Vanoztra

Vanoztra
37. Tersadar



"Kak Maudy, G-food!"


Dengan cepat Maudy meloncat turun dari sofa dan segera berlari menuju pintu. Hal itu membuat Mario yang tengah fokus menonton televisi terperanjat kaget, pandangannya mengikuti arah gadis itu berlari.


"Dia beneran punya sugar Daddy atau gimana, sih? Perasaan tiap hari pesen paket mulu," ucap Mario.


Maudy memberikan senyuman pada kurir paket tersebut. Maudy sudah akrab dengan kurir tersebut, bahkan hampir semua paket yang dipesan oleh Maudy diantar oleh kurir itu.


"Makasih," ujar Maudy sembari menerima pesanannya.


Setelah itu Maudy kembali masuk ke dalam rumah, ia duduk di samping Mario sembari membuka satu persatu pesanannya. Mata Maudy berbinar-binar setelah membuka dus yang berisi donat, kemudian pizza dan kantong plastik yang berisi beberapa minuman.


Pandangan laki-laki di sampingnya terus menatap fokus pada Maudy, hingga Mario lupa berkedip. Merasa heran dengan tingkah Maudy tangan Mario terulur memegang kening gadis itu.


"Lo sehat, Mod?" tanya Mario.


"Sehat, kenapa emang?" tanya Maudy dengan kening yang berkerut.


"Ini makanan banyak banget siapa yang mau habisin?" tanya Mario sembari meraih sepotong pizza.


Maudy memukul tangan Mario yang mengambil pizza nya tanpa izin. "Ya gue lah, gue yang beli, gue yang habisin," jawab Maudy.


"Aneh deh, gue sama lo. Demen makan, tapi tetep aja kecil badannya," ucap Mario sembari menancapkan sedotan pada salah satu minuman yang dipesan Maudy.


"Daripada lo–demen cewek, tapi jomblonya gak minggat-minggat!" ketus Maudy, kemudian menyeruput minumannya.


Kesal dengan ucapan Maudy, tanpa ragu Mario menjitak kepala Maudy gemas, kemudian merangkul pundak Maudy. "Mod, ada bubble warp gak?" tanya Mario.


"Ada dikamar," jawab Maudy sebelum melahap donatnya.


"Buat gue, ya," pinta Mario.


"Belum dibuka paketnya ah," ucap Maudy.


"Ya elah, tinggal gue buka apa susahnya," ujar Mario sembari beranjak dari tempat duduk.


"Nanti kalo pesan paket lagi, bubble warpnya buat gue ya, Mod!" teriak Mario sembari berjalan ke arah kamar Maudy.


"Bisa gak sih, Yo? Sehari aja tanpa meletekkin bubble warp!" teriak Maudy.


"Gak! Aku tanpa bubble warp seperti aku tanpa dirimu! You understand?" teriak Mario, sontak Maudy langsung bergidik ngeri atas sikapnya.


Semenjak Maudy menjelaskan pada teman-temannya bahwa hubungan Maudy dan Mario sebenarnya saudara tiri. Kini mereka berdua terlihat akrab kembali seperti awal mereka berteman.


Yang biasanya Maudy selalu menghindari Mario ketika di rumah, tapi kini Maudy sering mengajak Mario untuk menonton film bersama, bahkan mengerjakan tugas bersama.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"And ... finally!" ucap Ayra setelah mengaplikasikan lip balm pada bibirnya.


Setelah selesai dengan semuanya, gadis bermata coklat itu beranjak dari kursi. Ayra berjalan menghampiri cermin besar, ia menatap seluruh tubuhnya dari atas hingga bawah, kemudian ia berputar layaknya princess.


"Please, ya, lo jantung gak usah dugem dulu! Ini masih di rumah, dongo!" ketus Ayra sembari memegang dadanya.


Tring ....


"Gengs!" sapa Ayra sembari melambaikan tangannya ke arah kamera.


"Oh my God! Bestie gue cantik banget gila!" ucap Nana.


"Eh iya, gimana penampilan gue?" tanya Ayra, kemudian ia meletakkan ponselnya di meja agar ketiga sahabatnya dapat melihat penampilan Ayra.


"Woo! So pretty gurl!" teriak Maudy sembari bertepuk tangan beberapa kali.


"Masih nanya lagi, ya jelas you look so beautiful Ayra Claresta!" ujar Nana.


"Gila, gila! Gue kayak lagi vidcall sama princess, woi!" ucap Shafira.


Ayra tertawa sembari meraih ponselnya kembali, lalu berkata, "Thank you! Kalo udah dapat jawaban dari kalian bertiga, gue jadi bisa percaya diri."


"Oh iya, Sha, lo jadi pergi sama Anggara?" tanya Ayra.


"Jadi dong, ini gue lagi nunggu Anggara."


"Yang jomblo mah bisa apa, ya, Na," ucap Maudy.


