Vanoztra

Vanoztra
34. I'm sorry



Akhir-akhir ini semenjak Ayra berstatus pacar Elgara. Entah mengapa, dirinya selalu menjadi pusat perhatian anak SMA Bintang Negara, bahkan ada salah satu dari mereka yang selalu mengikuti penampilan Ayra.


Duk!


Ayra mendongakkan kepalanya setelah dirinya menabrak seseorang di depannya. Senyuman manis terbit di bibir Anres saat Ayra menatap dirinya.


"Kalo lagi jalan jangan main hp, Ra," ucap Anres.


"Eh, sorry, Res," ujar Ayra.


Anres menganggukkan kepalanya. "Lo pergi bareng Elgara?" tanya Anres dengan raut wajah datar.


"Enggak. Gue bawa mobil sendiri hari ini. Soalnya pulang sekolah gue mau pergi ke suatu tempat," jelas Ayra. Lagi-lagi senyuman terbit di bibir laki-laki itu.


"Oh iya, Res, Elgara di mana?" tanya Ayra.


"Ada di Warbah. Lo mau temui Elgara? Bareng gue aja, ayo!" ajak Anres yang diangguki Ayra.


Saat keduanya akan melangkahkan kaki tiba-tiba Shafira berteriak memanggil Ayra, "Ayra! Buruan sini, Nana sakit," ucap Shafira.


Ayra membelalakkan matanya, kemudian ia menoleh sejenak ke arah Anres. "E–Res, sorry gue gak jadi ke Warbah, ya. Nanti tolong kasih tau Elgara kalo gue udah sampai di sekolah."


"Oke," sahut Anres.


Setelah tiba di kelas Ayra segera berlari ke arah mejanya, ia menyingkirkan rambut Nana yang menghalangi wajahnya. "Na, lo sakit apa?" tanya Ayra.


Nana menenggakkan tubuhnya, kemudian gadis itu memijat-mijat pelipisnya. Wajah Nana pun terlihat pucat tidak seperti biasanya.


"Pusing katanya, Ra," sahut Shafira.


"Gak tau kenapa akhir-akhir ini gue selalu pusing tiba-tiba, Ra. Tadi pas berangkat sekolah gue baik-baik aja, sehat-sehat aja, tapi sekarang kepala gue sakit banget," jelas Nana.


Ayra mengusap punggung Nana perlahan sembari menatap sahabatnya cemas. "Diam di UKS aja, Na, gak usah ikut pembelajaran. Nanti gue yang bilang ke guru," ucap Ayra.


"Gak ah, gue di sini aja," ujar Nana.


"Dari tadi juga gue udah suruh Nana diam di UKS, tapi gak mau, padahal kalo lo diam di UKS bisa tidur tenang. Kalo di sini berisik, Na," ucap Shafira.


"Gak kok, gak apa-apa gue di sini aja," ujar Nana.


"Ra, pinjam jaket lo dong, buat bantal," ucap Nana.


Ayra pun menyerahkan jaketnya yang sedari tadi ia sampirkan di lengan. Dengan cepat Nana menjadikan jaket Ayra sebagai bantal, ia pun segera menidurkan kepalanya di atas meja.


"Lo udah minum obat belum, Na?" tanya Ayra yang diangguki Nana sebagai jawaban.


"Udah tadi gue ambilin di UKS," sahut Shafira.


"Syukur deh kalo udah minum obat. Oh iya, Maudy kemana?" tanya Ayra.


"Belum datang tuh anak. Tadi gue chat katanya lagi di jalan, tapi sampai sekarang belum nongol," jawab Shafira.


Di sisi lain Maudy menatap Mario kesal, ia memajukan bibirnya sembari bersedekap dada. "Aaaa! Kesel deh! Terus ini gimana dong?!" tanya Maudy sembari merengek.


"Ya kagak tau lah, gue juga. Gak ada cara lain selain lo bantu gue dorong motornya," sahut Mario.


