
"Budeg, lo, Ra! Tungguin!" teriak Nana sembari berlari disusul Maudy dan Shafira.
Ayra menghentikan langkah. Lolos, air mata Ayra tumpah dari pelupuk matanya. Gadis berambut coklat ini memegang dadanya yang terasa sesak, akibat menahan air mata yang sia-sia, karena pada akhirnya menetes juga.
"Ra ..." panggil Shafira sembari memegang pundak Ayra. Sorot mata Shafira terlihat sedih melihat Ayra menangis seperti ini.
"Siapa sih yang bikin air mata lo jatuh kayak gini? Please tell us," ucap Maudy sembari mengusap pelan pundak Ayra.
"Kita duduk di sana, yuk. Sambil lo cerita, Ra," ajak Nana yang diangguki semuanya.
Mereka memilih duduk di kursi cafe yang berada di luar. Mereka bertiga menunggu Ayra berhenti menangis agar Ayra bisa menceritakan dengan jelas. Shafira memeluk Ayra sembari mengusap punggungnya untuk memberikan ketenangan.
"Udah Ra, sejahat apa sih tuh orang sampai lo sesegukan kayak gini," ucap Shafira sembari mencebikan bibirnya.
Setelah dirasa Ayra tenang, ia melepaskan pelukan Shafira, kemudian menyeka sisa air matanya. Wajah Ayra kembali ceria, ia menarik dua ujung bibirnya untuk tersenyum.
Ketika Ayra sedang bersedih, ia hanya perlu mengeluarkan air matanya. Setelah itu ia akan kembali ceria, meskipun di dalamnya masih tersimpan banyak luka.
"Kita bukannya maksa, tapi dari dulu kalo
salah satu dari kita punya kesedihan harus bagi-bagi juga. Biar kita rasain kesedihan itu sama-sama," jelas Maudy.
"Dan sahabat itu bukan hanya tentang seberapa lamanya kita bersama, tapi sahabat itu tentang bagaimana caranya kita saling memahami," jelas Nana sembari tersenyum.
Ayra tersenyum, kemudian ia menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Gue paham, kok, tapi ini hanya masalah biasa—bukan masalah yang besar," jelas Ayra.
"Jadi gengs, gue tuh—" Ucapan Ayra terhenti sejenak saat mereka bertiga mulai menatap Ayra dengan intens.
"Su-suka sama Elgara," lanjut Ayra dengan suara pelan.
Brak!
Kali ini bukan hanya Shafira yang menggebrak meja, tapi Nana dan Maudy pun ikut menggebrak meja. Mereka bertiga menatap Ayra dengan mata yang lebar, membuat Ayra menelan saliva nya sulit.
"Lo—suka Elgara? Lo gak lagi kobam, kan, Ra?" tanya Shafira.
"Ya enggak lah, dongo! Kobam apaan coba, gak ada alkohol di sini," jawab Ayra.
"Nah kan, apa gue bilang. Cerita lo pas di dalam cafe tadi tentang Elgara, ya, kan?" tanya Nana sembari mengangkat kedua alisnya berkali-kali.
"Ekhemm!" Mereka bertiga berdeham sembari tersenyum menggoda Ayra.
Gadis berambut coklat itu menjadi salah tingkah karena perlakuan sahabatnya, Ayra mengalihkan pandangan—enggan menatap sahabatnya itu. Ayra sudah tau konsekuensinya jika jujur pada mereka, ya mereka akan menggoda Ayra.
"Iya, itu tentang Elgara," ucap Ayra.
"Gila! Tuh karma cepet banget nyampe nya, Ra," ujar Maudy sembari menggelengkan kepalanya.
"Dikirim pake JNE express nih, pasti," sahut Shafira seraya mengusap dagunya.
"Hal ini benar-benar nyiksa gue. Kenapa harus di saat Elgara menjauh, gue cintanya? Kenapa gak dari awal ..." ucap Ayra sembari mencebikan bibirnya.
"Hem, lo deketin Elgara lagi aja," saran Maudy.
"Mau ditaro di mana muka gue, Mod ... gue udah bentak dia masa gue deketin lagi," sahut Ayra, kemudian ia menidurkan kepalanya di atas meja.
"Emangnya cowok lo, si Mario. Gak punya malu dia—udah bikin lo emosi berapa kali terus aja deketin lo," cibir Shafira.
Maudy melotot tajam ke arah Shafira. "Heh! Lo kenapa, sih? Sebut Mario cowok gue mulu. Dia tuh bukan cowok gue!"
"Kayaknya setelah Ayra, lo deh yang dapet karma karena benci Mario," ucap Nana.
"Gak akan! Asal kalian tau ya, gue sama Mario tuh gak bakalan bisa saling cinta!" jelas Maudy. Anehnya setelah berkata seperti itu raut wajah Maudy menjadi murung sejenak.
