
Lantaran kesal pada Elgara, Ayra pergi begitu saja. Dan akhirnya, ia pulang jalan kaki karena malas naik angkutan umum maupun ojek online. Dengan hati yang terus menggerutu kesal, Ayra berjalan sembari menghentak-hentakkan kakinya.
"Nyebelin banget tuh cowok satu! Ihhhh!"
"Kalo gue gak cinta tuh, ya udah! Gak usah maksa gue juga kali!"
"ARRGH! GUE BENCI ELGARA!" teriak Ayra, kemudian menendang botol yang ada di depannya.
"Aw! ****!" ucap Ayra sembari meringis-- memegang pantatnya.
Niatnya akan menendang botol untuk melampiaskan amarah, tapi jadinya cewek berambut coklat ini malah terpeleset akibat botol tersebut. Kini Ayra masih terduduk sembari mengusap lengannya yang kotor.
"Lo gak anggap hubungan kita? Padahal jelas dua hari yang lalu kita resmi pacaran, Ra. Gue serius, gue cinta sama—"
"TAPI GUE GAK CINTA! NGERTI GAK SIH?!"
Terlintas kembali di pikiran Ayra tentang ucapan Elgara dan dirinya tadi. Detik berikutnya Ayra mencebikan bibir, ia merasa sedikit menyesal telah membentak Elgara tadi.
"Gue keterlaluan gak sih, bentak Elgara kayak gitu?" tanya Ayra pada dirinya sendiri.
"Setelah gue bilang gitu Elgara gimana ya? Gue gak sempat lihat raut wajah dia," ucap Ayra kembali.
Ayra menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan apa yang telah ia ucapkan tadi. Gadis itu bangkit dari duduknya, kemudian menepuk-nepuk belakang roknya. Setelah belakang roknya dirasa bersih ia kembali melangkahkan kaki.
"Ponsel gue?" tanya Ayra sendiri.
Ayra pun langsung membuka tasnya dan langsung meraih ponsel. Ia mengecek ponselnya sejenak siapa tau sahabatnya mengirim pesan. Ternyata benar, tapi Ayra memilih memasukkan ponselnya ke dalam saku. Berniat membalasnya setelah tiba di rumah.
Setelah itu Ayra menyampirkan tasnya pada sebelah pundak, ia terus berjalan menyusuri jalanan yang cukup sepi. Ayra memilih jalan pintas untuk pulang ke rumahnya daripada jalan raya.
Dari ujung matanya Ayra melihat ada dua orang pria yang mengendap-endap mengikutinya dari belakang. Ayra semakin mempercepat langkahnya, tapi pria itu juga semakin cepat berjalannya.
Hingga tas Ayra ditarik secara paksa. "Ih, apaansih! Ini punya gue!" teriak Ayra sembari berusaha mempertahankan tasnya.
"Siniin tasnya!" bentak salah satu pria tersebut.
Ayra menghempas tangan pria itu, ia berlari yang langsung disusul oleh dua pria tersebut. Takut nyawanya terancam, Ayra memilih melepas tasnya lagi pula isinya hanya alat tulis saja.
Kemudian setelah membiarkan tasnya tergeletak di tanah, Ayra berlari kembali ke arah berlawanan. Kedua rampok tersebut tersenyum senang sembari menggeledah isi tasnya.
"Lah, cuma peralatan sekolah doang isinya," ucap salah satu perampok tersebut.
Dikiranya Ayra sudah melarikan diri begitu saja, tapi nyatanya gadis bar-bar ini selain pandai menyusun strategi penyerangan, ternyata pandai juga menyusun strategi perampokan.
Bagaimana tidak? Kini dirinya tengah mengendarai motor milik perampok tersebut.
Brmm ... brmm ... brrm ....
Mendengar deru motor, kedua perampok tersebut menoleh ke arah motornya, "Motor kita sialan—diambil!" teriak salah satu pria itu.
"MAKASIH OM, MOTORNYA!" teriak Ayra.
"HEH!"
"Kita gak dapet apa-apa malah motor kita diambil, bocah sialan!" ketus pria yang satunya lagi sembari menggandong tas Ayra.
Setidaknya mereka mendapatkan tas Ayra yang mempunyai brand terkenal mahal.
Ayra tersenyum lebar saat melihat kedua rampok tersebut masih di sekitar sini. Tentu Ayra tak akan membiarkan tasnya begitu saja karena itu benar-benar tas kesayangannya. Ayra melajukan motornya ke arah dua rampok itu yang tengah berjalan dengan tas Ayra yang disampirkan di sebelah bahu.
Tangan Ayra terulur untuk meraih tasnya dan–dapat!
"Heh! Tasnya!" teriak rampok tersebut.
"Ngerampoknya kurang cerdas, Om! Nanti berguru sama saya, ya! Dadah ..." ucap Ayra sembari menambah kecepatan laju motornya.
Kedua rampok tersebut menepuk jidat serentak. "Salah orang, bro. Kita ngerampok tukang rampok."
