
"Lucu banget kalungnya. Bodo amat deh, mau dari siapa juga yang penting ini kalung buat gue," ucap Ayra sambil memasukkan kembali kalungnya pada kotak, kemudian menyimpan kotaknya ke dalam tas.
Elgara dan keempat temannya tengah menongkrong di parkiran mereka masih membahas soal Caymin. Hingga saat ini mereka belum menemukan siapa ketua Caymin. Hal itu membuat seluruh anggota Vanoztra semakin serius untuk mencarinya.
"Dimana pun mayat disembunyikan pasti ketemu, apalagi manusia hidup—yang banyak geraknya pasti lebih mudah ketemunya," jelas Brio, kemudian ia mengambil kuaci di saku seragamnya.
"Widihhh ... bisa bijak juga lo, gas elpiji!" ucap Anggara sembari melempar topi ke arah Brio.
"Babi!" ketus Brio sembari melempar topinya kembali ke arah Anggara.
"Udah bagus Mami gue ngasih nama Brio Erlano. Lo pada panggil gue gas elpiji, embrio, nanti apa lagi?!" tanya Brio.
Serentak mereka tertawa terbahak-bahak. Setiap kali Brio ngegas bukan membuat mereka takut atau marah, tapi malah membuat mereka tertawa kencang.
"Gak kebayang, kalo Brio nikah sama Nana. Terus mereka ribut, wah ... gas elpiji 12 kg disatuin sama petasan mercon isi 100— meledak tuh rumah," ucap Mario di akhiri tawaan serentak.
"Bukan satu rumah aja, satu kota meledak!" sahut Anres sembari memukul lengan Brio yang ada di sampingnya.
"Cinta aja enggak, apalagi nikah," ucap Brio.
"Bullshit! Awas aja kalo nanti lo jadian sama Nana. Gue ledek lo habis-habisan," ujar Mario.
Elgara menoleh ke samping setelah dirasa tangannya ada yang menggandeng. Benar saja, cewek dengan rambut pendek sebahu tengah menggandeng lengan Elgara.
"Antar gue ke kelas, yuk, El," pinta Mega sembari bergelayut di lengan Elgara.
"Sadar diri napa, Meg," ucap Mario yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Mega.
"Suka-suka gue aja kali, huh! Ayo El," sahut Mega, kemudian menarik Elgara untuk berjalan bersamanya menuju kelas.
Semua orang memusatkan perhatian pada Elgara dan juga Mega. Rasa percaya diri yang tinggi berkobar di jiwa Mega setiap berjalan dengan Elgara. Siapa pun yang berjalan di samping cowok bermata elang ini, detik kemudian akan menjadi famous di sekolah.
Bruk!
"Aduh!" teriak Mega.
"Ma-maaf, a-aku gak sengaja," ucap Alia, kemudian ia meraih beberapa snack yang terjatuh, lalu memasukkannya kembali pada tas.
"Jalan tuh lihat-lihat dong, Alia! Gimana sih lo!" bentak Mega, kemudian mendorong tubuh Alia.
"Ma-maaf. Tadi aku—ta-tadi aku gak fokus jalannya," ucap Alia sembari menunduk.
Elgara mendongakkkan kepala Alia kasar sembari menatap datar. "Sekarang gagap lo? Biasanya bisu gak bisa ngomong. Banyak banget kekurangan lo jadi manusia. Miris," ucap Elgara kemudian ia melenggang pergi, disusul oleh Mega.
"Lo kalo gak becus, gak usah main!"
"Siapa yang mau guna-guna Alia? Orang dia nya aja gak berguna."
"Banyak banget kekurangan lo jadi manusia. Miris."
'Segitu bencinya kamu sama aku, El? Padahal aku gak pernah usik kamu, tapi kata-kata kamu selalu bikin aku sakit—bahkan sakit juga gak cukup buat didefinisikan.'
Sembari menunggu bel masuk berbunyi. Fourangels memilih bermain ular tangga. Keempat gadis itu terlihat begitu bahagia bermain ular tangga tersebut.
