Vanoztra

Vanoztra
31. Mau kemana?



Di ruang tengah yang cukup gelap, Ayra memusatkan matanya ke arah televisi, nyatanya Ayra tengah menonton film horror. Gadis itu sengaja mematikan lampunya agar menambah keseruan saat menonton filmya.


Tangan Ayra sibuk meraih satu persatu kripik yang berada di pangkuannya. Dirasa tenggorakannya kering, ia menancapkan sedotan pada cup jus.


"I-itu–setannya di belakang," ucap Ayra dengan jantung yang berdegup kencang karena ikut takut juga.


"Itu di belakang lo, setannyaaaa!" teriak Ayra sembari menunjuk-nunjuk ke arah televisi nya.


"Ck! Lari dongo! Lariiiiii! Dongo banget sih lo dikasih tau!" teriak Ayra dengan raut wajah kesal.


Jantung Ayra semakin berdegup kencang, karena orang di film tersebut akan menoleh ke arah belakang, di mana hantu nya berada. Ayra menutup sedikit matanya menggunakan selimut yang sedari tadi menutupi kepala dan tubuhnya.


"No, no, no, don't look back ..." gumam Ayra.


"WAA!"


"AAAAAAA!" Ayra teriak sekencang-kencangnya. Saking terkejut cup yang tengah dipegangnya diremas kuat.


Elgara memejamkan matanya saat jus pada cup tersebut menyembur ke wajahnya. Perlahan Elgara membuka mata menatap ke arah Ayra, yang sedang menatapnya dengan napas yang terengah-engah.


Ayra berjalan cepat untuk menyalakan lampunya. Setelah itu Ayra meraih tisu, lalu menyeka wajah Elgara yang basah karena jus. Beberapa menit kemudian mata mereka saling menatap.


"Kaget?" tanya Elgara.


"Nyebelin!" ketus Ayra sembari memukul dada Elgara pelan.


Elgara tertawa puas, kemudian menarik tubuh Ayra ke dalam pelukannya. Raut wajah Ayra yang awalnya cemberut berubah menjadi tersenyum, lantaran laki-laki bermata elang itu mencium puncak kepala Ayra.


"Nih, gue bawa pizza. Belum makan, kan?" tanya Elgara sembari menyelipkan rambut Ayra ke samping telinganya.


Gadis itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Elgara, kemudian Ayra mengambil kantong plastik di tangan Elgara. Bibir Ayra tersenyum lebar mencium aroma pizza.


"Makasih," ucap Ayra sembari tersenyum manis ke arah Elgara.


"Makasih doang?" tanya Elgara.


"Iya–makasih udah bawain pizza," ucap Ayra.


"Masa gitu doang. Gak pake panggilan atau apa, kek," ujar Elgara sembari menatap Ayra.


Kening Ayra mengerut sempurna mencoba mencerna perkataan Elgara. Detik kemudian Ayra terkekeh kecil saat tau apa maksud ucapan Elgara. Ayra menarik lengan Elgara agar laki-laki itu duduk di sampingnya.


"Makasih sayang, udah bawain pizza," ucap Ayra, kemudian memeluk lengan Elgara dan bersandar di pundaknya.


Sontak senyuman terbit di bibir Elgara. Laki-laki bermata elang itu mengalihkan pandangannya ke samping sembari menggigit kecil bibir bawahnya. Sebelumnya Elgara belum pernah merasakan rasa seperti ini di hatinya.


"Gue makan ya, pizzanya," ucap Ayra membuat Elgara menoleh ke arahnya.


"Iya makan aja," ujar Elgara sembari mengusap lembut puncak kepala Ayra.


Mata gadis itu berbinar-binar saat mengunyah pizza nya, hingga senyuman pun terbit di bibir Ayra. "Mau?" tanya Ayra yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Elgara.


"Habisin," jawab Elgara. Ayra pun menganggukkan kepalanya beberapa kali sembari mengunyah pizza tersebut.


"Udah selesai makan, lo ganti baju ya," pinta Elgara membuat Ayra mengernyitkan dahinya.


