Vanoztra

Vanoztra
26. Listen to me!



Ayra menjatuhkan tubuhnya pada tempat tidur. Pandangannya menatap ke atas langit-langit di kamarnya yang terdapat bintang-bintang dari sorot lampu tidur miliknya. Setelah lelahnya hilang, ia bangkit dari baringnya.


"Hah ... hampir aja ketauan gue lagi sama Elgara," ucap Ayra sembari charge ponselnya.


Setelah berhasil charge ponselnya. Satu persatu Ayra melepaskan pakaiannya, kemudian menggantinya dengan pakaian tidur.


Pada cermin besar yang terletak di kamar mandi, Ayra menatap dirinya. Tangannya sibuk menggerakkan sikat gigi. Detik kemudian aktivitasnya terhenti setelah mengingat sesuatu. Ayra membuang busa yang ada di mulutnya, lalu dengan cepat ia berkumur-kumur.


"Dongo! Gue, kan, bilang ke Elgara mau ambil ikat rambut terus balik lagi. Kenapa lo malah pulang Ayra ..." ucap Ayra.


Ayra meringis pelan sembari menggaruk kepalanya tak gatal. Soal Elgara terus berputar di kepalanya hingga Ayra tergesa-gesa untuk membasuh wajahnya. Tangan Ayra terulur untuk mengambil face wash.


Dalam hitungan detik gadis itu membelalakkan matanya. "Wajah gue kenapa cenat-cenut–panas gini?" tanya Ayra sembari memegang wajahnya, kemudian ia mencium aroma pada telapak tangannya.


"Sialan! Ini odol bukan face wash!" Demi apapun wajah Ayra rasanya terbakar karena panasnya odol. Dengan cepat Ayra membasuh wajahnya, kali ini ia mencuci wajahnya dengan benar menggunakan face wash.


"Ngapain kamu pulang?" Suara itu menghentikan langkah Elgara.


Pandangan Elgara menoleh ke arah samping di mana Tomi tengah terduduk di sofa. Setiap pertanyaan atau perkataan yang dilontarkan Tomi, rasanya Elgara sangat malas untuk bersuara, bahkan membuka sedikit mulutnya.


"Bukannya rumah kamu itu gudang kotor yang isinya gak jelas yang kamu sebut-sebut sebagai basecamp? Padahal tempat itu layaknya disebut tempat sampah!" jelas Tomi.


Tangan Elgara mulai mengepal kuat. Lagi-lagi perkataan itu berhasil mengusik emosinya. Ketika Tomi membuat emosi, Elgara hanya berharap tangannya diam untuk tidak membuat luka di tubuh orang tuanya. Terkadang hal itu sangat sulit–sulit untuk Elgara tahan.


"Elgara harus apa lagi sekarang, Pah?! Semua perintah Papa udah Elgara lakuin. Bahkan, nilai dan sikap di sekolah udah Elgara ubah menjadi lebih baik."


"Tapi Papa–sama sekali gak peduli dengan hasil perubahan Elgara. Di saat Elgara berhasil meraih peringkat satu. Papa masih bersikap seperti ini, seolah perintah Papa hanya untuk–"


"Kamu bilang harus apa lagi?!"


"PAPA INGIN KAMU BERHENTI MENJADI BAGIAN VANOZTRA!" bentak Tomi.


Elgara menghela napasnya, masih menatap datar ke arah Tomi. "Bukannya Papa menyuruh Elgara, untuk memegang perusahaan setelah lulus sekolah nanti? Di mana Elgara harus menjadi seseorang yang bertanggung jawab."


"Tapi sekarang, Papa malah melatih Elgara untuk meninggalkan sebuah tanggung jawab yang sedang Elgara pegang," jelas Elgara di akhiri kekehan kecil.


"Elgara gak paham sama pola pikir Papa." Tak mau berdebat lama, laki-laki bermata elang itu melenggang pergi menuju kamarnya.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Bruk!