Sebelum giliran Ayra bermain, gadis itu melirik ke arah jendela. Sinar matahari di pagi hari menyinari wajah Ayra sehingga wajah gadis itu terlihat sangat cerah. Sudah menjadi kesukaannya memandang langit pagi, siang, apalagi sore.
Deg!
Lagi-lagi hatinya terasa tercabik-cabik saat melihat Mega tengah menggandeng tangan Elgara. Raut wajah laki-laki bermata elang itu tampak tak risih dengan sikap Mega padanya.
'Dia siapa lo sih, El? Gue gak suka lihat dia sama lo.'
Kali ini Ayra akui dirinya merasa cemburu melihat Elgara bersama dengan orang lain. Pandangan Ayra terus mengikuti langkah mereka hingga tak terlihat lagi.
Bersamaan dengan air mata Ayra yang mengalir, Elgara kembali berjalan ke dekat jendela, ia membungkuk sejenak untuk meraih gelang Mega yang terjatuh.
Saat Elgara berdiri tegak, ia menyempatkan untuk melirik ke arah jendela—di mana Ayra sedang menatapnya dengan mata yang dipenuhi air mata. Sadar Elgara menatapnya dengan cepat Ayra menghapus air mata tersebut.
"Ra, giliran lo," ucap Shafira sembari menyerahkan dadu.
Ayra mengangguk, lalu ia meraih dadu di tangan Shafira. Setelah angkanya tercantum pada dadu, Ayra segera menghitung sesuai dengan angka pada dadu.
"3, 4, 5. Yah ... turun," ucap Ayra, kemudian ia mencebikan bibirnya.
"Ayra," panggil Alia.
Sontak Ayra menoleh ke samping, begitu pun dengan keempat temannya yang ikut menoleh. Alia berdiri di samping Ayra, kemudian menyerahkan sebuah tas pada Ayra.
"Nih, buat kamu," ucap Alia sembari tersenyum.
Ayra menerima tasnya, ia membuka tas tersebut yang berisi beberapa macam snack, "Gila banyak banget snack nya. Ini buat gue semua?" tanya Ayra yang diangguki Alia.
"Makasih ya, makasih banyak," ucap Ayra sembari tersenyum lebar.
"Eh, by the way ini buat kita juga, kan?" tanya Maudy.
"Apaan ini punya gue!" ketus Ayra.
"Bagi-bagi dong!" ucap Shafira.
"Gue sumpahin lubang hidung lo sempit kalo pelit!" ujar Nana.
"Ya udah kalo gitu, aku ke sana ya," pamit Alia yang diangguki serentak.
Ayra mulai mengeluarkan beberapa snack dari tas, kemudian ia membagi rata pada ketiga temannya. Mereka berempat begitu senang karena snack ini bisa menjadi alat penghilang ngantuk saat pelajaran sejarah nanti.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Dari malam hingga matahari terbit cowok bermata elang ini duduk di hadapan komputer, ia sama sekali tidak tidur. Yang ada Elgara sibuk mencari tau soal gangster Caymin.
"BANGSAT!"
"Aargghh! Siapa sih pemimpin mereka? Gak ada satu orang pun tau dan gak ada sosial media tentang mereka."
Elgara menghela napas. "Udah pagi aja. Untung hari Minggu jadi gue bisa tidur sekarang. Hah ... gue lupain sejenak soal gangster sialan itu." Elgara beranjak dari kursinya sembari menggeliatkan tubuh.
Detik kemudian ia menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Perlahan matanya memejam dan Elgara mulai memasuki dunia mimpi. Saat dirinya sudah tertidur pulas beberapa menit yang lalu, ia terpaksa terbangun karena seseorang menutup wajahnya menggunakan selimut.
"Pengap woi! Siapa sih, anjir? Ganggu tidur mulu!" ketus Elgara.
"Udah jam 10, bangun! Lo mau jodohnya tante-tante?" tanya Mega.
