Vanoztra

Vanoztra
33. Lo cewek, kan?



"El, berhenti!" pinta Ayra sembari menepuk pundak Elgara.


Laki-laki bermata elang itu menghentikan motornya, ia melepas helm, kemudian menoleh ke belakang. "Kenapa, Ra?" tanya Elgara.


"Ada yang ikutin kita," ucap Ayra sembari menoleh ke belakang.


Benar saja, puluhan motor melaju melewati Elgara dan Ayra, kemudian puluhan motor tersebut berhenti di hadapan Elgara. Pandangan Elgara mulai menajam ke arah mereka. Satu persatu mulai membuka helmnya, tapi tak ada satu wajah pun yang Elgara kenali. Bahkan nama gangster mereka pun baru diketahui oleh Elgara.


"Astra?" gumam Elgara.


"Wow! Ketua–Vanoztra!" ucap salah satu dari mereka sembari bertepuk tangan, kemudian berjalan ke arah Elgara.


Elgara sudah yakin jika orang tersebut adalah ketuanya. Dia mengulurkan tangannya di hadapan Elgara dibarengi dengan seringainya. Raut wajah Elgara tidak berubah sama sekali, datar, tapi tatapannya tajam bagaikan burung elang.


"Kenalin gue Kenan," ucap Kenan. Beberapa detik kemudian Kenan menurunkan tangannya karena Elgara tak menerima uluran tangannya.


"It's oke bro, gak masalah," ujar Kenan sembari menepuk pundak Elgara.


"Mau apa lo?" tanya Elgara.


"Cewek di belakang lo cantik juga. Bisalah buat gue," ujar Kenan sembari mengangkat kedua alisnya, kemudian ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Ayra.


"Idih ... amit banget. Cakepan cowok gue dari pada lo, kutil kadal!" ketus Ayra, kemudian memutar bola matanya malas.


"Gak usah ganggu cewek gue, kalo lo masih pengen hidup," ucap Elgara penuh penekanan.


Kenan terkekeh sembari menepuk-nepuk pundak Elgara. "Ada apa gerangan sih, kawan?  Bawa santai aja, brodie ..." ucap Kenan.


Dengan cepat Elgara menepis tangan Kenan yang berada di pundaknya. Ia paling malas jika terus bercanda di waktu yang tengah serius.


"Weits! Jangan kasar-kasar dong sama gue," ucap Kenan.


"Gak usah banyak bercanda. Kalo lo mau ribut sama gue, ayo buruan," ujar Elgara.


"Lo gak takut mati? Pasukan gue banyak, lo lagi sendiri Elgara ..." ucap Kenan dengan tatapan meremehkan.


"Bacot! Gak usah remehin gue," ujar Elgara.


Elgara turun dari motor disusul oleh Ayra. Sebelum meluapkan emosinya, ia menyerahkan ponsel pada Ayra. Laki-laki bermata elang itu berdiri tegap seorang diri di hadapan puluhan pasukan Astra.


"MAJU SEMUA!" pinta Elgara dengan lantang.


Ucapan Elgara menjadi awal dari perkelahian dengan Astra. Dengan sigap Elgara melayangkan pukulan demi pukulan. Kini Elgara tidak melawan satu orang, melainkan lima orang sekaligus, tapi laki-laki itu begitu lihai menghajarnya.


Tring!


Ayra terkejut saat ponsel Elgara tiba-tiba berdering. Gadis itu segera menyalakan ponsel Elgara. Detik itu juga Ayra mengernyitkan keningnya menatap fokus layar ponsel tersebut.


Sukses terdeteksi!


'Jadi karena aplikasi ini semua anggota Vanoztra tau jika salah satu dari mereka tengah berkelahi?'


'Pantas aja setiap salah satu dari mereka berkelahi pasti semua anggotanya berdatangan, luar biasa.'


Pandangan Ayra kembali melihat ke arah perkelahian. Sontak Ayra terkejut saat melihat Elgara mulai kewalahan menghadapi pasukan Astra. Apalagi di wajah Elgara sudah banyak luka lebam membuat Ayra emosi tak terima.


"WOI! BERANI-BERANINYA LO HILANGIN KEGANTENGAN PACAR GUE!" teriak Ayra.


"SINI SMACKDOWN SAMA GUE MONYET!" teriak Ayra.


Gadis itu dengan cepat berlari ke arah mereka. Dengan sigap Ayra menendang kepala salah satu pasukan Astra, yang tengah memberi pukulan pada Elgara.


"Akh! Sialan lo jadi cewek!"


Elgara menatap cemas ke arah Ayra, lalu bertanya, "Ayra Lo ngapain?!"


Saat laki-laki tersebut akan melayangkan pukulan padanya–dengan sigap Ayra menundukkan kepala, lalu gadis itu menarik lengan tersebut, kemudian menguncinya ke belakang. Tak cukup sampai di situ Ayra menendang pantat laki-laki itu hingga tersungkur.


