
"Gue kangen banget sama lo, Zenne," ucap Ayra sembari memeluk sahabatnya yang di sekolah lama.
"Sama gue juga. Eh, sekarang lo gimana di sekolah baru? Udah dapat teman?" tanya Zenne.
Ayra melepas pelukannya, ia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum ceria. "Udah dong, nanti kapan-kapan gue ajak lo main sama sahabat baru gue," ucap Ayra yang diangguki Zenne.
"Kenalin ke gue, Ay, temen-temen lo," ucap Nathan, kemudian meneguk segelas bir.
"Kagak ya, dongo! Gue gak mau sahabat gue jadi korban buaya, lo!" ketus Ayra sembari mendelik.
"Sahabat baru lo, kalo gak salah Fourangels, kan?" tanya Satria.
"Iya, kok lo tau?" tanya Ayra kembali pada Satria.
"Taulah anjir, gue fans nya Fourangels. Beuh! Cantik-cantik semua isinya," jawab Satria.
"Yang waktu itu lo tunjukkin ke kita-kita, Sat?" tanya Gerald yang diangguki Satria.
"Berarti—lo ngefans juga dong sama gue? Gue kan sekarang anak Fourangels, juga," ucap Ayra, kemudian mengibaskan rambut panjangnya.
"Kecuali lo, ya, dongo!" ketus Satria.
"DONGO!" ucap anak Alaskar yang lainnya pada Ayra—serentak.
"HEH!" ketus Zenne sembari menjitak kepala mereka secara bergantian.
Ayra mencebikan bibirnya, "Gue aduin lo pada ke Kak Micho. Biar lo semua digentanyangin."
Pandangan gadis itu beralih menatap ke arah depan—ke arah laki-laki yang tengah menatapnya tak jauh dari jaraknya. Ayra membelalakkan mata saat ia tersadar siapa cowok tersebut.
'Damn it! Elgara?'
Tak lama, Ayra beranjak dari kursi membuat semua teman-temannya memasang mata ke arah Ayra. Kini jantung Ayra berdetak lebih kencang. Saat dirinya akan berjalan—sialnya tangan Ayra dicekal oleh Zenne.
"Lo mau kemana, Ra?" tanya Zenne.
"Ng ... gue—gue mau ke toilet. Gue mau ke toilet sebentar," sahut Ayra yang kemudian diangguki Zenne.
Ayra membalikkan tubuhnya. Saat ia akan melangkahkan kaki, tiba-tiba wajahnya mengenai dada seseorang. Sontak Ayra mendongakkan kepalanya. Pandangan mereka berdua saling bertemu.
"Lo lagi ngapain di sini?" Suara bariton itu membuat jantung Ayra semakin berdebar.
"Kok—lo bisa ada—di sini?" tanya Ayra.
"Gue nanya sama lo, lo lagi ngapain di sini?" tanya Elgara, kemudian laki-laki bermata elang itu menggeser tubuh Ayra, agar ia bisa melihat orang yang berada di belakang Ayra.
Sorot mata Elgara menajam saat ia menatap Nathan dan beberapa anak Alaskar lainnya. Rahangnya pun mengeras hingga gemeletuk giginya terdengar. "Lo—"
"Enggak! Gue—gue diajak ke sini sama—sahabat gue yang di sekolah lama. Sama dia," jelas Ayra, kemudian menunjuk Zenne.
"Iya, gue yang ajak Ayra ke sini," dusta Zenne.
Ayra dan Zenne sudah lama berteman sejak SMP. Maka dari itu, Ayra dan Zenne punya ikatan batin yang kuat. Kerap kali mereka berdua bisa saling memahami tanpa perlu menjelaskan.
"Pulang," titah Elgara sembari menarik lengan Ayra.
"Heh! Lo siapa nya dia?!" tanya Nathan yang kini beranjak dari kursinya, kemudian berjalan ke arah Elgara dan Ayra.
"Itu Elgara sama—Alaskar, wei! Samperin!" titah Anres, kemudian ia berjalan menghampiri Elgara, disusul oleh yang lainnya.
