Vanoztra

Vanoztra
50 - Kelak menjadi cerita



BUGH!


BUGH!


BUGH!


Denis terbaring di jalan setelah Nathan memukulnya dengan kayu. Laki-laki itu sudah kehabisan tenaga, tapi ia tetap bertahan. Tangannya berusaha menahan kayu yang dipegang Nathan.


"Argghh! Anjeng!" ketus Denis saat Nathan menekan perut Denis menggunakan kayu.


Nathan menyeringai menatap Denis. "Mana temen-temen lo? Biasanya langsung datang kalo suara pukulan terdeteksi," tanya Nathan.


"Hah! Udah pada gak peduli tuh! Percuma pakai aplikasi juga," ucap Nathan.


"Sekarang Vanoztra diambang kehancuran, kan? Baru kali ini gue dengar ketua utama Vanoztra ribut dengan seluruh anggotanya. Pasti bentar lagi bubar, nih," jelas Nathan di akhiri tawaan.


"LO TAU DARIMANA ANJENG, HAH?!" bentak Denis sembari menyingkirkan kayu yang berada di perutnya, kemudian laki-laki itu berusaha untuk berdiri.


Setelah laki-laki itu berhasil untuk berdiri di hadapan Nathan, dengan cepat ia menarik kerah jaket Nathan. Matanya memerah dan menajam saat menatap Nathan.


"VANOZTRA GAK AKAN BUBAR! VANOZTRA GAK AKAN HANCUR! MESKIPUN KEKELUARGAAN VANOZTRA SEDANG TIDAK BAIK, TAPI KATA BUBAR ATAU HANCUR GAK AKAN PERNAH TERJADI!" jelas Denis dengan napas yang memburu.


"VANOZTRA AKAN JAYA SELAMANYA. INGAT ITU, BANGSAT!"


BUGH!


Dengan keadaan yang lemah Denis masih bisa melayangkan pukulan. Pukulan itu berhasil mendarat di wajah Nathan, tetapi saat akan melayangkan pukulannya lagi pada Nathan, anggota Alaskar lainnya segera menahan tangan Denis.


Laki-laki itu kesulitan memberi perlawanan ketika Nathan terus memberi pukulan padanya. Denis hanya bisa pasrah sekarang, ia berharap teman-temannya segera datang untuk membantunya.


"JAYA KATA LO?! MALAM INI GUE PASTIKAN VANOZTRA AKAN KALAH! KITA SEMUA UDAH TAU KELEMAHAN–"


"LEPASIN DIA!" teriakan Elgara menghentikan ucapan Nathan.


"JANGAN BERANINYA KEROYOKAN!" bentak Elgara dengan tatapan tajam.


Nathan tersenyum saat melihat di seberang sana ratusan pasukan Vanoztra berdatangan. Pandangannya beralih kepada dua temannya yang sedang menahan Denis, Nathan memberikan isyarat untuk melepaskan Denis dan segera berbaris untuk bersiap war dengan Vanoztra.


"Gue kira lo semua udah saling gak peduli, ternyata masih saling peduli ya," ucap Nathan sembari tersenyum.


"Dan baru kali ini di masa pimpinan batch'20 anggota Vanoztra ribut dengan ketua nya. Wah ... udah kecium bau-bau kehancuran nih," jelas Nathan.


Ucapan Nathan selalu berhasil membuat emosi Elgara memburu. Kini tangan laki-laki bermata elang itu mengepal kuat hingga urat-uratnya tercetak jelas. Sekali lagi Nathan memancing emosinya sudah dipastikan Elgara tak akan diam saja.


"Bakalan jadi berita ter-hot! Kalo sampai Vanoztra bubar," ucap Nathan.


"Vanoztra–gangster yang dipandang positif oleh masyarakat Bandung. Kini bubar begitu saja di masa pimpinan batch'20–Elgara Argantara," jelas Nathan.


"Wah ... gue gak bisa bayangin gimana malunya jadi lo, El," ujar Nathan.


