Vanoztra

Vanoztra
36. Dihukum



Mereka berdua langsung terperanjat saat lampu tersebut pecah. Dengan cepat Elgara menarik tubuh Ayra agar menjauh dari serpihan lampu tersebut. Untungnya lampu itu tidak mengenai kaki Ayra.


"Lo gak apa-apa, Ra?" tanya Elgara.


"Enggak-enggak, gue gak apa-apa. E–gue ambil sapu dulu ya," sahut Ayra, kemudian gadis itu melangkahkan kakinya dengan wajah memerah.


Elgara terkekeh melihat raut wajah Ayra yang salah tingkah, kemudian raut wajah Elgara berubah menjadi sangar setelah pandangannya kembali menatap pada lemari Ayra.


Beberapa menit kemudian.


"Waaaa! Bagus banget rumahnya ..." ucap Ayra sembari tersenyum lebar.


"Lo pastiin lampunya selalu nyala ya, soalnya anak ayam kayak gini gak boleh kedinginan," jelas Elgara.


Ayra menganggukkan kepalanya sembari tersenyum ke arah Elgara. Detik berikutnya gadis itu menghantam tubuh Elgara, ia memeluk Elgara begitu kuat. "Makasih My king! I love you," ucap Ayra.


"I love you too, My queen," sahut Elgara sembari mengusap-usap rambut Ayra.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Gimana sih maksudnya, nih drakor? Gue gak ngerti," ucap Elgara sembari asik memakan popcorn.


"Kehidupan mereka tuh ada di dunia komik. Jadi kehidupan mereka tuh diatur sama penulis komik itu, ngerti gak?" tanya Ayra.


Elgara mengganggukkan kepalanya beberapa kali. "Oh ... iya-iya gue baru paham. Kirain gue, dia tuh punya dua kepribadian," ucap Elgara.


Tring ....


"Itu handphone lo bunyi, Ra," ujar Elgara.


"Biarin aja paling juga Mama," sahut Ayra, kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Elgara.


Laki-laki bermata elang itu menghela napasnya, kemudian ia meraih ponsel Ayra. Sontak gadis bermata coklat itu membelalakkan matanya saat Elgara menjawab telepon tersebut.


"Halo, Tante?"


El, kamu lagi sama Ayra?


"Iya Tan, lagi di rumah sama Ayra."


Ayra baik-baik aja kan, El? Dia selalu makan, kan?


"Iya, Ayra ba–"


Ucapan Elgara terhenti saat Ayra merebut ponselnya dari tangan Elgara. Gadis itu mencebikan bibirnya sembari menatap Elgara, kemudian Ayra menjawab pertanyaan Regina barusan.


"Ayra baik-baik aja, Mam."


Kamu kenapa gak angkat-angkat telepon dari Mama atau Papa, sayang?


"Ayra sibuk banyak tugas."


Oh begitu ... jangan lupa makan ya, Ra. Sebelum berangkat sekolah kamu sempat sarapan dulu, kan?


"Iya, kadang Ayra sarapan di kantin."


Kok gak di rumah?


"Gak selera."


"Mama sama Papa kapan pulang? Katanya cuma sebentar, tapi sampai sekarang kalian belum pulang."


Em ... maaf Ra, Mama sama Papa masih belum bisa pulang ke Indonesia. Kayaknya–


"Ayra bentar lagi ujian loh, Mam. Masa kalian gak akan pulang untuk kasih Ayra semangat?"


Maaf. Nanti Mama sama Papa semangatin kamu sambil video call aja, ya.


"Ayra gak butuh telepon atau video call, Ayra pengennya kalian pulang."


Gak bisa sayang, maaf ... Mama juga pengen pulang, tapi pekerjaan di sini belum selesai, Ra.


Dan kayaknya saat kamu kelulusan pun Mama sama Papa masih belum bisa pulang. Gak apa-apa, kan–


Ayra langsung mematikan teleponnya tak menjawab perkataan Regina barusan. Kini hatinya merasa kesal ditambah kecewa juga. Elgara yang mendengar percakapan tersebut, ia langsung menarik Ayra ke dalam pelukannya.