"Gue emang bukan siapa-siapa dia, tapi tempat ini bahaya buat dia," jelas Elgara santai, tetapi sorot matanya tajam.
Nathan terkekeh kecil, kemudian ia menatap tajam ke arah Elgara. "Gue tau tempat ini bahaya buat dia, tapi lebih bahaya lagi kalo dia pulang sama cowok bajingan kayak, lo!" ketus Nathan sembari menunjuk wajah Elgara.
Dengan cepat Elgara menepis jari Nathan yang menunjuk wajahnya. Tangan Elgara mengepal kuat hingga urat di tangannya tercetak jelas.
Bugh!
Dalam hitungan detik Elgara berhasil melayangkan pukulan—tepat pada wajah Nathan. Nathan hampir terjatuh jika teman-temannya tak menopang tubuhnya.
Nathan berdiri tegak kembali, ia mengibaskan jaketnya. Detik kemudian Nathan menarik kerah jaket Elgara cukup kencang. Tangan kanannya bersiap melayangkan pukulan.
"STOP!" teriak Ayra sembari berusaha melepaskan tangan Nathan yang menarik kerah jaket Elgara.
"Jangan bikin keributan di sini, Nat!" tegas Zenne menatap secara bergantian pada Nathan, lalu Elgara.
"Ayo pulang," ajak Elgara sembari mencekal tangan Ayra.
Ayra melepaskan cekalan tangan Elgara, "Gue bisa pulang sendiri." Gadis itu pun melenggang pergi keluar clubbing.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Saat sedang menyetir mobil—pandangan Ayra sesekali melirik ke arah jam tangan. Waktu semakin cepat berputar membuat gadis ini terus menambah kecepatan mobilnya, agar segera tiba di sekolah.
Bukan hanya tiba di sekolah, tapi sepertinya segera tiba juga di akhirat.
Akhirnya ia sampai di depan gerbang sekolah. Ayra turun dari mobil, ia berjalan mendekat ke arah gerbang.
"Pak Usep! Bukain gerbangnya dong!" teriak Ayra lewat sela-sela besi pagar.
"Gak bisa. Kamu udah telat 15 menit. Pulang aja sana," jawab Pak Usep.
"Aduh, Pak ... masa tega sih sama saya. Bukain dong ... saya kan baru kali ini telatnya. Buka ya, Pak, please!" ucap Ayra sembari menyatukan kedua tangannya di depan dada.
"Ya sudah. Kalo kamu maksa," ujar Pak Usep.
Ayra tersenyum lebar. Ia pun segera masuk kembali ke dalam mobil dan pak Usep segera membuka gerbangnya. saat Ayra memarkirkan mobil, ternyata Pak Usep mengikutinya.
"Eh ... kenapa, Pak?" tanya Ayra saat Pak Usep mencekal lengannya.
"Kamu bisa masuk, tapi kamu harus dihukum!Ikut saya ke ruang BK!" pinta Pak Usep.
"Loh, kok gitu sih, Pak? Jangan dong saya gak mau dihukum ..." ucap Ayra sembari menarik lengannya agar terlepas dari cekalan Pak Usep.
"Gak bisa! Pokoknya ikut saya!"
"Ada apa ini, Pak?" tanya Bu Tarti, guru BK.
"Ini Bu, anak ini tadi terlambat, tapi dia ngotot pengen masuk dan gak mau dihukum," jelas Pak Usep.
"Bu ... saya kan cuma telat lima belas menit. Jadi gak apa-apa dong," ucap Ayra.
"Apa? Cuma kata kamu! Sekarang juga kamu pel seluruh koridor kelas!" titah Bu Tarti tegas.
Ayra membelalakkan matanya, "Pel seluruh kori-dor? Tapikan Bu—"
"Gak ada tapi-tapian! cepat!" bentak Bu Tarti.
Gadis itu pun menghela napasnya sembari cemberut. Ia menyimpan tasnya di mobil, kemudian berjalan mengikuti Bu Tarti untuk mengambil alat kebersihannya.
