Vanoztra

Vanoztra
43. Es batu gue



Di sore hari ini mereka memutuskan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Nana di sana. Hanya membutuhkan beberapa menit saja, kini mereka sudah tiba di rumah sakit. Sebelum melangkah masuk ke dalam rumah sakit, mereka mencoba menghubungi Brio terlebih dahulu.


"Halo, Bri," ucap Mario.


Apaan?


"Lo mau dateng kagak?"


Kemana?


"Eh, si anying! Jenguk Nana bodoh! Kita dari tadi tungguin lo. Kemarin kan kita udah sepakat jenguk Nana hari ini."


Kagak deh, nanti aja. Gue lagi malas keluar.


"Gitu banget lo sama Nana gak punya hati anjir. Gue share lokasi rumah sakitnya kalo lo gak mau hari ini."


Yoi, tapi mau ngapain juga gue ke sana?


"Jenguk Nana, pea! Banyakin istighfar gue ngomong sama lo."


Ngapain gue jenguk Nana?


"Lo sumpah–ah! Ya udahlah terserah lo aja, dah."


Mario mematikan teleponnya ia merasa pusing jika berbicara dengan Brio. Pandangan mereka semua menatap ke arah Mario, mereka menunggu jawaban soal Brio.


"Gimana, Yo, Brio masih di mana?" tanya Ayra.


"Gak akan datang katanya," sahut Mario.


"Sumpah ya tuh anak gak punya hati banget sama Nana. Walaupun dia gak suka sama Nana, seenggaknya datang lah di saat Nana sakit," ucap Maudy geram.


"Ya udah sekarang kita masuk aja. Mungkin Brio mau sendiri kali jenguk Nana nya," ujar Elgara.


"Mungkin, gue udah share kok rumah sakitnya ke dia," sahut Mario.


"Ya udah kita langsung masuk aja," ajak Anres.


Setelah itu mereka pun segera bergegas pergi–masuk ke dalam rumah sakit. Dikiranya mereka mempunyai waktu banyak di hari libur ini, ternyata mereka tidak bisa berlama-lama, lantaran ada urusan lainnya.


Di sisi lain Brio membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Kedua tangannya melipat untuk dijadikan bantal. Sampai saat ini hati dan pikiran Brio selalu berputar soal Nana. Jujur setelah tau bahwa Nana sakit, ia merasa cemas dan khawatir.


Selera makan di kantin saat kemarin pun hilang. Karena tidak ada sosok perempuan yang selalu memperhatikannya dengan raut wajah ceria, tapi sebisa mungkin Brio berpura-pura tidak peduli hingga saat ini pun, padahal hatinya tidak bisa tenang sama sekali.


"Ya udahlah, gue ke sana aja kalo yang lain udah pulang. Kalo gue ke sana sekarang bisa diejek nih gue," ucap Brio.


Tangan Brio terulur meraih ponselnya yang ia simpan di atas nakas. Lantaran gabut Brio memilih melihat story instagram followers nya. Tepat di story instagram milik Shafira, ia membelalakkan matanya.


"Gak mungkin. Enggak–ini enggak mungkin Nana–"


Secepat kilat Brio beranjak dari tempat tidurnya, ia meraih jaketnya dan juga helm dengan begitu cepat. Laki-laki itu berlari keluar rumah, saking terburu-buru ia sampai menubruk orang tuanya beruntung tidak jatuh.


"Aduh, Kak ... bisa pelan-pelan gak jalannya?"


"Mau kemana sih, rusuh banget?"


"Maaf Mih, maaf. Brio harus pergi sekarang," ucap Brio, kemudian melangkah kembali menuju motornya.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Aaaa! Enggak mungkin Ra ... ini gak mungkin ... Mod ...." Shafira menangis terisak-isak dipelukan kedua sahabatnya.


"Udah Sha, udah ... ikhlasin ..." ucap Ayra sembari menenangkan Shafira yang terus terisak menangis.


"Dia udah lama temenin gue, gue gak mau dia pergi tinggalin gue ..." ujar Shafira.


"Mau selama apapun itu gak ngaruh, Sha. Pasti akan ada waktunya dipanggil Tuhan," ucap Maudy sembari mengusap punggung Shafira.


"Gue masih gak percaya dia–"


Brak!


Ucapan Shafira terhenti setelah mendengar gebrakan pintu yang cukup kencang. Serentak pandangan mereka menatap ke arah Brio yang berdiri di ambang pintu. Napas Brio terengah-engah, air matanya menetes membasahi pipinya.


"NANA!" teriak Brio.


Laki-laki itu segera berlari ke arah ranjang putih tempat Nana berbaring. Brio langsung memeluk tubuh Nana dengan erat sembari terisak-isak menangis. Hal itu membuat Elgara dan yang lainnya mencoba menarik tubuh Brio.


"Brio," ucap Anggara sembari menarik tubuh Brio.


"Na, maafin gue Na ... maafin gue yang selalu cuekin lo ... yang selalu anggap lo gak ada ...."


