Vanoztra

Vanoztra
47. Ternyata benar



Ayra menggelengkan kepalanya cepat. "Bukan, gue bukan bagian dari Alaskar, El," ucap Ayra mengelak.


Elgara terkekeh sembari menyeringai, lalu matanya melirik ke arah jendela basecamp Alaskar, kemudian menatap Ayra kembali. "Di papan yang ada di basecamp itu tertulis jelas nama lo dan juga jabatan lo di Alaskar," ucap Elgara.


"Kali ini lo gak bisa bohong lagi, Ayra. Gue udah dengar semua pembicaraan lo dan Nathan barusan," ujar Elgara.


"Ternyata selama ini dugaan gue benar, bahwa lo adalah perempuan berbahaya yang seharusnya gue hindari bukan gue cintai," jelas Elgara dengan tatapan tajamnya.


Air mata Ayra kembali menetes dari pelupuk matanya. "Itu dulu, El, sekarang gue beneran cinta sama lo. Gue tulus sayang sama lo, gak ada maksud buat menghancurkan Vanoztra," jelas Ayra sembari terisak-isak menangis.


Elgara menggelengkan kepalanya perlahan. Raut wajah laki-laki bermata elang itu tercetak jelas kekecewaan dan juga kesedihan. "Lo dengar Ayra, mulai detik ini–lo pergi jauh-jauh dari kehidupan gue," ucap Elgara.


Deg!


"Asal lo tau, selama ini gue gak 100% cinta sama lo. Karena dari awal gue udah tau lo adik Micholas, gue udah lihat foto keluarga lo di saat pertama kalinya gue ke rumah lo."


"Mau gue jelasin secara detail apa aja yang udah gue dapatkan tentang kebenaran lo sebagai bagian dari Alaskar?"


"Setelah foto keluarga lo, gue curiga lo pantau foto gue yang menunjukkan belakang jaket waktu di lapangan, lalu gue lihat plat nomor motor di rumah lo sama dengan plat nomor motor saat gue menuju sirkuit."


"Terus lo ngintip di Warbah, lalu lo nguping di basecamp. Terus saat di club lo gabung dengan anak Alaskar dan yang terakhir–jaket Alaskar di lemari baju lo," jelas Elgara.


"Selama ini gue pacaran sama lo, hanya karena gue ingin mencari kebenaran tentang dugaan gue dan gue ingin tau sampai mana permainan lo," ucap Elgara membuat air mata Ayra semakin deras mengalir.


Gadis itu terisak-isak menangis, hingga dirinya kesulitan untuk bernapas. Dada Ayra rasanya sesak sekali setelah apa yang ia takutkan selama ini akhirnya terjadi. Ayra menghapus air matanya, kemudian ia menatap Elgara tajam.


"LO JAHAT ELGARA! SEJAHAT INI LO SAMA GUE?! LO UDAH BIKIN ORANG YANG SANGAT BERARTI DI HIDUP GUE MATI!"


"BERKALI-KALI LO BUAT GUE NANGIS, LO BUAT GUE TERLUKA! PUAS LO HANCURIN KEBAHAGIAAN GUE?!" bentak Ayra.


"IYA!" bentak Elgara.


"Gue puas, Ra! Cukup sampai sini–kita putus!" ucap Elgara.


"Dan satu lagi yang harus lo tau, balas dendam gue terhadap kakak lo–karena dia pelaku penembakan ketua batch-19!"


Setelah itu Elgara melenggang pergi meninggalkan Ayra. Ayra menjatuhkan tubuhnya ke lantai sembari terisak-isak menangis. "Elgaraaaa!" teriak Ayra.


"Banyak orang yang kecewa karena lo Ayra, pelajari dari semua kesalahan lo ini," ucap Nathan yang berdiri di belakang Ayra.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Setelah kejadian tadi Ayra langsung pulang ke rumah berjalan kaki. Karena ia sama sekali tidak membawa motor maupun mobil. Sembari menyusuri jalan di malam hari, gadis itu terisak-isak menangis. Ayra mencoba menghubungi sahabatnya.