"Loh, kenapa?" tanya Ayra.


"Ikut gue malam ini," sahut Elgara.


Beberapa menit kemudian, kini Ayra berada di kamarnya untuk mengganti pakaian. Hanya memerlukan waktu beberapa menit saja gadis itu sudah selesai mengganti pakaiannya. Saat Ayra keluar kamar ternyata Elgara menunggu di depan kamarnya.


"Ayo," ajak Ayra.


"Kok pakai baju itu?" tanya Elgara.


Sontak Ayra melirik pada pakaian, kemudian ia kembali menatap Elgara. "Kenapa emangnya?" tanya Ayra.


"Jangan style itu deh, Ra, yang lain," ucap Elgara.


"Emang kita mau kemana, sih?" tanya Ayra.


"Ya, pokoknya ikut gue," jawab Elgara.


Ayra menghela napasnya. "Ya, kemana? Biar gue bisa sesuaikan sama outfitnya," jelas Ayra.


"Ke taman?" tanya Ayra yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Elgara.


"Ke mall?" tanya Ayra yang lagi-lagi mendapatkan gelengan kepala dari Elgara.


"Bukan kedua tempat itu. Pokoknya lo pakai dress aja, deh," pinta Elgara.


Kening Ayra mengerut sempurna sembari menatap Elgara. "Mau ke kondangan?" tanya Ayra.


"Bukan juga," sahut Elgara.


Ayra berdecak kesal daripada terus bertanya pada Elgara, ia memilih masuk ke dalam kamar untuk segera mengganti pakaiannya yang disarankan oleh Elgara.


"Gue tunggu di mobil, ya," ucap Elgara setengah berteriak.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Sepanjang perjalanan Ayra terus melontarkan pertanyaan pada Elgara, tapi laki-laki itu tak menjawab pertanyaannya dengan benar. Tak mau Ayra terus bertanya soal pergi kemana, Elgara memberi satu bungkus yupi agar gadis itu diam.


"Flunya udah sembuh, Ra?" tanya Elgara tanpa menoleh.


"Sedikit lagi," jawab Ayra.


Laki-laki bermata elang itu tertawa atas jawaban Elgara, "Sedikit lagi. Lo mah flu aja disisain, heran," ucap Elgara.


"Bukan gitu maksud gue," ujar Ayra sembari mengerucutkan bibirnya.


"Terus gimana, my queen?" tanya Elgara.


"Sebentar lagi sembuh, gitu maksudnya," jelas Ayra.


"Ini kita mau kemana sih, El?" tanya Ayra, tapi lagi-lagi Elgara tak menjawab.


Beberapa menit kemudian Ayra keluar dari mobil terlebih dahulu, ia menatap rumah yang cukup megah di hadapannya. Setelah memarkirkan mobil, Elgara berjalan menghampiri Ayra, tangannya terulur untuk merangkul pundak gadis itu.


"Ini–rumah siapa, El?" tanya Ayra sembari menoleh ke arah Elgara.


"Rumah orang," jawab Elgara.


Ayra mengernyit keningnya. "Lah, terus ngapain kita ke sini?" tanya Ayra.


"Kita mau rampok rumah ini. Lo bantuin gue, ya," pinta Elgara.


"Lo nyuruh gue bantuin ngerampok, tapi lo nyuruh gue pakai dress–dongonya kebangetan," ucap Ayra.


"Cuma lo, ya, cewek yang gak nolak diajak cowoknya ngerampok," ujar Elgara di akhiri tawaan.


"Ya bukan gitu!" ketus Ayra sembari memukul lengan Elgara.


Kini Elgara menggenggam tangan Ayra, ia menautkan jari-jarinya dengan jari Ayra. Mereka pun segera berjalan ke arah pintu rumah tersebut.


"Abang El, Teteh Ayra!" teriak Lesya sembari melambaikan tangannya.


Serentak seisi rumah tersebut menoleh ke arah Elgara dan Ayra. Saat detik itu juga Ayra tersentak saat melihat banyak orang di dalam rumah tersebut.


