
Ayra meraih kunci motornya di atas nakas setelah dirinya mengganti pakaian. Setelah itu gadis yang kini penampilannya gak ada cewek-cewek nya satu persatu menuruni tangga. Di tangannya ia menenteng helm full face pemberian Micholas.
"Mau kemana?" tanya Regina yang tengah terduduk santai di ruang tengah bersama Tomi, Papa Ayra.
"Em, biasa, Mam. Bolehkan?" tanya Ayra yang kini sudah terduduk di tengah-tengah antara Tomi dan Regina.
"Tapi ini udah malam sayang. Di luaran sana bahaya. Apalagi kamu cewek—"
"Mama lupa? Ayra tuh punya dua gender, cewek-cowok," jelas Tomi, kemudian menyeruput secangkir kopi.
"Ih Papa ... Ayra gak gitu. Ayra normal tau, Ayra 100% cewek—gak dua gender, ish!" jawab Ayra sembari mencebikan bibirnya.
Tomi tersenyum sembari mengusap lembut rambut putri kesayangannya. Seketika Ayra merasa nyaman, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Tomi. "Syukur kalo kamu normal," ucap Tomi di akhiri kekehan.
"Ada siapa di sirkuitnya?" tanya Regina.
Ayra melepaskan pelukannya, ia beralih menatap Regina. "Ada Nathan—sama Zenne juga di sana. Boleh ya, Mam? Please ... i can take care of myself," ucap Ayra sembari menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Ya udah hati-hati ya—"
"Thank you, Mam! Ayra makin sayang sama Mam—"
"Tapi Mama gak ngizinin kamu buat balapan."
Senyuman di bibir Ayra langsung luntur. Detik kemudian Ayra tersenyum kembali sembari mengangguk. "Ya udah iya. Ayra cuma nonton aja, kok," jawab Ayra.
Setelah mendapat izin. Ayra langsung bergegas pergi ke lokasi sirkuit menggunakan motor Micholas yang baru. Motor ini belum sempat Micholas pakai. Jadi, Ayra saja yang memakai motornya.
Rasa rindu pada sahabat di sekolah lamanya semakin menghantui dirinya. Waktu untuk bermain pun sepertinya tidak ada. Ayra maklumi Zenne sekarang sibuk. Karena ia terpilih menjadi wakil ketua OSIS di sekolahnya.
Deruman motor semakin terdengar ramai di telinga Ayra. Membuat Ayra terpaksa melirik pada spion motornya, ia berjaga-jaga siapa tau di belakang berniat untuk mencelakainya. Ayra mengernyit sepertinya ia kenal dengan plat nomor pada motor yang ada di belakangnya.
Tapi siapa pemilik motor tersebut? Duh, Ayra tidak bisa mengingat di mana ia melihat plat nomor itu.
Ayra semakin menaikkan kecepatan lajunya, tapi tiba-tiba ia melirik kembali pada spion setelah merasa ada yang janggal. Benar saja, Ayra melihat tulisan pada jaket pengendara di belakangnya tepat di sebelah dada kiri—nama Vanoztra tercetak jelas.
'Sialan! Kenapa harus anak Vanoztra yang ada di belakang gue. Pasti mereka akan pergi ke sirkuit.'
'Kalo mereka tau siapa gue, bisa gawat—belum lagi di sana gue bakal gabung sama anak-anak Alaskar'
'Mending gue pulang lagi aja deh.'
"Itu cewek kenapa balik arah," gumam Elgara.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Beberapa notifikasi chat mendahului bunyinya alarm. Ayra berdecak kesal karena notifikasi chatnya tak berhenti membuat ponselnya terus berdering. Tanpa membuka matanya, Ayra berusaha meraih ponsel yang berada di nakas.
Semalam, Ayra langsung pulang kembali ke rumah dan di jam itu juga Ayra langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sudah dipastikan wajah Ayra akan muncul jerawat. Karena ia tidak mencuci wajahnya, bahkan mengganti pakaiannya.
"Aaa! Berisik banget!" ketus Ayra.
Perlahan ia membuka matanya melihat layar ponsel. Sudah diduga pasti cowok menyebalkan yang mengirim pesan. Merasa tidak penting Ayra menyimpan kembali ponselnya.
Masih ada 15 menit lagi untuk Ayra kembali tertidur. Baru saja Ayra masuk ke dalam mimpi, ia harus terbangun kembali karena sebuah dering telepon.
"Ada apa sih, Nat?! Berisik tau, gue lagi tidur!"
Bodo amat! Lo jahat banget sih, Ay. Gue sama Zenne nunggu lo sampai jam satu. Eh bocah gak dateng-dateng.
"Gue udah pergi, tapi balik lagi."
Ngapain balik lagi, dongo!
"Udah ya .... ngantuk."
Gue nanya, lo ngapain balik lagi?
