Vanoztra

Vanoztra
30. Resmi



Sepulang dari desa Abah Suro dan setelah mengantar keempat cewek Fourangels, anak Vanoztra langsung berkumpul di basecamp.


Inginnya mereka menginap di sana, tapi karena besok hari Senin di mana mereka harus kembali ke sekolah, jadi terpaksa mereka harus pulang.


Semua anak Vanoztra yang berada di basecamp, memusatkan mata pada Elgara yang sedari tadi terus melangkah bolak-balik. Sesekali mereka melirik ke arah Mario yang tengah senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya.


"Lo bisa duduk kagak sih, El? Kayak setrikaan, anjir," ucap Brio.


Elgara mendudukkan tubuhnya di kursi, ia menghela napasnya pasrah. "Gue bingung," ucap Elgara, kemudian menyandarkan kepalanya pada belakang kursi.


"Bingung kenapa? Soal Alaskar?" tanya Anres.


"Iya, soal Alaskar," jawab Elgara.


"Kita ikuti ajalah permainan mereka sampai mana," ucap Denis.


"Tapi masalahnya bukan itu aja, Den," ujar Elgara sembari menegakkan tubuhnya kembali.


"Terus apalagi?" tanya Anggara.


Elgara menoleh ke arah Anggara, ia sempat terdiam sejenak. "Gue bingung–bingung soal Ayra," jawab Elgara tersenyum sembari mengusap tengkuknya.


"Heuu ... anying!" ketus Brio.


"Ayra terossss! Sampai tipes!" ucap Anggara.


"Ada masalah apaan, woi? Cinta? Calm bro ... di sini ada Mario Moreno–selaku dokter cinta, pawang wanita, spesialis buaya. Siap membantu semua masalah soal cinta," jelas Mario sembari bersedekap dada dan di akhiri senyuman.


"Lo bingung kenapa soal Ayra?" tanya Mario sembari merangkul pundak Elgara.


"Jadi, gue ...." Elgara menceritakan semuanya pada teman-temannya.


Mario menganggukkan kepalanya, kemudian ia mengusap dagunya seolah berpikir mencari solusi untuk menyelesaikan masalah Elgara. Detik berikutnya ia tersenyum mendapatkan sebuah ide.


"Gue tau, El," ucap Mario sembari menyeringai.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Tidur Ayra terusik saat tangan seseorang menempel di dahinya. Perlahan Ayra membuka mata. Sorot matanya langsung tertuju pada seseorang yang tengah memperhatikannya. Dan menghalangi sorot matahari yang menembus kaca jendela.


"Lo gak usah sekolah hari ini," ucap Elgara sembari mengusap lembut kepala Ayra.


Gadis itu menggeleng cepat, ia terduduk dari baringnya–menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Elgara terus memperhatikan Ayra ketika gadis itu beranjak dari tempat tidurnya.


Entah efek bangun tidur atau efek sakit, tiba-tiba tubuh Ayra oleng setelah merasa sedikit pusing. Dengan cepat Elgara menahan tubuh Ayra agar tidak terjatuh.


"Ra, badan lo kurang fit kayak gini. Masa mau pergi ke sekolah," ucap Elgara sembari menatap Ayra.


"Gue pengen sekolah, El. Udah deh lo, gak usah lebay. Gue gak kenapa-kenapa juga," ujar Ayra.


"Dengerin gue Ra, badan lo panas jangan maksain ke sekolah," jelas Elgara.


Ayra memutar bola matanya malas. "Kalo badan gue dingin–ya gue mati, lah, dongo!" ketus Ayra.


"Tapi ini tuh be–"


"HACUWWW!" Ayra mengusap hidungnya setelah bersin, kemudian Ayra menempelkan keningnya di dada Elgara dengan bibir yang cemberut.


Elgara memeluk Ayra, ia mengusap-usap punggung gadis itu. "Gak usah ke sekolah ya, lo kecapean kemarin. Ditambah lo akhir-akhir ini kesurupan kiko," ucap Elgara.


Ayra mendongakkan kepalanya menatap Elgara dengan bibir yang mengerucut sempurna. Bibirnya yang cemberut dan hidungnya yang merah berhasil membuat raga Elgara runtuh. Gemes!