"Dan nanti Alaskar bakalan ada di posisi–"


"HALU MULU LO, BAGONG!" ketus Elgara dengan mata yang memerah tajam.


"GAK USAH BANYAK BACOT, MAJU SEMUA!" pinta Elgara.


Ucapan Elgara tadi menjadi awal mulainya war antara Vanoztra dan Alaskar malam ini. Kedua gangster itu tampak membabi buta saat menyerang lawannya. Suara pukulan demi pukulan meramaikan sepinya suasana di malam hari.


Beberapa kali Elgara berhasil menangkis pukulan dan juga kayu yang akan menghantam tubuhnya. Laki-laki bermata elang itu terlihat seperti kesetanan saat berhasil melemahkan lawannya.


Elgara memukulinya beberapa kali menggunakan kayu, meskipun lawannya itu sudah melemah dan banyak darah yang keluar dari tubuhnya. Bahkan Elgara tak memikirkan nyawa lawannya itu.


BUGH!


Setelah puas menghajar lawannya. Elgara membantu Anggara yang tengah melawan banyak orang. Hanya beberapa detik satu persatu Elgara berhasil melemahkan lawannya.


Detik berikutnya Elgara menepuk pundak Anggara mengisyaratkan untuk tetap bertahan demi Vanoztra. Lantaran laki-laki itu sudah banyak mendapatkan luka disekujur tubuhnya.


Beberapa menit kemudian ....


Tanpa diduga pasukan Vanoztra satu persatu mulai terkapar lemah. Elgara yang melihatnya tentu merasa cemas. Malam ini Elgara merasa penyerangan Alaskar begitu kuat. Strategi yang digunakannya pun terasa berbeda.


'Pasti Ayra yang susun strategi penyerangan ini. Lo kenapa tega, Ra'


"El, lo yakin kita bakalan menang? Pasukan Vanoztra udah banyak yang berjatuhan, El," ucap Brio sembari mengedarkan pandangannya melihat anggota Vanoztra yang satu persatu mulai terkapar lemah.


"Ngomong apa lo, setan?! Vanoztra ya pasti menang! Ayo bantu yang lain!" ketus Elgara sembari terus memberi perlawanan pada lawan yang menyerangnya.


Dibalik pohon, Ayra memperhatikan situasi war tersebut. Gadis itu tengah menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya yang sudah ia susun. Air mata Ayra menetes membasahi pipinya.


Dari tadi ia tidak hanya memperhatikan situasi, tapi Ayra terus menangis melihat Elgara. Jujur Ayra tidak sanggup melihat Elgara yang terlihat begitu cemas, lantaran teman-temannya banyak yang berjatuhan.


Ditambah banyak luka dan darah yang mengalir dari wajah dan tubuh Elgara. Air mata Ayra semakin deras mengalir, dadanya pun terasa sesak.


'Enggak, gue gak tega lihat Elgara kayak gini ....'


'Kenapa gue susun strategi penyerangan seperti ini. Strategi penyerangan yang mungkin membuat Vanoztra kalah. Seharusnya gue gak susun strategi kayak gini.'


'Mereka semua udah baik sama gue.'


Dering ponsel Ayra mengalihkan pandangannya. Ayra segera menjawab telepon dari Nathan. Sebelum berbicara ia menetralkan suaranya agar tidak terdengar sedang menangis.


"Halo, Nat?"


Anggota Vanoztra udah banyak yang terkapar lemah. Saatnya lo beraksi, buruan!


Ayra memejamkan matanya sembari menyandarkan tubuhnya pada pohon, kemudian gadis itu membuka matanya kembali sembari menghela napasnya. "Gue gak bisa, tapi–"


"Gue gak mungkin kecewain Nathan dan yang lainnya. Mereka bisa marah besar sama gue," ucap Ayra.


"Sorry El, gue harus lakukan ini."


Gadis itu mulai melangkahkan kakinya sembari menutup wajahnya menggunakan masker buff yang sering ia pakai. Saat tiba di sana, Ayra mulai menghajar beberapa anggota Vanoztra.


BUGH!