"Ngehalu bareng guling aja udah cukup bikin gue bahagia," ucap Nana.


Ayra melirik sejenak pada jam tangannya, ia cukup terkejut karena waktu begitu cepat. "Mm, gue harus pergi sekarang. Udah dulu ya, bye!"


"Bye!" ucap mereka serentak.


Beberapa menit kemudian Ayra menunggu taksi online yang dipesannya. Ia sengaja tak mengendarai mobilnya lantaran merasa malas dan Elgara pun meminta Ayra untuk janjian di restorannya langsung.


Sepanjang perjalanan jantung Ayra terus berdegup kencang, hatinya terasa tak tenang. Gadis itu menyenderkan kepalanya ke samping kaca mobil. Melihat jalanan di malam hari suasana hatinya sedikit tenang.


'Gue chat Elgara dulu, deh, takutnya dia udah nunggu.'


Saat akan meraih ponselnya di dalam tas aktivitasnya terhenti, setelah supir taksi tersebut melontarkan pertanyaan.


"Neng, itu di belakang temannya, bukan?" tanya sopir taksi tersebut.


Ayra menoleh ke belakang, tapi ia sama sekali tak melihat satu motor pun di belakang taksinya. "Gak ada, Pak. Emangnya kenapa?" tanya Ayra.


"Tadi ada yang ngikutin dari belakang, Neng," jawab sopir tersebut.


"Mm ... bukan kali, Pak. Jalan aja," ucap Ayra.


Elgara meraih ponselnya di atas nakas, ia mengklik salah satu nomor temannya. Setelah terhubung Elgara melontarkan pertanyaan.


"Dan, di basecamp ada siapa aja?"


'Cuma berempat, El. Ada gue, Lino, Dendra sama Nino.'


"Oke."


Elgara mematikan teleponnya, kemudian ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu laki-laki itu berjalan ke arah lemari untuk meraih jaketnya.


Di sisi lain, Ayra menghentikan langkahnya sejenak setelah tiba di depan restoran yang Elgara janjikan. Gadis bermata coklat itu mengatur napasnya sejenak. Berulang kali Ayra menghela napas, kemudian menghembuskannya.


"Oke, let's go!" gumam Ayra.


"Meja nomor 18–"


Ayra mengernyitkan keningnya. "Loh, belum datang. Gue kira, gue yang telat," gumam Ayra.


Tidakk berlama-lama, Ayra berjalan ke arah meja tersebut, kemudian ia mendudukkan dirinya di kursi. Lima menit sudah berlalu, tapi Elgara dan keluarganya masih belum nampak.


A: El, gue udah sampai di restoran dari lima menit yang lalu


Lo masih di jalan?


E: Oh, lo udah sampai


Iya gue masih di jalan Ra, tunggu ya, Queen


Ting!


Ayra menyalakan ponselnya kembali setelah ponsel tersebut berdering.


E: Ra, kata Mama sama Papa, tolong pesan dulu makanannya


Soalnya kita agak telat, macet


Ayra mengedarkan pandangannya mencari pelayan restoran tersebut, kemudian ia mengangkat tangannya setelah menemukan pelayan.


"Selamat malam, mau pesan apa, Mba?"


"Boleh lihat daftar menunya," ucap Ayra.


Pelayan tersebut segera memberikan daftar menu pada Ayra. Beberapa detik Ayra melihat menu-menu tersebut, kemudian ia menyebutkan beberapa menu makanan yang akan dipesan.


Sembari menunggu pesanan dan Elgara datang, Ayra memilih memainkan ponselnya. Ia membaca novel di salah satu aplikasi. Sampai Ayra tamat membaca novel tersebut, Elgara masih tak kunjung datang.


"Kok, Elgara lama banget, sih," gumam Ayra, kemudian melirik jam tangannya.


"Maaf lama Mba, ini pesanannya," ucap pelayan tersebut sembari menata makanannya di atas meja.


"Iya, terima kasih," ujar Ayra sembari tersenyum.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"El, bukannya lo gak bisa ke basecamp hari ini? Kata Anres," ucap Nino.


Elgara menatap ke arah Nino. "Berisik. Gue lagi mempermainkan dia malam ini," jawab Elgara, kemudian laki-laki itu menyandarkan kepalanya ke belakang kursi.


Zidan meraih botol kaca yang berada di atas meja samping Elgara. "Lo minum, El? Gue kira ini botol marjan, anjir," ucap Zidan.


"Mau? Ambil aja. Gue beli banyak," ujar Elgara, kemudian ia meraih minuman alkohol yang masih penuh.


Detik berikutnya Elgara membuka botol minuman tersebut dan detik itu juga laki-laki bermata elang itu meneguknya hingga tersisa setengah. Keempat teman Elgara yang berada di basecamp itu membelalakkan matanya– terkejut. Karena sebelumnya Elgara tidak seperti ini. Biasanya Elgara hanya minum setengah gelas saja.