"Hah? Dorong motor segede gaban gini? Ogah banget. Nyesel deh, gue turutin ucapan Bunda. Tau gini mending naik bus gak akan ada acara ban kempes," ucap Maudy.


"Iya gak akan ada acara ban kempes, paling juga busnya jungkir balik," ujar Mario dengan tatapan kesal.


"Buruan bantuin dorong. Gak ada gunanya lo jadi adik," ucap Mario.


"Heh?! Enak bener lo bilang gak ada gunanya! Tau ah, dorong aja sendiri!" ketus Maudy kemudian gadis itu melenggang pergi.


"Maudy! Lo mau kemana?" tanya Mario membuat langkah Maudy terhenti.


Maudy memutar bola matanya malas. "Mau ke sekolah lah, terus kemana lagi," jawab Maudy.


"Tunggu, gue pesenin ojol dulu," ucap Mario.


"Lah, terus nanti lo?" tanya Maudy.


"Gue jalan aja gak apa-apa," jawab Mario.


Detik berikutnya Maudy terus menatap ke arah Mario dengan raut wajah sendu. Hal ini yang membuat Maudy menyukai Mario sebab cowok itu selalu menjadikan wanita seperti ratu, walaupun awalnya menyebalkan.


Maudy berjalan mendekat ke arah Mario. Tepat di hadapan Mario, Maudy menempelkan keningnya di dada Mario. "Tinggalin aja motornya di sini," ucap Maudy sembari mendongak.


"Terus kita ke sekolah–"


"Pak! Nitip motor di sini, ya!" teriak Maudy pada bapak-bapak penjaga warung.


"Iya Neng. Tenang aja di sini aman, kok," sahut bapak tersebut.


Maudy menarik tangan Mario. "Kita lari aja, ayo!" ajak Maudy, mereka berdua segera berlari.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Bagus Windy, jawabannya benar," ucap Pak Raldi guru matematika.


"Ayo, siapa lagi yang mau mengerjakan?"


"Kalo tidak ada, saya akan tunjuk satu orang untuk mengerjakan soal nomor terakhir. Yang maju ke depan ..."


"Please, jangan gue, jangan gue," gumam Shafira sembari menundukkan kepalanya.


"Shafi–"


Brak!


"Hah ... hah ... hah ... m-maaf Pak, saya terlambat," ucap Maudy dengan napas yang terengah-engah, gadis itu mencoba mengatur napasnya kembali sembari memegang kedua lututnya.


"Saya juga Pak–maaf terlambat," ujar Mario.


"Kamu kelas mana, Mario?" tanya Pak Raldi.


Mario terdiam sejenak, kemudian ia menepuk jidatnya. "Anying! Pake salah kelas segala!"


"HEH, MARIO! KAMU BILANG APA BARUSAN?!" teriak Pak Raldi, tapi tak didengar oleh Mario, lantaran cowok itu berlari dengan cepat keluar kelas.


Maudy menegakkan tubuhnya kembali, ia mengulum bibirnya sembari menatap ke arah Pak Raldi. "S-saya boleh duduk, Pak?" tanya Maudy.


"Saya gak izinin kamu untuk duduk. Kalian terlambat, tapi kenapa bisa masuk kelas?" tanya Pak Raldi.


"Tadi saya sama Mario panjat pagar, Pak. Jadi kita bisa masuk ke kelas," jelas Maudy.


Serentak Ayra, Nana dan Shafira menepuk jidat setelah mendengarkan penjelasan Maudy, sedangkan Pak Raldi, ia menatap tajam ke arah Maudy.


"Astaga ...."


"Sekarang juga kamu berdiri di sini sampai pelajaran saya selesai!" pinta Pak Raldi tegas.


"Yah ... Pak jangan–"


"Cepat! Karena kamu sempat nolak, angkat satu kaki kamu!" ucap Pak Raldi.


"Loh, Pak nanti saya–"


"Dua tangan kamu pegang telinga! Nolak lagi saya suruh kamu angkat kaki dua-duanya!" lanjut Pak Raldi.


