Vanoztra

Vanoztra
12. KOK SYARATNYA GITU?!



"Mana mungkin Elgara ngasih buat kalian. Yang ada dia lindungi, lah," ucap Mario.p


"Sentuh dia, bonyok lo pada," sahut Anggara.


"Lah, emang tuh cewek siapa?" tanya Denis.


"Lo perhatiin aja nanti juga tau," sahut Brio.


Laki-laki bermata elang itu berjalan menghampiri Ayra, ia berjongkok di hadapan gadis yang tengah menatapnya tajam. Detik kemudian Elgara melepaskan jaketnya, ia meletakkan jaket tersebut di paha Ayra.


"Lah, El, kok ditutupin, sih? Gak seru anjir!"


"Ngapain ditutupin sih, lumayan tontonan gratis. Kapan lagi coba?"


"Dikasih yang gratis malah kagak mau lo mah!"


Elgara berdecak kesal saat teman-temannya terus mengoceh tak terima. "BERISIK!" bentakan Elgara begitu efektif membuat semuanya membungkam mulut.


Gadis yang ada di hadapannya pun terperanjat kaget mendengar suara Elgara begitu menggelegar memenuhi ruangan basecamp. Ayra merasa bahwa Elgara tidak akan melakukan hal jahat padanya. Buktinya cowok ini malah menutupi pahanya.


"El, lepasin. Gue mau pulang," ucap Ayra pelan sembari memasang wajah takut, padahal sama sekali tidak takut. Lagi pula dirinya jago dalam hal bela diri. Menghajar laki-laki sudah menjadi kebiasaannya dari dulu.


'Gawat! Kalo Nathan telepon lagi dan Elgara cek ponsel gue. Bisa kacau!',


"Gue bakal lepasin lo, setelah gue tanya—"


"Gak bisa gitu dong, El. Masa dilepasin aja, gimana sih lo?"


"Cewek cantik gitu sayang kalo dilepas, El. Mending kita icip-icip dululah, sebentar."


Brio menjitak kepala temannya yang berada di samping. "Dongo! Icip-icip, lo kira makanan, tolol!"


"Kalo lo gak mau, ya udah buat kita-kita a—"


"DIEM SETAN!" bentak Elgara sembari menatap tajam ke arah teman-temannya.


Setelah teman-temannya membungkam mulut tak bersuara lagi, Elgara kembali menatap Ayra. "Lo ngapain tadi? Lo mau nguping obrolan kita? Disuruh sama siapa? tanya Elgara dengan tatapan tajam.


"Gue—gue bukan mau nguping, tapi gue—"


'****! Gue gak bisa ngelak. Harusnya tadi gue mikirin dulu alasannya buat jaga-jaga kalo ketauan.'


"Tapi gue apa? Gue yakin nih, ada yang suruh lo, kan, buat mata-matai Vanoztra?" tanya Elgara.


"B-bukan gitu. Gak ada, gak ada yang suruh gue. Niat gue juga bukan mau mata-matai Vanoztra, gue cuma pengen—"


Ayra menundukkan kepalanya. "Ng—m-minta—nomor lo, El."


'Ayra ... harga diri lo sebagai cewek mahal habis di depan cowok-cowok sialan ini!'


"Lah, anjir, hah ... Elgara lagi, Elgara lagi. Gak ada yang mau apa nomor aing gitu?" ucap Denis sembari mengusap dada. (Gue)


Diam-diam Elgara tersenyum setelah mendapat jawaban dari Ayra. Jawaban yang mampu membuat hatinya terbang. Detik berikutnya, Elgara mendongakkan kepala Ayra.


"Kenapa sampai segitunya lo pengen nomor gue? Kan, bisa tadi di sekolah juga. Ngapain ke sini? Jadi salah paham semuanya," jelas Elgara.


Ayra mengulum bibirnya, lalu ia menjawab, "Tadi pas pulang sekolah gue panggil lo berapa kali, tapi gak dengar," dustanya.