Bukan hanya itu saja, hanya dengan lirikan matanya Ayra dapat mengetahui laki-laki yang berada di belakangnya. Belum lagi pukulan tersebut mengenai Ayra, dengan sigap Ayra memukulnya terlebih dahulu.


"GANGGU MY KING GUE, LO SEMUA AKAN MATI DI TANGAN GUE!" bentak Ayra sembari terus melayangkan pukulan.


Elgara tersentak melihat sisi lain dari sikap Ayra, gadis itu benar-benar terlihat sangat berbeda. Dari awal ia tau Ayra bukan cewek biasa, tapi sejauh ini Elgara baru tau soal Ayra yang pandai bela diri.


'Lagi dan lagi, cewek itu–'


Deruman motor mengalihkan pandangan mereka semua. Ratusan pasukan Vanoztra mulai berdatangan, mereka semua segera berlari ke arah mereka. Sontak Kenan membelalakkan matanya melihat pasukan Vanoztra begitu banyak, tak sebanding dengan jumlah pasukannya.


Langkah Vanoztra terhenti begitu saja. Lantaran Astra memilih mundur dan tidak melanjutkan perkelahiannya. Dengan cepat mereka melajukan motornya meninggalkan Elgara, Ayra dan seluruh pasukan Vanoztra.


"Lah, anjir kabur. Tangan gue belum ngapa-ngapain juga," ucap Anggara.


"Tangan gue udah gatel pengen mukul mereka, malah kabur si bangsat," oceh Brio.


"Beraninya keroyokan. Dikasih ratusan mundur. Gaya aja digedein, anying!" ketus Anres.


"Lo gak apa-apa, Ra?" tanya Elgara sembari memegang wajah Ayra.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, kemudian mengacungkan jempolnya. Ayra belum bisa untuk berbicara lantaran napasnya masih terengah-engah. Detik berikutnya Elgara menarik tubuh Ayra ke dalam pelukan.


"Babi! Kayaknya lo berdua kalo kebakaran juga pelukan nomor one, nyelamatin diri nomor two," ucap Mario merasa iri.


"Iri? Bilang bagong!" ketus Anggara.


"Bagong!" ucap Mario kesal.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Akh! Sakit."


"Ra, pelan-pelan."


Ayra menghela napasnya sembari menatap Elgara pasrah. "Ini udah pelan, El ..." ucap Ayra, kemudian ia kembali mengompres luka di wajah Elgara.


Gadis bermata coklat itu menghentikan aktivitasnya, ia menatap ke arah Brio. "Lo mau buktiin?" tanya Ayra.


"Hayu!" ajak Brio sembari beranjak dari kursinya. (Ayo)


Ayra tersenyum miring menatap Brio. Terlalu bersemangat hingga Ayra tak sadar menekan luka di wajah Elgara, mengakibatkan cowok itu meringis.


"Akh! Ayra!"


"Eh, sorry-sorry, El. Gue gak sengaja," ucap Ayra sembari mengusap lembut wajah Elgara.


"Jahat lo sama gue," ujar Elgara dengan tatapan yang fokus pada manik mata Ayra.


Gadis itu mencebikan bibirnya, ia mengusap kembali wajah Elgara dengan penuh kelembutan. "Maaf ... nanti gue obatin lagi," ucap Ayra sembari tersenyum, kemudian menyerahkan lap kompres nya pada Elgara.


Kini Ayra berdiri di hadapan Brio, ia memberikan senyuman seolah meremehkan laki-laki itu. Sebelum memulai Ayra mengikat rambutnya terlebih dahulu.


"Brio, lo jangan pandang gue sebagai cewek dan lo jangan pandang gue sebagai pacar Elgara, tapi pandang gue sebagai musuh lo," jelas Ayra yang diangguki Brio.


"Sebelumnya–hapunten El, gue gak ada maksud jahat. Kalo Ayra kenapa-kenapa, please ... jangan habisin nyawa gue," ucap Brio sembari tersenyum sopan pada Elgara. (Maaf)


Elgara menganggukkan kepalanya. "Yoi. Habisin aja Bri, cewek gue," ucap Elgara.


Sontak Ayra melotot tajam ke arah Elgara yang tengah asik mengunyah permen karetnya. Saat Elgara menatap Ayra yang tengah melotot padanya, laki-laki bermata elang itu terkekeh.


"Ayo mulai," pinta Ayra pada Brio.


Mereka berdua sudah siap untuk saling melayangkan pukulan. Brio membiarkan Ayra memulainya terlebih dahulu. Saat Ayra melayangkan pukulan dengan sigap Brio menangkis pukulan Ayra, kemudian ia melayangkan pukulan pada Ayra.