Senyuman lebar tercetak jelas di bibir Ayra. Hal ini yang selalu Ayra syukuri karena diberi otak yang cerdas apabila menyusun sebuah strategi apapun. Yang tadinya Ayra akan dirampok, tapi jadinya ia yang merampok, luar biasa.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
"Mama minta uang!" teriak Lesya sembari berlari ke arah Resta yang tengah menyapu teras rumah.
Elgara memarkirkan motornya di depan rumah. Sebelum melangkah ia menatap dirinya pada spion dan menyurai rambutnya ke belakang. Setelah itu Elgara berjalan untuk menghampiri Resta sembari menenteng helm.
"Astaga Lesya, minta uang terus. Mau beli apa lagi?" tanya Resta.
"Jangan jajan terus, Sya. Nanti aja malam sama Abang El. Kita beli martabak, es krim sama apalagi?" tanya Elgara, kemudian mencium punggung tangan Resta.
Gadis kecil itu beralih menatap Elgara. "Lesya buka mau jajan, Abang El, tapi Lesya mau ngasih uang ke bapak-bapak yang teriak. Kasihan," sahut Lesya.
"Hah, teriak gimana?" tanya Elgara sembari mengernyit.
"CILOK! CILOK!" teriak Lesya memperagakan bapak-bapak yang dimaksud.
Sontak Elgara tertawa keras atas sikap adiknya, "HAHAHA! Parah. Anak siapa ini, Mam?" tanya Elgara.
"Banyak gaul sama kamu jadi gini!" ketus Resta pada Elgara.
"Abang El, Lesya pengen main sama temen-temen Abang dong. Lesya kangen sama mereka," ucap Lesya sembari memeluk kaki Elgara.
Elgara tersenyum seraya mengelus rambut Lesya dan mencium puncak kepala Lesya, kemudian ia berjongkok untuk menyamakan tingginya. "Ayo! Abang El, mandi dulu, ya."
"YEAYYY ASIK! SAYANG ABANG EL BANYAK-BANYAK!" teriak Lesya semangat, kemudian mencium pipi Elgara.
"Mam, Elgara mau ajak Lesya ke base–" Ucapan Elgara terhenti setelah Resta mengangguk sembari tersenyum.
"Ajak aja El. Mama gak akan bilang ke Papa, kok," ucap Resta.
Elgara menggelengkan kepalanya, "Enggak, Mam. Tadi Elgara habis jenguk temen Elgara yang koma karena semalam dia dikeroyok."
Resta terkejut saat mendengar penjelasan Elgara. Dari dulu Resta tidak pernah melarang Elgara untuk menjadi bagian Vanoztra, tapi terkadang Resta merasa cemas pada Elgara jika sudah mendengar soal keroyok atau tawuran.
"Astaga! Kenapa kamu dan yang lainnya gak bantu dia, El?" tanya Resta.
"Nah itu Mam, dia gak bawa handphone. Jadi gak terdeteksi ke handphone Elgara maupun komputer yang di basecamp," jelas Elgara.
"Kalo gitu kamu harus menegaskan sama mereka semua untuk wajib bawa handphone. Biar kalo ada apa-apa semuanya tau. Jangan sampai hal ini terjadi lagi," ucap Resta yang diangguki oleh Elgara.
"Hal apa, Mah?"
Elgara dan Resta menoleh ke arah sumber suara. Resta cukup terkejut dengan kedatangan Bagas secara tiba-tiba, sedangkan Elgara ia hanya menatap dingin papanya.
"Ini Pah—emm ... kucing peliharaan Elgara yang di basecamp mati karena makan cokelat," dusta Resta.
Bagas pun mengangguk. "Kirain anak ini bikin ulah lagi. Nahkan El, ngurus kucing satu aja gak becus, lalu gimana kamu ngurus ratusan anggota Vanoztra yang rata-rata anak kurang pendidikan?" tanya Bagas.
Tak menjawab, Elgara hanya mengepalkan tangannya kuat sembari menatap tajam ke arah Bagas. Elgara paling malas jika menjawab ucapan Papanya. Karena Bagas akan terus membuat emosi. Ia pun memilih masuk ke dalam rumah.
"Pah, Mama udah bilang jangan bikin Elgara emosi," ucap Resta.
"Lesya sayang. Ayo masuk, Nak. Masuk, Pah," ucap Resta, kemudian masuk ke dalam rumah bersama Lesya.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
"Nat, kita mau diem aja nih, gak kasih pelajaran atau apa gitu ke anak Vanoztra?" tanya Gerald.
"Heem Nat, tumben lo santai biasanya langsung nyusun rencana selanjutnya," sahut Satria.
"Kalem ajalah, bro. Kita mah cuma nyusun strategi penyerangan aja. Masalah Vanoztra urusan queen Ayra. Dia mau ke sini, nanti aja bahasnya kalo udah ada Ayra," jawab Nathan sembari sibuk mengotak-atik stik PS-nya.
Beberapa menit kemudian Ayra tiba di basecamp, ia berjalan masuk sembari melempar-lempar kecil kunci motornya.
"Bahagia gitu wajahnya, kenapa lo? Berhasil ngepet," tanya Satria.
"Lo semua tau gak gue dapat apa hari ini?" tanya Ayra sembari tersenyum pada semua anggota Alaskar.