"Halo Ra, ada apa?"


Na, sekarang gue ke rumah lo gak apa-apa, kan?


"Lo nangis? Ya udah sini-sini. Di rumah gue gak ada siapa-siapa, kok."


Oke, gue ke sana sebentar lagi.


Nana mematikan teleponnya, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamarnya. "Gue yakin, ini pasti ulah Elgara."


"Dasar gak ngotak!" teriak Nana, kemudian ia meringis memegang kepalanya setelah berteriak seperti itu.


Beberapa menit kemudian Ayra tiba di rumah Nana. Saat memasuki gerbang rumah Nana, Nana sudah stand by menunggunya di depan rumah. Sahabatnya itu terlihat begitu khawatir soal keadaan Ayra.


"Ayo masuk dulu, Ra. Ada Shafira sama Maudy juga. Tadi gue telepon mereka," ucap Nana yang diangguki oleh Ayra.


"Ayraaaa," panggil Shafira sembari beranjak dari kursinya, lalu memeluk Ayra erat.


Shafira melepaskan pelukannya, ia menatap Ayra sendu. "Lo kenapa? Elgara sakitin lo lagi, ya?" tanya Shafira.


"Enggak kok, dia gak nyakitin gue," jawab Ayra.


"Ya udah Ra, lo ceritain ya, kenapa-kenapanya. Ayo duduk dulu," ajak Nana.


Sebelum Ayra bercerita, mereka memberi waktu untuk Ayra menenangkan diri nya terlebih dahulu. Ayra menundukkan kepalanya sembari berpikir, harus mulai darimana ia menjelaskan semuanya pada sahabatnya itu.


Ayra mendongakkan kepala, pandangannya menatap ke arah tiga sahabatnya secara bergantian. "Hubungan gue sama Elgara– putus," ucap Ayra.


"HAH?!"


"Ah, nanti juga lo berdua balik lagi kayak kemaren-kemaren," ujar Shafira yang dibenarkan Maudy dan Nana.


"No, sekarang gue sama Elgara benar-benar putus. Gak akan bisa lagi bersama, gengs," jelas Ayra dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tuh cowok–punya hati buat apasih? Hiasan organ tubuh? Sumpah ya, gue gak terima lo disakitin terus-terusan sama tuh buaya udara–"


"Darat, Sha," ucap Maudy membenarkan perkataan Shafira.


"Liatin aja, gue tabok lagi besok!" ketus Nana kesal.


Gadis bermata coklat itu menghela napasnya. Ia mendongak ke atas menahan air matanya yang akan terjatuh kembali, lantaran ketika Ayra mengingat kembali soal Elgara ia sulit menahan air matanya.


"Gue minta maaf sebelumnya. Karena gue baru bilang ke lo semua malam ini tentang siapa gue sebenarnya," ucap Ayra.


"Sebenarnya?" ucap mereka bertiga serentak sembari mengernyitkan keningnya.


"Lo vampire, Ra?" tanya Shafira.


"Lo mermaid?" tanya Maudy.


"Ck! Diam dulu napa sih ... Ayra kan belum jelasin, lo berdua gimana, ah," ucap Nana kesal.


Gadis itu mengulum bibirnya sebelum menjelaskan semua tentangnya. "Gue sebenarnya anak gangster," jelas Ayra.


Ketiga gadis itu membelalakkan matanya sembari ternganga. Setelah itu mereka mengerjapkan matanya beberapa kali menatap Ayra. Ketiga gadis itu seolah tak percaya dengan perkataan Ayra tadi.


"Lo–anak gangster?" tanya Maudy yang diangguki Ayra.


"Iya, gue penyusun strategi penyerangan Alaskar," jelas Ayra.


Shafira menutup mulutnya menggunakan satu tangannya. "Gila," ucap Shafira.


Nana menganggukkan kepalanya beberapa kali, kemudian ia menoleh menatap Ayra. "Gue paham, gue paham, kenapa lo putus sama Elgara dan lo bilang gak akan bisa bersama lagi," ujar Nana.


