Vanoztra

Vanoztra
14. GUE GAK CINTA!



Di ruang tengah Ayra sedang duduk santai sembari menonton TV. Ditemani yupi varian favoritnya exotic mango. Sesekali gadis itu memakan yupinya dengan pandangan yang tak lepas dari TV.


Brak!


Pintu terbuka cukup kencang membuat Ayra tersentak kaget. Di ambang pintu seorang laki-laki berjalan terhuyung-huyung ke arahnya dengan wajah penuh dengan luka lebam.


"AYRA!" teriak Nathan, kemudian ia terjatuh ke permukaan lantai.


Ayra pun segera beranjak dari kursi, menatap cemas ke arah Nathan. Tak banyak bicara Ayra langsung menarik salah satu tangan Nathan, kemudian mengalungkan ke pundaknya. Ayra memapah Nathan ke arah sofa.


Beberapa saat kemudian, Ayra berjalan menghampiri Nathan dengan sebaskom air dingin dan juga handuk kecil di tangannya. Ayra terduduk di samping Nathan, gadis itu memperhatikan wajah Nathan sejenak sebelum mengompres luka lebamnya.


"Akh!" Nathan meringis saat Ayra mengompres luka lebam di bagian ujung bibirnya.


"Lo habis dikeroyok siapa? Sampai parah gini lukanya," tanya Ayra sembari telaten mengompres lukanya.


"Vanoztra." Jawaban Nathan membuat Ayra terhenti melakukan aktivitasnya, ia menatap Nathan serius.


Nathan menenggakkan tubuhnya, kemudian mengambil handuk kecil di tangan Ayra, ia memilih mengompres sendiri agar tidak terlalu sakit. "Lo harus segera hancurin Vanoztra, gue udah muak sama mereka!" ucap Nathan dengan napas yang memburu.


Cewek itu mengepalkan tangannya erat. "Brengsek! Atas dasar apa mereka keroyok, lo?" tanya Ayra kembali.


"Karena Alaskar mata-matai basecamp Vanoztra. Posisi gue lagi sendiri lewat jalan sepi. Mereka langsung nyerang gue gitu aja, lo bayangin Ay, gue sendiri dan mereka ratusan. Mana mungkin gue bisa lawan mereka," dusta Nathan.


Sesekali cowok itu menyeringai tipis karena merasa senang Ayra mudah percaya padanya. Mendengar penjelasan Nathan emosi Ayra semakin meluap.


GAK BISA GITULAH! KOK BERANINYA KEROYOKAN SIH?! SATU YA, LAWAN SATU!" ucap Ayra dengan nada tinggi, kemudian ia menutup mulut sembari melihat ke arah kamar orang tuanya.


Nathan menjitak pelan kepala Ayra. "Gak usah teriak, bego! Nanti Tante Regina sama Om Tomi denger lo diusir, mampus!"


"Habisnya gue kesel banget sama mereka!" ucap Ayra sembari memakan yupi nya kembali.


Ayra menghela napas sejenak. Detik kemudian, ia menoleh kembali ke arah Nathan. "Pokoknya lo tenang aja, Nat. Tinggal tiga misi lagi menuju keberhasilan menghancurkan Vanoztra!"


"But, kali ini lo gak usah bantu gue. Gue gak mau hal kemarin terulang dua kali. Tugas gue sekarang menjalankan misi menghancurkan Vanoztra, lo urus strategi penyerangan lebih bagus lagi agar kemenangan berada dipihak Alaskar," jelas Ayra sembari menyeringai.


"Kita harus menang karena kehebatan jangan menang karena kelicikan. Hajar mereka dengan tangan kosong, walaupun kalah setidaknya kita tidak terlalu pengecut," lanjut Ayra.


Nathan tersenyum kagum sembari mengusap beberapa kali puncak kepala Ayra. Setelah kepergian Micholas, Nathan tidak lagi menganggap Ayra sebagai saudara, tapi sebagai adik kandungnya sendiri.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Buruan, Ra," ucap Elgara yang terduduk di atas motor.


