Vanoztra

Vanoztra
53 - Back to Indonesian



Setelah beberapa tahun Ayra menjadi mahasiswi di London akhirnya selesai juga. Seperti yang diucapkan Ayra dulu, bahwa ia akan kembali ke Indonesia setelah dirinya selesai kuliah.


Mama dan Papa Ayra sudah terlebih dahulu pulang ke Indonesia. Kini tinggal Ayra yang masih berada di London, sedangkan Maudy akan pulang sebulan setelah Ayra. Sembari menunggu jadwal pemberangkatannya, Ayra terduduk di kursi bandara.


Raut wajah Ayra begitu ceria, bibirnya terus mengembang membentuk senyuman. Dari awal Ayra sangat ingin sekali pulang ke negara kelahirannya dan ingin sekali tidur di kamarnya yang dulu.


"Senang banget akhirnya gue bisa pulang ke Indonesia. Negara tercinta," ucap Ayra.


Maudy : Ra, lo udah berangkat?


Ayra : Gue masih di bandara, sepuluh menitan lagi.


Lo buruan balik ke Indonesia, betah banget di London!


Maudy : Sebelum ada sugar Daddy yang nyangkut, gue gak akan balik, you know?


Ayra : Serah lo deh, Mod, sugar Daddy mulu lo!


Setelah chatting bersama Maudy, Ayra langsung beranjak dari kursinya. Gadis itu segera melangkahkan kakinya untuk bersiap berangkat sembari menyeret koper nya.


Beberapa jam kemudian Ayra tiba di bandara Indonesia. Ayra berlari memeluk Regina dan juga Tomi yang menunggunya di bandara sejak tadi. Ayra memberikan senyuman pada kedua orang tua nya.


"Ayra senang banget, Mam, bisa kembali ke Indonesia," ucap Ayra.


"Iya sayang ... Mama juga," ujar Regina sembari tersenyum.


"Lalu, setelah ini kamu mau gabung menjadi wanita penyusun strategi penyerangan?" tanya Tomi.


Ayra terdiam sejenak, kemudian ia terkekeh sembari memukul pelan lengan Papa nya. "Apasih Pah ... gak, lah. Sekarang itu waktunya Ayra untuk bahagiain kalian berdua," jawab Ayra.


Mereka berdua langsung memeluk putri kesayangannya itu yang kini sudah dewasa. Regina dan Tomi merasa senang Ayra telah dewasa, tapi dibalik itu mereka merasa sedih karena sebentar lagi Ayra akan berpisah dan membuat keluarga baru bersama suaminya.


"Ayo sayang, kita pulang. Kamu harus istirahat," ajak Regina yang diangguki Ayra semangat.


"Besok Ayra mau jalan-jalan ya, Ayra kangen sama suasana Bandung," ucap Ayra.


"Iya Ra," sahut Tomi.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Cahaya matahari menyorot wajah Ayra melalui celah tirai jendela kamarnya. Hal itu membuat tidur Ayra terusik. Ayra menggeliat bebas, kemudian ia terduduk dari baringnya.


Pandangan Ayra menatap pada jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Gadis bermata coklat itu beranjak dari tempat tidurnya, kemudian kedua tangannya serentak membuka jendela.


Hembusan angin menerpa wajah Ayra. Seketika Ayra merasa sejuk dan tenang. Sebelum memulai aktivitasnya, Ayra terdiam sejenak menatap langit pagi dan pohon-pohon yang begitu segar.


"Senang banget gue bisa rasain angin sejuk gini," ucap Ayra.


"Jadi pengen cepat jalan-jalan keluar, gue mandi dulu deh," ujar Ayra, kemudian ia melangkahkan kakinya untuk bergegas mandi.


Beberapa menit kemudian Ayra sudah berada di luar rumah. Gadis itu sengaja tidak membawa mobil maupun motor. Karena hari ini Ayra benar-benar ingin melangkahkan kakinya kemana pun yang ia mau.


Ayra menghentikan langkahnya, ia tersenyum menatap bunga yang begitu cantik. Tangannya terulur untuk memegang bunganya, Ayra ingin sekali mencabut bunga tersebut, tapi Ayra merasa kasihan jika bunganya ia cabut.


"Seingat gue, gue pernah ke taman ini. Ya, gue ingat, tapi banyak yang berubah sama taman ini," ucap Ayra sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar taman.


"Kalo gak salah gue ke sini sama–"


Ucapan Ayra terhenti, otaknya berhasil mengingat soal taman ini dan dengan siapa ia pergi. Bahkan kata-kata yang dilontarkan oleh orang yang pergi bersamanya masih teringat.


"Kalo gue gak ada di basecamp atau rumah. Lo bisa cari gue ke tempat ini."