Nathan berhenti memainkan komputernya, ia membalikkan tubuh menatap Ayra. Detik kemudian bibir Nathan ikut mengembang setelah melihat raut wajah Ayra yang bahagia. Ia menebak bahwa queen Alaskar ini berhasil menjalankan misinya.
"Lo berhasil, Ra?" tanya Nathan dengan raut wajah yang berbinar-binar.
"Iya, gue berhasil."
"Berhasil menghindar dari perampokan dan akhirnya–gue dapat motor si perampoknya! Gila, hebat banget 'kan gue!" ucap Ayra, kemudian bersedekap dada sembari menyeringai.
"Anjir! Demi apa? Kok bisa, lo yang dirampok, tapi jadinya lo yang ngerampok?" kata Daniel.
"Gue gak ngerampok, sialan!" sahut Ayra sembari melotot.
"Gak ngerti lagi gue sama lo, Ra. Bener ya, queen Alaskar no kaleng-kaleng anjir!" lanjut Reno yang memuji Ayra.
"Selain jago nyusun strategi penyerangan, ternyata lo jago juga nyusun strategi perampokan," puji Jenlo yang disetujui oleh semua orang di basecamp tersebut.
"Oh iya, motornya gue simpan di garasi basecamp. Lo pada pake aja deh motornya, nih," ucap Ayra, kemudian menyerahkan kunci motornya.
Hampir seluruh anggota Alaskar berdecak kagum, sedangkan Nathan, sesudah Ayra menjelaskan soal keberhasilannya senyumnya memudar begitu saja.
"Gue keren 'kan, Nat? Semoga aja mereka tobat karena ulah gue tadi. Lagian—adik Kak Micho dilawan," ucap Ayra.
"Iya, lo hebat, cerdas banget otak lo, tapi bukan ini yang gue harap, kan, Ra," sahut Nathan, kemudian ia berpindah tempat duduk ke kursi.
"I know, lo mengharapkan gue dapat info soal Vanoztra, kan?" tanya Ayra yang diangguki oleh Nathan.
Gadis itu mengikat rambut panjangnya terlebih dahulu, lalu ia terduduk di samping Nathan. Dilihat dari raut wajah Ayra yang akan menjelaskan sesuatu, semuanya langsung memusatkan perhatian pada Ayra.
"Lo tenang aja. Sebentar lagi juga gue bakalan dapat info tentang strategi penyerangan yang selalu dilakukan oleh Vanoztra. Misi kali ini harus menunggu waktu yang sesuai dengan situasi Vanoztra," jelas Ayra.
"Ingat ucapan gue kemarin—"
"Masalah untuk menghancurkan Vanoztra gue yang atur. Kalian semua susun strategi penyerangan jadi lebih baik lagi. Agar kemenangan ada di pihak Alaskar," jelas Ayra.
"Tapi ingat, kita harus menang karena kehebatan bukan kelicikan. Kita harus tanpa senjata," lanjut Ayra.
Mereka semua menganggukkan kepala, Nathan pun mengangguk mengerti. Ia yakin bahwa Ayra bisa mengaturnya sendiri, hanya saja dirinya tidak sabar ingin cepat-cepat melihat kehancuran Vanoztra.
"Oke, malam ini kita susun strategi penyerangan. Ada beberapa yang harus kita ubah menjadi lebih baik lagi," jelas Nathan yang diangguki semuanya.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Malam ini Elgara mengajak Lesya ke basecamp tanpa sepengetahuan Papanya. Sebelum menuju basecamp, Elgara mampir terlebih dahulu ke petshop untuk mengambil kucing peliharaannya yang sudah menjalankan perawatan di petshop.
Setelah selesai ke petshop, Elgara bergegas menuju basecamp. Raut wajah adiknya begitu senang, itu karena teman-teman Elgara begitu baik pada Lesya mereka selalu mengajak Lesya bermain. Bisa dihitung ini ke tiga kalinya Lesya diajak ke basecamp Vanoztra.
"TAPI GUE GAK CINTA SAMA LO! NGERTI GAK SIH?!"
Bentakan Ayra tadi berputar kembali di kepala Elgara. Setiap mengingat bentakan Ayra hatinya selalu merasa sakit. Ia terus berpikir soal hubungannya dengan Ayra yang entah kelanjutannya bagaimana. Hubungan kali ini terasa begitu hampa, tapi anehnya setiap jam rasa cintanya pada Ayra selalu bertambah.
Padahal cukup bilang sama gue aja, lo gak perlu bentak gue di depan teman-teman gue, Ra. Biar gue bisa tunjukkin ke lo, kalo gue terluka dengan perkataan itu -batin Elgara.
Pikirannya soal Ayra terbuyarkan saat ia melihat seseorang di tepi jalan. Seseorang yang tidak Elgara kenal, tapi tulisan dan logo pada belakang jaketnya membuat Elgara tau.
Laki-laki bermata elang ini menghentikan mobilnya. Matanya memerah tajam, rahangnya mengeras hingga terdengar gemeletuk giginya.
'Tepat. Lo jadi pelampiasan emosi gue malam ini.'