
Kejadian tadi hampir membuat emosi Ayra memuncak ditambah perkataan Elgara yang sangat aneh. Jujur hati Ayra sedikit baper. Sedikit ya, hanya sedikit. Saat Elgara berkata 'gue suka gaya lo' entah mengapa saat ucapan laki-laki itu terdengar di telinga Ayra. Seketika hatinya merasa bahagia dan jantungnya pun berdetak tak karuan.
Kini Bel pulang telah berbunyi. Fourangels masih berada di tepi lapangan. Mereka terduduk di permukaan tanah sembari menyeruput jus dan juga memakan beberapa camilan, sedangkan Ayra dari tadi ia asik meminum kiko sembari mendengarkan musik melalui airpods-nya.
"Ra, tiap hari lo minum kiko?" tanya Shafira.
Ayra mengangguk. "Sehari tanpa kiko, kejang-kejang gue mah."
"Buset!" ujar Shafira.
"Lebih galau gak ada kiko, daripada diputusin pacar," lanjut Ayra.
"Ya udah pacarin aja tuh kiko," sahut Nana.
"Iya mau!" Ayra pun langsung mencium kiko tersebut berkali-kali. Membuat ketiga temannya melafalkan ayat kursi sembari memegang kepala Ayra.
Dari kejauhan Anggara berlari ke arah empat gadis yang tengah berduduk santai. Pasti Shafira yang ia tuju. Benar saja saat jaraknya sudah mendekat Anggara melambaikan tangannya pada Shafira. Saat itu pula Shafira beranjak dari duduknya—menepuk-nepuk belakang celananya terlebih dahulu.
"Kantin, yuk!" ajak Anggara sembari mengenggam tangan Shafira. Belum juga Shafira mengangguk atau menjawab, Anggara sudah menarik Shafira untuk mengikuti langkahnya.
"Girls! Pinjam Shafira bentar!" teriak Anggara sembari menoleh ke arah Fourangels.
"Bawa aja sana, Gar, jauh-jauh! Gak usah dikembaliin ke sini!" teriak Maudy yang langsung diberi jari tengah plus tatapan tajam oleh Shafira.
"**** you to!" teriak ketiga cewek itu serentak sembari mengacungkan jari tengah pada Shafira.
Ayra kembali fokus pada layar ponselnya. Ia mendapat sebuah pesan dari Nathan.
N: Ayra.
N: Lo yakin yang nembak Bang Micho itu Elgara? Jangan sampai lo salah.
A: Bener Nat, gue 'kan lihat jaketnya waktu itu.
N: Vanoztra bukan satu, dua, tiga aja. Apalagi gue dengar jaket ketua utama Vanoztra sama jaket anggota lainnya tuh beda. Jaket ketuanya punya ciri khusus.
N: Coba sekarang lo cari tau jaket Elgara. Terus lo bandingin sama jaket yang waktu itu lo lihat.
A: Oke siap.
Ayra melamun seketika memikirkan soal jaket tersebut. Ia mencoba mengingat baik-baik tulisan Vanoztra pada belakang jaket waktu itu. Ayra menganggukkan kepalanya untuk mulai mencari tau soal jaket tersebut.
"Gengs!" panggil Ayra, seketika Nana dan Maudy menoleh ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Nana.
"Nama Instragramnya Vanoztra apa? Gue mau follow mereka," ucap Ayra.
"vanoztra," sahut Nana.
"Lo mulai fans ya, sama mereka?" tanya Maudy dengan cepat Ayra menggelengkan kepalanya.
"E—enggak. Gue cuma pengen follow aja," jawab Ayra.
"Lo serius Ra, gak baper sama ucapan Elgara tadi? Kalo Brio bilang kayak gitu ke gue— bisa-bisa gue pingsan di tempat," ucap Nana.
"Ngapain gue baper? Elgara tadi cuma bilang suka gaya gue, bukan suka gue. Biasa aja tuh," jelas Ayra, padahal di dalam hatinya sih baper sedikit. Pipi Ayra pun sempat memerah tadi.
"Gue salut sama lo, Ra. Tadi lo berani banget bentak Elgara. Kalo gue mah mikir dua kali takut dibogem, kan gak lucu. Apalagi Elgara kalo udah emosi gak main-main," ujar Maudy.
Ayra tersenyum. "Kita sama dia sama-sama manusia," ucap Ayra.
Tangan Ayra mengetik akun Instagram Vanoztra. Hanya beberapa detik Ayra langsung menemukan akun tersebut. Sebelum menscroll postingannya, Ayra menekan tombol follow terlebih dahulu.
Ayra tersenyum saat dirinya menemukan foto Elgara tengah memakai jaket, lalu memperlihatkan bagian belakangnya. Saat jari Ayra akan menekan postingan tersebut, tiba-tiba bola basket mengenai kepalanya.
Duk!