"Tega banget sih sama gue, padahal di hari kelulusan nanti seharusnya Mama sama Papa pulang. Masa biarin gue sendirian," ujar Ayra dengan raut wajah kecewa.


"Gue yakin mereka pasti pulang, kok," ucap Elgara memberi ketenangan.


Laki-laki bermata elang itu mengalihkan pandangannya, ia menatap Ayra dari samping. Senyuman pun terbit di bibirnya. "Kapan sih, Ra, lo jeleknya? Lagi cemberut kayak gini aja lo cantik," ucap Elgara.


Ayra melepaskan pelukannya, lalu berkata, "Gini, nih."


"Apaan?" tanya Elgara dengan dahi yang berkerut.


"Suara hati buaya!" ketus Ayra.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Ting!


Ting!


Ting!


Ayra membuka matanya perlahan sembari menggeliatkan tubuhnya. Gadis itu terdiam sejenak untuk mengumpulkan nyawa. Tangan Ayra terulur mengusap pundaknya yang terasa sakit.


Tring ....


Ayra meraih ponsel Elgara yang tergeletak di atas meja, kemudian ia membelalakkan matanya saat tersadar bahwa ini ponsel Elgara bukan ponsel miliknya. Pandangan Ayra beralih ke arah Elgara yang masih tertidur di sofa yang berada di seberangnya.


"Halo, Bri, ada apa?"


Loh, Ra, kok ponsel Elgara ada di lo? Elgara nya mana?


"Dia masih tidur. Emangnya ada apaan?"


Brio membelalakan matanya setelah mendengar penjelasan dari Ayra. Laki-laki itu pun sempat menoleh ke belakang ke arah teman-temannya, dengan raut wajah terkejut.


Buruan ke sekolah, lo lihat jam berapa ini?


Ayra melirik ke arah jam. Sontak ia terkejut saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. "GILA!" teriak Ayra.


Buruan, gue tunggu di Warbah.


Brio mematikan telepon. Gadis bermata coklat itu segera beranjak dari duduknya, kemudian menepuk-nepuk pipi Elgara agar cowok itu terbangun. "El, bangun udah siang!" teriak Ayra.


"Hem?"


"Bangun, dongo! Kita telat ke sekolah!" teriak Ayra sembari menarik tangan Elgara hingga laki-laki itu terduduk dari baringnya.


Elgara menggaruk kepalanya dengan mata yang masih terpejam. "Apaan?" tanya Elgara.


"Ck! Masih nanya! Kita–telat–ke sekolah!" jelas Ayra.


"HAH?!" teriak Elgara sembari melirik ke arah jam.


"Masih di mana, Bri, katanya?" tanya Anres.


Brio memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, kemudian ia menatap kembali ke arah teman-temannya. "Masih tidur kata Ayra," ucap Brio.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Kelima anak Vanoztra dan juga Ayra menghentikan langkahnya di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup. Helaan napas pasrah dan lelah terdengar dari mereka masing-masing.


Mereka berlima sengaja membiarkan motornya di Warbah karena mereka yakin gerbang sekolah sudah ditutup. Serentak mereka saling menatap secara bergantian, kemudian pandangannya mendongak menatap tinggi gerbang tersebut.


"Gimana?" tanya Brio yang diangguki keempat temannya, kemudian mereka menatap ke arah Ayra.


"Ra," panggil Elgara.


"Kan, gampang kalo ceweknya gak menye-menye. Diajak manjat gak teriak-teriak," ujar Mario sembari melangkahkan kakinya untuk memulai memanjat pagar tersebut.


"Aman gak bos?" tanya Mario setelah berhasil memanjat setengah gerbang.


Anggara mengacungkan jempolnya sembari memantau–berjaga-jaga jika ada Pak Usep. "Aman ..." ucap Anggara.


Setelah Mario berada di atas gerbang, kini Brio dan Anggara mulai memanjat gerbang tersebut, disusul Elgara dan Anres, sedangkan Ayra ia masih menunggu mereka masuk ke area sekolah.


