
Suasana di sirkuit pada malam ini begitu ramai. Setibanya Ayra di sana, gadis itu segera berjalan untuk menemui teman-temannya. Setiap langkahnya, Ayra menjadi pusat perhatian, tapi gadis ini tetap menatap lurus ke depan.
"Woi!" Ayra terkejut ketika dari belakang, seseorang menepuk pundaknya.
Ayra memutar bola matanya malas setelah ia menoleh ke arah orang tersebut. Satu persatu anak Alaskar berjalan menghampiri Ayra dan Nathan. Bisa dihitung anak Alaskar hanya ada 30 orang saja yang hadir di sirkuit.
"Lama bener lo, darimana, sih?" tanya Nathan.
"Dari langit. Habis ngadu ke Tuhan ada penduduk neraka yang kabur ke bumi–"
"Namanya Nathan!" ketus Ayra.
"Bangsat!" ketus Nathan sembari mendelik tajam.
Ayra tak menjawab perkataan Nathan, ia hanya menjulurkan lidahnya ke arah Nathan. Pandangan Ayra celingukan ke beberapa arah, setelah itu ia mengusap dadanya perlahan berbarengan dengan helaan napasnya.
"Di sini aman, kan? Gak ada anak Vanoztra?" tanya Ayra.
"Gak ada. Lo tenang aja," sahut Gerald yang diacungi jempol oleh Ayra.
"Lima menit lagi dimulai, Ra. Lo siap-siap sekarang," ucap Satria.
Gadis itu mengangguk, kemudian Ayra melepas ikat rambutnya yang ia jadikan gelang di tangannya, lalu Ayra menyatukan rambutnya dalam satu genggaman. Dan mengikatnya seperti ekor kuda.
"Malam ini lo harus membanggakan Alaskar. Ingat, lo itu queennya Alaskar. Tunjukkan pada Vercal bahwa queen Alaskar adalah racer queen juga," jelas Nathan sembari menyeringai.
Ayra menoleh–menatap Nathan yang berdiri di sampingnya. "Lo raguin gue, Nat?" tanya Ayra.
"Bisa-bisanya lo masih ragu sama gue, yang berturut-turut selalu memenangkan balapan ini," ucap Ayra sembari bersedekap dada.
Nathan terdiam sejenak menatap Ayra, kemudian ia merangkul pundak Ayra dan menguncinya di ketiak. "Bocah satu kalo udah sombong pengen gue goreng organ tubuhnya."
"Pengap dongo! Gue gak bisa napasssss!" teriak Ayra sembari memukul-mukul lengan Nathan.
Lima menit sudah berlalu, kini Ayra terduduk di atas motornya, ralat–motor milik Micholas. Gadis itu fokus menatap ke depan sesekali Ayra meng-gas motornya.
Di samping Ayra seorang pria yang tak lain wakil ketua gangster Vercal, tengah menatapnya dengan senyuman dan tatapan brengsek di bibirnya dan juga matanya.
"Gue tantang lo," ucap laki-laki tersebut.
Ayra menoleh ke samping. "Tantang apaan?" tanya Ayra sembari mengangkat sebelah alisnya.
"Kalo lo kalah balapan sama gue–lo jadi pacar gue," jelas laki-laki tersebut di akhiri senyuman.
Sontak Ayra mengernyitkan keningnya mendengar penjelasan soal tantangan itu, tapi karena Ayra yakin bahwa dirinya bisa memenangkan balapan ini, ia pun menyetujuinya.
"Oke, no problem," ucap Ayra.
'Sialan! Dia gak tau aja pawang gue siapa. Sekali jumpa–tepar lo.'
Gadis itu mulai bersiap-siap untuk melajukan motornya. Saat aba-aba telah terdengar jelas di telinganya. Mereka berdua langsung menancap gas, melajukan motornya.
Brmmm ... brmmm ... ngeeeengg ....
Seketika sorakan dan tepuk tangan bergemuruh di sekitar sirkuit. Balapan pada malam ini Ayra harus benar-benar memenangkannya. Karena ia enggan menjadi pacar cowok brengsek itu.