Ayra menegakkan tubuhnya kembali. "Mungkin, gue juga. Gue sama Elgara gak akan bisa saling cinta lagi, karena dia—"
"Kata siapa?" tanya Nana menghentikan ucapan Ayra, "Lo sadar gak sih, Ra? Diam-diam Elgara tuh lihatin lo mulu. Dan kelihatan banget kalo dia punya rasa suka yang lebih sama lo! Bahkan hingga detik ini pun," jelas Nana yang diangguki benar oleh Maudy dan Shafira.
"Pasti sekarang juga Elgara sama kayak lo, masih suka, tapi gak bisa mengungkapkan," ucap Maudy.
"Maybe, gue gak tau," sahut Ayra dengan raut wajah cemberut.
"Lama-lama, lo, Mod, sama kayak cowok lo-- Mario, kalo soal bucin, beuh! Sangat cerdas!" ujar Shafira.
"SHAFIRA! SEKALI LAGI LO NGOMONG MARIO COWOK GUE, GUE TAMPOL BIBIR LO SAMPAI JONTOR!" teriak Maudy sembari menatap tajam ke arah Shafira.
"Biar aja bibir gue jontor, makin seksi! Sugar Daddy lo pada beralih ke gue," sahut Shafira.
"Udah capek gue misahin lo berdua. Sekarang bodo amat deh, lo pada mau cakar-cakaran atau baku hantam juga," ucap Nana sembari memutar bola matanya malas.
"Kalian tau gak, sih? Makin hari ya, rasa cinta gue ke dia tuh makin me—"
Ucapan Ayra terhenti—saat indera penciumannya mencium aroma parfum yang tak asing. Gadis itu pun mendongakkan kepalanya untuk memastikan, siapa orang yang berdiri di sampingnya.
"Dia siapa?" tanya Elgara dengan alis yang terangkat sebelah.
"Eh, Elgara. Kita lagi ngomongin Manurios, El. Lo mau gabung sama kita bahas Manurios?" tanya Maudy yang langsung mendapatkan gelengan dari Elgara.
"Elgara! Gue cariin dari tadi tau-tau nya di sini," ucap Mega, kemudian menggandeng lengan Elgara.
"Ayo masuk. Lo ngapain sih gabung sama cabe paprika kayak mereka!" ketus Mega sembari mendelik sebal.
Mereka berempat serentak melotot tajam ke arah Mega. Ingat ya, Mega itu musuh bebuyutan Fourangels. Mega yang sedang ditatap tajam pun, ia membalas tatapan mereka lebih tajam lagi.
"Heh! Cabe keriting! Cabe teriak cabe lo!" ketus Nana.
"NGACA!" ketus Ayra, Shafira dan Maudy pada Mega.
Ayra beranjak dari kursi, kemudian meraih tasnya. "Gengs, gue pulang duluan ya, makasih waktunya. See you tomorrow, bye!" Ayra melenggang pergi dan ia sempat menubruk lengan Elgara.
"Bye, Ra, hati-hati. Jangan kebut-kebutan," ucap Shafira sembari melambaikan tangan
"See you girl!" ujar Nana dan Maudy serentak.
Setelah Ayra masuk ke dalam mobil. Elgara mengalihkan pandangannya ke arah Fourangels. Baru saja Elgara akan mengucap, tapi ucapannya terhenti karena Mega menarik lengannya.
"Ayo masuk, El!" ajak Mega.
"Gue mau pulang. Lo kalo masih mau di sini, di sini aja. Gue pulang duluan," ucap Elgara, kemudian melenggang pergi meninggalkan Mega.
"Ih, Elgara! Gue pulang sama siapa?!" teriak Mega, tapi tidak ditanggapi Elgara.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Tepat pukul sepuluh malam Ayra terduduk di tepi tempat tidurnya ditemani sebungkus kiko. Pandangan gadis itu sesekali melirik pada ponselnya yang ia letakkan di samping tempat tidur. Sambil meminum kiko, ia meraih ponselnya, kemudian ia mengklik daftar kontak untuk mencari nama Elgara.
Saat dirinya akan mengklik nomor Elgara, Ayra menahan jarinya sembari menggelengkan kepala beberapa kali. "Jangan deh, takutnya gue ganggu Elgara lagi tidur—kalo telepon sekarang," ucap Ayra.
"Besok aja deh, ngomongnya." Ayra kembali menyimpan ponselnya di samping, kemudian ia meraih kiko nya lagi dan meneguknya.
"Eh, mending sekarang deh, soalnya kalo lihat wajah Elgara bawaannya emosi terus. Nanti malah bentak dia lagi," ucap Ayra.
Tangan gadis itu kembali meraih ponselnya. Jari lentiknya yang akan mengklik nomor Elgara, lagi-lagi terhenti. Ayra meringis pelan sembari menggelengkan kepalanya, kemudian ia meletakkan kembali ponselnya di tempat tadi.
"Enggak sekarang deh, besok aja, besok aja," ujar Ayra sembari meneguk kiko nya yang baru saja dibuka.
Di sisi lain Elgara tengah duduk di balkon kamarnya, ia menatap langit malam sembari menyuapkan susu bubuk pada mulutnya. Pandangan Elgara melirik pada ponsel yang berada di atas meja, kemudian ia menatap kembali langit malam.