"Aw!" teriak Ayra sembari memegang kepalanya hingga ponselnya jatuh ke permukaan tanah.
"Ayra!" teriak Nana dan Maudy. Mereka mendekat ke arah Ayra.
"Lo gak apa-apa?" tanya Nana.
Ayra mengerjapkan matanya beberapa kali setelah dirasa kepalanya sedikit pusing, kemudian Ayra menggelengkan kepalanya menatap Nana dan juga Maudy.
"Gak apa-apa. Gue baik-baik aja, kok," ucap Ayra.
"Syukur deh," jawab Maudy.
Elgara dan ketiga temannya berjalan menghampiri Ayra. Tepat di hadapan Ayra, Elgara mengulurkan tangannya.
"Sorry, i didn't mean to," ucap Elgara.
Kepala gadis itu mendongak menatap Elgara, ia tak membalas uluran tangan dan juga tak menjawab ucapan Elgara. Ayra malah mendelikkan matanya tajam.
"Sini Ra, bolanya," pinta Brio. Ayra pun melempar bola ke arah Brio.
Elgara menurunkan tangannya sembari menyeringai menatap gadis tersebut. Pandangan Elgara teralihkan pada ponsel Ayra yang berada di permukaan tanah, ia sempat mengerutkan keningnya, lalu raut wajahnya kembali biasa.
"Mod," panggil Mario sembari berjongkok menyamakan tingginya dengan gadis yang ada di hadapannya.
Maudy yang dipanggil pun langsung melihat ke arah depan. "Apa?" tanya Maudy.
"Itu di hidung apaan?" tanya Mario yang langsung didorong oleh Maudy hingga cowok itu jatuh ke belakang.
"Benci gue sama lo! Tompel shaming mulu, deh," ketus Maudy sembari mencebikan bibirnya.
Jawaban Maudy membuat Ayra, Nana, Elgara, Brio dan Anres tertawa terbahak-bahak. Bukan sekali, dua kali Mario bertanya seperti itu maka wajar saja Maudy kesal.
Mario berkata seperti itu karena ia menyukai tahi lalat yang cukup kecil berada di hidung Maudy, tahi lalat itu menambah gemasnya wajah Maudy.
"Gue ke kelas, ya. Sekalian mau pulang. gue duluan gak apa-apa, kan?" pamit Ayra sembari beranjak dari duduknya.
"Iya gak apa-apa. Hati-hati, Ra," ucap Nana sembari tersenyum.
"Hati-hati Ra, see you tomorrow!" ujar Maudy sembari melambaikan tangannya.
Saat Ayra berjalan melewati Elgara, langkahnya terhenti ketika cowok itu mengeluarkan kata-kata, "Orang minta maaf tuh, dimaafin. Bukannya dicuekin—setan," ucap Elgara sembari bersedekap dada tanpa menatap Ayra.
Ceritanya Elgara balas dendam atas bentakan Ayra tadi. Sebenarnya Elgara juga ingin berkata itu sembari membentak, tapi mulutnya seperti sulit untuk membentak gadis ini.
"Ck! Iya-iya gue maafin," ucap Ayra.
"Gila. Gue gak salah lihat kan, Mod?" tanya Nana sembari ternganga.
Maudy menganggukkan kepalanya dengan tatapan terus melihat ke arah Elgara dan Ayra. "Iya, lo gak salah lihat, Na," jawab Maudy.
"Y-ya udah, gue mau pulang, bye!" Ayra melangkahkan kakinya lebih cepat sembari mengulum bibirnya.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Ketika sudah di dalam mobil, Ayra masih terdiam seperti patung. Ia memegang dadanya untuk merasakan detak jantungnya. Sampai saat ini jantungnya masih berdetak tak karuan.
Ayra melepaskan ikat rambut yang ada di tangannya, lalu ia mengikat rambutnya asal. "Jantung gue apaansih?! Lebay banget deh, lo!" ketus Ayra.
"Gue ngapain lagi pakai bilang bye segala!"
Tentang Elgara yang mengusap kepalanya kembali berputar di benaknya. Sontak Ayra pun menggeleng cepat membuyarkan lamunannya.
"Jangan sampai! Big no, Ayra! Ingat tujuan lo dan ingat dia siapa?!"
"Ck! Gue benci Elgara!"
Setelah selesai berolahraga anak Vanoztra tidak langsung pulang ke rumahnya. Mereka berkumpul di Warbah. Satu persatu anak Vanoztra lainnya berdatangan setelah Elgara memberitahu di grup bahwa dirinya dan anggota inti ada di Warbah.
Yang awalnya Warbah hanya terdapat lima orang anak Vanoztra. Kini sudah bertambah menjadi dua puluh orang. Abah Suro tersenyum saat berjalan ke arah anak Vanoztra sembari membawa nampan yang berisi air jeruk.
"Pada kamarana ini teh?" tanya Abah Suro. (Pada kemana?)