Lima menit setelah balapan dimulai Ayra berada di baris belakang lawannya. Gadis itu semakin menambah kecepatannya untuk menyusul lawannya. Dari kaca spion laki-laki itu menyeringai–menatap Ayra yang berada di belakangnya.
Tak lama kemudian, ia tersentak saat Ayra mulai menyusul dirinya. Dan kini Ayra berada di posisi depan. Laki-laki itu akhirnya menyadari bahwa Ayra bukan sembarang perempuan. Tak mau kalah, ia pun menambah kecepatannya.
Tapi laki-laki itu tak bisa mengejar Ayra. Ia benar-benar berada di jarak yang jauh dengan Ayra. Senyuman tercetak di bibir Ayra saat di depan matanya sudah terlihat jelas garis finish.
"Woooo!" Sorakan gembira dan tepuk tangan menyambut kemenangan Ayra.
"The queen of Alaskar!" teriak seluruh anak Alaskar.
"Sialan! Lawan cewek aja gak becus!" ketus Rezzo, ketua gangster Vercal.
Ayra membuka helm-nya. Ia menoleh ke arah laki-laki tersebut, kemudian menjulurkan lidahnya sembari menjulingkan matanya. Laki-laki tersebut hanya mengacak rambutnya frustasi. Detik kemudian, Nathan bertepuk tangan sembari berjalan ke arah Ayra disusul anak Alaskar lainnya.
"Kerja bagus, queen!" ucap Satria sembari merangkul pundak Ayra.
"Gila ... adik Bang Micho!" ucap Michael.
"Kita ke basecamp sekarang. Jangan lupa bro, siapin sesajen buat Ayra," pinta Nathan, seketika mata Ayra berbinar-binar dan senyuman pun tercetak di bibirnya.
"Beres pokoknya. Sekalian sama pabrik-pabriknya gue angkut," ucap Gerald.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Ayra baru saja keluar dari ruang BK, ia menghela napasnya setelah keluar dari ruang tersebut. Dari kejauhan ketiga sahabatnya memanggil sembari berlari ke arahnya. Pasti mereka mendadak menjadi wartawan.
"Ada apa, Ra?" tanya Nana dan Shafira serentak.
"Lo punya masalah?" tanya Maudy.
Ayra menghela napasnya. "Soal kemarin gue bogem Mega," sahut Ayra.
"Udahlah gak apa-apa, kok. Yang dihukum juga Mega bukan gue karena dia duluan cari masalah," ucap Ayra.
"Kok bisa guru-guru tau?" tanya Shafira sembari mengernyitkan dahinya.
"Pasti ngadu, nih, si Megalonthe," tebak Nana.
Ayra menggelengkan kepalanya. "Bukan. Guru-guru tau lewat CCTV," jelas Ayra.
Mereka pun mengangguk mengerti, kemudian Shafira mengusap lengan Ayra. "Syukur deh, kalo lo gak dihukum."
"Ya udah. Kantin, yuk? Gue kalo emosi suka laper," ajak Ayra.
"Bisa-bisa gue santap lo pada," lanjut Ayra sembari melangkahkan kakinya.
"Sinting lo, Ra!" ketus mereka bertiga serentak.
Gadis beriris mata coklat itu melanjutkan langkahnya sembari tertawa terbahak-bahak. "Come on, gengs!" ucap Ayra sembari menoleh ke belakang.
Selang beberapa menit, mereka sampai di kantin. Langkah keempat gadis ini terhenti melihat keadaan kantin yang sangat penuh. Tak ada satu meja pun yang tersisa untuk mereka duduk.
"Gila, penuh gini," ucap Ayra.
"Kita makan di taman aja, deh," saran Nana.
"Woi! Girls! Come here!" teriak Mario sembari mengangkat tangannya.
Keempat gadis itu menoleh ke sumber suara. Seketika bibir mereka mengembang membentuk senyuman. Tanpa berlama-lama, mereka segera berjalan menghampiri meja yang diduduki oleh anak Vanoztra.