Bibir Ayra yang alami berwarna merah muda seperti punya daya tarik bagi siapa pun yang melihatnya, terutama Elgara. Setiap melihat bibir Ayra, laki-laki itu tidak bisa menahan hal yang seharusnya ia tidak lakukan sekarang.


Elgara memiringkan wajahnya, kemudian wajahnya mendekat pada wajah Ayra. Sontak Ayra memejamkan matanya, tapi–


"HACUWWW!" Ayra kembali bersin membuat laki-laki di hadapannya memejamkan matanya sejenak. Wajah Elgara terkena cipratan ingus.


"S-sorry, El," ucap Ayra sembari mengusap wajah Elgara.


Berpuluh-puluh kali Elgara menyuruh Ayra untuk tidak berangkat sekolah hari ini, tapi gadis itu tetap saja ingin ke sekolah. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.


Di mana gerbang sekolah sudah ditutup dan pembelajaran pun sudah dimulai. Kini Elgara turun dari motor, ia berjalan ke arah gerbang.


"Pak Usep!" teriak Elgara.


Pak Usep berjalan ke arah gerbang, ia menatap sejenak jam tangannya, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gak, gak boleh masuk. Udah pulang aja," ucap Pak Usep.


"Berapa, Pak?" tanya Elgara sembari membuka dompetnya.


"Berapa, berapa, saya gak jualan!" ketus pak Usep.


"Saya mau jual diri, Pak," jelas Elgara, kemudian menyerahkan satu lembar uang berwarna merah.


"Saya gak bisa disogok kali ini," ucap Pak Usep, mengabaikan uang di tangan Elgara.


"Saya tambah rokok, deh," ucap Elgara sembari mengeluarkan satu bungkus rokok di celananya. Ia sudah menyiapkan rokok tersebut untuk Pak Usep.


Pak Usep terdiam sejenak dengan pandangan yang terus menatap ke arah uang dan juga rokok. Sempat ingin menolak, tapi Elgara malah menambah lagi uangnya. Mungkin ini rezeki Pak usep, gak boleh ditolak, pikirnya.


"Ya sudah ini saya terima. Kamu boleh masuk," ucap Pak Usep.


Setelah berurusan dengan Pak Usep dan memarkirkan motornya. Kini Elgara berjalan menyusuri koridor sembari menggandong Ayra, padahal gadis itu masih mampu berjalan.


"El, gue turun aja, deh. Bentar lagi juga sampai kelas," ucap Ayra.


"Gak."


"Ih, nyebelin banget, sih! Gue gak selemah ini kalo sakit, gue mampu jalan, El," ucap Ayra.


"Diem! Gue robek mulut lo kalo bawel," ketus Elgara.


Bu Farah menghentikan aktivitas mengajarnya, ia berjalan menuju pintu kelas, kemudian membukanya. Di ambang pintu terdapat Elgara yang tengah menggendong Ayra.


"Maaf Bu, saya terlambat," ucap Elgara.


"Tapi ini bukan kelas kamu, Elgara," ujar Bu Farah.


"Saya mewakili Ayra. Tolong maklumi ya, Bu. Hari ini Ayra lagi sakit, tapi dia tetap pengen masuk sekolah. Jadi tolong Ibu jangan hukum Ayra," jelas Elgara.


"Kalo gitu bawa Ayra ke UKS aja, Elgara," ucap Bu Farah.


Dengan cepat Ayra menggelengkan kepalanya. "Enggak Bu, saya cuma flu aja, kok. Saya masih sanggup ikut pembelajaran," jelas Ayra.


"Oh, ya sudah kalo gitu silakan masuk," pinta Bu Farah.


Saat Elgara masuk ke dalam kelas. Sorot mata semua orang yang berada di kelas memusat padanya. Detik kemudian suasana kelas menjadi ribut, jeritan iri dan jeritan baper para siswi terdengar jelas di telinga Ayra dan Elgara.


Bu Farah yang berada di depan pun merasa iri juga dengan Ayra yang diperlakukan seperti ratu oleh Elgara. Karena jujur semasa Bu Farah sekolah, ia tidak pernah seperti Ayra yang ada Bu Farah–alumni sadgirl.