Ayra menendang wajah laki-laki itu hingga giginya copot. Tak sampai disitu Ayra melayangkan pukulan pada perutnya, lalu memelintir tangannya dan menendang kakinya. Ayra berhasil menghajar laki-laki itu hingga terkapar lemah.


Gadis bermata coklat itu mengedarkan pandangannya. Ia menatap satu persatu anggota Vanoztra yang sudah terkapar lemah hampir semuanya, bahkan anggota inti seperti Mario, Brio, Anggara, mereka sudah terkapar lemah.


Hanya menyisakan Anres dan Elgara yang masih bertahan memberikan perlawanan. Dengan cepat Ayra menghampiri Anres, mau tidak mau ia segera menendang wajah Anres hingga ujung bibirnya sobek, kemudian Ayra melayangkan pukulan mengenai perutnya.


'Sorry, Res.'


"ANRES!" teriak Elgara setelah Anres terjatuh ke permukaan tanah.


"S-sorry, El–gue gak bisa bantu lo," ucap Anres sembari meringis memegang perutnya.


"Cukup, El. Gak apa-apa–kali ini aja Vanoztra kalah. Kita–udah gak sanggup," ujar Mario.


"ENGGAK! GUE GAK AKAN BIARIN ITU! VANOZTRA HARUS MENANG! GUE BISA SENDIRI LAWAN MEREKA!" ucap Elgara.


Ayra memejamkan matanya beberapa kali untuk menahan air matanya yang akan terjatuh. Hatinya terasa sakit melihat Elgara seperti itu. Tubuh dan wajah Elgara sudah banyak luka dan darah, tapi laki-laki itu tetap berjuang untuk mempertahankan Vanoztra.


"MAJU LO SEMUA!" teriak Elgara dengan lantang.


BUGH!


Ayra mulai melayangkan pukulan pada Elgara dengan berat hati. Pukulan Ayra mengenai mata Elgara, membuat laki-laki bermata elang itu mundur sejenak lantaran penglihatannya memburam. Elgara mengerjapkan matanya beberapa kali.


Detik berikutnya pnglihatan Elgara kembali jelas. Laki-laki itu segera melayangkan pukulan, tapi Ayra berhasil menahan tangan kekar Elgara. Di sinilah Ayra menjalankan aksinya dengan menurunkan masker buff yang menutupi wajahnya.


Deg!


Seketika jiwa Elgara melemah setelah melihat Ayra yang berdiri di hadapannya. Perlahan Elgara menurunkan kepalan tangannya. Laki-laki itu seperti dihipnotis, ia hanya terdiam dengan napas yang terengah-engah– seperti sulit bernapas.


Air mata Ayra menetes kembali membasahi pipinya. Bibir Ayra bergetar hebat. Teriakan perintah dari Nathan tak didengar oleh Ayra, ia hanya fokus menatap Elgara.


"LO HAJAR, AYRA!" teriak Nathan


"Ayra," gumam Anres dan Brio serentak.


"Jadi–Ayra bagian Alaskar?" ucap Anggara sembari meringis.


"Gue harus bantu Elgara, dia bakalan lemah kalo ada Ayra," ucap Mario sembari berusaha bangkit dari baringnya.


"Lo tau kan, Ra. Lo itu kelemahan gue, kenapa lo harus berdiri di hadapan gue sekarang?" tanya Elgara.


"So–"


BUGH!


Nathan memukul Elgara menggunakan kayu mengakibatkan belakang kepala Elgara berdarah. Dengan cepat Nathan menarik kerah jaket Elgara, ia melayangkan pukulan beberapa kali dibantu oleh pasukan Alaskar lainnya.


Tak ada perlawanan sama sekali dari Elgara. Lagi-lagi Elgara bersikap seperti ini jika jiwanya tengah lemah, terdiam dengan tatapan kosongnya. Elgara membiarkan tubuhnya dipukuli oleh Nathan dan pasukan Alaskar lainnya.


"ELGARA!" teriak anggota inti Vanoztra serentak.