"Ck! Di belakang gue ada anak Vanoztra pastinya mereka juga pergi ke sirkuit. Kalo tau gue ke sirkuit terus kumpul sama lo, kan bahaya."
"Gagal rencana gue nantinya."
Iya juga sih, kemarin ada anak Vanoztra, tapi 'kan bisa kita—"
Tut.
"Anak anj—"
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Saat menyantap sarapan paginya, Ayra terus terfokus pada layar ponsel. Sesekali Ayra menganggukkan kepalanya, sembari mengunyah sandwich.
"Kamu lagi lihat apa, sih? Serius banget," tanya Regina.
Ayra mendongak, lalu menggelengkan kepalanya. "Ini grup kelas, Mam," dusta Ayra.
Gadis itu memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu melanjutkan menyantap sarapannya.
Di sisi lain, pria pemilik mata elang tengah berjalan menuruni tangga. Penampilannya yang sedikit berantakan. Dengan kemeja seragam yang dibiarkan terbuka hingga menampilkan kaos hitam. Anehnya malah membuat kadar ketampanannya semakin terlihat.
Di pagi harinya, Elgara sudah disambut senyuman manis dari gadis kecil yang baru saja duduk di bangku dasar kelas satu (SD). Gadis kecil itu tengah menyantap serealnya.
"Bang El, mau pergi ke sekolah?" tanya Lesya yang tak lain adik kandung Elgara.
"Iya dong. Lesya juga, kan?" tanya kembali Elgara yang langsung diangguki Lesya.
"Nanti pulangnya bawa oleh-oleh, ya," kata gadis kecil itu.
Ucapan Lesya mengundang gelak tawa keluarga kecil ini. Sontak Elgara mengacak gemas rambut adiknya.
"Bang El mau ke sekolah bukan ke Korea sayang. Kok minta oleh-oleh," ucap Resta di akhiri kekehan.
"El, kamu jangan terus urusin gangster kamu yang gak jelas itu. Belajar yang bener. Apalagi sekarang menuju kelulusan," ujar Bagas yang tak lain Papa kandung Elgara.
Elgara tau, Elgara bukan anak kecil lagi. Lagi pula sudah beratus-ratus kali Bagas mengucapkan kalimat yang sama. Ia benci, sangat benci! Dengan ucapan Papanya yang selalu merendahkan Vanoztra.
Padahal Elgara sudah berusaha membagi waktunya untuk belajar juga, tapi tetap saja Papanya selalu berkata seperti itu. Membuat selera makan pun hilang.
"Mau sampai berapa ratus kali Papa mengucapkan kalimat yang sama? Bosan Elgara dengarnya, Pah," ucap Elgara, lalu ia melenggang pergi tanpa pamit.
"Pah, udah dong jangan terus bicara yang mengundang amarah Elgara. Lagian sekarang Elgara selalu membagi waktunya. Lihat, Elgara jadi gak sarapan," ujar Resta dengan raut wajah kecewa.
"Mama jangan manjain dia deh, dia itu anak laki-laki pertama. Gak boleh gagal. Kalo dia gagal mau jadi apa nantinya?" tanya Bagas, Resta hanya terdiam saja tak menjawab.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Setelah tiba di sekolah. Ayra masih berada di dalam mobilnya, ia masih fokus menscroll postingan-postingan Vanoztra. Bibirnya mengembang saat Ayra mengetahui basecamp utama dan basecamp Vanoztra lainnya.
"Warbah. Kemarin gue lewat warung itu," ucap Ayra, kemudian melirik jam tangannya.
"Gue harus ke sana sekarang."
Langkah Ayra terhenti setelah ponselnya berdering, ia merogoh ponselnya di dalam saku rok. Sontak Ayra membelalakkan matanya–menatap sebuah notifikasi Instagram.
elgarargantara mulai mengikuti anda.
"What?! Dari mana Elgara tau Instagram gue?" tanya Ayra pada dirinya sendiri.
(ayraaclares): elgarargantara: udah gue follback
"J-jadi, gue yang follow Elgara? Sialan! Ini pasti karena semalam gue stalk akun Elgara sampai ketiduran. Jadi ke follow!" ucap Ayra kesal sembari berjalan menuju Warbah.
"Bucin terossss—jadian kagak!" ketus Mario saat mengintip layar ponsel Anggara yang tengah chattingan dengan Shafira.
Mendengar ucapan Mario, Anggara langsung bergeser menjauhi Mario sembari menatap tajam.
"Daripada lo, jadian belum, putus udah. Nyesek boy! Mana yang sekarang bertepuk sebelah tangan lagi," balas Anggara yang langsung ditendang oleh Mario.
Merasa tak terima. Anggara berdiri setelah terjatuh dari kursi. Ia menarik kerah Mario, mengunci leher Mario diketiaknya sembari memberi jitakan beberapa kali.
"Ribut mulu lo berdua! Lama-lama gue kawinin!" ketus Brio sembari melemparkan topi ke arah Mario dan Anggara.