"Akh! Sialan lo jadi tangga!" ketus Ayra, kemudian memukul tangga tersebut.


Padahal percuma juga Ayra memukul tangga itu, yang sakit bukan tangganya, tapi dirinya sendiri. Tanpa berlebay-lebay merasakan sakit di bagian pantatnya, Ayra meraih sepatunya yang ikut terjatuh, kemudian langsung bangkit dari duduknya.


Detik itu juga Ayra berlari keluar rumah, tak lupa mengunci pintunya dengan tergesa-gesa. Setelah selesai mengunci pintunya, ia segera masuk ke dalam mobil.


Bukannya langsung melajukan mobilnya, Ayra malah keluar dari mobil dan berlari kembali ke rumah. "****! Pakai ketinggalan segala!" ucap Ayra sembari membuka kunci rumah.


Beruntung yang ia cari berada di meja ruang tamu memudahkannya untuk mengambil. "Kalo pelajaran yang ketinggalan bodo amat gak akan balik lagi, tapi kalo yupi–No! Lo harus ikut kemana pun gue melangkah."


50 panggilan tak terjawab.


20 pesan belum dibaca.


Ayra menyetir mobilnya sembari menatap layar ponselnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Raut wajahnya benar-benar terlihat panik. Sudah dipastikan Elgara akan marah padanya, soal semalam.


"Gue gak boleh ketemu Elgara. Hari ini gue harus menghindar dari cowok itu," ucap Ayra sembari menganggukkan kepalanya, kemudian ia mematikan daya ponselnya.


Matahari belum menampakkan sinarnya, tapi Ayra sudah tiba di sekolah. Itu karena ia takut Elgara datang ke rumah untuk mengajaknya pergi bersama. Mungkin bukan hanya pergi bersama, tapi Ayra akan dilontarkan beribu pertanyaan oleh laki-laki itu.


Napas Ayra terengah-engah setelah tiba di kelas. Dari parkiran hingga ruangan kelas, Ayra berlari. Takutnya Elgara sudah datang lebih dulu di sekolah, pikirnya.


"Udara jam segini sejuk banget," ucap Ayra sembari menidurkan kepalanya di atas meja dan menatap ke arah jendela.


Seketika Ayra menenggakkan tubuhnya, kemudian tangannya memegang perutnya yang tiba-tiba mulas, "Angin pagi tuh enak-- sejuk, tapi dinginnya selalu bikin gue pengen berak. Aduh ...." Ayra memegang perutnya, kemudian beranjak dari kursinya.


"Ra ..." panggil Elgara di depan rumah Ayra.


*Tok!


Tok!


Tok*!


"Ayra ... lo masih tidur?"


"Masa sih–jam segini Ayra masih tidur," ucap Elgara.


Tak ada sahutan dari pemilik rumah, Elgara mencoba membuka pintunya, "Dikunci," gumam Elgara.


Elgara membalikkan tubuhnya–berjalan menuju motor yang ia parkir di depan rumah Ayra. Pandangan Elgara mendongak– menatap jendela kamar Ayra, "Ayra!" panggil Elgara setengah berteriak.


"Kemana sih?"


"Apa–Ayra belum pulang dari semalam?" tanya Elgara pada dirinya sendiri.


"Arrghh! Ayra! Lo bikin gue khawatir!" ucap Elgara dengan raut wajah kesal sembari mengacak rambutnya frustasi.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu ...." Nana berjalan memasuki kelas sembari bernyanyi, bahkan sebelum menuju kursinya, ia sempat mengambil sapu untuk dijadikan mic.


"Jangan! Tanyakan mengapa! Karena ... ku tak tauuuuuu ...."


"Aseekkk! Indah banget suara gue!" puji Nana pada dirinya sendiri.


Di bawah meja Ayra mati-matian menutup telinganya yang berdenging karena suara Nana. "Iya indah, sampai telinga gue mules!" gumam Ayra.