"Anjir, eling bos!" ucap Dendra sembari menepuk pundak Elgara. (Sadar)


"Ada masalah apasih sampai lo kayak gini, El?" tanya Lino.


"Ayra ..." ucap Elgara dengan mata terpejam.


"Ayra teh saha?" tanya Lino pada ketiga temannya. (Ayra itu siapa?)


"Ck! Masa lupa, anjir! Cewek yang waktu itu ngintip basecamp–pacar Elgara," jelas Zidan.


"Oh ... iya-iya gue tau," ucap Lino.


"Gue sayang sama lo, Ra ... tapi kenapa lo selalu bikin gue ragu ... arrggghh!" ucap Elgara, di akhiri teriakan.


Keempat pria tersebut saling menatap secara bergantian, setelah mendengar perkataan Elgara. Masing-masing dari mereka mengangkat bahunya tanda tak tau maksud Elgara.


Tring ....


"Handphone Elgara bunyi, woi," ucap Lino.


Dengan cepat Lino meraih ponsel Elgara dan menjawab teleponnya, "Halo, Queen," ucap Nino setelah teleponnya terhubung.


Gue Ayra, Elgara mana?


"Oh, Ayra, sorry-sorry."


Elgara mana? Kok ponselnya–


"Em–ini Elgara ada, tapi dia–"


Elgara lagi di basecamp?


"Iya lagi di basecamp."


Loh, kok–kasih handphone nya ke Elgara.


"Ini Ra, Elgara nya lagi mabok kenceng."


"Mabok berat, pea! Lo kira motor," ketus Zidan.


"Nah, itu, Elgara mabok berat, Ra. Percuma lo ngomong sama Elgara juga."


"Suruh dia pulang–kasih tau dia, gue cuma mempermainkan dia malam ini," ucap Elgara.


Raut wajah Ayra berubah drastis setelah mendengar ucapan Elgara. Dan juga penjelasan dari teman-teman Elgara. Ia mencoba menahan air matanya yang akan terjatuh.


Dengan cepat Ayra mematikan sambungan teleponnya. 'Brengsek!'


Bersamaan dengan helaan napasnya, air mata Ayra lolos tumpah mengalir membasahi pipinya. Bibir Ayra bergetar saat mencoba menahan air matanya, sekaligus mencoba menghilangkan rasa sakit di hatinya.


Saat ini Ayra merasa sulit menahan air matanya agar tidak terjatuh. Tak mau dilihat oleh banyak orang, Ayra menghapus air matanya. Ia segera meraih tas, kemudian ia mengklik salah satu kontak.


"Nat, lo di mana?"


Lagi di luar sama yang lainnya. Ada apa?


"Lo sama temen-temen ke sini. Gue share lokasinya, buruan."


Beberapa menit kemudian Nathan dan beberapa anak Alaskar datang ke restoran di mana Ayra berada. Mereka sempat terkejut melihat mata Ayra dan hidungnya merah.


"Lo kenapa, Ra? Habis nangis?" tanya Nathan sembari menatap Ayra lekat.


"Jangan tanya gue sekarang. Habisin makanannya, udah gue bayar," ucap Ayra, kemudian melenggang pergi.


"Lah, Ra!" panggil Nathan.


"Ayra!" panggil Satria, tapi Ayra tak mendengarnya gadis itu terus berjalan keluar restoran.


Air mata Ayra terus mengalir membasahi pipinya, seolah tak bisa dihentikan. Gadis itu terus berlari menyusuri jalanan di malam hari sembari terisak-isak menangis.


Entah kemana tujuan Ayra berlari, ia hanya menginginkan tempat yang bisa menenangkan hatinya. Di tempat yang sepi Ayra menghentikan langkah. Tangan Ayra terus memegang dadanya yang terasa sesak.


"Aaaa!" teriak Ayra sembari mendongak menatap langit.


"COWOK YANG KAYAK GIMANA LAGI YANG HARUS GUE PERCAYA?!"


"Lagi dan lagi gue selalu salah menaruh rasa percaya ...."


Ayra menundukkan kepalanya. Tetesan demi tetesan air mata berjatuhan ke permukaan tanah. "Lo harus sadar, Ra ...."


"LO HARUS SADAR AYRA! SEKALINYA COWOK ITU MEMPERMAINKAN HATI PEREMPUAN, MAKA SELANJUTNYA LO YANG AKAN DIPERMAINKAN SAMA DIA!"


"Lo jahat El ... lo udah bikin gue kecewa kali ini ...." Ayra berjongkok, kemudian memeluk lututnya dan menyembunyikan wajah di lipatan kedua tangannya.


Beberapa detik kemudian, Ayra mendongakkan kepala. Pandangan Ayra menatap ke depan–pada seseorang yang tengah memakaikan jaket padanya.


"Ayo pulang."