Vanoztra

Vanoztra
35. Anak ayam



"Hei, hujannya deras loh. Gue gak kenal lo siapa, tapi saran gue mending lo pulang. Nanti sakit kalo terus kehujanan," ucap Elgara.


Ayra semakin menundukkan kepalanya dengan mata yang terpejam. Gadis itu berharap Elgara berlalu pergi, tapi nyatanya keinginan Ayra tak diwujudkan oleh Tuhan.


Yang ada laki-laki bermata elang itu semakin mendekati Ayra. Elgara menurunkan rentangan tangannya, kemudian tangannya terulur untuk melepas topi jaket Ayra.


Tak ada waktu lagi untuk dirinya tetap terdiam, Ayra memutuskan segera berlari meninggalkan Elgara, padahal dirinya masih ingin berada di samping kuburan Micholas.


"Siapa, El?" tanya Anres.


Pandangan Elgara yang tengah mengikuti langkah Ayra belari, ia alihkan ke arah teman-temannya. Sebelum melangkahkan kakinya, Elgara sempat melirik batu nisan pada kuburan yang ada di hadapannya.


"Micholas Askara," gumam Elgara dengan kening yang berkerut.


"Gak tau siapa. Gue cuma kasihan aja tuh cewek hujan-hujanan," ucap Elgara sembari melangkahkan kakinya menghampiri teman-temannya.


Setelah selesai berkunjung ke pemakaman Edward. Mereka segera pulang menuju basecamp untuk berkumpul bersama anak Vanoztra yang lainnya.


Elgara berada di posisi paling depan membelah jalanan di kota Bandung diiringi oleh rintikan air hujan. Tiba-tiba laki-laki bermata elang itu, menghentikan laju motornya disusul oleh teman-temannya.


Elgara turun dari motor, ia menghampiri pria paruh baya yang akan menyebrang sembari membawa gerobak. "Bapak mau nyebrang?" tanya Elgara.


"Iya, Nak. Bapak mau nyebrang," jawab Bapak tersebut.


"Tapi ini hujan, Pak. Nanti Bapak bisa sakit," ucap Elgara.


"Gak apa, Nak. Kasihan anak-anak Bapak udah nunggu di rumah," ujar Bapak tersebut.


"Ya udah kalo gitu. Biar saya antar Bapak pulang," ajak Elgara.


"Nanti gerobaknya, gimana?" tanya Bapak tersebut.


"Biar teman saya yang bawa. Ayo, Pak," ajak Elgara yang diangguki Bapak tersebut.


"Bro, bisa bawa gerobak itu gak?" tanya Elgara.


"Bisa El, tenang aja gampang ini mah," sahut Brio.


Setelah itu Elgara segera melajukan motornya untuk mengantar bapak itu pulang ke rumahnya. Senyuman terbit di bibir bapak tersebut setelah ada yang membantu dirinya.


"Makasih ya, Nak. Kamu baik sekali, padahal di zaman sekarang susah sekali bertemu dengan orang seperti kamu," ucap Bapak tersebut.


"Sama-sama, Pak."


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Tawaan dan obrolan meramaikan suasana di kantin pada jam istirahat. Hampir sebagian orang memperhatikan dua geng itu yang tengah asik mengobrol, sedangkan yang lainnya memilih fokus pada makanannya.


"Mau lagi?" tanya Shafira sembari menyodorkan es krim pada Anggara.


Anggara membuka mulutnya, kemudian ia segera melahap es krim itu. Senyuman terbit di bibir mereka berdua. Anggara tak kuasa melihat Shafira yang menggemaskan, laki-laki itu langsung mencubit hidung Shafira gemas.


"Ra, lo itu 1345," ucap Elgara menatap Ayra dari samping.


"Anjay ...." Serentak mereka menyoraki Elgara.


"Hah? Apa hubungannya?" tanya Ayra sembari mengernyitkan keningnya.


"Iya, lo itu 1345. Karena gak ada dua nya," jawab Elgara sembari tersenyum.


"Jadi maksud lo–gue yang maha esa gitu?" ucap Ayra dengan ekspresi tanpa dosa.


Senyuman di bibir Elgara luntur begitu saja setelah Ayra berkata seperti itu, kiranya gadis itu akan baper atas gombalannya. "Ya, bukan gitu–udahlah susah."


"HAHAHA!" Serentak mereka menertawakan Elgara.


"Gombal ke cewek modelan Ayra, gak akan mempan boy!" teriak Nana.


Laki-laki bermata elang itu merangkul Ayra sembari mengacak gemas rambut gadis itu. "Aku menyebutnya–teh kotak, kurang manis, tapi menyegarkan," ucap Elgara di akhiri tawaan serentak.


