
Di depan cermin Ayra menatap dirinya. Tangannya sibuk mengoleskan lipstik pada bibirnya. Detik berikutnya tangan Ayra merogoh laci meja untuk mengeluarkan catokan rambut. Pandangan Ayra beralih pada dua anak ayam yang berada di atas mejanya.
Perlahan Ayra mengusap anak ayam tersebut secara bergantian. Bibir Ayra mengembang membentuk sebuah senyuman yang manis. "Walaupun gue sama Elgara akhirnya gak bersama, tapi Ciko sama Ciki kalian berdua harus terus bersama-sama ya," ucap Ayra pada anak ayam tersebut.
"Huh! Oke, gue harus tampil cantik hari ini," ujar Ayra, kemudian ia mulai mencatok rambutnya.
Di sisi lain Elgara merapikan kerah kemejanya, kemudian ia meraih jas yang tersampir di kursi, lalu segera memakainya. Laki-laki bermata elang itu menatap dirinya pada cermin.
"El ... udah siap belum?" tanya Resta setengah berteriak.
"Iya Mam, bentar," sahut Elgara, kemudian ia menyisir rambutnya menggunakan sela-sela jarinya.
Raut wajah Ayra hari ini terlihat begitu ceria. Gadis itu menyetir mobilnya sembari asik bernyanyi. Cuaca di pagi hari ini pun begitu cerah seolah mengikuti perasaan Ayra yang sedang bahagia, tapi dibalik keceriaan wajahnya Ayra merasa sedih karena ia akan berpisah dengan teman-temannya.
"I hope you're happy."
"I wish you all the best really."
"Say love you her, baby."
"Just not like you love me."
"And think of me fondly when your hands are on her ...."
"I hope you're happy, but don't be happier!"
Ayra bernyanyi di dalam mobil tersebut sembari berteriak-teriak. Entah mengapa ia merasa lega setelah bernyanyi sembari berteriak. Seolah masalah dan rasa sedihnya lenyap sejenak.
Setibanya Ayra di sekolah, ia segera memarkirkan mobilnya. Detik berikutnya gadis itu menginjakkan kakinya ke permukaan tanah. Tangannya menutup pintu mobilnya, sedangkan pandangan Ayra menatap pada bangunan sekolah yang megah itu.
Senyuman terbit di bibir Ayra. "Banyak cerita yang tersimpan di gedung sekolah ini. Cerita soal cinta dan juga soal pertemanan. Kini akan menjadi kenangan yang tak pernah terlupakan," ucap Ayra.
"Ayraaaa!"
Ayra menolehkan kepalanya ke arah orang yang memanggil namanya. Gadis itu tersenyum sembari merentangkan kedua tangannya, bersiap untuk menerima pelukan dari sahabatnya. "Aaaa! Kalian cantik banget hari ini!" ucap Ayra.
"You too!" sahut Maudy dan Nana serentak.
"Wow! Gue pengen tunjukkin ke seluruh dunia deh, kalo sahabat gue tuh cantik-cantik!" teriak Shafira.
"Bisa aja lo," sahut Ayra.
"Kita nungguin lo daritadi, Ra. Kesana, yuk!" ajak Nana yang diangguki Ayra semangat.
Saat mereka akan melangkahkan kakinya, Maudy menahan langkah mereka. "E-eh, tapikan di sana ada Elgara. Kasihan Ayra kalo ada El–"
"Gak kok, gak apa-apa. Udah ayoooo ..." ajak Ayra sembari menarik tangan Maudy dan juga Shafira, Shafira pun segera menarik tangan Nana.
Semua orang memusatkan perhatian ke arah Fourangels. Bagaimana tidak, hari ini keempat gadis itu tampak begitu cantik dan juga sempurna. Untuk siapa pun yang melihatnya mereka akan tergoda dan merasa insecure.
Seperti halnya kelima pemuda yang tengah menyambut kedatangan Fourangels. Tatapan mereka semua begitu lekat bahkan mereka lupa untuk berkedip. Fourangels berhasil menghipnotis kelima pemuda itu.
"So, so, so ... pretty gurl!" ucap Mario sembari bertepuk tangan.
"Beuhh ... karya Tuhan indah banget," ujar Anggara sembari tersenyum lebar.
Lagi-lagi pandangan Ayra dan Elgara saling bertemu. Dengan cepat mereka memalingkan wajah seolah tadi tak menatap apa-apa. Ayra tersenyum saat melihat seseorang yang tak jauh dari jaraknya.