"Sabar dong! Rusuh banget sih jadi orang!" ketus Ayra sembari menatap Elgara tajam.


Elgara menghela napasnya, ia turun dari motor, lalu berjalan menghampiri Ayra. Tak mau menunggu lama, pemilik mata elang itu menarik salah satu kaki Ayra, kemudian memakaikan kaos kaki.


Deg!


Jantung Ayra berdegup kencang atas perilaku Elgara padanya. Pandangan Ayra tak lepas menatap ke arah Elgara yang kini tengah memakaikan sepatu. Beberapa detik kemudian, Ayra mengalihkan pandangan saat tak sengaja manik matanya saling bertemu.


"Lo baru punya dua kaki aja udah lama di sepatunya. Gimana kalo punya kaki kayak kelabang?" omel Elgara, kemudian laki-laki ini berdiri kembali.


"Bodo amat, gak peduli, gak mikirin. Karena gak mungkin juga gue punya kaki kayak kelabang," sahut Ayra.


"Berdiri," titah Elgara sembari mengulurkan tangannya membantu gadis itu untuk berdiri.


Seperti yang diucapkan oleh Elgara kemarin, mereka akan berangkat ke sekolah bersama hari ini. Tak mau Ayra berangkat duluan, Elgara datang ke rumah Ayra tepat pukul lima pagi. Di mana gadis itu baru terbangun dari tidurnya.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di sekolah. Semua orang yang berada di sekitar sekolah memusatkan pandangannya pada Elgara dan Ayra. Apalagi di saat Elgara membantu Ayra melepaskan helm.


"Gue gak nyangka mereka pacaran."


"Kapan deketnya sih, mereka? Kok gak kelihatan ya. Tau-tau udah resmi aja pacaran."


"Gue rela kalo Elgara sama Ayra, daripada sama mantannya yang kemarin."


"Kalo gini mah gue mundur ajalah. Tipe Elgara modelan Ayra. Sadar diri gue kentang gak bisa bersaing dengan berlian."


Hampir semua anak SMA Bintang Negara membicarakan soal hubungan Elgara dan Ayra. Gosip tersebut menyebar dengan cepat, entah darimana mereka tau, padahal Elgara maupun Ayra tak mengumbar hubungannya.


"Mereka lagi gosipin apasih? Rame bener," ucap Maudy sembari berjalan bersama Nana dan juga Shafira.


Karena rasa penasarannya semakin meningkat, mereka pun memilih menghentikan langkahnya untuk mendengar sejenak, tapi tetap saja mereka tak mengerti.


"Eh, Sisca, Sisca!" panggil Nana pada salah satu perempuan yang sepertinya tau soal gosip ini.


"Ya, Na, ada apa?" tanya Sisca.


"Ini lagi ada gosip apa, sih? Rame bener," tanya Nana.


"Seriously? Kalian gak tau? Padahal ini soal sahabat kalian loh," jelas Sisca.


"Ayra?" tanya Nana, Maudy dan Shafira serentak yang langsung diangguki Sisca.


"Iya, Ayra 'kan sama Elgara jadian dari dua hari yang lalu."


"APA?!" teriak mereka bertiga bersamaan lagi.


"Kok dia gak cerita sama kita sih, anjir?" ucap Nana.


"Jahat bener gak ngasih tau," ujar Shafira.


Sepanjang koridor kelas semua melihat ke arah Ayra, ada yang menatap ramah, iri, sampai nenatap benci. Ayra memilih mengabaikannya, ia pikir mereka hanya memperhatikannya seperti biasa.


"Pagi!" sapa Ayra sembari merangkul Nana dan tersenyum ke arah dua sahabatnya.


"Lo jahat, Ra, sama kita. Kenapa lo gak cerita, sih? Padahal seharusnya kita tau soal ini," ucap Nana sembari mencebikan bibirnya.


Shafira dan Maudy mengangguk membenarkan perkataan Nana. Ayra semakin dibuat bingung dengan tatapan orang-orang dan kini pembicaraan sahabatnya.