"Oh gitu. Gue udah simpan nomor lo dari kemarin. Jadi nanti gue yang chat duluan," ucap Elgara yang diangguki Ayra.


Gadis itu menyeringai tipis—saat dirinya merasa senang telah berhasil membuat ketua utama Vanoztra batch 20 percaya padanya begitu saja, tapi sayangnya, ia gagal mendapatkan info tentang strategi penyerangan.


"So, gue boleh pulang?" tanya Ayra dengan mata yang berbinar-binar.


Elgara tersenyum manis padanya, lalu wajahnya kembali datar menatap Ayra. "Enggak."


Sontak gadis itu mencebikan bibirnya sembari menatap Elgara. "Kok enggak sih, kan, gue udah jelasin sama lo. Terus apalagi sekarang?  Buruan gue mau mandi!"


"Mandi di sini aja sama gue, ayo!" ajak Zino.


"ENGGAK! NAJIS BANGET MANDI SAMA LO!" ketus Ayra sembari melotot tajam.


Elgara berdiri kembali setelah merasa kakinya pegal, ia mendekat ke arah Ayra untuk melepaskan tali pada kursi yang menahan tubuh gadis ini. Ia melepaskan talinya lewat depan membuat dirinya terlihat seperti memeluk Ayra.


Ayra sedikit memundurkan kepala saat wajahnya hampir mengenai dada bidang laki-laki itu. Aroma parfum Elgara tercium kuat di hidungnya.


Dalam beberapa hitungan, tali itu terlepas, tapi badan Ayra masih mematung. Ia pun tak sadar bahwa dirinya tidak bernapas selama Elgara melepaskan talinya.


Elgara mendekatkan wajahnya pada telinga Ayra. "Gue bakal biarin lo pulang, tapi ada syaratnya," ucap Elgara, kemudian berdiri tegak.


"A-apa?" tanya Ayra.


"Istirahat—temui gue di kelas. Kalo enggak, gue sekap lo di sini—ditemenin mereka," ucap Elgara, kemudian melirik ke arah temannya yang cukup brengsek terhadap perempuan.


"Oke! Gue bakalan temui lo besok di kelas. Mending gue turuti syarat lo, daripada sama mereka—dih, najis!" jawab Ayra sembari beranjak dari kursinya.


Sebelum melangkah pergi, Ayra menyerahkan jaket milik Elgara, lalu ia melangkahkan kakinya. Ayra menyempatkan untuk berhenti dan memberi jari tengah pada anak Vanoztra yang agak brengsek itu.


"Anying, dikasih jari tengah."


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Ay-Ay-Ay-Ay-Ay-Ay, panggil Ayra si jablay!" ucap Nathan, kemudian melempar kiko pada Ayra yang tengah terduduk sembari mencebikan bibirnya.


"Nat, ikut gue yuk, ke alam barzah—ada wahana baru di sana! Cocok buat manusia minus akhlak kayak lo!" ketus Ayra sembari mendelik sebal.


Gadis itu membuka kikonya dan langsung meneguk tiga kiko sekaligus. Setelah habis, Ayra menatap Nathan kembali.


"Eh, emang benerkan? Yang mata-matai basecamp Vanoztra—anak Alaskar?" tanya Ayra.


"Yoi. Gue yang udah suruh mereka. Gue gak diam aja Ay, gue juga bantu lo buat hancurin Vanoztra. Jadi gue suruh mereka buat mata-matai basecamp Vanoztra."


"Dengan begitu mereka pasti bahas soal strategi penyerangan. Karena mereka gak akan tinggal diam. Dan itu memudahkan lo untuk mendapatkan info yang sangat penting," jelas Nathan sembari menyeringai.


"Strategi lo udah bagus, tapi otak lo terlalu dongo! Malah telepon gue jadi gagal sialan!" Ayra menekankan kata dongo.


"Gak apa-apalah Ra, masih ada hari besok," ucap Gerald yang diacungi jempol oleh Nathan.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Semalam hingga kini Ayra terus diliputi rasa penasaran soal syarat Elgara. Pandangannya terus menatap pada jam. Berharap jam berputar dengan cepat menuju jam istirahat.