Ayra membelalakkan matanya ke arah kunci gerbang yang ternyata sama sekali tidak terkunci. Bibir Ayra mengembang membentuk senyuman. "Tuhan sayang banget sama gue," gumam Ayra.


"Buruan, Ra! Keburu ada Pak Usep!" ucap Elgara setengah berteriak.


Dengan percaya diri gadis itu melangkahkan kakinya. Tiba di dekat gerbang tangannya memegang pegangan pagar tersebut, dengan raut wajah penuh kesombongan Ayra menggeser gerbang tersebut.


Sontak kelima pemuda itu ternganga melihat Ayra yang membuka gerbangnya, sedangkan Ayra ia tersenyum manis. "Ayo, buruan," ajak Ayra sembari terus berjalan meninggalkan mereka.


"Lah, terus ngapain kita capek-capek manjat?" tanya Anggara dengan raut wajah tercengang.


"Udah lah, anjir, ayo!" ajak Anres sembari merangkul pundak Anggara dan menyeret laki-laki itu untuk mulai berjalan.


Mereka berenam sudah memasuki koridor kelas. Mereka menundukkan kepalanya setiap melewati jendela kelas. Langkah mereka pun sembari mengendap-endap. Jarak Ayra menuju kelasnya tinggal beberapa langkah lagi, tapi nasib sial menghampiri dirinya hari ini.


"Kalian semua berhenti!" ucap Bu Tarti tegas.


Serentak mereka membalikkan tubuhnya menatap ke arah Bu Tarti. "Duh, sialan! Dicegat malaikat maut," gumam Mario.


"Jam berapa ini?" tanya Bu Tarti.


"Jam delapan Bu ..." jawab mereka serentak.


"Masuk sekolah jam berapa?" tanya Bu Tarti dengan tatapan horrornya.


"Jam tujuh Bu ..." jawab mereka serentak.


"Terus kenapa kalian baru datang?" tanya Bu Tarti.


"Kan, Ibu tau kita telat pakai nanya segala lagi," jawab Anggara yang langsung ditoyor kepalanya oleh Brio dan Mario.


"Jawab apa kamu, hah?!" tanya Bu Tarti sembari berjalan menghampiri Anggara.


Anggara terkekeh kecil sembari menggaruk-garuk tengkuknya. "Enggak Bu, saya bilang Ibu hari ini cantik banget–kayak Selena Gomez," jelas Anggara.


"Gombalan buaya kamu gak mempan buat Ibu! Ibu gak pernah baper sama gombalan-gombalan siapa pun, termasuk suami Ibu!" ketus Bu Tarti.


"Ya Allah ... yang jadi suami Ibu ngebatin banget. Kalo saya sih, mending cari cewek lagi," ucap Mario.


Ucapan Mario langsung mendapatkan pelototan tajam dari Bu Tarti. Detik itu juga tangan Bu Tarti terulur untuk menjewer telinga Mario dan juga Anggara. Mereka berdua meringis kesakitan.


"Kalian semua ikut Ibu ke lapangan! Hormat pada bendera sampai jam istirahat!" pinta Bu Tarti tegas.


"Kamu lagi Ayra! Jadi perempuan gak bisa disiplin!" bentak Bu Tarti.


"Maaf Bu," ucap Ayra.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Hampir setengah jam mereka berenam berdiri di bawah teriknya panas matahari sembari menghormat pada bendera. Panas matahari pun kini mulai terasa. Membuat Ayra memejamkan matanya beberapa kali karena tak kuat merasakan panas matahari yang menyoroti wajahnya.


"Eh, eh, gaisss! Lihat deh di bawah sana," ucap salah satu siswi SMA Bintang Negara.


"Kenapa?"


"Ada apa?"


"Ada karya Tuhan yang paling indah lagi dijemur!" jawab siswi tersebut.


"Heh! Gak gitu juga ngomongnya, pea! Dikira ikan asin dijemur!"


"Kak Elgara!" teriak siswi tersebut membuat seluruh murid yang berada di kelas berhamburan keluar untuk melihat anak Vanoztra, lagi pula mereka tidak belajar lantaran tidak ada guru.