Dan lebih mengejutkannya lagi di sana terdapat orang tua Elgara, itu artinya ini adalah rumah milik keluarga Elgara. Dengan gugup Ayra memberikan senyuman ramah pada keluarga Elgara yang tengah menatapnya.


"Malam Ayra," sapa Resta.


"Ayra udah makan, sayang? " tanya Resta.


"Udah Tan, tadi Elgara bawa pizza ke rumah," sahut Ayra yang diangguki Resta sembari tersenyum.


"Malam Ayra," sapa Bagas.


Ayra tersenyum sopan. "Malam Om," sahut Ayra.


Pandangan Bagas beralih pada Elgara yang berada di hadapannya. "Kenapa baru kali ini kamu bawa perempuan ke sini? Baru dapet yang bener? Yang kemarin-kemarin ****** semua?" tanya Bagas.


Ucapan Bagas membuat Ayra tersentak. Gadis bermata coklat itu melirik ke arah Elgara. Kini wajah Elgara memerah penuh emosi. Ayra mencoba memberi ketenangan untuk Elgara, dengan mengusap tangan Elgara yang bertaut dengan tangannya.


"Papa! Demen banget sih, bikin Elgara emosi," bisik Resta.


"Ayo jawab, kenapa kamu baru–"


"Bukan urusan Papa," ucap Elgara memotong pembicaraan Bagas.


"Ayo Ra, di luar aja," ajak Elgara.


Belum sempat Ayra menjawab–laki-laki itu sudah menarik tangan Ayra untuk mengikuti langkahnya.


Tapi langkah mereka berdua terhenti setelah seorang wanita paruh baya yang tengah duduk di sofa memanggil namanya. Elgara dan Ayra serentak membalikan tubuhnya.


"Iya Oma, ada apa?" tanya Elgara.


"Duduk sini," pinta Ratna, Oma Elgara.


Elgara pun menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan menghampiri Ratna, sedangkan Ayra ia terdiam sejenak sebelum mengikuti langkah Elgara.


"Om, Tante, Ayra duduk di sana, ya," izin Ayra yang diangguki Bagas.


"Iya silakan, sayang," ucap Resta.


Ayra terduduk di samping Elgara, sesekali gadis bermata coklat itu melirik ke arah Elgara. Malam ini Ayra benar-benar dibuat gugup oleh Elgara, lantaran cowok itu tiba-tiba mengajaknya untuk menemui keluarga besarnya.


"Jangan terus lihatin Ayra, dia bukan lukisan," ucap Elgara pada saudara-saudaranya, karena Elgara paham gadis itu tengah risih karena terus diperhatikan.


"Santai dong, Pak Bos ..." ucap Tara.


"Tenang aja gak akan direbut, kok. Kita cuma berdoa lo putus aja, sih. Jadi Ayra buat gue," ucap Ferral yang langsung dilempar bantal oleh Elgara.


"Ayra cantik banget, aku jadi insecure lihatnya," ucap Beby.


"Iya ih, cantik banget ya, Beb," ucap Gita.


Ayra tersenyum sembari mengulum bibirnya mendengar perkataan dari saudara Elgara yang memuji dirinya. "Makasih."


"Ra, tunggu ya, gue mau ambil minum," ucap Elgara sembari beranjak dari kursinya.


"Ayra," panggil Ratna.


"I-iya Oma," sahut Ayra.


"Sini, duduk dekat Oma," pinta Ratna yang diangguki Ayra.


Ayra menggeser duduknya mendekati Ratna. Perlahan tangan Ratna mengusap lembut kepala Ayra membuat senyuman terbit di bibir Ayra.


"Kamu pacar Elgara?" tanya Ratna.


"Em, iya Oma," jawab Ayra.


"Kamu berhasil–" sontak Ayra mengernyitkan dahinya atas ucapan Ratna.


"Berhasil telah melenyapkan sikap kebuayaan Elgara yang tertanam di hatinya," lanjut Ratna.


Ayra menundukkan sedikit kepalanya, ia mengulum bibirnya untuk menahan tawa. Ayra pikir hanya teman-teman di sekolahnya saja yang menyebut Elgara buaya, tapi ternyata keluarganya juga.