"Lo kenapa, Ra?" tanya Nana.


"Enggak. Gak apa-apa." Ayra kembali mencatat materi yang ada di papan tulis.


Ayra mendongakkan kepalanya setelah bel istirahat berbunyi. Dengan tergesa-gesa, ia memasukkan alat tulis ke dalam laci meja. Membuat Nana mengernyit heran.


"Ayo gengs! Kita makan ..." ucap Shafira sembari menggeliatkan tubuhnya.


"Oh iya, gue bawa—"


"Mau kemana sih, tuh anak?" tanya Shafira.


"Entah, dia kayak nunggu sesuatu. Ya udah kita susul dia aja," sahut Nana.


Ayra berlari menyusuri koridor menuju kelas Elgara. Sesampainya di kelas XII IPA D, ia mengedarkan pandangannya mencari Elgara, tapi ternyata cowok itu tidak ada di kelas.


"Kok gak ada sih. Dia lupa apa gimana?" tanya Ayra berbicara sendiri.


"Ayra!" panggil raja, ketua tim basket SMA Bintang Negara.


"Ya?" sahut Ayra.


"Lo cari Elgara?" tanya Raja yang diangguki Ayra.


"Dia di kantin. Tadi dia suruh gue buat kasih tau lo," jelas Raja.


"Oke, thanks."


Tanpa berlama-lama lagi, Ayra langsung berlari keluar kelas menuju kantin. Banyak orang yang memperhatikan dirinya, tapi Ayra tak menggubris. Setibanya di kantin, Ayra langsung mengedarkan pandangannya mencari Elgara.


Tapi sialnya, lagi-lagi gadis ini tidak menemukan Elgara. Dengan napas terengah-engah, Ayra berjalan untuk menghampiri sahabatnya yang tengah makan.


'Di mana sih tuh cowok! Nyusahin banget. Bodo amat, deh! Mending gue makan daripada lari-larian cari orang gak jelas.'


"Ra, lo dari mana sih? Kita cariin," tanya Shafira setelah Ayra duduk di kursi sembari menyimpan nasi goreng di atas meja.


"Iya, lo dari mana?" tanya Maudy.


"Ada apa sih, Ra? Lagi ada sesuatu, ya?" tanya Nana.


"Gue tadi habis dari UKS minta obat. Maag gue kambuh," dusta Ayra, kemudian meniup-niup nasi gorengnya.


Baru tiga suap Ayra memasukkan nasi gorengnya ke dalam mulut. Ponselnya bergetar tanda notifikasi chat masuk. Ayra membuka laman chat-nya.


+62871××××××××


Lo di mana?


Lama banget nyamperin gue nya. Buruan ke Warbah, gue kasih waktu 5 menit Kalo enggak siap-siap aja lo, gue sekap.


"Argghhh! Nyusahin banget sih jadi orang! Awas aja kalo gak ada di sana!" teriak Ayra kesal.


"Siapa yang nyus—"


Belum sempat Maudy bertanya, gadis itu  berlari keluar kantin meninggalkan sahabatnya dan juga nasi gorengnya yang masih banyak. Ketiga sahabatnya menggelengkan kepala serentak.


"Aneh banget dia hari ini," ucap Nana yang diangguki Maudy dan juga Shafira.


"Sayang banget ini nasi gorengnya, ih. Gue makan aja, deh." Shafira menarik nasi goreng ke arahnya.


Sebelum makan, Shafira izin terlebih dahulu, "Ra, nasi gorengnya buat gue, ya?" tanya Shafira entah pada siapa.


"Iya, buat lo aja habisin," jawab Shafira sendiri, kemudian memakan nasi goreng tersebut.


"Gak waras lo, nanya sendiri—dijawab sendiri," ucap Nana.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Elgara tersenyum saat melihat Ayra berjalan masuk ke Warbah. Dengan napas yang terengah-engah, Ayra menatap tajam Elgara sembari mengumpat di dalam hati, sedangkan cowok itu tersenyum manis padanya.


