Vanoztra

Vanoztra
42. Lo ngapain di sini?



"Lo–adiknya Micholas Askara, kan?" tanya Rozy.


Deg!


Jantung Ayra berdegup kencang dua kali lipat saat Rozy melontarkan pertanyaan seperti itu. Ayra tidak menyangka bahwa anggota baru Vanoztra ini mengenali dirinya sebagai adik Micholas, tapi anehnya kenapa Ayra tidak mengenali Rozy.


'Damn it! Dia siapa Kak Micho? Kenapa dia tau gue. Jangan sampai–jangan sampai rahasia ini terbongkar di depan anak Vanoztra.'


"Micho–las? Siapa dia? Gue anak tunggal gak punya kakak maupun adik," jawab Ayra sebisa mungkin ia memasang raut wajah tenang.


"Tapi gue pernah lihat lo sama Micholas," ucap Rozy.


Ayra mengulum bibirnya, ia berpikir keras untuk mengelak dari pertanyaan Rozy. Anak Vanoztra yang berada di sana menatap Ayra begitu intens, apalagi Elgara. Hal itu membuat Ayra semakin tegang.


"Mm, i-itu mah lo salah lihat kali. Gue anak tunggal terus saudara gue gak ada yang namanya Micholas," jelas Ayra.


"Tapi beneran deh kalo gak salah emang lo," ucap Rozy.


'Sialan! Udah kek gak usah introgasi gue terus-terusan.'


"Yang mirip gue palingan juga, kan, di dunia ini kita punya kembaran," ujar Ayra sembari tertawa kecil.


"Iya kali ya," ucap Rozy.


"Aduh ... ada si Neng cantik. Teman-temannya gak ikut, Neng?" tanya Abah Suro sembari menyimpan dua mangkuk es campur dan beberapa makanan lainnya di atas meja.


Ayra tersenyum sopan. "Gak Bah, mereka udah pada pulang," jawab Ayra.


"Oh begitu ... ya udah atuh selamat makan ya," ucap Abah Suro, kemudian melenggang pergi untuk melayani pembeli yang lainnya.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Sama apalagi?" tanya pegawai kasir sembari memasukkan beberapa barang yang telah Elgara beli.


"Sama hati Teteh nya," jawab Elgara.


Jawaban Elgara berhasil membuat pegawai kasir tersebut menundukkan kepalanya sembari tersenyum malu. Elgara terus menatap pegawai kasir tersebut, hingga pegawai kasir itu mendongakkan kepalanya– menatap Elgara kembali.


Saat detik itu juga Elgara memberikan senyuman maut plus mengedipkan sebelah matanya. Alhasil pegawai kasir tersebut memalingkan wajahnya.


"Udah itu aja," jawab Elgara, kemudian ia menyerahkan uang pada pegawai kasir tersebut.


"Mau tambah roti? Beli dua gratis satu," ucap pegawai kasir tersebut.


"Udah itu aja," jawab Elgara.


"Yoghurtnya lagi promo beli tiga gratis dua," ucap pegawai kasir tersebut.


"Udah itu aja," jawab Elgara.


"Spaghettinya–"


"Nawarin lagi saya cium loh," jawab Elgara.


Sontak pegawai kasir tersebut mengulum bibirnya sembari mengerjapkan matanya beberapa kali. Detik berikutnya Elgara tertawa sembari meraih kantong plastik nya.


"Bercanda, Teh," ucap Elgara.


Setelah selesai membeli beberapa camilan untuk Ayra, kini Elgara segera kembali ke rumah Ayra. Ia sengaja tidak naik motor, lantaran dari rumah Ayra menuju supermarket cukup dekat.


Beberapa menit kemudian langkah Elgara terhenti. Setelah melihat seseorang yang berdiri di hadapannya. Mereka berdua saling melemparkan tatapan tajam. Detik itu juga emosi Elgara memburu.


"Lo ngapain di sini?" tanya Elgara.