"Sepi banget nih kelas, gue yang kerajinan apa mereka yang males," ucap Nana.


Nana mengarahkan kamera ponselnya pada wajahnya, setelah dirasa pas, Nana berpose secantik mungkin. "Woo! Cantik banget gue. Brio sadar gak sih kalo yang ngejar-ngejar dia tuh cantik banget?"


"Hah! Cowok tuh gitu, peka sih peka, tapi gak mau ngaku!" ucap Nana, kemudian ia merapikan rambutnya.


"Lo nya juga gak mau ngaku. Gimana Brio sadar kalo lo kejar dia, dongo!" gumam Ayra sembari menatap Nana dari bawah meja.


"Na!" panggil seseorang dari ambang pintu.


Nana mendongak ke arah sumber suara. "Ya, El, ada apa?" tanya Nana.


Deg!


Jantung Ayra berdegup kencang saat telinganya mendengar suara Elgara.


"Ayra udah datang?" tanya Elgara.


"Ayra–"


Grep!


"AAAA!" teriak Nana terkejut karena kakinya ada yang mencekal kuat, kemudian Nana melihat ke bawah meja.


"Lo kenapa?" tanya Elgara.


Nana menggeleng cepat. "Enggak-enggak. Ini ada buku gue kira apa," dusta Nana.


"E–A-Ayra gak ada El–Ayra gak–masuk sekolah," jawab Nana terbata-bata.


"Gak masuk sekolah?" tanya Elgara.


"I-iya, tadi dia chatting gue. Kalo hari ini–Ayra izin–izin mau jenguk neneknya yang lagi sakit," jelas Nana di akhiri senyuman.


"Ya udah, thanks, Na," ucap Elgara, kemudian laki-laki bermata elang itu melenggang pergi meninggalkan kelas.


Nana memastikan Elgara sudah pergi jauh dari kelas IPA B. Setelah dirasa Elgara sudah pergi jauh, Nana menepuk lengan Ayra. Ayra pun keluar dari bawah meja, ia meringis karena kakinya terasa kesemutan.


"Lo ngapain, Inem? Bikin gue kaget aja," tanya Nana sembari menatap Ayra.


"Aduh ... gue tuh lagi ngehindar dari Elgara. Karena kalo gue ketemu dia, bisa-bisa gue diamuk," jelas Ayra.


"Punya masalah apa lo sama dia?" tanya Nana.


"Ada deh, nanti gue cerita. Pokoknya gue minta bantuan sama lo, kalo Elgara tanya soal gue, lo jawab gak tau aja," ucap Ayra.


"Percuma lo ngehindar dari orang yang ada di sekitar sini, ya pasti ketemulah, bego!" ujar Nana.


"Makanya, hari ini gue gak akan keluar kelas. Gue mau terus diam di kelas. Bantuin ya,  kasih tau Shafira sama Maudy juga, oke?" ucap Ayra yang di angguki Nana.


"Ya udah, lo tenang aja," ujar Nana yang langsung dipeluk Ayra.


"Aaa ... thank you, babe!"


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Jam istirahat.


"Kusut gitu wajah lo, El, kenapa?" tanya Anres.


"Gue khawatir sama Ayra, dia gak ngabarin gue dari malam sampai sekarang," ucap Elgara.


"Bukannya lo semalam pergi sama Ayra?" tanya Brio.


"Ya emang gue pergi, tapi gak lama dia pergi gitu aja dengan alasan ikat rambutnya jatuh. Anehnya panik banget wajah dia," jelas Elgara.


"Ya udah. Lo samperin aja ke kelasnya. Ngapain ribet mikirin Ayra, kita satu sekolah juga," saran Mario.


Elgara menoleh ke arah Mario, lalu berkata, "Masalahnya dia gak masuk sekolah hari ini."


Kening Mario mengerut sembari menatap Elgara, ia mencoba mengingat ingatannya kembali. "Gak masuk? Perasaan tadi Ayra ada di kelas pas gue ngelewatin kelas IPA B."


