Vanoztra

Vanoztra
38. Keraguan



"Anres?" ucap Ayra sembari terus menatap Anres.


"Ini udah malam, Ra. Gak baik lo sendirian di tempat sepi kayak gini," ujar Anres, kemudian mengusap air mata Ayra.


Ayra tak menjawab perkataan Anres, ia terus menatap lekat laki-laki itu. Hingga detik berikutnya Ayra memeluk tubuh Anres, sampai Anres terduduk yang awalnya berjongkok. Air mata Ayra kembali mengalir membasahi baju Anres.


"Lo bohong, Res, lo bohong sama gue!" ucap Ayra.


"Lo bilang Elgara tulus sama gue, tapi buktinya dia baru aja bikin gue kecewa, Res!" lanjut Ayra.


Anres menghela napas, kemudian dia mengusap kepala Ayra beberapa kali. "Sorry, Ra. Gue gak tau kalo Elgara bakal ulangi hal yang sama," ucap Anres.


"Dan–maaf, gue gak bilang kalo Elgara bakal lakuin ini ke lo," lanjut Anres.


Ayra menatap Anres dengan raut wajah kesal. "Jadi lo tau?" tanya Ayra.


Laki-laki itu berdiri dari duduknya. Sebelum menjelaskan Anres mengulurkan tangan agar gadis di hadapannya berdiri. "Iya, gue tau."


"Aarrgghh! Lo kenapa bikin gue ragu terus sih, Ra?!" teriak Elgara, kemudian mengacak rambutnya frustasi.


"Gue yakin banyak hal yang lo sembunyikan dari gue. Entah itu tentang siapa lo sebenarnya atau tentang maksud kehadiran lo di kehidupan gue," ucap Elgara dengan raut wajah sangar.


"Kali ini gue simpulkan bahwa lo, Ayra, lo itu cewek yang berbahaya!"


Elgara mendudukkan tubuhnya di kursi masih dengan ekspresi sangar. Pikirannya terus berputar memikirkan soal Ayra. Elgara dibuat bingung atas rasa cinta nya dan atas rasa kewaspadaan nya terhadap Ayra.


"ARGGHHH! SIALAN!" Laki-laki bermata elang itu mengusap wajahnya kasar.


"El–" Ucapan Anres dan langkahnya terhenti setelah melihat Elgara yang tengah berpikir. Anres pun memilih berdiri di samping pintu untuk memperhatikan Elgara.


"Gue harus menghindar dari Ayra, gue harus jauhi cewek itu, tapi sekarang– gimana caranya? Gak mungkin gue langsung jauhi dia tanpa sebab," ucap Elgara sembari memijat-mijat pelipisnya.


Setelah mendapatkan cara untuk menjauhi Ayra, bibir laki-laki itu menyeringai. "Gue harus buat dia kecewa, dengan mengajak Ayra ke salah satu tempat, tapi gue gak datang ke tempat itu," ujar Elgara.


Di ambang pintu Anres menggeram kesal atas perlakuan Elgara terhadap Ayra. Tangannya mengepal erat, detik berikutnya Anres menghela napasnya.


'Lagi-lagi lo bersikap seperti ini.'


"Lo kenapa gak kasih tau gue, sih, Res?! Sama aja lo jahat," ucap Ayra sembari mencebikan bibirnya.


"Gue bukan gak mau ngasih tau lo, Ra. Takutnya Elgara gak jadi lakuin ini dan gue gak mau dianggap hancurin hubungan lo sama Elgara," jelas Anres.


"Tapi ternyata, Elgara beneran lakuin ini," lanjut Anres.


"Sorry, Ra, yang gue bisa lakuin cuma mantau lo. Tadi gue sengaja ikuti lo karena takutnya Elgara beneran gak dateng. Dan pastinya lo bakal kayak gini. Ternyata benar," ucap Anres.


Ayra menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "Makasih ya, Res," ucap Ayra.