Ketiga sahabat Ayra ternganga, bahkan tak berkedip saat melihatnya. Dulu Fourangels dan Vanoztra akrab karena Shafira. Selama itu mereka tidak pernah melihat Elgara setulus ini memperlakukan wanita. Mereka mengenal Elgara sebagai playboy yang tak cukup memainkan satu wanita.


"Gue titip Ayra. Kalo dia kemana-mana temenin," ucap Elgara.


"Oke siap!" sahut Nana sembari mengacungkan dua jempolnya.


"Makasih, Bu. Saya permisi ke kelas," pamit Elgara pada Bu Farah.


Ayra menghela napas panjang sembari menggelengkan kepala atas sikap Elgara padanya. Sudah dipastikan hari ini dan hari esok beredar gosip tentang dirinya dan Elgara.


"Lo sakit apa, Ra?" tanya Maudy.


"Cuma flu doang gak parah, kok. Cuma Elgara aja yang berlebihan," sahut Ayra.


"Gila sih, setelah ada lo, gue baru tau kalo Elgara tuh bisa tulus sama cewek," ucap Shafira yang diangguki Nana dan juga Maudy.


"Mustahil kalo lo gak baper sama apa yang Elgara lakuin," ujar Nana sembari menatap Ayra.


Gadis itu tertawa kecil. "Mau mati gue rasanya tiap deket Elgara. Jantung gue selalu gak aman, tapi dibalik itu gue seneng banget," ucap Ayra di akhiri senyuman dengan pipi yang memerah.


"Acieeeee!" sorak Nana, Maudy dan Shafira.


"Ada yang lagi kas–"


"Ayra, Nana, Maudy, Shafira. Kalo sudah selesai menulisnya jangan berisik," tegur Bu Farah.


"Maaf, Bu ..." ucap mereka berempat serentak.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Di tengah jam pelajaran sesekali Ayra menyimak materi dan mencatat materinya. Kali ini Ayra merasa ngantuk mungkin efek samping dari obat yang ia makan pagi tadi. Gadis itu memilih menidurkan kepalanya di atas meja.


Saat matanya terpejam tiba-tiba terdengar suara seseorang di depan papan tulis. Ayra menenggakkan tubuhnya, ia pikir pengurus OSIS yang sedang mengumumkan informasi, tapi ternyata Anres.


"Permisi Bu, saya disuruh sama Bu Tarti untuk panggil Ayra ke ruang BK," jelas Anres.


"Ya silakan. Ayra, dipanggil Bu Tarti ke ruang BK," ucap Bu Farah.


Sontak Ayra terkejut karena dirinya tiba-tiba dipanggil ke ruang BK. Hal itu membuat dirinya terus berpikir kesalahan apa yang telah ia buat. Mau tak mau Ayra beranjak dari kursinya.


Setelah Ayra dan Anres berjalan keluar kelas. Nana dan kedua sahabatnya saling menatap secara bergantian, mereka pun ikut terkejut. Tak tinggal diam sahabatnya dipanggil BK, mereka pun berpikir agar bisa keluar kelas.


"Dengerin, gue sama Shafira izin ke toilet. Nanti lo, Mod, ikut kita tanpa Bu Farah tau," bisik Nana yang diangguki kedua sahabatnya.


Nana pun beranjak dari kursinya bersama Shafira, ia izin pada Bu Farah untuk pergi ke toilet. Setelah mendapat izin mereka berdua segera berjalan keluar kelas–disusul Maudy sembari merangkak.


Elgara terduduk di tengah-tengah lapangan basket. Dahi dan pelipisnya bercucuran keringat. Hari ini tidak ada pelajaran olahraga, hanya saja Elgara dan keempat temannya menghabiskan waktu kosong untuk bermain basket, daripada diam di kelas.


"Nih, El," ucap Mario, kemudian melempar spidol pada Elgara.


Dengan sigap, Elgara menangkap spidolnya, lalu membuka tutup spidol tersebut menggunakan giginya. Senyuman terbit di bibir Elgara. Bersamaan dengan tangannya yang menulis di atas bola basket–miliknya.


"Elgara!" panggil Ayra di tepi lapangan basket.


'Gue gak bisa lihat semua ini. Lihat kehidupan gue aja udah berhasil bikin gue hancur, apalagi soal cinta ini.' batin Anres


"Ra, gue mau ke toilet. Lo langsung aja ke lapangan basket," jelas Anres.