"Demi anjir?" tanya Elgara.


"Serius El, mata gue gak minus. Gue lihat jelas itu Ayra lagi duduk kayak biasa," jawab Mario.


Tanpa menjawab perkataan Mario, Elgara langsung beranjak dari kursinya, ia berjalan keluar kantin dengan tergesa-gesa. Meninggalkan makanan dan minumannya yang masih utuh.


"Ayra, makasih ya, pulpennya," ucap Alia sembari menyerahkan pulpen milik Ayra.


"Kok dibalikin? Pakai aja dulu. Nanti, kan, belajar lagi," tanya Ayra.


"Aku udah beli, Ra," jawab Alia sembari tersenyum.


"Oh gitu ... tapi ini buat lo aja deh, nih. Hitung-hitung kenangan dari gue," ucap Ayra sembari tersenyum.


Alia menerima pulpen tersebut, seketika bibirnya tersenyum senang. "O-oke, nanti aku simpan pulpennya, makasih, Ra."


Pandangan Ayra menoleh ke arah samping. Mata Ayra tepat menangkap Elgara yang tengah berlari. Sontak mata Ayra melebar seketika, ia panik, benar-benar panik.


"Alia, kalo ada Elgara cariin gue, bilang aja Ayra gak ada di kelas, ya," ucap Ayra, kemudian gadis itu segera bersembunyi di bawah meja.


"Ayra!" panggil Elgara sembari mengedarkan pandangannya.


Dengan cepat Alia membalikkan tubuhnya, ia menghalangi meja Ayra, agar Elgara tak melihat keberadaan Ayra. Elgara berjalan menghampiri meja Ayra, ia menatap malas ke arah Alia.


"Lo lihat Ayra?" tanya Elgara.


"E-enggak, Ayra–Ayra gak ada di kelas," jawab Alia, kemudian mengulum bibirnya.


Elgara terus menatap Alia, membuat gadis itu segera menurunkan pandangannya–enggan menatap Elgara. "A-aku serius El, Ayra gak ada di kelas," ucap Alia.


Duk!


"Akh!" Ayra mengusap kepalanya yang terbentur atas meja.


'Bangsat lo jadi meja!'


"Minggir!" pinta Elgara.


"Enggak. Ayra gak ada di sini, El," jelas Alia, kali ini gadis itu menatap Elgara.


"GUE BILANG MINGGIR! YA, MINGGIR!" bentak Elgara.


"Lo itu ya jadi cewek–"


"GUE BILANG ENGGAK, YA, ENGGAK!" bentak Alia sembari menatap Elgara tajam.


Beri tepuk tangan untuk Alia, karena baru kali ini gadis itu membentak seseorang dengan suara keras dan baru kali ini Alia berani menatap tajam seseorang, dan orang pertama yang ia bentak adalah ketua Vanoztra.


"LO–"


"Elgara!" teriak Ayra, menghentikan Elgara yang akan menampar Alia.


Ayra berjalan menghampiri Elgara, ia menarik lengan Elgara agar mengikuti langkahnya keluar kelas. Raut wajah Elgara terlihat begitu kesal, ditambah bentakan Alia tadi. Di sebuah koridor yang sepi, Ayra menghentikan langkahnya, ia melepaskan cekalan pada tangan Elgara.


"Sorry, waktu malam gue–" Ucapan Ayra terhenti setelah melihat tatapan Elgara yang begitu tajam menatapnya.


"Lo kenapa bohongin gue, Ra?" tanya Elgara.


"Bukan gitu, El, gue–"


"Asal lo tau, hampir dua jam gue nungguin lo di taman," ucap Elgara.


"Sorry, gue–"


"Terus kenapa lo menghindar hari ini? Seneng lo bikin gue khawatir?" tanya Elgara.


"Gue ta–"


"Lo seneng bikin gue–"


"LISTEN TO ME, PLEASE!" bentak Ayra sembari menatap tajam pada Elgara.