"Gue jahat kenapa emangnya?" tanya Ayra.


"Lo jadian sama Elgara gak bilang-bilang sama kita. Kenapa, sih, Ra?" jawab Maudy.


Ayra membelalakkan matanya menatap bergantian ketiga sahabatnya. "Hah? Lo dapet info gosip darimana, anjir?" tanya Ayra.


"Hampir semua anak SMA Bira sekarang lagi gosipin hubungan lo sama Elgara. Kita juga dapet info dari mereka," jelas Shafira.


'Gak mungkin karena gue bareng sama Elgara tadi, mereka langsung menyimpulkan gue pacaran.'


"Enggak, this is a wrong! Gue sama Elgara gak pacaran. Mereka bikin gosip gitu karena—karena gue berangkat bareng Elgara tadi."


"Ngadi-ngadi tuh mereka semua. Bisa-bisanya langsung ngira gue pacaran," jelas Ayra.


Ketiga sahabatnya menatap Ayra dengan intens. Jantung Ayra sudah berdegup tak karuan, ia berharap ketiga sahabatnya ini percaya akan ucapannya. Ayra tidak mau hubungannya dengan Elgara diketahui oleh orang. Karena menurutnya hubungan ini hanya main-main.


Bukankah pacaran itu dua pihak yang saling mencintai? Tapi ini hanya satu pihak saja, bagaimana bisa dibilang pacaran.


"Iya, ya. Lagian gak pernah lihat lo PDKT sama Elgara. Yang ada lo ngamuk mulu ke dia," ucap Nana membuat hati Ayra lega, senyuman pun mengembang lebar.


"Iya, kan? Lagian kalo gue jadian juga pasti bilang, kok," ucap Ayra.


"Oh ... jadi lo emang mau jadian sama Elgara?" tanya Shafira membuat Ayra melotot.


"Heh! Bukan gitu maksud gue, maksudnya kalo gue jadian sama cowok—except Elgara," jelas Ayra.


"By the way, Ra. Gimana tuh rasanya ke sekolah bareng Elgara?" tanya Maudy sembari mengangkat alisnya berkali-kali mencoba menggoda Ayra.


Lagi-lagi ketiga sahabatnya itu senang menggodanya jika Ayra bersama Elgara. Ayra menghela napas, kemudian ia memilih melenggang pergi meninggalkan ketiga sahabatnya.


"Eh, Ra, tunggu!" ucap mereka serentak.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Kelima pemuda tengah berjalan mengendap-endap keluar gerbang sekolah. Mereka malas jika sudah pelajaran sejarah. Elgara and the geng memilih pergi menongkrong di Warbah. Tak disangka saat masuk ke Warbah ada sekitar 10 anggota Vanoztra dari sekolah yang berbeda-beda sedang bolos juga.


"El!" panggil Zino. Saat Elgara menoleh ke meja mereka, serentak mereka mengangkat satu tangannya sebagai sapaan.


Elgara berjalan menghampiri mereka, kemudian bersalaman seperti biasa. Disusul oleh yang lainnya.


"Weh, bisa-bisanya bolos berjamaah, padahal kita gak janjian, ya," ucap Anggara.


"Kan, kita sehati bro!" serentak mereka menjawab perkataan Anggara.


"Geli, sehati," Brio bergidik ngeri, kemudian ia menarik salah satu kursi untuk duduk.


"Oh iya, El, tuhkan babi lupa," ucap Denis, membuat Elgara menoleh ke arahnya sembari mengangkat satu alisnya.


"Kemarin pas selesai serang Alaskar. Hito anggota baru Vanoztra. Dikeroyok habis-habisan sekarang dia di rumah sakit, koma," jelas Denis.


Mata Elgara memerah, ia mengepalkan tangannya dan rahangnya pun mengeras hingga terdengar gemeletuk giginya. Laki-laki bermata elang ini mencoba menetralkan kembali amarahnya.