"Ayra tau–" ucap Ratna membuat Ayra mendongak menatapnya.


"Setiap kedekatan Elgara dengan seorang perempuan. Anak itu selalu bercerita sama Oma. Sampai-sampai Oma menulis daftar nama perempuan yang Elgara ceritakan," jelas Ratna.


Ayra merasa penasaran dengan cerita soal Elgara, ia mendengarkannya dengan fokus. "Elgara terbuka orangnya ya, Oma."


"Iya, Oma senang dia seperti itu, tapi dibalik itu–Oma terkejut saat menghitung nama perempuan yang dekat dengan Elgara. Oma ingat ada 23 dan kamu yang ke-24 Oma tulis."


Ayra mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tak habis pikir dengan sikap Elgara. Segabut itukah Elgara Argantara? Sampai-sampai ia mengoleksi perempuan sebanyak itu.


'Gabutnya orang ganteng gitu, ya.'


"Ayra juga ikut terkejut. Karena sebelumnya Ayra gak tau banyak sikap Elgara dan baru kenal beberapa bulan juga," ucap Ayra.


"Iya Oma tau, Elgara sudah banyak cerita soal kamu," jelas Ratna.


"Emangnya kalo boleh tau, Elgara cerita apa aja tentang Ayra, Oma?" tanya Ayra.


"Kepo lo jadi human," ucap Elgara sembari duduk di samping Ayra.


Sontak gadis itu menoleh ke arah Elgara bersamaan dengan tangan Elgara yang terulur untuk menyerahkan air jeruk. Ayra menerima air jeruk tersebut, kemudian ia menyeruputnya lantaran sudah haus daritadi.


"Ini Oma, air jeruk gak apa-apa, kan? Tehnya habis," ucap Elgara sembari menyodorkan gelas pada Ratna.


"Iya, gak apa-apa," sahut Ratna.


"Udah ini kita ke halaman belakang yuk, Ra, kita lihat ikan," ajak Elgara yang diangguki Ayra semangat.


"Teteh Ayra ...." Lesya berlari kemudian memeluk erat tubuh Ayra.


"Lesya ... Teteh Ayra kangen banget!" ucap Ayra.


Lesya melepaskan pelukannya ia menatap Ayra sembari tersenyum. "Lesya juga!"


"Oh iya, lihat deh Lesya gambar apa?" tanya Lesya sembari memperlihatkan selembar kertas.


"Bagus banget! Ini kelinci, ya?" tanya Ayra yang diangguki Lesya.


"Iya, Lesya suka banget sama kelinci," ucap Lesya sembari tersenyum.


"Dan ... ada satu lagi." Gadis kecil itu memperlihatkan gambar yang lainnya pada Ayra.


"Ini Lesya gambar siapa?" tanya Ayra.


"Bukan Lesya yang gambar, tapi Abang El. Kata Abang El, ini tuh Abang El sama Teteh Ayra," jelas Lesya.


Ayra terkekeh sembari melihat ke arah Elgara, kemudian ia meraih gambarnya di tangan Lesya. "Serius lo yang gambar, El?" tanya Ayra.


"Ya dong, bagus ya," ucap Elgara.


Ayra menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "Bagus. Boleh buat Teteh Ayra gak gambarnya?" tanya Ayra pada Lesya.


"Boleh, kan, Abang El yang gambar. Pakai cinta sepenuh hati," ucap Lesya sembari tersenyum.


"Wow! Haha ...." Ayra tertawa mendengar ucapan Lesya bukan hanya Ayra, Ratna dan Elgara pun tertawa mendengarnya.


Pandangan Ayra beralih ke arah tangga di mana Mega tengah menuruni tangga tersebut. Raut wajah Ayra yang ceria luntur begitu saja karena kehadiran musuhnya itu.


Kini tatapan Ayra dan Mega saling bertemu. Keduanya saling melemparkan tatapan tajam.


"Lo ngapain di sini?" tanya Mega dengan nada sebal.