"Sama-sama," jawab Anres tersenyum sembari mengusap puncak kepala Ayra.


Laki-laki itu mendongakkan kepalanya menatap langit malam. Bibirnya mengembang membentuk senyuman, kemudian kembali menatap Ayra. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Ra," ucap Anres.


"Sekarang lo beranggapan bahwa semua laki-laki itu sama. Itu karena lo belum menemukan cowok yang tepat, Ra," jelas Anres.


"Terus, siapa yang tepat buat gue?" tanya Ayra sembari mendongak menatap langit.


"Gue," sahut Anres.


Sontak Ayra menoleh ke arah Anres dengan dahi yang berkerut. "Hah?"


"Mm, maksud gue–i-ini, gue punya yupi buat lo," ucap Anres sembari menyerahkan dua yupi pada Ayra.


Mata gadis itu berbinar-binar setelah menerima yupi dari tangan Anres, lalu berkata, "Makasih."


Sebelum membuka yupi tersebut Ayra menatap dua yupi nya, kemudian ia menyerahkan satu yupi pada Anres. "Buat lo," ucap Ayra.


Anres terkekeh kecil sembari mengacak gemas rambut Ayra. Pandangan Anres tidak bisa beralih, ia terus memperhatikan Ayra yang tengah memakan yupi tersebut. Anres pun merasa bahagia, berhasil membuat Ayra kembali ceria.


"Ini namanya yupi apa, Ra?" tanya Anres.


"Mm, ini tuh yupi marshmallow krunchy choco pie," jawab Ayra.


"Kayaknya lo tau semua ya, varian yupi," ucap Anres yang diangguki semangat oleh Ayra.


"Dari banyaknya varian yupi, lo lebih suka yang mana?" tanya Anres.


"Exotic mango. Itu rasa mangganya segar banget, lo wajib coba," jawab Ayra.


Anres merogoh saku celananya, ia mengeluarkan dua yupi lagi. "Yang ini?" tanya Anres sembari memperlihatkan yupi nya pada Ayra.


"He-em! Lo beli banyak? Wah, pasti lo ketularan gue, nih," ucap Ayra sembari tersenyum.


Anres meraih tangan Ayra, kemudian ia meletakkan yupi tersebut di telapak tangan Ayra. "Gue sengaja beli buat lo," jelas Anres.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Brak!


"BANGSAT!" teriak Elgara, kemudian ia terduduk dari baringnya.


Mata Elgara menatap tajam pada Anres yang sudah membuka pintu basecamp cukup kencang, hingga tidurnya terusik. Anres pun menatap Elgara tajam dengan napas yang memburu. Kepalan tangannya begitu erat, lantaran dirinya merasa kesal.


"Lo bisa pelan gak sih, buka pintu?!" tanya Elgara membentak.


Bugh!


Anres melayangkan pukulan pada Elgara. Hingga laki-laki itu tersungkur dari atas sofa, lantaran ia belum siap mendapatkan serangan tiba-tiba. Tanpa berlama-lama, Anres menarik kerah kaos Elgara agar laki-laki itu segera berdiri.


"Lo kenapa, setan?! Santai," ucap Elgara.


"SANTAI LO BILANG? SANTAI LO BILANG, HAH?!" bentak Anres, kemudian ia melayangkan pukulan lagi pada Elgara.


Bugh!


"Res, Res, kalem, Res, wei!" ucap Nino sembari berusaha menahan tubuh Anres yang akan melayangkan pukulan lagi pada Elgara.


Zidan membantu Elgara untuk berdiri. Keadaan Elgara kini tengah lemas, lantaran laki-laki itu telah banyak menghabiskan minuman beralkohol.


"Lo berdua ada masalah apa, sih?" tanya Zidan.