Satu jam kemudian Ayra telah selesai mengepel lantai koridor kelas bawah. Kini ia menaiki tangga menuju koridor kelas atas. Keringat di dahi dan di pelipisnya terus bercucuran. Sesekali Ayra mengelapnya menggunakan tangan.
"Gue masih penasaran sama yang kasih kalung ini. Siapa ya?" tanya Ayra sembari mencelupkan alat pel nya ke dalam ember berisi air.
"Waktu itu di kelas sepi gak ada siapa-siapa. Sebelum ke kelas, gue ketemu Elgara, tapi jarak dia jauh dari kelas gue, terus pas mau masuk kelas gue ketemu—" Ayra menghentikan ucapannya dan juga berhenti mengepel lantainya.
Mata gadis itu membulat sempurna, "Anres! Kalung ini dari Anres?" tanya Ayra.
"Jadi, dia suka sama—"
Karena tidak fokus dengan pekerjaannya, tubuh Ayra seketika oleng. Ia lupa bahwa di belakangnya ada tangga.
"Aaaaa!" teriak Ayra.
Grep!
Beruntung seseorang menarik lengan Ayra. Hingga tubuh Ayra berada di pelukannya. Seketika Ayra memejamkan mata, hingga detik berikutnya, ia membuka mata karena magnet pada kalungnya menempel dengan magnet pada kalung yang dipakai orang tersebut.
Ayra melirik ke arah kalungnya, lalu ia mendongak menatap wajah orang itu.
Deg!
"Makanya ngepelnya yang ikhlas," ucap Elgara seraya makin erat memeluk Ayra.
Ayra tak menjawab, ia hanya terfokus pada kalungnya. Perlahan tangan Ayra melepaskan magnet kalung tersebut sembari berkata, "Kalung ini?"
Tangan Elgara terulur mengacak gemas rambut Ayra, hingga gadis itu mencoba menghindar. Merasa rambutnya berantakan Ayra mencebikan bibirnya sembari menatap Elgara. Lagi-lagi Elgara membuat Ayra kesal, ia melepaskan ikat rambut Ayra.
"El ... kenapa dilepas! Gue lagi gerah," ucap Ayra sembari berusaha meraih ikat rambutnya dari tangan Elgara.
Elgara membalikkan tubuh gadis itu, kemudian ia menyatukan semua rambut Ayra ke dalam satu kepalan tangannya. "Gue benerin ikat rambut lo," ucap Elgara.
Pipi Ayra seketika memerah merona, gadis itu mengulum bibirnya menahan rasa ingin teriak. Jantungnya berdegup kencang dan dirasa hatinya begitu bahagia. Detik berikutnya bibirnya mengembang membentuk senyuman bahagia.
"Udah," ucap Elgara.
Ayra memegang rambutnya yang telah diikat kuda oleh Elgara. "Rapi banget," ucap Ayra.
"Gue sering ikat rambut adik gue," jawab Elgara yang di angguki Ayra beberapa kali.
"Lo lagi dihukum?" tanya Elgara yang lagi-lagi di angguki Ayra.
"Iya, terlambat 15 menit, tadi," jawab Ayra sembari kembali mengepel lantainya.
"El, kalung ini dari lo? Buat gue?" tanya Ayra.
"Iya, gue gak sengaja pas berangkat sekolah lihat kalung ini di salah satu toko. Gue suka sama kalungnya ternyata couple, ya udah gue kasih buat lo satu," jawab Elgara sembari tersenyum.
"Tadi gue kiranya dari Anres karena waktu itu gue ketemu sama Anres," ucap Ayra.
"Dia cuma antar gue," sahut Elgara.
"Mau kemana lo, El?" tanya Mario.
"Ke kelas IPA B," jawab Elgara.
"Mau ketemu, Ayra?" tanya Anggara.
Elgara menggelengkan kepalanya, "Bukan, ada urusan sama anak IPA B."
"Gue temenin ya, El," ucap Anres sembari beranjak dari kursinya.
"Ayo!"
Setelah itu mereka berdua berjalan menuju kelas IPA B. Beruntung di dalam kelas sangat sepi tak ada satu orang pun. Elgara berjalan menuju meja Ayra, ia meletakkan sebuah kotak kado.