"Loh, kok, ke lapangan bukan ke ruang BK?" tanya Ayra.


Anres tersenyum tipis. "Sebenarnya Elgara yang panggil lo, bukan Bu Tarti. Lo bisa sendiri, kan? Gue mau ke toilet."


"O–iya-iya, gue sendiri aja," sahut Ayra.


Elgara menoleh ke sumber suara, ia jelas tau siapa yang memanggilnya.


Detik itu juga Elgara langsung bangkit dari duduknya. Wajah laki-laki bermata elang itu begitu ceria setelah kedatangan Ayra.


"Ahayyy! Disko gak tuh jantung? Cacing-cacingnya pada dugem!" ucap Anggara.


"Srepet lah boyyy!" teriak Brio diakhiri tawaan kecil.


"Good luck, Bos!" teriak Mario sembari mengacungkan dua jempolnya.


Tak menggubris perkataan teman-temannya, laki-laki bermata elang itu hanya terfokus menatap Ayra dengan senyum di bibirnya. Saat Ayra akan melangkah–langkahnya terhenti ketika Elgara mengisyaratkan untuk menangkap bola basketnya.


Dengan sigap gadis itu menangkap bola basket. Keningnya mengernyit sempurna, ia tak paham dengan maksud Elgara. Pandangan Ayra beralih pada bola basket yang terdapat tulisan.


Hug this basketball if you accept my love.


Ayra menatap bingung ke arah Elgara yang tengah berjalan menghampirinya. Tepat di depan Ayra, Elgara menyelipkan rambut gadis itu, kemudian sebelah tangannya memegang pipi wajah Ayra.


"Kalo kemarin hanya cinta karena syarat dan ancaman. Kali ini gue pengen lo terima cinta gue dengan tulus, Ra."


"Gue pengen–Ayra Claresta, anaknya Om Tomi–jadi pacar gue hari ini."


Deg!


Pipi Ayra merah merona seketika. Bibirnya pun tak kuasa menahan senyuman bahagia. Rasanya perut Ayra dipenuhi oleh kupu-kupu kali ini.


Detik kemudian, Ayra memeluk erat bola basketnya–pertanda bahwa Ayra menerima cinta Elgara. Sontak Elgara langsung menarik tubuh Ayra ke dalam pelukannya.


"ANJRITTT!!!" teriak ketiga teman Elgara serentak.


Dan ternyata Nana, Maudy dan Shafira pun menyaksikan semua ini. Mereka serentak tersenyum lebar, lalu berteriak, "HUAAAAAAA!!!"


"Today, the world is witness i love you," ucap Elgara.


"I love you, too," sahut Ayra sembari tersenyum, kemudian melepaskan pelukannya.


Mario merangkul pundak Elgara. "Gimana Bro, saran dari gue mantep gak?" tanya Mario, kemudian menyurai rambutnya.


"Gue tau, El," ucap Mario sembari menyeringai.


"Saran dari gue, lo jedor aja Ayra besok. Sekarang lo bingung-bingung mikirin perasaan Ayra ke lo gimana. Kalo lo jedor, langsung tau jawabannya Ayra cinta apa enggak," jelas Mario.


"Tapi ada konsekuensi nya juga, Yo ... kalo tau Ayra gak suka–gak cukup sehari dua hari sakitnya," sahut Anres.


Elgara menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Oke, gue jedor Ayra besok," ucap Elgara, kemudian meneguk jusnya.


"Lo serius, El?" tanya Anres yang diangguki Elgara.


"Oh iya, kok lo sendiri? Anres kemana?" tanya Anggara.


"Tadi katanya dia mau ke toilet," jawab Ayra.


Nana merangkul pundak Ayra sembari tersenyum. "Akhirnya gue gak greget lagi sama lo berdua," ucap Nana.


"Congrats, babe!" teriak Maudy dan Shafira serentak.


"Kok, lo bertiga bisa–" Ucapan Ayra terhenti setelah dirasa hidungnya gatal.


"Ha–"


"HACUUWWW!" Ayra membelalakkan matanya setelah bersin.


"Anying! Hidungnya bisa bikin balon dari ingus," ucap Brio.


"HAHAHAHA!"


Serentak mereka tertawa terbahak-bahak, sedangkan Ayra ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Elgara karena merasa malu–sangat malu!