"Karena tempat ini sering gue kunjungi ketika keadaan gue lagi hancur."


"Oh iya Elgara, gue pergi sama dia ke taman ini. Dan taman ini tempat favorit dia," ucap Ayra sembari tersenyum kecut.


"Sekarang Elgara–"


"AYRA!"


Ayra melangkahkan kakinya perlahan, kemudian ia menghentikan langkahnya dan tangannya terulur meraih sebuah kalung yang terjatuh. Kalung yang mungkin milik anak perempuan tadi.


"Kalung ini–"


Ayra memperhatikan kalung tersebut. Detik berikutnya Ayra ingat pada kalung pemberian Elgara dulu. Sontak ia mendongakkan kepalanya menatap pada laki-laki yang tengah menggendong anak perempuan tadi.


Deg!


Jantung Ayra berdegup kencang setelah tau siapa laki-laki itu. Matanya seketika memanas dan air mata pun mulai memenuhi pelupuk matanya. Dengan cepat Ayra mengusap kedua mata. Ia menarik kedua ujung bibirnya untuk tersenyum.


"Jangan lari-lari nanti kamu jatuh, sayang," ucap Elgara.


"Maaf, Pah," sahut anak perempuan tersebut.


"Permisi," ucap Ayra, membuat Elgara dan anak perempuan tersebut menatap ke arahnya.


Deg!


"Ini kalung kamu, cantik? Tadi jatuh di sana," jelas Ayra sembari menyerahkan kalungnya.


Anak perempuan tersebut menerima kalung dari tangan Ayra. "Oh iya ini kalung Ayra. Makasih, Kak," ucap anak tersebut.


"Sama-sama ..." sahut Ayra sambil tersenyum.


Pandangan anak perempuan itu menatap fokus pada kalung yang dipakai Ayra, ia mengernyitkan keningnya, kemudian menatap Elgara dan bertanya, "Papa, kok, nama Kakak ini sama kayak aku–Ayra."


Ayra tersenyum, kemudian ia menatap anak perempuan tersebut. "Nama kita sama dan orang yang kita sayang pun juga sama. Bedanya kamu bisa memilikinya, kalo aku enggak bisa," ucap Ayra.


"Ayra," panggil Elgara.


Pandangan Ayra beralih menatap Elgara. "Hai El, gimana kabar lo?" tanya Ayra.


"Kabar gue baik. Ra, maafin gue dulu–"


"Stop! Udah ya, El. Gak usah ingetin gue soal masa lalu itu. Gue udah maafin lo dan gue udah gak mau ingat soal itu lagi," jelas Ayra di akhiri senyuman kecut.


"Sayang ... ayo kita makan–" Ucapan seseorang yang baru saja datang terhenti begitu saja setelah menyadari ada Ayra.


"Ayra?" ucap orang tersebut.


Ayra melontarkan senyuman, kemudian ia menganggukkan kepalanya perlahan. "Hai, Alia," ucap Ayra.


"Kamu udah pulang dari London?" tanya Ayra sembari tersenyum.


"Iya, kemarin malam gue pulangnya," sahut Ayra.


Sontak Alia memeluk tubuh Ayra dengan erat gadis itu begitu senang dengan kedatangan Ayra, tak lama Alia melepaskan pelukannya. "Nanti kapan-kapan main ya, ke rumah kita," ajak Alia.


"Iya Al, nanti gue sempetin buat main," jawab Ayra.


"Kalo gitu gue pamit ya, El, Alia. Maaf gue gak bisa lama-lama," pamit Ayra yang diangguki keduanya.


Setelah itu Ayra melenggang pergi dengan senyuman kecut yang dari tadi tercetak di bibirnya. Air mata Ayra kembali menetes, dengan cepat ia menyekanya sembari menggelengkan kepalanya perlahan.


Di sebuah kursi Ayra terduduk. Hembusan angin memainkan rambutnya dengan bebas. Ayra mendongakkan kepalanya menatap langit yang begitu cerah, bibirnya dipaksakan untuk terus tersenyum.


Gue banyak belajar dari kisah cinta gue di masa SMA. Kisah itu menyimpulkan bahwa cinta itu bisa datang secara tiba-tiba.


Dari kisah cinta itu juga ada sebuah pesan yang mungkin sangat berarti. Pesan dari kisah itu jangan terlalu membenci seseorang. Karena jika kita membencinya, maka bisa saja kita jadi mencintainya.


Kisah cinta itu membuat gue mengerti, bahwa kita tidak bisa menentukan dengan siapa kita bersama nanti. Dan juga seberapa dekat atau lamanya kita bersama belum tentu dia jadi orang yang terakhir untuk kita.


How long we are together will lose to the fate of love.


...🏴‍☠️ End 🏴‍☠️...