan kalian," jawab Elgara.


"Terus-terus gimana lagi?" tanya Anggara yang kini sudah terduduk di kursi sembari memangku Lesya.


"Gue sempat tanya pemimpin Caymin, tapi dia gak mau kasih tau. Terus gue tanya kenapa mereka keroyok anggota Vanoztra. Jawabannya ya gitu—sama kayak Alaskar," jelas Elgara.


"ANJENG! GANGSTER KECIL AJA BELAGU!" ketus Brio.


"Urusan Vanoztra dengan Caymin belum beres," ucap Elgara, kemudian menyeruput minuman chocolate entah punya siapa.


"Tugas kita sekarang cari info siapa pemimpin Caymin. Besok aja kita mulai start nya, sekarang lo ajak adik gue main deh, dia pengen main sama kalian," ujar Elgara.


Serentak mereka menjawab, "Siap, El!"


Setelah itu Elgara menuangkan makanan untuk Oreo, sedangkan yang lainnya mulai mengajak Lesya bermain.


"Lesya mau main apa sekarang?" tanya Anres.


"Main salon-salonan aja, yuk! Soalnya Lesya bawa mainan buat salon-salonan," jawab Lesya sembari mengeluarkan mainannya di tas.


"Em ... Lesya pengen Aa Mario dulu yang pertama disalon. Nanti lanjut Abang Brio," ucap Lesya.


"Asiaaap, cantik! Bikin Aa Mario jadi kayak Tae-hyung, ya," ucap Mario sembari menggeser duduknya mendekat ke arah Lesya.


"Bikin Aa Mario jadi kayak bagong aja Lesya," ujar Anggara yang langsung dijitak oleh Mario.


Sebutan Lesya untuk mereka beragam-ragam. Ada yang dipanggil Abang dan ada juga yang dipanggil Aa.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Resta tersenyum sembari berjalan ke arah Elgara yang tengah menggendong Lesya. Karena keasikan main bersama anak-anak Vanoztra, membuat gadis kecil ini tertidur nyenyak di mobil.


"Iya Mam, nanti Elgara masuk," sahut Elgara.


Bukannya langsung masuk, tapi Elgara masih berdiri di tempat, ia menundukkam kepalanya, "Malam ini, saatnya gue akhiri," ucap Elgara.


"Lesya udah ditidurin, Mam?" tanya Elgara setelah masuk ke dalam rumah.


Pandangan Elgara sempat melirik ke arah Bagas yang tengah menatapnya intens. Karena Elgara mempunyai urusan penting, ia memilih melangkahkan kakinya menuju kamar, daripada mengobrol dengan kedua orang tuanya.


"Jangan masuk kamar dulu," titah Bagas.


Baru dua langkah Elgara berjalan, ia terpaksa menghentikan langkahnya. Elgara menoleh ke arah Bagas. Sebelum Bagas berbicara, ia sudah tau apa yang akan diucapkan Papanya.


"Habis darimana kamu sama Lesya?" tanya Bagas.


"Dari taman," dusta Elgara. Tak mau lama-lama menanggapi Bagas, Elgara berniat melangkahkan kakinya kembali.


"Jangan masuk kamar dulu!" ucap Bagas dengan nada tinggi.


Elgara berdecak sebal, ia kembali berdiri di tempat. Bagas pun beranjak dari kursinya, berjalan menghampiri Elgara. Pandangan keduanya saling menatap tajam.


"Wajah kamu kenapa bisa lebam gitu?" tanya Bagas.


"Berantem," jawab Elgara singkat.


Plak!


Satu tamparan mendarat mulus di pipi Elgara. Rasanya kini pipi Elgara sudah mati rasa akibat sering ditampar oleh Bagas. Laki-laki bermata elang ini hanya terdiam dengan tatapan datar.


"BERANTEM?! BISA-BISANYA KAMU BERANTEM DI SAAT BAWA LESYA! GIMANA KALO LESYA KENAPA-KENAPA?!" bentak Bagas.


"Pah, udah Pah. Nanti Lesya bangun," ucap Resta sembari mencoba menenangkan suaminya.


"Tapi Lesya gak kenapa-kenapa, kan, Pah? Jadi buat apa Papa marah-marah, sedangkan Lesya aman-aman aja," jelas Elgara.


"Oh, karena Papa khawatir Elgara terluka?" Cowok bermata elang itu tertawa kecil, kemudian raut wajahnya kembali datar, "Hah ... mustahil Papa khawatir sama luka Elgara, karena sama mental Elgara aja Papa gak peduli--"


Plak!


Lagi-lagi tamparan itu mendarat di pipi Elgara. Tak bisa membalas perbuatan Papanya, Elgara hanya menghela napas.


"Elgara benarkan? Papa selalu menuntut Elgara agar menjadi anak yang sesuai keinginan Papa!"