Anres menunjuk wajah Elgara. "Lo boleh mempermainkan banyak perempuan, El–"


Elgara menepis tangan Anres yang menunjuk wajahnya. Sebelum menjawab Elgara terus menatap Anres. Detik berikutnya laki-laki itu tertawa, "Haha! Ayra pacar gue, jadi bebas dong. Pertanyaannya, lo siapanya Ayra, bro?"


"Lagian kalo lo ada di posisi gue, lo juga bakal sama kayak gue," jelas Elgara.


"Ayra itu bahaya, Res. Lo tau?" tanya Elgara.


Anres berdecak sebal, kemudian ia kembali menatap Elgara tajam. "Ini nih, sikap lo yang gak gue suka. Menyimpulkan kebenaran tanpa melihat buktinya terlebih dahulu," ucap Anres.


"Gue gak habis pikir sama lo. Lo suruh Ayra datang ke restoran, tapi lo sendiri gak datang. Kalo lo mau lakuin hal itu jangan di jam malam. Karena itu bahaya, sialan!" jelas Anres.


"Lo tau? Ayra nangis di tempat yang sepi. Kalo gue gak ikuti dia itu bisa bahaya bagi Ayra!"


Lagi-lagi Elgara tertawa, kemudian ia menghela napasnya. "Cewek gue wonder woman, bro. Laki-laki mana pun dan sebanyak apapun dia bisa hajar," ucap Elgara.


"Udah gak waras, lo! Sekuat-kuatnya Ayra tetep aja tenaga perempuan gak akan sebanding sama laki-laki, El!" jelas Anres.


Elgara terdiam setelah Anres berkata seperti itu. Tak mau berdebat lama dan bertengkar hebat, Anres memutuskan untuk pergi dari basecamp. Sebelum melangkah pergi, Anres menatap Elgara terlebih dahulu.


"Kalo lo mau putus sama Ayra–putusin dia dari sekarang juga!" ucap Anres penuh penekanan.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Elgara terbangun dari tidurnya. Sebelum beranjak dari tempat tidur Elgara memilih duduk terlebih dahulu. Sejenak Elgara memijat-mijat kepalanya yang terasa pening.


"Ayra itu bahaya, Res, lo tau?" tanya Elgara.


"Ini nih, sikap lo yang gak gue suka. Menyimpulkan kebenaran tanpa melihat buktinya terlebih dahulu," ucap Anres.


"Gue gak habis pikir sama lo. Lo suruh Ayra datang ke restoran, tapi lo sendiri gak datang. Kalo lo mau lakuin hal itu jangan di jam malam, karena itu bahaya, sialan!" jelas Anres.


"Lo tau? Ayra nangis di tempat yang sepi. Kalo gue gak ikuti dia, itu bisa bahaya bagi Ayra!"


"Cewek gue wonder woman, bro. Laki-laki mana pun dan sebanyak apapun bisa dia hajar," ucap Elgara.


"Udah gak waras, lo! Sekuat-kuatnya Ayra tetep aja tenaga perempuan gak akan sebanding sama laki-laki, El!" jelas Anres.


Perdebatan dirinya dengan Anres semalam berputar kembali di otak Elgara. Laki-laki itu menyurai rambutnya ke belakang dengan mata yang terpejam, kemudian Elgara meraih ponselnya di atas nakas untuk membuka laman chatnya bersama Ayra.


Ayra: El, masih lama lagi?


Semacet apasih? Perasaan tadi gue ke sini gak macet deh


Elgara?


El ... masih di mana, sih?


Elgara mematikan ponselnya, kemudian ia mengusap wajahnya kasar. "Aarrgghh!" teriak Elgara.


"Jaket itu yang bikin gue ragu!"


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Seperti biasa sebelum masuk kelas, Elgara dan keempat temannya nongkrong di parkiran, tapi kali ini tidak ada Anres lantaran ia belum datang ke sekolah. Baru saja Elgara akan bertanya soal Anres pada teman-temannya, laki-laki itu baru saja tiba.