"Suka-suka gue, lah. Emang ini komplek punya nenek lo?!" sahut Nathan ketus.


"Santai aja bangsat! Gak usah pake emosi!" ketus Elgara.


"Lo yang duluan, anjeng!" bentak Nathan sembari menunjuk wajah Elgara.


Ayra yang tengah bermain dengan kedua anak ayamnya, sontak mengalihkan pandangan karena mendengar keributan di depan rumahnya. Merasa penasaran Ayra beranjak dari kursi, ia membuka tirai jendela nya.


Deg!


Gadis itu membelalakkan matanya saat tau siapa yang tengah ribut di depan rumahnya. Raut wajah Ayra seketika panik, ia bingung melihat Elgara dan Nathan yang berada di depan rumahnya. Ayra menggigit kuku sembari berpikir.


"Ah sialan! Kenapa mereka harus ketemu di sini sih!"


"Gue chat Nathan aja deh" Ayra meraih ponselnya yang berada di atas meja.


Nat, lo gak bilang kan, lo saudara gue ke Elgara?


Please, lo diam jangan bilang apapun ke Elgara dan lo jangan berpikir yang enggak-enggak soal gue sama Elgara


Gue lagi menjalankan misi!


Sontak Elgara menepis tangan Nathan yang menunjuk wajahnya. "Gue nanya baik-baik sialan! Kenapa lo emosi anjeng?!"


"Ya, karena wajah lo gak san–" Ucapan Nathan terhenti setelah ponselnya bergetar beberapa kali.


Nathan membaca chat dari Ayra, kemudian ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana. Detik berikutnya Ayra berlari keluar rumah menghampiri mereka berdua.


"Kenapa pada ribut, sih? Berisik tau ke rumah sebelah," tanya Ayra.


"Dia nih yang duluan," jawab Nathan.


"Apaan bagong, kok nyalahin gue? Gue cuma nanya tadi!" ketus Elgara.


Nathan terdiam sejenak. "Ada Zenne gak?" tanya Nathan.


"Mm, Zenne? Dia gak lagi di rumah gue," jawab Ayra.


"Oh ya udah, makasih." Tanpa menanyakan apapun lagi, Nathan melenggang pergi begitu saja meninggalkan Ayra dan juga Elgara.


Pandangan Ayra beralih pada Elgara yang tengah menatap penuh dendam ke arah Nathan. Ayra menggandeng lengan Elgara detik itu juga Elgara menatap Ayra.


"Ayo masuk," ajak Ayra.


Kini mereka berdua saling terdiam. Sesekali Ayra melirik ke arah Elgara yang hanya menatap lurus ke depan. Perlahan Ayra menyadarkan kepalanya di bahu Elgara sembari menggandeng lengan Elgara cukup erat.


Elgara beralih menatap Ayra dari samping. Gadis itu menepuk-nepuk tangan Elgara perlahan. "Lo kenapa diemin gue?" tanya Ayra.


"Hem."


"Karena Nathan ke rumah gue?" tanya Ayra.


"Hem."


Dengan cepat Ayra menenggakkan tubuhnya dengan pandangan menatap Elgara. "Lo cemburu karena Nathan ke rumah gue?" tanya Ayra.


"Hem."


Ayra memutar bola matanya malas. "Ham, hem, ham, hem, aja lo," ucap Ayra, kemudian membuka salah satu snack nya.


Laki-laki bermata elang itu tertawa, kemudian menyurai rambutnya. "Gak kok, gue gak kenapa-kenapa, Ra," ujar Elgara sembari mengacak gemas rambut Ayra.


"Ciko sama Ciki kemana, Ra?" tanya Elgara sembari mengedarkan pandangannya mencari anak ayam tersebut.


"Gak tau. Nanti juga ada biarin aja mereka berdua main," jawab Ayra.


"Itu tuh anak ayam Ra, lo kayak nganggap mereka kucing. Nanti ke injek loh," ucap Elgara.