"Ssttt! Gengs, bantuin gue ..." bisik Maudy dengan wajah memelas ke arah ketiga sahabatnya.


Serentak ketiga sahabat Maudy menjulurkan lidahnya sembari menjulingkan matanya, kemudian Ayra, Nana dan Shafira tertawa pelan.


"******, lo bertiga!" bisik Maudy sembari melotot.


"Maudy ..." tegur Pak Raldi.


Maudy melontarkan senyuman. "I-iya, Pak, maaf."


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Nahkan, nahkan, dongonya gak hilang-hilang. Apa gue bilang, Mod ... begonya pasti balik lagi kalo cowoknya dateng lagi ke dia," ucap Ayra.


Maudy mematikan ponselnya setelah selesai menonton drakor bersama Ayra. "Dia tuh nyadar loh gak dikasih kepastian, tapi tetap aja mau sama tuh cowok."


"Nih, gengs," ucap Nana sembari menyerahkan jus pada Ayra dan Maudy, disusul oleh Shafira yang menyerahkan dua burger.


"Thank you ..." ucap Ayra sembari menusukkan sedotan pada jusnya.


"Lo udah mendingan, Na?" tanya Maudy.


Nana menganggukkan kepalanya. "Lumayan, gue cuma butuh tidur aja setiap kepala gue sakit." Mereka bertiga pun tersenyum lega.


"Oh iya, sekarang hari apa?" tanya Nana.


"Hari Kamis," jawab Ayra.


"Kenapa emang, Na? Lo ada janji?" tanya Shafira yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Nana.


"Hari ini bukan jadwal anak Vanoztra kumpul di Warbah, kan, Sha? Tapi kok mereka gak ada di kantin," tanya Nana sembari mengunyah kentang gorengnya.


"Tuh ...." Maudy menunjuk ke belakang Nana menggunakan dagunya, "Mereka baru datang," ucap Maudy.


Nana menoleh ke belakang, mata nya langsung menyorot ke salah satu laki-laki tersebut. Siapa lagi kalo bukan–Brio. Senyuman pun terbit di bibir Nana, tapi Brio menatap Nana dingin.


"Ish!" Maudy memukul tangan Mario yang mencomot kentang gorengnya.


"Bagi dong, Mod. Gue tarik behel lo kalo pelit!" ketus Mario.


Berbeda dengan Anggara baru saja ia duduk di samping Shafira, laki-laki itu langsung disuapi burger oleh gadis tersebut.


"Aaaa ...." Shafira menyodorkan burgernya ke depan mulut Anggara. Detik itu juga Anggara menggigit burger tersebut.


"Ra," panggil Elgara sembari menyibak anak rambut Ayra yang menghalangi wajah gadis itu.


"Mm, kenapa?" tanya Ayra sembari menatap Elgara lekat.


"Pulang sekolah mau pergi kemana?" tanya Elgara.


"Em ... mau ke rumah Zenne, temen gue yang waktu itu di club," jawab Ayra.


Elgara menganggukkan kepalanya beberapa kali, kemudian mengusap rambut Ayra sambil berkata, "Hati-hati ya, kalo ada apa-apa telepon gue."


Ayra tersenyum sembari menggenggam tangan Elgara. "Iya sayang ...."


"Beuhh, sayang!" teriak Brio sembari mengusap wajahnya kasar.


"Untung ada lo, Bri," ucap Anres sembari merangkul pundak Brio.


"Apaan?" tanya Brio dengan kening yang berkerut.


"Gue jadi gak sendiri, muachh!" Anres mencium pipi Brio.


Sontak Brio beranjak dari kursinya, ia mengelap pipinya yang baru saja dicium oleh Anres. "Goblok!" ketus Brio sembari melempar kentang milik Nana ke arah Anres.


"Ih, kentangnya–" ucap Nana.


"Satu doang, Na," sahut Brio sembari kembali duduk.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Ayra berjalan perlahan melewati gundukan-gundukan tanah yang berjejer rapi. Langkahnya terhenti, tepat di samping gundukan tanah yang tertancap batu nisan bertuliskan Micholas Askara.


Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke permukaan tanah. Tangannya terulur mengusap nisan tersebut bersamaan dengan air matanya yang mengalir. Tak kuasa menahan air matanya, Ayra memeluk kuburan Micholas.


"Kak Micho ... i miss you."


"Maaf, Ayra baru punya waktu buat ke sini lagi. Kak Micho gak usah cemas soal Ayra, Ayra baik-baik aja di setiap harinya, tapi–"


"Sekarang Ayra sendirian di rumah. Mama sama Papa pergi ke London. Kak Micho taukan, dari kecil Ayra itu gak suka sendirian, gak suka sama suasana sepi."


"Tapi sekarang Ayra terpaksa harus berteman dengan suasana sepi itu."


Ayra menghela napasnya, ia menyeka air matanya. "Ayra ke sini bukan untuk menunjukkan kesedihan, tapi Ayra mau meminta maaf."


Ayra menegakkan tubuhnya setelah beberapa menit ia memeluk kuburan Micholas. Gadis itu menundukkan kepalanya. Tetesan demi tetesan air mata menetes membasahi rok Ayra.


Detik berikutnya gadis itu menutup wajah menggunakan kedua tangannya. Ayra semakin terisak menangis saat mengingat sebuah kesalahannya yang tak bisa ia hindari kali ini.


"Sorry, i know i was wrong. Ayra tau seharusnya Ayra gak lakuin ini, tapi Ayra gak bisa ... Ayra gak bisa menghilangkan rasa ini, Kak."


"Misi untuk menghancurkan Vanoztra atas penyebab kematian Kak Micho, Ayra gagal ...."


"Ayra gak bisa menghancurkan Vanoztra, karena rasa dendam yang tumbuh di hati Ayra, malah berubah jadi cinta!"


"Ayra terlanjur mencintai musuh kita! Ayra cinta dia ... Ayra cinta Elgara, Kak ... sorry."


Ayra memeluk kembali kuburan Micholas sembari terisak-isak menangis. Langit pun seolah mengerti perasaan Ayra, ia ikut sedih melihat gadis itu menangis hingga menumpahkan air hujan ke bumi.


Ayra mendongak saat air hujan membasahi rambutnya, ia segera menutupi kepalanya menggunakan topi jaketnya.


Derap langkah kaki terdengar di telinga Ayra. Langkah kaki tersebut bukan hanya satu orang, tapi terdengar banyak. Saat Ayra akan menoleh ke belakang–ia urungkan kembali saat mendengar suara mereka.


"Bang Edward."


"Nyenyak banget Bang, tidurnya. Sampai gak ada niatan buat ngobrol bareng kita lagi," ucap Elgara sembari tersenyum kecut.


"Bang, gue mau ngadu nih, soal perkembangan Vanoztra dipimpin Elgara," ucap Anggara.


"Parah Bang ini, mah. Wah, Vanoztra sekarang–"


"Makin Jaya, Bang! Hebat banget si Elgara. Emang gak salah kesayangan Bang Edward," lanjut Anggara sembari merangkul pundak Elgara.


Elgara dan yang lainnya terkekeh kecil. "Terlalu berlebihan dia, Bang," ucap Elgara.


Pandangan Elgara beralih, ia fokus menatap seorang gadis di depannya yang tengah membelakangi dirinya. Sekujur tubuh gadis itu basah kuyup membuat Elgara tidak tega melihatnya.


Deg!


Hujan yang dari tadi mengguyur tubuh Ayra kini terhenti. Elgara merentangkan kedua tangannya untuk menutupi kepala Ayra menggunakan jaket. Jantung Ayra semakin berdegup kencang setelah ia tau siapa orang yang berdiri di belakangnya.


'Wangi ini–aroma parfum Elgara.'


'Sial! Kenapa dia nyamperin gue? Apa jangan-jangan Elgara tau kalo ini gue?'