"Bohong lo, katanya ada urusan sama anak IPA B. Tau-taunya ngasih kado buat Ayra," ucap Anres.
"Ya emang bener, gue ada urusan sama anak IPA B. Ayra, kan anak IPA B," sahut Elgara.
"Oh iya, ya, bener juga," ucap Anres sembari menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Ayo cabut!" Elgara melenggang pergi keluar kelas, tapi Anres masih terdiam di kelas.
Saat Elgara berjalan menyusuri koridor–dari kejauhan ia melihat Ayra yang baru saja tiba di sekolah. Bibir Elgara tersenyum tipis, ia terus berjalan hingga melewati Ayra.
"Lo kenal sama Nathan?" tanya Elgara.
Ayra menghentikan aktivitasnya, ia menatap Elgara sembari mengulum bibirnya, "Ng ... enggak. Nathan yang berantem sama lo kemarin malam?" tanya Ayra pura-pura tidak tahu.
"Iya," jawab Elgara.
"Ah, enggak. Gue—gue baru kenal semalam. Soalnya—dia itu—temannya sahabat gue yang kemarin—Zenne," jelas Ayra terbata-bata.
"Oh gitu. Gue kira lo kenal sama anak Alaskar. Hampir gue kira, lo bagian dari mereka," ucap Elgara.
Ayra menggelengkan kepalanya cepat, "Enggak-enggak! Gue bukan bagian dari mereka," jelas Ayra.
"Oh iya, lanjutin yang kemarin malam, Ra," ucap Elgara.
Ayra mendongak menatap Elgara, "Sebenarnya— hati gue sakit waktu lo bilang putus. Jujur, gue gak suka lihat lo sama cewek itu—gue cemburu.
Elgara tersenyum bahagia saat mendengar penjelasan Ayra.
"Kenapa?" tanya Ayra.
"Enggak-enggak. Cewek itu? Maksud lo Mega?" tanya Elgara.
Ayra mengangguk, kemudian tangannya memukul pelan dada Elgara."Iya, Mega siapa lo, sih?" tanya Ayra sembari mencebikan bibirnya.
"Dia–dia gebetan gue sebelum ada lo," jawab Elgara.
"Oh," ucap Ayra dengan raut wajah datar, kemudian gadis itu kembali mengepel lantainya.
Elgara meraih alat pel yang tak jauh dari jaraknya, lalu ia membantu Ayra untuk mengepel lantainya. Perilaku Elgara, tak digubris oleh Ayra, karena hadis itu kini tengah kesal.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
"Abah Suro yang ganteng, Mario pengen es campur dong!" teriak Mario.
"Siap kasep!" sahut Abah Suro.
"Lo ngerasa aneh gak sih, Gar, sama Ayra?" tanya Brio.
Anggara yang sedang memandikan Pou melirik ke arah Brio dengan dahi yang berkerut. "Emang Ayra, kenapa?" tanya Anggara.
"Feeling gue, Ayra bukan cewek biasa deh," jawab Brio.
"Iya emang. Sebelas duabelas kayak Nana," ucap Anggara, kemudian ia kembali menatap layar ponselnya.
"Bukan gitu, anying! Yang bikin gue aneh tuh kemarin malam dia ada di club terus gabung sama anak Alaskar," jelas Brio.
"Nah, gue juga aneh soal itu! Waktu Elgara ajak Ayra pulang, si Nathan ngamuk," ucap Mario.
Anggara kembali menoleh pada teman-temannya. "Atau jangan-jangan—si Ayra bagian dari Alaskar."
"Lo semua budeg? Kemarin si Ayra jelasin kalo dia diajak ke club sama temannya. Itu artinya bagian dari Alaskar itu temannya," ucap Anres mencoba menjelaskan agar mereka tidak buruk sangka.
"BRIO!" teriak Elgara sembari berjalan ke arah Brio. Wajah laki-laki bermata elang itu memerah padam—penuh emosi.
"Ada apa, El?" tanya Brio.
"IKUT GUE KELUAR SIALAN!" titah Elgara sembari menarik kerah Brio agar laki-laki itu berdiri.