"Padahal setiap anak punya bakat tersendiri, gak bisa disama ratakan dengan anak yang lain dan gak bisa disesuaikan dengan keinginan orang tua!" jelas Elgara.


"Sampai sini Papa paham?" tanya Elgara.


"Mustahil juga sih, kalo Papa memahami perkataan Elgara," ucap Elgara.


"MULAI KURANG AJAR KAMU ELGARA!" bentak Bagas sembari mengangkat tangannya— berniat akan menampar Elgara kembali, tapi Resta menahan tangan Bagas.


"UDAH CUKUP!" teriak Resta sembari menatap bergantian ke arah Bagas, lalu Elgara.


"Sampai kapan kalian saling membenci kayak gini? Mama sedih lihatnya," tanya Resta dengan mata berkaca-kaca.


"Elgara gak benci sama Papa, Mam, sama sekali gak benci, tapi Papa—entah," jawab Elgara, kemudian ia melenggang pergi menuju kamar.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Sebelum menjalankan rencananya, Elgara merenung kembali, ia mencoba berpikir berulang kali agar tidak salah mengambil keputusan. Kini Elgara tengah menuangkan susu bubuk pada mangkuk kecil.


Dulu Elgara seorang perokok, tapi sekarang ia sudah berhenti merokok dan sebagai gantinya ia sering ngemil susu bubuk atau permen karet. Alasannya sih demi menjaga bibir seksinya agar terus berwarna merah muda, karena semua orang suka bibir Elgara.


"Gak ada indahnya juga kalo gue bertahan," ucap Elgara, kemudian ia meraih ponselnya.


Baru saja mata Ayra terpejam, tapi dering ponsel membangunkan dirinya, kemudian tangan Ayra terulur ke atas nakas untuk meraih ponsel.


"Kok tumben Elgara telepon. Biasanya spam chat jam segini," ucap Ayra.


"Malas gue jawabnya. Paling juga nanya idih tidir bilim? Hah ... basi." Gadis itu kembali meletakkan ponselnya di atas kening, matanya kembali menutup.


Detik kemudian mata Ayra kembali terbuka. "Lo jahat banget sih, Ra, sama Elgara. Udah bentak dia di depan temen-temennya, udah ngomong yang bikin dia sakit hati—terus sekarang lo gak jawab telepon dia."


"Aduh, Ra ... kasihan loh anak orang lo gituin. Nanti kalo ngebalik ke anak lo gimana? Gue jawab aja, deh," ucap Ayra, kemudian terduduk.


Sebelum menjawab teleponnya Ayra berdeham beberapa kali.


"Halo El, ada apa? Tumben telepon, biasanya jam segini lo spam chat. Handphone gue sepi kayak kuburan."


Elgara terdiam sejenak, ia menurunkan ponselnya dari dekat telinga. Ia melihat foto profil yang terpampang di layar ponselnya untuk memastikan Ayra apa bukan yang ia telepon.


Tidak seperti biasanya intonasi Ayra berbicara pada Elgara seperti ini. Membuat Elgara terheran-heran ditambah kalimat terakhir yang seolah Ayra menunggu dirinya.


"El? Kok diem?"


"Hem, lo marah ya sama gue? Tadi gue terlanjur kesal sama lo, El. Ditambah teman-teman gue yang terus maksa buat cerita."


Masih tak ada jawaban, tapi Ayra terus berbicara, "El, gue mau minta—"


Putus. Gue ralat semua ucapan gue waktu di Warbah.


Sontak Ayra membelalakkan matanya. Putus, satu kata yang paling Ayra benci. Kini, seketika tubuhnya melemas mendengar Elgara berkata seperti itu.


"H-hah? Kok bilang gitu, El?"


Karena hubungan ini gak pantas untuk berlanjut jika hanya satu pihak saja yang mencintai, Ra.


"Lo cuma marah karena gue gak minta maaf sama lo, kan, El? Waktu awal ketemu lo bilang gak suka sama cewek yang gak bisa bilang maaf."


"Oke, gue minta maaf. Gue minta maaf udah bentak lo, El, di depan temen-temen dan bikin hati lo—"


Ra, gue gak marah sama lo. Ini emang udah keputusan gue. Lagian hubungan ini tercipta karena pemaksaan, bahkan karena ancaman gue juga.


Sorry for my attitude, Ra. Udah malam— waktunya tidur, bye.


Ponsel yang dipegang erat pun terjatuh dari tangan Ayra. Kini ia menatap ke depan, matanya terasa memanas. Tak lama tetesan bening mengalir membasahi pipinya.


Ayra memegang dadanya yang terasa sesak. Aneh, hatinya terasa begitu sakit saat mengingat kembali ucapan Elgara tadi. Cinta ini seolah membalik begitu saja pada Ayra.


"Kenapa hati gue sakit dengarnya, padahal ini yang gue tunggu-tunggu sebelumnya," gumam Ayra dengan air mata yang terus menetes.


Ayra menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak, lalu berkata, "Perasaan apa ini?"