Mereka berusaha untuk bangkit dari baringnya agar bisa membantu Elgara, tapi nyatanya mereka tidak bisa berjalan lantaran tubuhnya terasa begitu lemas. Akhirnya mereka kembali terjatuh ke permukaan tanah.


"ARRGHH! GUE HARUS BANTU DIA, SIALAN!" ucap Anres sembari berusaha untuk bangkit kembali.


"Percuma, Res. Tenaga kita udah habis," ujar Mario dengan suara lemas.


"Tapi kalo kita diam, Elgara bisa mati, anjeng!" jelas Brio.


"AYRA! LO MAU DIAM GITU AJA, HAH?! LO MAU BIARIN ELGARA MATI, SIALAN?!" bentak Brio.


"DIA EMANG UDAH NYAKITIN PERASAAN LO, TAPI LO INGAT–ELGARA LEBIH SERING BAHAGIAIN LO!" jelas Anggara dengan suara lantangnya.


Air mata Ayra semakin deras mengalir. Jujur ia tidak ingin melihat Elgara terus dipukuli seperti ini. Ditambah perkataan Anggara yang membuat hatinya semakin sakit, bahkan kenangan bersama Elgara pun kembali berputar di kepalanya.


Gue harus hentikan ini. Gue gak peduli seberapa marahnya Nathan ke gue nanti, nyawa Elgara lebih penting -batin Ayra.


"NATHAN, STOP!" teriak Ayra sembari menarik tubuh Nathan.


Sontak mereka semua berhenti memukuli Elgara. Laki-laki bermata elang itu kini sudah terkapar lemah di permukaan tanah dengan luka lebam dan darah yang begitu parah.


Ayra segera terduduk di samping Elgara dengan pandangan menatap Elgara sendu. Elgara berusaha membuka matanya, tapi pandangannya begitu buram. Semakin berusaha membuka mata, pandangannya semakin menghitam.


"El, El, Elgara! Bangun, El!" ucap Ayra dengan cemas.


"Lo apa-apaan, Ayra?!" tanya Nathan sembari mencekal pundak Ayra agar gadis itu berdiri.


Ayra menghempaskan tangan Nathan yang berada di pundaknya. "Diem lo!" ketus Ayra, kemudian ia segera menelepon ambulan agar Elgara cepat dilarikan ke rumah sakit.


Saat malam itu, jalan tersebut dipenuhi oleh darah yang bercecer. Darah anggota Vanoztra dan juga Alaskar. Dan kali ini pertama kalinya Alaskar berhasil mengalahkan Vanoztra. Jalan ini kelak akan menjadi cerita yang selalu dikenang dan diingat oleh Vanoztra dan Alaskar.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Beberapa menit kemudian Ayra terduduk di samping ranjang Elgara. Ia menatap lekat wajah laki-laki itu sembari tersenyum. Tangannya terulur untuk mengusap rambut Elgara beberapa kali.


Perlahan Ayra menggenggam tangan Elgara. "Maafin gue ya, El. Mungkin ini jadi hari terakhir gue ketemu lo," gumam Ayra.


Ayra menghela napasnya, kemudian ia tersenyum. "Gue pamit. Jaga diri lo baik-baik di sini, cepat sembuh, ya," ucap Ayra, kemudian ia beranjak dari kursinya.


Sebelum melangkah pergi, Ayra menarik selimut untuk menutupi tubuh Elgara sebatas dada. Saat gadis itu melangkahkan kakinya, tiba-tiba Elgara mencekal tangannya membuat langkah Ayra terhenti.


"Pamit kemana?" tanya Elgara.


Ayra menoleh ke arah Elgara. "Pamit–pamit pulang ke rumah. Udah malam," jawab Ayra.


Elgara melepaskan cekalan tangannya, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah samping. "Hati-hati," jawab Elgara datar.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Brak!


"Bodoh!"


"Lo sendiri yang susun rencana buat hancurkan Vanoztra, tapi lo sendiri yang gagalin rencananya. Otak lo di mana, sialan?!" tanya Nathan sembari menatap Ayra tajam.