"Alia!" panggil Ayra.
Alia berjalan menghampiri Ayra, kemudian ia memeluk Ayra sembari tersenyum. "Hai Ra! Hai Maudy, Nana, Shafira!" sapa Alia.
"Hai!" sahut mereka serentak.
"Gilaaaa ... cantik banget lo hari ini," ujar Ayra sembari memegang tangan Alia.
"Makasih, kalian juga," ucap Alia sembari tersenyum.
"Kedip, anying!" ketus Brio sembari mengusap wajah Elgara cukup kencang, membuat laki-laki itu terkejut saat menatap Alia.
"Bangsat lo!" ketus Elgara sembari menjitak kepala Brio cukup kencang.
Setelah berbincang-bincang ringan. Mereka segera masuk ke dalam ruangan yang sudah dikhususkan. Mereka semua duduk berdekatan untuk menyaksikan acara kelulusan dan juga penampilan-penampilan dari setiap perwakilan kelas.
Bukan melihat ke arah depan, laki-laki bermata elang itu malah melihat ke samping di mana Ayra terduduk. Mata Elgara tidak bisa berhenti melihatnya. Bahkan saat Maudy menghalangi Ayra, Elgara berdecak sebal.
"Ssttt! Mod!" panggil Elgara.
Maudy menoleh, kemudian menaikkan dagunya–isyarat bertanya. Elgara menggerakan satu tangannya sembari berkata tanpa suara. Maudy yang paham maksud Elgara, gadis itu segera menyenderkan tubuhnya.
'Apaansih lihatin gue mulu.' batin Ayra sembari melirik sekilas ke arah Elgara.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Selesai acara kelulusan tersebut Ayra dan yang lainnya keluar dari ruangan. Kini mereka berkumpul di lapangan untuk berfoto dan juga menghampiri keluarganya.
Karena Mama dan Papa Ayra tidak datang, gadis itu hanya terdiam sembari memotret objek-objek yang berada di sekolah untuk dicetak sebagai kenangan. Kini Ayra tak mempermasalahkan orang tuanya yang tidak bisa datang. Walaupun hatinya sedikit sedih juga.
"Ayra," panggil seseorang.
Ayra menoleh ke arah sumber suara. Seketika bibir Ayra tersenyum, lalu Ayra berjalan menghampirinya dan segera memeluknya. "Tanteee ..." ucap Ayra, kemudian setelah itu ia melepaskan pelukannya.
"Mama sama Papa kamu di mana?" tanya Resta.
"Mama sama Papa gak pulang, Tan. Jadi hari ini mereka gak bisa datang ke sini," jawab Ayra.
"Oh begitu ... ya udah gak apa-apa, ya. Ada Tante di sini," ucap Resta sembari mengusap rambut Ayra.
"Selamat ya sayang atas kelulusannya. Selamat menempuh jalan hidup selanjutnya," ujar Resta.
"Aamiin ... makasih Tante ..." sahut Ayra.
"Mam, Elgara mau–" Ucapan Elgara terhenti saat pandangannya menatap Ayra.
Melihat Elgara yang menatapnya seperti itu membuat Ayra memalingkan wajahnya. Ayra tak bisa menatap Elgara lama-lama. Karena kali ini setiap menatap Elgara pasti air matanya terjatuh.
"Mau apa, El?" tanya Resta.
"Em, Tante, Ayra mau samperin teman-teman dulu ya," pamit Ayra, kemudian ia segera melenggang pergi tanpa menunggu jawaban Resta.
Pandangan Elgara terus mengikuti langkah Ayra. Resta yang memperhatikan Elgara terheran-heran dengan putranya yang hanya terdiam. Biasanya kemana pun Ayra pergi pasti Elgara ikuti.
"Kamu gak ke sana?" tanya Resta pada Elgara.
Elgara menoleh ke arah Resta. "I-iya, Mam, Elgara mau ke sana," jawab Elgara.
Kini anak SMA Bintang Negara menghabiskan waktu sorenya dengan berfoto bersama teman-temannya untuk terakhir kali. Begitu pun dengan Ayra, gadis itu tersenyum menghadap kamera.
"1, 2 ... 3!"
"Lagi!" teriak mereka berempat serentak.
Anggara yang sebagai fotografer ternganga, setelah keempat gadis itu berteriak memintanya untuk memotret lagi. "Pegel anjir tangan gue. Nyiksa banget dah," ucap Anggara.
"Sekali lagi dong!" pinta Shafira.
"Ck! Iya-iya!" sahut Anggara.