"Dan mereka pun hidup bahagia di Jerman— tamat," ucap Anres yang tengah mengaduk mie nya.
Sekitar lima menit. Ayra sudah berdiri di dekat pintu warung, ia mendengar pembicaraan-pembicaraan anak Vanoztra, tapi sampai saat ini ia belum mendapatkan info penting dari pembicaraan anak Vanoztra.
"Ganteng-ganteng ya, temen gue?"
Ayra terperanjat kaget setelah seseorang berkata tepat di dekat telinganya. Perlahan Ayra melirik ke samping. Seketika mata Ayra dan Elgara saling bertemu.
'Elgara?!'
Ayra sempat berlari, tapi tangan Elgara dengan cekatan menarik tas Ayra hingga gadis itu kesulitan melangkahkan kakinya. Kini Ayra pasrah, ia memejamkan matanya sejenak sembari menghela napas.
"Lepasin," ucap Ayra datar. Elgara pun melepaskan cekalan pada tas Ayra, kemudian cowok itu berdiri di hadapan Ayra.
"Lo ngapain diem di luar?" tanya Elgara dengan alis terangkat sebelah.
Gadis itu hanya terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Jika dirinya berlari lagi hal itu akan membuat Elgara semakin curiga padanya.
"Gue—gue mau sarapan, tapi banyak cowok jadi ragu," dusta Ayra yang beruntung langsung dipercayai Elgara.
"Ya udah gue temenin, ayo!" ajak Elgara.
"Enggak—gak usah. Gue mau langsung masuk kelas aja," jawab Ayra, kemudian ia melenggang pergi tak berkata apa-apa lagi.
Elgara tersenyum dengan tatapan yang terus menatap punggung gadis itu yang semakin lama semakin menghilang. Beberapa detik kemudian, pandangannya teralihkan pada ponselnya yang menampilkan sebuah postingan Instagram milik Ayra.
"You look so beautiful," gumam Elgara.
"El! Buruan sini ada yang mau kita bahas!" teriak Anres yang langsung diangguki oleh Elgara.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Elgara terduduk di atas motornya sembari mengetik sebuah kalimat pada ponsel. Detik kemudian, Elgara memasukkan ponselnya pada saku celana.
"Cabut. Kita ke basecamp utama sekarang," pinta Elgara.
"Berapa orang yang disuruh kumpul?" tanya Brio.
"Semua," jawab Elgara.
"Ngapain semua, El? Yang inti-intinya ajalah. Nanti suruh mereka kasih tau yang lainnya," ujar Anres.
"Udah semua aja. Lagian udah lama kita gak kumpul semua di basecamp," jawab Elgara, kemudian memakai helm.
Setelah berbincang-bincang, Elgara segera melajukan motornya keluar halaman sekolah—disusul keempat temannya di belakang.
Hembusan angin di sore hari cukup kencang membuat seragam Elgara terbuka lebar. Cowok itu berada di paling depan membelah jalanan di kota Bandung. Agar cepat sampai menuju basecamp, Elgara memilih jalan pintas.
Jalan tersebut tampak sepi memudahkan Elgara untuk melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba suara teriakan memasuki indera pendengarannya. Elgara memilih menghentikan motornya begitu pun dengan keempat temannya.
Ia mengedarkan pandangan mencari letak sumber suara teriakan tadi. Tak jauh dari jaraknya, ia melihat seorang wanita yang berusaha memegang erat sebuah tas.
Elgara melajukan motornya kembali, lalu kaki kanannya menendang perampok hingga terjatuh. Elgara turun dari motornya merebut tas milik wanita tersebut dari perampok. Saat kedua rampok itu akan melayangkan pukulan, Elgara berhasil menangkisnya, lalu memberi pukulan bertubi-tubi.
"Ampun! Ampun!" teriak salah satu rampok tersebut yang sudah terkapar lemah.
"El stop, El! Dia udah mau mati, anjir. Nanti kalo mati urusannya jadi panjang," ucap Anggara sembari menahan Elgara.
Elgara pun berhenti memukulnya. Kedua rampok tersebut pergi dengan raut wajah ketakutan saat melihat tulisan Vanoztra pada jaket. Tentu saja mereka tau.
"Tante gak apa-apa?" tanya Elgara pada wanita tersebut. Elgara tebak wanita ini pasti sudah berkeluarga.
"Iya, gak apa-apa, kok. Makasih ya, udah mau tolongin saya," jawab wanita tersebut.
Ketika melihat wajahnya dengan jelas. Elgara seperti pernah melihat wajah seseorang yang mirip dengan wanita ini, tapi siapa ya?
"Kalo gitu biar saya antar pulang sampai ke rumah. Takutnya perampok tadi masih ada di sekitar sini," ajak Elgara.
"Ya sudah. Sekali lagi terima kasih."
Elgara mengalihkan pandangan pada teman-temannya. "Bro! Duluan aja ke basecamp nanti gue nyusul.