"Maafin gue ... gue gak benci sama lo, Na. Gue gak benci sama sekali. Gue senang kalo lo lihatin gue terus, gue senang lo perhatian sama gue, Na ...."


"Nana bangun, Na!"


Anres mencoba menarik tubuh Brio dibantu oleh yang lainnya. "Bri, udah Bri, kasihan Nana!" ucap Anres.


"Gue cinta sama lo, Na ... gue sayang sama lo, Nana!" teriak Brio.


"BRIO!" bentak mereka serentak dengan suara kencang. Laki-laki itu sontak menoleh ke arah teman-temannya yang tengah menatapnya dengan raut wajah bingung.


"Akh! Sakit Bri, sakit badan gue," ucap Nana sembari meringis karena tubuh Brio cukup berat.


Brio menoleh ke arah Nana. Raut wajah Brio begitu tercengang saat melihat Nana, sedangkan yang ditatapnya hanya mengerjapkan matanya beberapa kali sembari meringis pelan.


"Lo gak jadi meninggal, Na?" tanya Brio ternganga.


"Kata siapa gue meninggal?" tanya Nana dengan kening berkerut.


Brio menenggakkan tubuhnya kembali, ia melirik ke arah Shafira, kemudian Brio menunjuk Shafira. "Gue lihat di story instagram nya Shafira," jawab Brio.


"Hah?" Shafira mengernyitkan dahinya sembari menatap Brio.


"Iya. Tadi lo bikin story instagram, kan? Tulisannya 'Selamat beristirahat, Na' pakai emoticon nangis," jelas Brio.


"Itu kucing gue yang mati, pea! Namanya Mona bukan Nana yang mati," ucap Shafira.


Brio mengerjapkan matanya beberapa kali setelah mendengar penjelasan Shafira. Pandangannya beralih pada Nana, kemudian pada teman-temannya.


"Makanya kalo jogging lain kali pemanasan otak dulu!" ketus Anres sembari menoyor kepala Brio.


"Anying," ucap Brio dengan raut wajah datar.


"HAHAHA!" Serentak mereka menertawakan Brio sembari memukul dan menoyor kepala Brio, tapi laki-laki itu hanya terdiam dengan raut wajah datar.


"Makanya gak usah so dingin, Nyet!" ucap Anggara.


"Ngapain gue jenguk Nana," ucap Mario mengikuti pembicaraan Brio.


Elgara merangkul pundak Brio. "Dapet karma ya, lo, cuekin Nana? Yang asalnya lo selalu bilang 'apa lo lihat-lihat?' eh, pas tadi–"


"Gue cinta sama lo, Na ... gue sayang sama lo, Nana," ucap Elgara mengikuti pembicaraan Brio.


"HAHAHA!" Serentak mereka kembali menertawakan Brio, sedangkan Nana ia hanya tertawa kecil mengingat sikap Brio padanya tadi.


"Udah anying, udah! Terus aja lo bully gue!" ketus Brio, kemudian mendelikkan matanya.


"Jedor gak, jedor gak?" tanya Anggara.


Serentak menjawab. "Jedor lah ... masa enggak!"


"Buruan jedor, Bri. Ngomong doang ngasih kepastian kagak lo," ucap Ayra.


"Ayolah, Bri. Biar Nana nya sembuh," ujar Maudy.


Brio pun terkekeh kecil, kemudian ia menyurai rambutnya ke belakang. Pandangan Brio menatap wajah Nana dengan lekat. Senyuman terbit di bibir Nana lantaran baru kali ini ia melihat Brio melontarkan senyuman padanya.


"Na," panggil Brio sembari tersenyum.


"Ekhem ...."


Brio menoleh ke arah teman-temannya yang bersorak. "Diem lah, gue mau ngomong," ucap Brio.


"Na," panggil Brio.


"Iya," jawab Nana.


Brio menggenggam tangan Nana. "Gue cinta sama lo, Na. Lo mau kan jadian sama gue?" tanya Brio.


Nana menganggukkan kepalanya perlahan sembari tersenyum. "Iya. Gue mau, Bri."


"Waaaaa!"


"Thanks, Na," ucap Brio, kemudian memeluk Nana begitu erat.


"Cepat sembuh ya, aneh rasanya kalo di sekolah gak ada lo," ujar Brio yang diangguki Nana.


"Gilaaa ... congrats, Na!" ucap Maudy dan Shafira serentak.


"Akhirnya harapan lo terwujud!" ujar Ayra sembari tersenyum.


Nana menggigit bibir bawahnya menahan rasa ingin teriak, tapi akhirnya ia berteriak bahagia. "AAAAA! ES BATU GUE CAIR GENGS!"


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Setelah pulang menjenguk Nana. Mereka semua memutuskan untuk tidak pulang ke rumah langsung, melainkan mereka pergi ke pasar malam yang diadakan malami ini. Bukan kemauan mereka semua sih, ini tuh kemauan Ayra, Maudy dan Shafira.


"Wow!" Ketiga gadis itu tercengang melihat suasana di pasar malam tersebut cukup ramai.