Laki-laki itu mengarahkan posisi kameranya. Setelah dirasa arahnya tepat Anggara segera memberi aba-aba agar keempat gadis itu bersiap. "1, 2 ... 3!"
"Thank you, Anggara!" ucap mereka serentak.
Baru saja Ayra akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba langkahnya terhenti saat Anres menarik lengannya perlahan. Tangan Anres terulur untuk merangkul pundak Ayra. Hal itu membuat Ayra mengernyit, ia tak mengerti apa maksud Anres.
"Gar! Fotoin gue sama Ayra," pinta Anres.
"Uhuyyy!" sorak mereka serentak, kecuali Elgara yang hanya terdiam sembari menatap tajam ke Anres.
"Meledak!" ucap Anggara, kemudian mengarahkan kameranya ke arah mereka berdua.
Tak mau kalah, Elgara segera menarik lengan Alia yang berada di sampingnya. Ia merangkul pundak Alia membuat gadis di sampingnya itu menatap Elgara heran.
"Ap-apaansih, El," ucap Alia sembari berusaha menghindar dari Elgara.
"Udah itu fotoin gue sama Alia," pinta Elgara.
Deg!
Ucapan Elgara membuat Ayra melihat ke arahnya. Hatinya terasa sakit saat melihat Elgara yang merangkul pundak Alia, sedangkan yang lainnya hanya ternganga melihat Elgara seperti itu.
"Dulu aja lo bully dia, sekarang–" ucap Mario.
"Cinta itu datang tiba-tiba. Diem lo!" sahut Elgara dengan tatapan tajam.
"Ayra! Ngadep sini!" pinta Anggara sembari mengarahkan kameranya.
Dengan cepat Anres menggerakan kepala Ayra agar gadis itu menatap ke arah kamera. Detik berikutnya bibir Ayra mengembang membentuk senyuman ke arah kamera tersebut. Elgara terus menggerutu di dalam hatinya saat melihat Anres yang begitu mesra berfoto dengan Ayra.
"Thanks ya, Ra," ucap Anres sembari mengusap kepala Ayra.
"Iya, gue mau ke sana dulu ya," pamit Ayra yang diangguki Anres.
Tak mau melihat Elgara berfoto dengan Alia, Ayra memilih duduk bersama ketiga sahabatnya. Tangan Nana terulur mengusap pundak Ayra, ia tau Ayra sakit melihat Elgara.
"Gak usah dilihat," ucap Nana yang diangguki Ayra sembari tersenyum.
"Ra, gimana kata Mama, Papa, lo?" tanya Maudy.
Ayra menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kecut. Gadis itu menundukkan kepalanya sejenak, lalu ia menatap sahabatnya secara bergantian. "Gue jadi Mod, tinggal di sana," ucap Ayra.
"Tinggal di mana?" tanya Nana sembari mengernyitkan keningnya.
"Jadi, gue gak akan tinggal di Indonesia lagi, gengs. Gue harus tinggal di London sama Mama, Papa. Otomatis gue gak bisa kuliah bareng kalian, sorry," jelas Ayra.
"Dan gue juga sama. Gue kuliah di London bareng sama Ayra. Jadi kita berdua gak bisa kuliah bareng kalian di sini," jelas Maudy.
"Demi apa, kalian serius?" tanya Nana yang diangguki Maudy dan juga Ayra.
"Yaaahhh ... gue belum siap pisah sama kalian ..." ucap Shafira sembari mencebikan bibirnya.
"Sementara kita pisah dulu. Nanti kita bisa kumpul berempat lagi kok, gue yakin kita bisa bersama-sama lagi," ujar Ayra.
"Iya, lagian walaupun kita berdua jauh dari kalian, kan bisa vidcall atau teleponan," jelas Maudy yang diangguki Ayra.
"Ya udah, kalo itu yang terbaik buat kalian. Gue sama Shafira bakalan dukung dan pastinya kita bakal kangen sama lo berdua," ucap Nana sembari tersenyum.
"Aaaa ... peluk dulu dong, gengs ..." pinta Shafira.
Mereka berempat pun saling berpelukkan. Tidak sangka persahabatan mereka bisa sampai tahap ini, padahal banyak perdebatan atau pertengkaran di antara mereka, tapi mereka bisa berteman hingga lulus sekolah.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
TRIT! TRIT! TRIT!
"Denis, El! Dikeroyok!" teriak Mario, kemudian mengklik enter pada komputer tersebut.
"BANGSAT! CARI MATI!" bentak Elgara.