Setelah mendengar suara Mega, Elgara langsung menyingkirkan selimutnya. Napas Elgara terengah-engah, ia menatap tajam ke arah Mega, sedangkan cewek itu tersenyum manis.
"Ganggu banget sih, lo!" ketus Elgara sembari menjitak kepala Mega.
"Embung! Gue ngantuk Meg, gak tidur semalam. Lo sendiri aja ke cafe nya," ucap Elgara, kemudian ia membaringkan tubuhnya kembali. (Gak mau)
"Apaan sendiri? Gue tuh gak mau sendirian. Anti sen-di-ri! Ayolah, El, please temenin gue ya," pinta Mega sembari menarik-narik tangan Elgara.
"Lo masa tega sih biarin gue jalan sendiri. Nanti kalo ada yang jahatin gue gimana?" tanya Mega.
Elgara berdecak kesal, ia terduduk kembali dari baringnya. Percuma jika Elgara menyuruh Mega pergi atau menyuruh Mega diam. Karena cewek itu kalo ada maunya gak boleh enggak.
"Ya udah iya, gue mandi dulu. Lo tunggu di sini jangan sentuh barang satu pun," ucap Elgara sembari menggaruk kepalanya, lalu ia menggaruk keteknya.
Ucapan Elgara seolah hanya radio rusak. Kini Mega berjalan ke arah meja belajar Elgara, ia meraih benda milik Elgara. "Apa ini? Kok lucu banget sih kalungnya. Buat gue ya, El?" tanya Mega.
"Simpan!" titah Elgara, kemudian ia berjalan ke arah Mega.
"Ih ... buat gue lah, lucu banget, please!" ucap Mega sembari mencebikan bibirnya berharap Elgara memberinya.
"Enggak!" ketus Elgara sembari merebut kotak tersebut dari tangan Mega.
"Ck! Pelit banget, sih!" ketus Mega.
Gadis itu meraih ponsel Elgara, kemudian ia mengarahkan kamera ponsel ke arah dirinya. "Happy weekend guys! Kalian weekend sama siapa? kalo gue sama Elgara ..." ucap Mega dengan raut wajah ceria.
"Buat followersnya Elgara. Lihat nih, cowok yang lo pada sebut pangeran. Jelek banget kalo belum mandi, iuhhhh." Mega mengarahkan kamera ponselnya ke arah Elgara.
"Katarak mata lo, Meg!" ketus Elgara sembari membekap hidung Mega menggunakan tangannya.
"Hueekk! Anjir, bau banget tangan lo," ucap Mega sembari mengipasi sekitar hidungnya.
"Bekas garuk ketek, mampus! Mabok bawang lo!" sahut Elgara, kemudian berjalan keluar kamar.
"Ihhhh ... dasar jorok!"
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Baca novel, maraton drakor, main ponsel, coba resep makanan. Keempat itu adalah cara Ayra menghabiskan waktu weekend, ia keluar rumah hanya pagi untuk berolahraga dan sore untuk jalan-jalan sekitar komplek.
Kini Ayra tengah memainkan ponselnya dengan tubuh yang dibalut oleh selimut. Matanya berbinar saat melihat Elgara membuat story Instagram.
Ternyata story Instagram Elgara menampilkan sebuah video Mega bersama dirinya. Ayra menekuk wajahnya—kesal. Saat melihat video tersebut. Tak mau membuat hatinya terlalu sakit, Ayra mematikan ponselnya.
"Ih! Siapa sih tuh cewek?! Nempel-nempel mulu sama Elgara kayak bulu babi!"
"Aaaaaa! Kesel! Kesel! Keseeeellll!" teriak Ayra sembari memukul tempat tidurnya beberapa kali.
"Gak suka lihatnya. El ... lo tau gak sih gue cemburu?"
Ayra terdiam sejenak, kemudian ia meringis pelan. "Kenapa jadi gini? Ih! Kenapa gue jadi gini sih?! Tau ah gue cemburu ..."