"Itu karena Elgara tau lo bagian dari Alaskar dan ... sedangkan Alaskar itu musuh Vanoztra dari dulu," jelas Nana.


Ayra menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kecut. "Yup, benar."


"Tujuan gue pindah sekolah ke SMA Bira bukan hanya menuntut ilmu, tapi karena gue  mencari info soal Vanoztra untuk menghancurkannya," jelas Ayra.


"Kok lo gitu sih, Ra? Walaupun Vanoztra musuh Alaskar, tapi lo jangan ada niat buat hancurin mereka dong," ucap Shafira tak terima.


"Tenang Mod, ini pasti ada alasannya juga Ayra kayak gitu," ujar Maudy.


"Iya, kita dengerin Ayra dulu," ucap Nana.


Air mata Ayra kembali mengalir membasahi pipinya, bibirnya bergetar saat akan menjelaskan semuanya yang selama ini ia pendam sendirian. "Kalian pasti punya orang yang menjadi alasan bahagia di dunia ini, kan?"


"Kita pasti gak mau kehilangan dia. Karena kalo kehilangan dia otomatis kebahagiaan kita juga hilang, begitu pun dengan gue."


"Dan yang gue takutkan itu malah terjadi. Kakak gue mati ditembak," jelas Ayra membuat ketiga sahabatnya semakin terkejut.


"Dan kalian tau siapa yang udah tembak kakak gue? Elgara–cowok sialan yang berkali-kali bikin gue nangis dan berkali-kali bikin gue jatuh cinta sama dia!"


Ayra semakin terisak-isak menangis, air matanya mengalir begitu deras. Sulit rasanya Ayra menghentikan air mata itu. "Gue gak bisa tinggal diam atas kematian kakak gue!"


"Gue dendam sama Elgara, gue benci sama dia yang udah hancurin kebahagiaan gue ...."


"Tapi rasa dendam itu malah berubah jadi cinta. Gue gak tau alasannya kenapa–gue malah cinta sama musuh ...." ucap Ayra dengan suara tercekat di akhirnya dan gadis itu kembali menundukkan kepalanya.


Mereka bertiga serentak memeluk Ayra yang terus terisak-isak menangis. Mereka mencoba menenangkannya. Ucapan-ucapan yang Ayra lontarkan tadi, benar-benar jelas dari dalam hatinya yang selama ini ia pendam.


"Gue tersiksa selama ini. Tersiksa oleh rasa dendam dan juga rasa cinta," ucap Ayra.


Nana menangkup wajah Ayra, ia menghapus air mata yang membasahi pipi Ayra. "Gue paham, Ra, apa yang lo rasain. Minum dulu ya, biar lo tenang," ujar Nana.


Di sisi lain Elgara menyenderkan tubuhnya pada tembok. Pandangannya terus menatap lantai, detik berikutnya tetesan demi tetesan air matanya menetes membasahi lantai tersebut.


"Lo dengar Ayra, mulai detik ini–lo pergi jauh-jauh dari kehidupan gue."


"Sebenarnya hati kecil gue berkata, lo harus tetap bersama gue, lo jangan pergi dari hidup gue. Karena sekarang lo kebahagiaan gue, Ayra!" ucap Elgara.


"Arrghh!


Bugh!


Elgara memukul tembok tersebut cukup kencang, kemudian laki-laki itu menempelkan keningnya pada tembok. Kali ini Elgara benar-benar merasa hancur soal cintanya.


...***...


Ayra mengusap bibirnya setelah meneguk air, ia tersenyum menatap satu persatu sahabatnya. "Thanks ya, lega banget rasanya."


"You're welcome, babe! Lo hebat!" ucap Maudy sembari mengacungkan jempolnya


"Lupain Elgara, dia gak baik buat lo," ucap Nana sembari mengusap pundak Ayra.


"Lo kuat banget, Ra. Gue salut sama lo," ucap Shafira sembari tersenyum dan mengacungkan dua jempolnya.


Ayra tersenyum, lalu di dalam hatinya berkata, 'Saatnya lo kembali pada tujuan utama.'