"****!" gumam Elgara dengan raut wajah kesal, ia meraih ponselnya.
"Ya udahlah, daripada gue gak bisa tidur, gue telepon aja," ucap Elgara sembari menscroll daftar kontak.
Saat akan mengklik nomor Ayra, jarinya terhenti. "Ini udah jam sepuluh lebih 15 menit. Ayra udah tidur belum ya, kalo gue telepon nanti dia keganggu sama gue."
"Arrgghhh! Udahlah besok aja di sekolah," ucap Elgara sembari menaruh ponselnya kembali di atas meja.
Satu jam sudah berlalu, kini Ayra dan Elgara yang berada di rumah masing-masing saling menatap ponselnya—tanpa dipegang.
Keduanya sama-sama ragu untuk menelepon. Hingga satu mangkuk susu bubuk habis oleh Elgara dan satu bungkus kiko yang berisi 10 stick habis oleh Ayra.
"Telepon atau jangan? Tapi kalo enggak, gue gak tenang!" ucap Elgara.
"Ngomong sekarang aja gitu, ya? Gue gak bisa tidur kalo gak ngomong sekarang," ucap Ayra.
"Aarrgghh! Gue telepon aja deh!" ucap keduanya serentak sembari meraih ponselnya.
Saat Ayra akan mengklik nomor Elgara, tak disangka Elgara sudah meneleponnya duluan. Sontak Ayra melemparkan ponselnya ke atas bantal dan ia langsung menutup dirinya menggunakan selimut.
Rasanya gila! Jantung Ayra berdegup sangat kencang.
"Oke Ayra, tenang ..." ucap Ayra, kemudian gadis itu menarik napas, lalu menghembuskan napasnya.
"Halo, kenapa, El?"
Lo udah tidur?
"Belum, kebetulan gue lagi—gak bisa tidur."
Ra.
"Iya, kenapa, El?"
Akhir-akhir ini, lo kenapa? Baik-baik aja, kan?
"Gue—gue baik-baik aja kok. Haha ... iya sehat-sehat aja. Emangnya akhir-akhir ini gue kenapa di mata lo?"
Waktu kemarin, gue lihat lo nangis pas gue ambil gelang Mega di dekat jendela kelas IPA B. Terus tadi di cafe lo bilang gue jahat?
"Em ... itu gue—sebenarnya El, gue tuh—"
Brak!
"Ra, buruan siap-siap ikut gue!" teriak Nathan di ambang pintu kamar Ayra.
"Apaansih, dongo?! Ketuk dulu kalo mau masuk, setan!" ketus Ayra, kemudian ia melempar bantal ke arah Nathan.
Siapa, Ra?
"Ah, i-itu saudara gue. Em ... gue jelasinnya besok aja, ya, di sekolah."
Tapi, Ra, gue—
"Bye!"
Tut.
"****! Gue butuh jawabannya sekarang biar gue bisa tidur. Malah besok, arrghhh!" ucap Elgara, kemudian mengusap wajahnya kasar.
Ting!
Res: El, ke clubbing sekarang. Ditunggu!
"Clubbing? Udah lama juga gue gak ke sana," ujar Elgara sembari tersenyum.
Elgara beranjak dari kursi, ia memasukkan ponsel pada saku celananya. Setelah itu Elgara meraih jaket Levis berwarna hitam di dalam lemarinya. Sebelum berangkat, ia tak lupa menyemprotkan parfum.
Tanpa minyak rambut atau pun sisir, cowok bermata elang ini hanya menyurai rambutnya menggunakan sela-sela jari.
Kelap-kelip lampu di tambah suara musik yang kencang membuat kepala pening, tapi tidak dengan orang-orang yang sudah biasa berada di tempat itu. Di meja sana terdapat beberapa anak Vanoztra yang tengah mengobrol dengan asik. Ditemani dengan kepulan asap rokok maupun Vape.
"Anjir ... giliran diajak ke sini aja lo, gercep banget datengnya," ucap Anggara sembari beradu lengan sebagai salam sapaan, setelah Elgara tiba.
"Kapan gue gak gercep kalo diajak?" tanya Elgara setelah terduduk di kursi.
Mario menyodorkan Vape dan juga rokok pada Elgara. "Mau, bro?" tanya Mario.
Pletak!
Brio memukul kepala Mario menggunakan kunci motor. Sontak laki-laki itu meringis sembari mengusap kepalanya, kemudian melotot tajam pada Brio.
"Lo dendam apa sih sama gue, Bri? Heran anying!" ketus Mario sembari menonjok lengan Brio.
"Elgara udah berhenti ngerokok, lo malah nawarin rokok, oon! Berhenti ngerokok tuh butuh perjuangan yang berat!" ketus Brio.
"Oh iya gue lupa, sorry, El," ucap Mario yang diangguki Elgara.
Setelah itu mereka kembali berbincang-bincang. Sorot mata Elgara terfokus pada seorang cewek yang tengah duduk tak jauh dari jaraknya.
Elgara berdiri dari duduknya, kemudian menyipitkan mata untuk memastikan kebenarannya.
'Itu, kan–Ayra?'