"Sebagian ada di basecamp utama, Bah," jawab Elgara.
"Oh, di basecamp utama. Biasanya juga 60 orang yang kumpul di sini," ucap Abah Suro.
"Bah, ada makanan apa aja?" tanya Anggara.
Anggara paling suka tanya daftar menu pada Abah Suro, padahal ia sudah tau menu yang ada di Warbah, tapi karena Abah Suro menjelaskan menunya seperti uncle Mutu membuat Anggara terus bertanya di setiap harinya.
"Roti bakar ada, roti kukus ada, baso ada, mie goreng ada, mie kuah ada, gorengan ada, semua ada! Mau makan apa, kasep?" tanya Abah Suro. (Mau makan apa, ganteng?)
"Gak jadi Bah, gak laper," jawab Anggara yang langsung dijitak oleh Brio.
"Minta dismackdown, Bah," ucap Mario.
"Bercanda kawan! Pengen mie goreng Bah, tapi Anggara aja yang masak. Abah Suro mending duduk aja ngobrol-ngobrol sama mereka. Kalo ada yang beli—sama Anggara aja," ucap Anggara, kemudian beranjak dari kursinya.
Kadang-kadang Anggara sering membantu Abah Suro melayani pembeli. Katanya sih seru, Anggara merasa senang jika melayani pembeli Apalagi kalo pembeli tersebut cewek pasti setelah membeli mereka minta foto bersama.
"Ya udah atuh. Makasih ya," ujar Abah Suro.
"Bulan ini belum pulang kampung, Bah?" tanya Anres, kemudian menyeruput air jeruknya.
"Belum, paling dua bulan lagi. Kaki Abahnya agak sakit nunggu sembuh dulu," jawab Abah Suro.
"Kan, ada kita, Bah. Kita juga bisa antar Abah pulang kampung. Lebih aman sama kita mah, cepat lagi," jawab Anres.
"Nah iya Bah, gak apa-apa sama kita aja kalo mau pulang kampung. Sekalian kita jalan-jalan," ucap Elgara.
"Ah, enggak usah. Kalian kan sekolah," ujar Abah Suro.
"Tenang Bah, ada hari Minggu," ucap Brio.
"Ya udah atuh kalo gitu. Makasih ya sebelumnya. Ongkosnya berapa?" tanya Abah Suro.
"Gak perlu atuh, Bah. Sama kita mah gratis," jawab Mario.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Ayra menghela napasnya, lalu tubuhnya menggeliat bebas. Terasa sangat pegal karena hampir dua jam ia mengerjakan tugas. Setelah itu Ayra memasukkan buku dan juga alat tulisnya pada tas.
Merasa lelah dan mengantuk, Ayra berjalan ke tempat tidur. Dalam hitungan detik ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Baru saja mata Ayra memejam, ia sudah kembali membuka matanya saat teringat sesuatu.
"Oh iya, hampir lupa," ucap Ayra sembari meraih ponsel yang berada di atas nakas.
Ayra membuka Instragram milik Vanoztra, lalu mengklik postingan Elgara yang memakai jaket Vanoztra sembari memperlihatkan belakang jaketnya. Ayra memperbesar foto tersebut hingga tulisan pada belakang jaketnya terlihat jelas.
Bedanya ketua dengan anggota lainnya terletak pada tulisan Vanoztra. Jika ketuanya terdapat sayap di kedua sisinya, sedangkan anggotanya hanya tulisan Vanoztra saja.
"True! Tulisan pada jaket Elgara sama percis dengan jaket yang gue lihat waktu itu," ucap Ayra sembari menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Tak disengaja Ayra menekan tag yang mengalihkannya pada akun milik Elgara. Ayra jadi penasaran dengan postingan-postingan foto milik Elgara. Ia menscroll kebawah, mengklik satu-satu foto cowok tersebut.
"Elgara tuh ganteng, ganteng banget. Pantas disebut pangeran SMA Bira juga dan pantas juga cewek-cewek teriak histeris kalo dia ngelewat. Ya, karena dia gan—"
"Ayra! Apaansih lo ... mulai ngawur deh ngomongnya!"
"Gak ada, gak ada! Nih cowok gak ada ganteng-gantengnya!"
"Jelek! Jelek banget. Sampai gue pengen ratain mukanya pake semen tiga roda!" ketus Ayra, kemudian melempar ponselnya pada bantal.
Tring!
"Hem?"
Ke sirkuit sekarang.
"Ada siapa aja di sana?"
Banyak. Ada bes-tai lo juga.
"Seriously?! Ada Zenne di sana?"
Iya, buruan ke—
Tut.
"Bener-bener ya, si Ayra. Gue belum beres ngomong juga main matiin aja," ucap Nathan.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
"Let's go to the circuit?" tanya Anres pada teman-temannya.
"Come on," jawab Elgara yang diangguki teman-temannya.