Tangan Elgara menarik lengan Ayra ketika cewek itu berjalan melewatinya. Membuat Ayra langsung terduduk di kursi samping Elgara. Sebagian orang di kantin termasuk anak Vanoztra dan juga Fourangels memusatkan pandangannya pada Elgara dan Ayra.
"Wait," ucap Maudy dengan kening yang mengerut.
"Kalung lo–"
"Kok sama kayak Elgara!" Serentak Nana, Maudy dan Shafira berkata.
Ayra melirik sejenak ke arah liontin kalungnya, ia tak sadar liontin kalungnya terlihat. Karena biasanya Ayra memasukkannya ke dalam seragam. Hingga tak ada yang tau bahwa Ayra memakai kalung yang sama dengan Elgara.
"Iya, kalung gue sama Ayra couple," ucap Elgara, kemudian ia menyatukan magnet kalungnya dengan magnet kalung Ayra.
Keadaan di kantin menjadi rusuh. Ucapan tak terima dan ucapan iri mereka lontarkan untuk Elgara dan Ayra. Tak mau mereka semakin ribut, Ayra melepaskan magnet kalungnya.
"Bandung panas gini, euy!" teriak Anggara.
"Nanti coming soon gue sama Maudy mau pakai behel couple yang ada magnetnya. Biar gigi gue sama Maudy bisa nempel," ucap Mario yang langsung dilempar kripik oleh Maudy.
"Biar apa, anying? Mau adu jigong, lo?" tanya Brio.
"HAHAHAHA!"
Serentak mereka tertawa atas pertanyaan Brio. Setelah tawaan mereka terhenti Maudy dan Nana beranjak dari kursi untuk memesan makanan. Saat berjalan melewati Mario, Maudy menjambak rambut laki-laki itu hingga Mario meringis.
"Diem-diem mulu lo, Res, ngobrol, kek," ucap Brio sembari menyenggol lengan Anres.
"Gue jomblo, gue diam," jawab Anres.
"Cari cewek lah, Res. Mau gue bantu cari?" tanya Anggara sembari merangkul pundak Anres.
Anres melepas tangan Anggara yang melingkar di pundaknya. "Udah ada. Cuma gue harus lebih cepat aja buat dapetinnya."
"Harus lebih cepat, tapi lo diam aja. Mana bisa, Res," ucap Ayra.
Anres terkekeh kecil, lalu berkata, "Gue masih ragu, Ra."
"Ra, malam ini gue mau ajak lo keluar. Mau ya?" ajak Elgara.
"Mau dong sayang ..." Bukan Ayra yang menyahut, tapi keempat teman Elgara.
Elgara menatap tajam ke arah mereka secara bergantian. Tak perlu berkata, hanya dengan tatapan tajamnya mampu membuat bibir mereka mengunci.
"Kemana?" tanya Ayra.
"Ikut gue aja," ucap Elgara sembari menyelipkan rambut Ayra ke belakang telinga.
"Ra, hati-hati–mata elang lebih bahaya daripada mata buaya," ujar Anggara.
"Gue sedot ubun-ubun lo, Gar!" ketus Elgara.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Benar dengan apa yang dijanjikan Elgara tadi di kantin. Elgara baru saja tiba di depan rumah Ayra. Pandangannya langsung terfokus pada gadis yang berjalan ke arahnya.
Malam ini Elgara melihat penampilan Ayra jauh berbeda dari biasanya. Ayra terlihat begitu cantik hingga Elgara sulit untuk berkedip. Apalagi saat melihat riasan pada mata Ayra yang menambah keindahan mata gadis itu.
"So pretty," ucap Elgara sembari menyelipkan rambut Ayra ke belakang telinga.
Pada detik itu pun pipi Ayra memerah merona. "Thank you," ucap Ayra sembari tersenyum.
"Let's go, baby!" ajak Elgara, kemudian memasangkan helm di kepala Ayra.
Hembusan angin malam terasa dingin saat menyentuh kulit wajah Ayra. Membuat sesekali Ayra memejamkan matanya. Krena ia merasa ngantuk akibat hembusan angin itu.