"Kasihan kalo terus dikurung. Nanti mereka depresi sejak dini, bahaya," jelas Ayra.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Raut wajah ketiga gadis yang duduk di kursi kantin, hari ini terlihat begitu murung. Mereka merasa tidak bersemangat karena Nana tidak masuk sekolah hari ini, lantaran Nana sakit.


"Badmood banget kalo kita gak lengkap," ucap Maudy sembari mencebikan bibirnya.


"Akhir-akhir ini Nana sering banget sakit ya, tuh anak kenapa sih?" tanya Shafira.


"Gue juga gak tau. Dia selalu tertutup sih kalo soal dirinya sendiri," jawab Ayra yang diangguki Shafira dan juga Maudy.


Pandangan mereka beralih ke arah samping di mana kelima anak Vanoztra tengah berjalan menghampiri mereka. Tiba di dekat meja, mereka berlima langsung terduduk. Entah sejak kapan mereka jadi sering bergabung dengan Fourangels.


"Kok gak komplit, satu lagi kemana?" tanya Anggara sembari merangkul Shafira.


"Sakit," jawab Ayra.


"Nana yang sakit?" tanya Mario yang diangguki ketiga perempuan itu.


Saat mendengar 'Nana sakit' raut wajah Brio berubah dratis. Seolah menggambarkan kecemasan dan kekhawatiran. "Nana sakit apa?" tanya Brio.


"Heuuu ... es batu! Baru cair lo?!" ketus Maudy.


"Gue serius anjir, Nana sakit apa?" tanya Brio.


"Panik gitu wajah lo, santai aja Bro. Nana gak akan kemana-mana," ucap Elgara di akhiri kekehan.


"Makanya kalo Nana sehat-sehat aja tuh jangan dingin sama dia. Giliran sakit aja lo nanyain," ujar Shafira.


"Ah, anying! Dahlah!" ketus Brio sembari beranjak dari kursinya.


Serentak mereka semua menahan kepergian Brio. "Eh ... iya-iya!"


"Kepala dia tuh sering sakit, Bri. Mungkin lo baru tau karena Nana tuh pinter banget sembunyiin rasa sakitnya, padahal tiap hari dia selalu ngeluh kepalanya pusing," jelas Ayra.


Brio terduduk kembali di kursinya raut wajah Brio jelas tercetak kesedihan, tetapi ia mencoba menyembunyikan rasa kesedihan itu di depan teman-temannya. "Oh," sahut Brio.


"Gini nih, kelakuan lo ******! Udah dijelasin panjang-panjang respon lo cuma se-uprit," ucap Anggara sembari menatap kesal.


"Pulang sekolah kita jenguk Nana, kuy?" ajak Anres.


"Menurut gue besok aja deh, Res. Biar waktunya panjang, kan besok libur," sahut Maudy yang diangguki semua nya.


Anres pun menganggukkan kepalanya. "Ra, gue ada yupi, lo mau gak?" tanya Anres.


"Mana? Gue ma–"


"Enggak," sahut Elgara dengan tatapan tajam ke arah Ayra.


"Ya elah ... posesif amat lo jadi cowok. Gue cuma nawarin yupi bukan nawarin cinta," jelas Anres.


Elgara beranjak dari kursinya, ia menarik kerah seragam Anres. Tangannya bersiap untuk memukul wajah laki-laki itu. "LO BISA GAK SIH GAK USAH GANGGU–"


Ucapan Elgara dan aktivitasnya terhenti setelah Ayra menyerahkan benda pada Anres dan juga Elgara. Mata mereka melirik pada benda yang berada di kedua tangan Ayra.


"Tadi gunting udah. Sekarang cobain deh pakai pisau biar lebih seru," ucap Ayra.


"Yok, ayo! Gue tunggu adegan tusuk menusuknya, buruan," lanjut Ayra semangat sembari tersenyum lebar.