Gadis itu gagal menghindar mengakibatkan pukulan Brio mengenai ujung bibirnya. Tanpa berhenti atau meringis, gadis itu malah semakin terlihat semangat untuk memberi perlawanan pada Brio.


"Biar cepet menang tendang aja bijinya, Ra!" teriak Anggara.


"Modar-modar, anjir!" sahut Mario di akhiri tertawa. (Mati)


"****** lo berdua," ucap Anres sembari tertawa.


Bugh!


"Anying!" teriak Brio.


Brio tersungkur ke lantai setelah Ayra melayangkan pukulan dan menendang kakinya. Kini Ayra menarik kerah seragam Brio agar laki-laki itu bangkit. Brio berhasil menangkis pukulan Ayra, kemudian ia memutar tangan Ayra ke belakang.


Gadis itu sedikit meringis, dengan cepat Ayra menendang kaki Brio sangat kuat hingga laki-laki itu terjatuh ke lantai. Saat Ayra akan melayangkan pukulan pada Brio yang tengah berbaring sontak Brio menahan tangan Ayra.


"Stop Ra, stop!" teriak Brio.


Ayra menurunkan tangannya. Ia berdiri tegak dengan napas yang terengah-engah dan keringat yang bercucuran di pelipisnya, sedangkan Brio ia merebahkan tubuhnya di lantai.


"So amazing, queen!" ucap Elgara sembari bertepuk tangan bersamaan dengan yang lainnya.


"Kuat bener lo, Ra–gue sampai kewalahan–," ucap Brio.


Ayra hanya tersenyum menanggapi ucapan Brio, kemudian ia terduduk di samping Elgara. Laki-laki bermata elang itu mengusap puncak kepala Ayra sembari menatap Ayra bangga.


Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Ayra langsung memeluk tubuh Elgara, ia menyandarkan kepalanya di dada Elgara. "Wangi," ucap Ayra sembari tersenyum.


"Minum dulu, nih," titah Elgara sembari meraih sebotol air, kemudian membuka tutupnya.


Ayra langsung meneguk air nya hingga tersisa setengah lagi. Semua orang terus menatap ke arah Ayra. Mereka mengerjapkan matanya beberapa kali seolah tak percaya bahwa tadi adalah Ayra.


"Ra," panggil Anggara.


"Mm?" Ayra menoleh ke arah Anggara yang memanggilnya.


"Lo cewek, kan?" tanya Anggara dengan wajah tercengang.


"Pakai nanya. Ya, iyalah gue cewek," jawab Ayra.


"Woi! Cari pacar kayak Ayra di mana? Di shopee ada gak? Mau gue check out sekarang juga," tanya Mario.


"Rebut aja, anying! Ribet bener lo, Yo!" sahut Brio sembari mengusap pinggangnya yang terasa sakit akibat tendangan Ayra.


"Bener juga ya," sahut Mario.


Elgara langsung mengalihkan pandangannya, ia menatap ke arah Mario dengan tajam. "Rebut Ayra dari gue–detik itu juga gue bikin kepala lo ngegelinding," ucap Elgara.


"Hehe ... kagak El, kagak. Ampun bos, bercanda," ujar Mario sembari menyatukan  kedua telapak tangannya.


Ayra tersentak saat ujung bibirnya terasa basah, ia menoleh ke samping ternyata Elgara tengah mengobati lukanya. Ayra menatap Elgara sembari meringis pelan.


"Wah, Bri, lo udah bikin bibir Ayra berdarah. Kurang ajar lo setan! Gue sobekin mulut lo!" ketus Elgara.


"Eh anjir, tadi gue bilang apa pas pertama?" tanya Brio.


"Sorry ya, Ra, tapi gak parah, kan? Perasaan gak kenceng banget mukulnya, tapi kok bisa berdarah," ucap Brio.


"Iya gak apa-apa, kok, udah biasa," jawab Ayra.


Kening Elgara mengernyit sempurna. "Udah biasa? Lo sering berantem?" tanya Elgara.


"He-em. Dulu gue sering hajar cowok lebih dari satu orang. Dan baru kali ini gue hajar cowok lagi. Gue kira gue gak sekuat dulu ternyata gue masih kuat," jelas Ayra.


"Keren Ra, cewek kayak lo langka banget," ucap Anres sembari tersenyum.


Ayra pun membalas senyuman Anres, kemudian gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Elgara. Kepala Ayra mendongak menatap Elgara. "Stok kiko sama yupi gue habis, El," ucap Ayra.


"Nanti pulang dari sini, beli," ucap Elgara yang diangguki Ayra semangat.


Anres menurunkan pandangannya, ia tersenyum kecut. 'Ck! Sadar, Res ... Cinta yang udah buat gue bodoh atau diri gue yang bodoh soal cinta?'