"Kak Anres! Gila, Kak Anres sama Kak Elgara ganteng banget!"


"Kak Mario, Brio sama Anggara juga ganteng tau!"


"Kalian semua semangat ya, dihukumnya! I love you!"


Serentak mereka berlima menggelengkan kepalanya setelah mendengar sorakan demi sorakan dari adik kelasnya.


"Anying! Lagi dihukum kayak gini malah disuruh semangat. Dikira kita lagi konser," ucap Brio.


Ayra menurunkan hormatnya. Sejenak Ayra memijat pelipisnya dan memejamkan matanya beberapa kali. Hal itu sudah pasti diperhatikan oleh Elgara, melihat Ayra tak kuat karena kepanasan dengan cepat Elgara meraih jaket yang disimpan di samping ia berdiri.


"HUAAAAA!!!"


"KAK ELGARA SO SWEET BANGET!"


Para adik kelas tersebut semakin berteriak histeris. Saat Elgara merentangkan kedua tangannya untuk menutupi kepala Ayra menggunakan jaket. Ayra mendongakkan kepalanya setelah panas matahari tak menyorot dirinya.


"El, nanti Bu Tarti–"


"Udah diem, daripada lo pingsan," ucap Elgara sembari menatap Ayra dari samping.


"Kak Ayra spil tutorialnya dong dapetin cowok modelan Kak Elgara!"


"Wow! Hubungannya sangat indah! Bolehkan aku bergabung?"


Setelah berjam-jam merasakan teriknya matahari, kini Ayra menidurkan kepalanya di atas meja kantin. Maudy melepaskan ikat rambut Ayra, ia mencoba membenarkan ikat rambutnya agar lebih rapi.


"Lo masih pusing, Ra?" tanya Shafira.


"Enggak kok, udah mendingan," jawab Ayra sembari menegakkan tubuhnya.


"Gue kira lo gak masuk hari ini. Ternyata terlambat. Tumben-tumbenan, kenapa?" tanya Nana.


"Oh iya anjir, lo berdua tidur bareng?" tanya Mario.


Serentak ketiga sahabat Ayra membelalakkan matanya ke arah Ayra. "Tidur bareng?" tanya mereka serentak.


"I-iya, itu karena kita–"


"Nih, girls," ucap Anres sembari meletakkan beberapa minuman, disusul oleh Anggara yang meletakkan beberapa makanan.


"Thanks," ucap para cewek tersebut serentak.


Ayra meraih jus miliknya, kemudian menyeruput jus tersebut hingga habis dalam sekejap. Pandangan sahabatnya masih menatap fokus ke arah Ayra, mereka menunggu Ayra menjelaskannya.


"Lanjut, lanjut, Ra," pinta Maudy.


"Kepo mulu lo, Mod!" ketus Anggara.


"Lanjutin, Ra," pinta Anggara yang langsung dilempari sedotan oleh Maudy.


"Itu karena semalam kita nonton drakor sampai ketiduran. Gue aja gak tau kalo Elgara tidur juga," jelas Ayra.


"Gue kaget pas tadi lo bilang Elgara masih tidur. Otak gue langsung traveling anjir sama lo berdua," ucap Brio yang langsung dijitak oleh Elgara.


"Malam ini kumpul di basecamp, El?" tanya Anggara.


"Enggak dulu deh, gue ada urusan malam ini. Buat yang jaga aja wajib diam di basecamp," jawab Elgara yang diangguki mereka berempat.


"Yes! Let's go to the park, baby!" ajak Anggara sembari merangkul pundak Shafira.


"Let's go!" sahut Shafira, kemudian memeluk tubuh Anggara.


Ayra menoleh menatap Elgara. "Urusan apa?" tanya Ayra.


"Malam ini Mama sama Papa ajak gue buat makan diluar dan mereka juga suruh gue ajak lo. Jadi malam ini lo siap-siap, dandan yang cantik," jelas Elgara sembari mengusap rambut Ayra, Ayra pun menganggukkan kepalanya semangat.


'Lagi-lagi permainan lo selalu kayak gini, El.' batin Anres sembari menatap Elgara diam-diam.