"Gila lo," ujar Ayra sembari tertawa.


Setelah itu Maudy menyendokkan es krim, lalu saat akan memakan es krim tersebut, dengan cepat Mario menarik tangan Maudy dan melahap es krim yang berada di tangan Maudy.


Maudy menggeplak kepala Mario cukup kencang. "Nyebelin banget sih, lo! Gue bilangin Ayah baru tau rasa!" bentak Maudy sembari mencebikan bibirnya.


"Enak banget jadi lo, Yo, serumah sama gebetan," ucap Anggara.


"Yoi. Serumah, sekamar, mandi bareng," sahut Mario yang langsung ditendang oleh Maudy hingga jatuh dari kursi.


"Kagak gitu, ya!" ketus Maudy.


"Gue masih penasaran sama cewek yang kemarin sore," ucap Elgara, kemudian menyeruput air jeruknya.


Ayra mengulum bibirnya saat Elgara berkata seperti itu, ia yakin laki-laki itu akan membahas soal di pemakaman kemarin. Tak mau Elgara curiga padanya, Ayra mulai berakting.


"Cewek? Siapa?" tanya Ayra.


"Wah! Amukin Ra, amukin! Gue dukung paling depan!" pinta Brio semangat yang langsung dilempari snack oleh Elgara.


"Bukan siapa-siapa. Kemarin gak sengaja ketemu di pemakaman. Dia hujan-hujanan di samping makam keluarganya, mungkin," jelas Elgara.


"Gue gak tega lihat dia kehujanan jadi gue samperin dia dan suruh dia pulang. Lo jangan marah, Ra, gak ada apa-apa, kok," lanjut Elgara yang diangguki Ayra.


'Ngapain juga gue marah? Orang itu gue sendiri.'


"Kuburan itu–kuburan Micholas. Micholas Askara, mantan ketua Alaskar," ucap Elgara.


"Lo tau darimana, El?" tanya Anres.


"Gue gak sengaja baca batu nisannya," jawab Elgara.


"Berarti cewek itu punya hubungan sama Micholas," ucap Brio.


Elgara menganggukkan kepalanya. "Nah, ini yang gue pengen tanyain. Emang Micholas punya adik?" tanya Elgara.


"Uhuk-uhuuk!" Sontak Ayra tersedak saat memakan makanannya.


"Kebiasaan deh lo, kalo makan suka rusuh. Santai aja kali, Ra," ucap Nana.


"Udah gak apa-apa?" tanya Elgara sembari menyelipkan rambut Ayra ke belakang telinga nya. Ayra pun mengangguk sebagai jawaban.


"Setau gue sih, Micholas gak punya adik deh," ucap Anggara.


"Iya, gue taunya dia saudaraan sama si Nathan," sahut Mario.


"Kita harus berhati-hati. Siapa tau ada keluarga Micholas yang diam-diam dendam sama kita, selain Nathan," ucap Elgara.


"Yoi!" jawab kelima teman Elgara serentak.


"Sayangnya kemarin gue gak lihat wajah cewek itu. Entah kenapa gue merasa yakin dia adiknya Micholas," jelas Elgara.


'Elgara udah mulai curiga. Semoga dia gak berpikir kalo itu gue.'


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"El, stop, please!" teriak Ayra sembari menepuk pundak Elgara.


Laki-laki bermata elang itu menghentikan motornya tepat di samping pasar, ia melepaskan helm, kemudian menoleh ke arah Ayra, "Kenapa?" tanya Elgara.


"Pengen beli ayam," jawab Ayra.


Elgara menganggukkan kepalanya. "Berapa kilo?" tanya Elgara.


"Bukan ayam itu ... itu tuh anak ayam yang diwarnain," ucap Ayra sembari menunjuk ke arah anak ayam tersebut.


"Astaga ... kek bocah lo, Ra. Buat apaan beli anak ayam kayak gitu? Gak akan lama hidupnya," ujar Elgara.


"Heh! Lo bukan Tuhan. Siapa tau anak ayamnya panjang umur," ketus Ayra.


"Lucu tau El, beliin buat gue, please ..." ucap Ayra memohon sembari menyatukan kedua telapak tangannya.


"Kasihan nanti kalo lo gak bisa rawatnya. Bakalan mati dia," ujar Elgara.


Ayra terus menatap Elgara, ia memasang raut wajah memelas agar laki-laki itu menuruti keinginannya. Ternyata hal itu berhasil, Elgara turun dari motornya disusul oleh Ayra.


"Ya udah gue beliin. Mau warna apa?" tanya Elgara.