"Duduk," titah Elgara sembari menarik lengan Ayra.


"Eh, ada Ayra. Yang lain kemana, Ra?" tanya Mario.


"Di kantin," jawab Ayra singkat.


"Kenapa gak lo ajak ke sini sih, Ra? Gue kangen sama Shafira," ucap Anggara.


"Ya, lo ke sana aja ke kantin. Lagian gue buru-buru ke sininya gara-gara cowok ini nih—" Ayra menunjuknya dengan lirikan mata, "Nyebelin!"


"Lo tuh ya, El, mau ngasih syarat, apa mau nyuruh gue maraton, sih? Gue sampai lari-larian cari lo dan lo tau? Gue sampai bohongin satpam demi bisa ke Warbah!" jelas Ayra sembari mendelik sebal.


"Biar ada rintangannya sedikit jadi seru." ucap Elgara.


"Seru mata lo! Udah buruan apa? Gue mau makan laper tau!" ucap Ayra.


"Lo belum makan?" tanya Elgara.


"Ya belum lah, dongo! Gimana mau makan, lo nyuruh gue buru-buru ke sini," jawab Ayra dengan nada ngegas.


Tentu cemas saat mendengar Ayra belum makan. Laki-laki itu pun menyodorkan mangkuk berisi mie pada Ayra dan juga es jeruknya. "Nih, makan aja, belum gue makan, kok," ucap Elgara.


"Gak mau."


"Makan Ra, tadi lo bilang laper," ujar Elgara sembari menatap Ayra dengan lekat.


"Gak mau. Gue gak mau mie!" jawab Ayra sembari menyodorkan mangkuknya ke Elgara.


"Ya udah mau makan apa? Gue pesenin," tanya Elgara.


"Bukan masalah mau makan apa, tapi gue gak mau makan bareng lo! Buruan syaratnya apaan?"


Kali ini kesabaran Ayra sudah diambang batas. Sekali lagi cowok ini membuatnya kesal— siap-siap saja botol kecap dan saos melayang ke arahnya. Elgara menyendokkan mie, kemudian ia menyodorkan sendok pada mulut Ayra.


"Makan atau gue—" Ayra langsung melahap mie tersebut.


"Pintar," ucap Elgara.


Ayra mengunyah mie sembari menatap tajam Elgara. Dirasa-rasa mie nya enak juga, pikir Ayra. Tanpa gengsi, ia menarik mangkuknya, kemudian melahap mie nya kembali.


"Syaratnya gak berat-berat, kok. Gue cuma pengen—lo jadi pacar gue. Mau lo terima, mau lo tolak pokoknya mulai detik ini lo pacar gue," jelas Elgara.


Ucapan itu berhasil membuat Ayra membelalakkan matanya. Sendok yang dipegang pun sampai terjatuh pada mangkuk. Ayra menggeleng cepat.


"KOK SYARATNYA GITU, SIH?!" teriak Ayra.


Keempat teman Elgara, serentak langsung menoleh ke arahnya. Baru kali ini mereka mendengar Elgara mengutarakan isi hatinya dengan ucapan yang serius. Biasanya laki-laki ini mengutarakan isi hatinya, hanya lewat gombalan saja dan terdengar hanya main-main.


"Langsung dijedor!" ucap Mario sembari bertepuk tangan.


"Edan euy!" teriak Brio.


"Rusuh amat lo, El, kalem aja kali. Kayak gue dong," ucap Anggara sembari menaikkan dagunya sombong.


Anres menoyor kepala Anggara. "Kayak gue, kayak gue. Cewek tuh butuh kepastian bukan cuma harapan!" ketus Anres.


Ayra menggelengkan kepalanya cepat sembari menatap Elgara. "Enggak. Gue gak mau jadi pacar lo! Gak ada syarat lain apa?!"


"Ingat ucapan gue tadi—mau lo terima, mau lo tolak. Pokoknya mulai detik ini, lo pacar gue. Do you understand, baby?" tanya Elgara.