"Aaaa! Seru bangettttt!" teriak Shafira.


"Kangen masa kecil gak sih, gengs? Lihat pasar malam kayak gini tuh," tanya Maudy sembari tersenyum bahagia.


"Iya bener, gue ingat banget waktu kecil kalo diajak ke pasar malam berasa diajak ke dunia mana gitu," jawab Shafira.


"Kalo gue sih lihat pasar malam gini bukan keinget masa kecil, tapi–keinget Upin Ipin," jawab Ayra.


Kedua gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah Ayra dengan raut wajah datar. "Penasaran deh gue, Tuhan ciptain lo dari tanah apa sih? Beda mulu lo sama manusia lainnya," ucap Maudy.


"Dari tanah ke campur tai palingan juga," sahut Shafira.


"Setan lo!" ketus Ayra.


Beberapa detik kemudian Elgara dan yang lainnya berjalan menghampiri gadis-gadis yang tengah berdiri tak jauh dari jaraknya. Tepat di hadapan para cewek itu, mereka langsung merangkul pundaknya, kecuali Anres.


"Haha ... Brio lo udah milik Nana, Res," ucap Mario.


"Rangkul pohon aja tuh," saran Anggara.


Anres menatap Mario dan Anggara tajam, kemudian ia mendelikkan matanya. "Sendiri juga gue mampu!" ucap Anres.


"Uwiwww!" sorak Anggara dan Mario serentak.


Elgara melirik Ayra dari samping. "Mau kemana dulu?" tanya Elgara.


"Main itu yuk, El, lempar bola ke kaleng," ajak Ayra yang diangguki Elgara.


"Gengs! Ke sana yuk!" ajak Ayra setengah berteriak.


Serentak mereka menganggukkan kepalanya. Tanpa berlama-lama lagi mereka semua segera berjalan ke tempat tersebut. Ayra tersenyum saat melihat hadiah dari permainan itu, ia menginginkan boneka nya.


"Gue pertama yang main ya, Ra," ucap Elgara sembari meraih bola yang berada di dalam wadah kecil.


"Oke-oke, dapetin boneka gajah itu ya, El, gue pengen," ujar Ayra.


Elgara melempar-lempar kecil bola nya sebelum ia lempar ke arah kaleng yang berada di hadapannya. Detik berikutnya Elgara melempar bola tersebut, tapi sayangnya bola itu tak membuat kaleng nya terjatuh.


"Kok susah ya, padahal keliatannya gampang," ucap Elgara.


Laki-laki bermata elang itu kembali meraih satu bola nya. Kini tinggal satu bola lagi di dalam wadahnya. Elgara menatap fokus pada kaleng tersebut, lalu melemparkan bolanya dan–


Duk!


"Aduh! Anjir." Anggara memegang kepalanya yang terkena bola yang dilempar oleh Elgara.


"Sorry, Gar, sengaja," ucap Elgara di akhiri tawaan.


"Setan lo!" ketus Anggara.


Ayra mencebikan bibirnya saat melihat bola nya tinggal sisa satu, tapi kaleng tersebut belum ada yang berhasil terjatuh. "Yaaahh ... gue pengen bonekanya padahal," ucap Ayra.


"Iya tenang aja kali ini berhasil kok," ujar Elgara.


Saat Elgara akan meraih bola nya, dengan cepat Anres mengambil bola nya terlebih dahulu. Hal itu membuat Elgara menatap tajam ke arah Anres, sedangkan Anres menyeringai.


"Kayak gini aja gak becus lo," ucap Anres, kemudian ia bersiap untuk melemparkan bola nya.


"Apa-apaan bangsat! Itu bola gue main ambil aja lo!" ketus Elgara sembari merebut bola nya dari tangan Anres.


"Gue bantuin biar Ayra dapet boneka gajahnya, pea!" sahut Anres dengan tatapan kesal.


"Biar apa, anying?! Biar disebut jagoan sama cewek gue?!" bentak Elgara.


"Niat gue baik, El, Ayra pengen bonekanya. Ya udah gue bantuin, bangsat!" sahut Anres.


"Gue juga mampu sendiri. Gak butuh ban–"


"Udah stop! Ribut mulu deh, lo berdua pusing gue lihatnya. Gak pagi, siang, sore," ucap Ayra dengan raut wajah kesal.


Gadis itu menatap Anres, kemudian berganti menatap Elgara. "Gue aja yang main sini!" pinta Ayra sembari merebut bola nya dari tangan Elgara.


Ayra melempar-lempar kecil bola nya ke atas, lalu ia bersiap melemparkannya ke arah depan. Hanya hitungan detik, bola tersebut terlempar dan berhasil mengenai kalengnya. Kaleng tersebut banyak yang berjatuhan.


"Woah, amazing!" teriak Ayra sembari menutup mulutnya.


"Aaaa! Berhasil, Ra!" teriak Shafira.


"Gila, hebat banget lo," ucap Maudy.


"Kalah lo sama cewek, Nyet!" ketus Anres, kemudian ia melenggang pergi sebelum Elgara memukul dirinya.