"Sial! Kenapa gak terdeteksi ke komputer atau ke handphone gue?!" tanya Elgara dengan nada tinggi.


"Dia lagi gak bawa handphone, El. Makanya kita-kita gak tau. Gue juga baru tau tadi pas keluarganya telepon," jelas Denis.


"****! Pasti ini Alaskar, kan, yang udah keroyok dia?!" tanya Elgara dengan nada tinggi.


"Bukan El, kali ini bukan Alaskar, tapi gangster Caymin," ucap Zino ikut menjelaskan.


Elgara mengernyitkan dahinya, ia baru dengar nama gangster itu. "Cimin? Itu mah cilok kotak yang pake telor," ujar Elgara.


"Caymin tolol! Diucapnya Key-main!" jelas Brio sembari ngegas yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Elgara.


"Eh, sorry-sorry, ralat tololnya, ralat. Key-main El, diucapnya," jelas Brio.


"Sekarang lebih baik kita jenguk dulu Hito di rumah sakit, sebagian-sebagian jenguknya. Nanti setelah itu baru kita urusi masalahnya," jelas Elgara yang diangguki semua.


Di saat Elgara menjelaskan soal masalah, tapi jumlah mereka tidak lengkap. Sudah menjadi tugas Anres merekam pembicaraan Elgara, lalu mengirim rekaman suara itu pada grup chat Vanoztra.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Beli baju couple, yuk! Lucu deh dipakai buat main," ucap Shafira sembari fokus melihat baju-baju di online shop.


"Kan, kita udah punya," sahut Ayra yang tengah asik meminum kiko.


"Mana?" tanya Nana dengan kening yang mengerut.


"Emang kita pernah beli?" tanya Maudy.


"Nih—baju seragam," jawab Ayra sembari menarik kecil kemeja seragamnya.


"Tapi itu bukan baju coup—ah sudahlah," ucap Shafira merasa jera.


"Makin sini otak lo makin menjadi, Ra," ucap Nana yang dihadiahi cengiran lebar dari Ayra.


Mereka melangkahkan kakinya menuju parkiran. Karena Ayra tidak bawa mobil, ia memutuskan pulang bersama Nana, daripada dengan Elgara yang membuat orang-orang semakin yakin dengan hubungannya.


"Ra, mampir dulu ke toko buku gak apa-apa ya? Gue mau beli novel," tanya Nana.


"Ayo! Gue juga pengen beli," jawab Ayra.


Dari kejauhan Elgara tersenyum melihat Ayra yang berjalan tak jauh darinya. Elgara pun segera mempercepat langkahnya menghampiri Ayra, disusul keempat temannya.


"Ayo pulang," ucap Elgara sembari menarik lengan Ayra.


Langkah Ayra terhenti begitu pun dengan teman-temannya. "Ih, apaansih! Gue mau pulang bareng Nana," ucap Ayra sembari menghempas tangannya.


"Gue ini pacar lo, Ra. Lo kenapa, sih, gak mau mulu?" tanya Elgara.


Sontak Ayra membelalakkan matanya saat Elgara berkata seperti itu. Ketiga sahabatnya pun menatap ke arah Ayra.


Sialan!


"Lo berdua pacaran, tapi ribut mulu gak ada romantis-romantisnya. Kayak gue dong sama Shafira gak pacaran, tapi always romantice," ucap Anggara sembari merangkul pundak Shafira.


Nana menatap ke arah Ayra dengan intens. "Ra, lo bohong sama kita tadi?" tanya Nana.


"Tadi lo bilang kalian gak pacaran, tapi Elgara bilang—" ujar Maudy sembari mengangkat satu alisnya.


Elgara menatap tepat pada manik mata Ayra. "Lo gak anggap hubungan kita? Padahal jelas dua hari yang lalu kita resmi pacaran, Ra. Gue serius sama lo, gue cinta sam—"


"TAPI GUE GAK CINTA! NGERTI GAK SIH?!" bentak Ayra, lalu ia menghentakkan kakinya, melenggang pergi meninggalkan mereka semua.