Ayra terduduk dari tengkurapnya, ia menghela napas panjang. Setelah itu ia membuka ponselnya kembali untuk melakukan panggilan video bersama ketiga temannya. Mereka bertiga menjawab panggilan video tersebut.
"Etdah, itu alis sama bibir kayak angry bird. Kenapa lo?" tanya Maudy.
"Jelek anjir lo kalo gitu!" ucap Nana.
"Kenapa sih babe? Siapa yang berani nyakitin lo, biar Shafira rontokin gigi nya," ujar Shafira.
"Tau ah gue lagi kesel. Ketemuan yuk, di cafe dekat sekolah," ajak Ayra.
"Skuy!" jawab mereka bertiga serentak.
"Nah, gini kek, ada yang ngajak main biar gue mandi," ucap Maudy.
"Mandi hanya untuk orang yang kotor!" ujar Nana.
"Badan gue waterproof jadi gak bisa kena air," ucap Shafira.
"Perawan jorok lo pada. Ya udah kita siap-siap, bawa mobil masing-masing ya. Jadi langsung ketemuan di cafenya, bye!"
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Sesampainya di cafe mereka bertiga langsung bersenang-senang. Mulai dari memesan banyak makanan dan berfoto. Bermain bersama ketiga sahabatnya membuat Ayra sedikit lupa soal rasa cemburunya pada Elgara tadi.
"Lo lagi bete ya, kenapa?" tanya Shafira pada Ayra yang tengah mengaduk-aduk minumannya.
"He-em. Kalian pernah gak sih yang awalnya benci sama seseorang tiba-tiba jadi suka, bahkan lebih dari kata suka?" tanya Ayra.
Nana melepaskan ikat rambutnya, kemudian ia menarik kedua tangan Shafira, lalu mengikatnya menggunakan ikat rambut. "Diam lo gak usah gebrak meja," ucap Nana yang diacungi jempol oleh Ayra dan Maudy.
"Pake borgol sekalian!" ketus Shafira.
"Jadi Ra, lo lagi dapet karma sekarang?" tanya Maudy yang diangguki oleh Ayra.
"Maybe. Pokoknya rasa benci gue sama dia berubah jadi rasa suka. Di saat dia suka gue, gue pengen dia pergi, tapi setelah dia pergi, gue berharap dia suka gue lagi," jelas Ayra.
"Nah itu, makanya kalo benci sama seseorang jangan berlebihan nanti jadi cinta," ucap Shafira.
"Hem, ini soal Elgara ya, Ra?" tanya Nana.
"Uhukkk!"
Ayra yang sedang minum tersedak karena pertanyaan Nana, ia menggelengkan kepalanya cepat. "B-bukan kok, gue kan gak sebut nama," dusta Ayra.
"Alahhh ... ngaku aja lo cucu dugong! Tanpa lo sebut nama aja udah ketebak, ya, gak?" tanya Nana yang diangguki serentak oleh Maudy dan Shafira.
"Apaansih! Ini bukan soal Elgara, gue cum–"
Deg!
Sakit, definisi keadaan hati Ayra sekarang. Lantara dua orang yang Ayra lihat ialah Elgara dan Mega. Mata Ayra terasa memanas sebisa mungkin, ia menahannya jangan sampai terjatuh di hadapan teman-temannya.
Di saat ia akan menenangkan diri dari Elgara, tapi kenapa cowok itu malah ada di hadapannya bersama dengan orang yang Ayra tidak suka. Ketiga sahabatnya serentak menatap ke arah Ayra yang tengah terdiam.
"Hei, lo baik-baik aja?" tanya Shafira.
Tak menjawab, Ayra beranjak dari kursinya, ia berjalan menuju keluar cafe. Membuat ketiga sahabatnya bertanya-tanya. Tepat di samping Elgara, Ayra berhenti.
"Lo jahat," gumam Ayra, kemudian ia berlari keluar cafe.
"Ayra tunggu!" teriak ketiga gadis tersebut serentak.
'Why?' Elgara mengerutkan keningnya.