Elgara tersenyum saat melihat Ayra lewat kaca spion, kemudian Elgara menarik tangan Ayra untuk melingkarkan pada tubuhnya. Mata Ayra membuka, ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa ingin berteriak.
Beberapa saat kemudian. Mereka berdua tiba di sebuah taman yang di kelilingi oleh lampu dan juga bunga-bunga. Ayra tersenyum melihat sekeliling taman, ia menyukai tempat yang penuh ketenangan seperti ini.
"Sini duduk, Ra," pinta Elgara.
Ayra yang tengah sibuk memotret bunga menghentikan aktivitasnya, ia berjalan menghampiri Elgara, kemudian terduduk di samping laki-laki bermata elang itu. Pandangan Ayra terfokus menatap Elgara yang tengah menatap langit sembari tersenyum.
Laki-laki itu menoleh ke arah Ayra. "Kalo gue gak ada di basecamp atau rumah. Lo bisa cari gue ke tempat ini."
"Karena tempat ini sering gue kunjungi ketika keadaan gue lagi hancur," jelas Elgara.
"Berarti sekarang lo–"
"Enggak. Gue cuma pengen ngabisin waktu malam di luar sama lo," jelas Elgara.
"Mulut lo bohong, mata lo jujur," ucap Ayra dengan pandangan menatap langit.
Elgara hanya terkekeh kecil, kemudian tangannya menarik kepala Ayra agar gadis itu bersandar di bahunya. Aroma parfum dari tubuh Elgara menambah rasa kenyamanan Ayra.
Hingga saat ini Ayra tidak tau alasannya kenapa ia tiba-tiba menyukai cowok ini. Bahkan, hubungan mereka pun tak jelas bagaimana.
"Gue benci sama suasana rumah sekarang, El," ucap Ayra.
"Lo kalo pengen ditemenin tinggal bilang sama gue. Kapan pun itu gue pasti datang," ucap Elgara.
"Tapi kalo ada lo–makan aja aneh rasanya," ujar Ayra.
Laki-laki itu mengerutkan keningnya sembari menatap Ayra dari samping. "Aneh gimana?"
"Ya aneh. Karena rasa makanannya campur sama manisnya wajah lo," jawab Ayra.
Bibir Elgara secara otomatis mengembang membentuk senyuman. Detik berikutnya laki-laki bermata elang itu tertawa dengan pandangan yang tak lepas menatap Ayra. Melihat Elgara tertawa seperti itu membuat Ayra malu sendiri.
"Ih, apaansih malah ngetawain gue. Pingsan kek atau kejang-kejang gitu," ucap Ayra sembari mencebikan bibirnya.
Elgara memegang puncak kepala Ayra masih dengan tawanya. "Bilang sama gue kalo kemarin-kemarin itu bukan lo."
"Terus siapa kalo bukan gue? Set–" Ucapan Ayra terhenti saat pandangannya melihat seseorang yang jelas Ayra kenali. Seketika mata Ayra melebar begitu saja, jantungnya berdegup kencang.
'Gawat! Itu, kan, Nathan!'
"El, gue mau–gue mau–ke sana dulu, ya. Ambil ikat rambut gue jatuh tadi di sana," dusta Ayra sembari beranjak dari duduknya.
"Di sana, di mana?" tanya Elgara.
"Pokoknya di sana. Tunggu sebentar, oke." Dengan tergesa-gesa Ayra melangkahkan kakinya meninggalkan Elgara sebelum Nathan melihat dirinya.
Satu jam sudah berlalu, Elgara masih diam di tempat menunggu Ayra yang tak kunjung datang. Sudah berpuluh-puluh kali Elgara menghubungi Ayra, tapi ponsel Ayra tidak aktif. Kecemasan Elgara semakin meningkat.
"Kalo jomblo tuh diam di rumah. Jangan di sini bikin tempat sempit aja lo," ucap Nathan, kemudian merangkul pundak pacarnya.
Elgara menatap tajam ke arah Nathan. "Sorry, gak ada waktu buat ribut sama lo!" Elgara melenggang pergi–menyenggol bahu Nathan.