"Res, tumben lo–lah, kok, Ayra–" ucap Mario.


"Oh ... lo berdua ribut semalam cuma gara-gara ini?" tanya Anggara.


"Bakal terjadi cinta jajargenjang, euy!" ucap Brio.


Tatapan Elgara begitu tajam ke arah Anres, lantaran laki-laki itu mengantar Ayra pagi hari ini. Tanpa berlama-lama, Elgara beranjak dari duduknya, kemudian berjalan menghampiri Anres dan Ayra.


"Teman macam apa lo? Gue belum putusin Ayra, Res, tapi lo–main gini aja, anjir," ucap Elgara di akhiri kekehan.


Pandangan Elgara beralih menatap ke arah Ayra yang tengah menatapnya juga. Tatapan Ayra begitu tajam tercetak raut wajah penuh kekesalan. Ayra turun dari motor, ia berjalan mendekati Elgara.


"Ikut gue, Ra," ajak Elgara sembari memegang tangan Ayra, tapi dengan cepat Ayra menghempas tangan Elgara.


"Ra, ikut gue, gue mau jelasin soal–"


Plak!


"Beuhh!" ucap Brio, Anggara dan Mario serentak.


"Mancing maniaaa?" ujar Anggara.


"Mantap!" sahut Brio dan Mario sembari mengacungkan jempolnya.


Entah mengapa Ayra tak bisa menahan air matanya di hadapan Elgara, padahal dari tadi Ayra berhasil menahan air matanya yang akan terjatuh setiap mengingat perlakuan Elgara. Dan kini di hadapan Elgara air matanya lolos tumpah.


"Ayra ..." panggil ketiga sahabatnya sembari berjalan menghampiri Ayra.


"Ra, semalam lo sama Elgara gimana?" tanya Shafira.


"GUE KECEWA SAMA LO, EL! APA MAKSUD LO SELAMA INI JADIIN GUE PACAR, KALO AKHIRNYA LO HANYA INGIN MEMPERMAINKAN GUE?!" ucap Ayra.


"Gue bukan mempermainkan lo, Ra. Ada alasannya gue lakuin itu ke lo. Dan sekarang gue mau minta maaf. Ikut gue sebentar, Ra," ujar Elgara.


"Bukan mempermainkan kata lo? Terus semalam apa? Gue bela-belain nunggu lo lama di restoran, lo bilang jalannya macet, tapi akhirnya lo gak datang, lo malah diam di basecamp!" jelas Ayra.


"Dengerin penjelasan gue dulu, Ra. Gue punya alasan lakuin itu," ucap Elgara.


"Gue gak perlu alasan dari lo! Karena cowok kayak lo, sekali mempermainkan cewek seterusnya lo bakalan kayak gitu! Gue sadar sekarang–" jelas Ayra.


"DAN GUE JUGA SADAR SEKARANG! KALO LO DEKETIN GUE, HANYA KARENA LO INGIN TAU SOAL VANOZTRA!" jelas Elgara.


Plak!


Nana menampar pipi Elgara, gadis itu menatap Elgara tajam. Nana tidak terima atas ucapan Elgara terhadap sahabatnya. "Bisa-bisanya lo berpikir seperti itu sama Ayra. Ada bukti apa sampai lo berpikir seperti itu, hah?!" tanya Nana.


"Udah, Na," ucap Ayra.


"Kalo emang lo berpikir seperti itu, oke. Makasih, lo udah bikin gue semakin muak sama yang namanya cinta," ujar Ayra, kemudian melenggang pergi, disusul oleh Nana, Maudy dan Shafira.


Elgara terdiam sejenak, kemudian ia mengusap wajahnya kasar. Melihat botol kosong di hadapannya, dengan sigap Elgara menendang botol tersebut hingga memantul pada tembok, lalu mengenai Anggara.


Pletak!


"Duh, anying!" ucap Anggara sembari mengusap keningnya.