"Warna kuning sama oren biar serasi!" jawab Ayra semangat.


"Satu aja belinya. Nanti berantem," ucap Elgara.


"You see!" Ayra menggerakan kepala Elgara menggunakan tangannya ke arah anak ayam tersebut. "Mereka disatuin hampir se-kecamatan Bandung kulon. Berantem gak? Enggak, kan," ujar Ayra.


"Ya udah iya, tunggu di sini," ucap Elgara, kemudian laki-laki itu berjalan menghampiri pedagang anak ayam tersebut.


Beberapa menit kemudian Elgara kembali menghampiri Ayra, dengan membawa dua berisi dua anak ayam tersebut. Raut wajah gadis itu begitu ceria saat menerima dus itu dari tangan Elgara.


"Aaaa ... lucu banget mereka berdua ..." ucap Ayra sembari mengintip anak ayam tersebut di celah-celah dusnya.


"Ra, gue saranin yang kuning cemplungin ke bak mandi deh," saran Elgara.


Ayra mengernyit heran. "Biar apa?" tanya Elgara.


"Biar ngambang kek tai!" jelas Elgara yang langsung mendapatkan tendangan dari Ayra di bagian kakinya.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Kali ini Elgara tidak langsung pulang ke basecamp maupun ke rumahnya. Karena sore ini Elgara memutuskan menonton film bersama Ayra di rumah.


Sembari menunggu Ayra mengganti pakaian, Elgara terduduk di ruang tengah. Kini, ia sedang asik bermain dengan kedua anak ayam tersebut. Elgara meraih salah satu anak ayam nya, kemudian Elgara memberi usapan lembut pada anak ayam itu.


Tak disangka anak ayam nya tertidur di telapak tangan Elgara. Hal itu membuat Elgara tertawa kecil.


"Ada bakat juga lo jadi induk ayam," ucap Ayra berjongkok di samping Elgara sembari menatap anak ayam tersebut.


"Mau lo namain siapa dua anak ayam ini?" tanya Elgara.


Ayra meraih salah satu anak ayam tersebut, kemudian ia mengusapnya. "Em ... siapa, ya?"


"Yang oren Sukinem, yang kuning Sukijat," ucap Elgara di akhiri tawaan.


"Ish! Yang bener, dongo! Gimana kalo ... yang kuning Ciko, yang oren Ciki. Lucu banget, kan?" tanya Ayra sembari tersenyum bahagia.


Elgara menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, kemudian tangannya terulur mengusap puncak kepala Ayra. "Ada dus besar yang gak dipakai gak, Ra? Gue bikinin rumah buat mereka."


"Ada-ada. Mereka tempatin di kamar gue aja, El, biar kamar gue gak sepi," ucap Ayra yang diangguki Elgara.


Beberapa menit kemudian rumah untuk Ciko dan Ciki hampir selesai. Ayra begitu senang karena Elgara sangat pandai membuat rumahnya, meskipun menggunakan dus bekas. "Ra, alasnya di mana?" tanya Elgara.


"Di lemari. Ada kain warna biru pakai itu aja," jawab Ayra tanpa menoleh lantaran ia tengah mencari lampu di laci nakasnya.


Elgara melangkahkan kakinya menuju lemari, kemudian kedua tangannya membukakan pintu lemari tersebut. Laki-laki itu mengedarkan pandangannya mencari kain yang dimaksud Ayra, tapi mata Elgara terfokus pada salah satu jaket. Tiba-tiba ...


Brak!


Ayra menutup kencang pintu lemari tersebut membuat Elgara terkejut. Gadis itu berdiri mematung membelakangi lemari dengan pandangan menatap Elgara.


"Kenapa sih, Ra?" tanya Elgara.


Ayra tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "E-enggak. Buat alasnya nanti sama gue aja," ucap Ayra, kemudian mengulum bibirnya.


"Ya udah sama gue aja biar sekalian," ujar Elgara hendak membuka pintu lemarinya, tapi dengan cepat Ayra menghentikan aktivitas Elgara.


Sikap Ayra membuat laki-laki bermata elang itu terheran-heran, ia menatap Ayra begitu lekat, kemudian Elgara melangkahkan kakinya mendekati Ayra. Satu tangan Elgara ia letakkan di samping kepala Ayra.


"Elgara," ucap Ayra dengan jantung yang berdegup kencang, lantaran laki-laki itu semakin mendekatkan wajahnya.


Saat jarak wajah Elgara dengan wajah Ayra semakin dekat, gadis itu memejamkan matanya. Bahkan lampu yang dipegang oleh Ayra pun terjatuh ke lantai.


Prak!