Vanoztra

Vanoztra
29. Togetherness



"I-itu Oreo lapar deh, kayaknya. Dia mau makan, ada makanannya?" tanya Ayra.


Elgara menatap intens pada manik mata Ayra, hingga gadis itu berdeham pelan. "Ngapain?" tanya Elgara kembali.


Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak. Gue mau samperin lo buat minta makanannya Oreo, tapi gue tertarik sama rak ini–banyak buku novel," jelas Ayra.


"Buku novel? Tapi yang lo baca buku Vanoztra," ucap Elgara.


"Ya, gue kira ini cerita novel tentang Vanoztra. B-bukan, ya?" tanya Ayra.


Elgara menggelengkan kepalanya pelan dengan mata yang terus menatap intens. Laki-laki bermata elang itu berjalan mendekati Ayra, membuat gadis itu terus mundur dan– langkah mundur Ayra terhenti setelah menabrak rak di belakangnya.


Detik berikutnya Elgara memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Ayra. Sontak setelah wajah Elgara mendekat, Ayra memejamkan matanya.


"ASTAGHFIRULLAH! MY EYES!" teriak Anggara sembari menutup matanya.


Teriakan Anggara membuat kedua remaja itu pura-pura tidak melakukan apa-apa. Elgara yang langsung duduk di sofa dan Ayra yang langsung menyimpan buku Vanoztra pada tempatnya.


Satu persatu anak Vanoztra masuk ke dalam basecamp dan sepertinya bertambah juga.


Ayra terperanjat saat seseorang merangkul pundaknya, kemudian mencolek dagunya. "Halo cantik, kok ke sini lagi? Mau mandi bareng aku?" tanya Zino dengan tatapan brengsek.


"Lo jangan kurang ajar, No!" ketus Elgara sembari menatap tajam.


"Bercanda doang Bos! Kalem gak akan gue embat," ucap Zino, kemudian melepaskan rangkulannya.


"Sayang nyawa gue mah," lanjut Zino, kemudian ia berjalan menghampiri Anggara yang tengah mengajak Oreo bermain.


"Ikut gue, Ra," pinta Elgara, kemudian ia berjalan menghampiri Oreo.


Elgara menggendong kucing hitam putih itu untuk diberi makan. Langkahnya menuju tempat Oreo terhenti saat Ayra masih berdiam di tempat, gadis itu terus menatap ke arah jejeran buku di rak.


"Ra," panggil Elgara.


"Hem, kenapa?" tanya Ayra.


"Ayo ikut gue," pinta Elgara, Ayra pun mengangguk, kemudian ia berjalan menghampiri Elgara.


Ayra membawa makanan khusus Oreo atas perintah Elgara. Kini mereka berdua berjongkok. Ayra menuangkan makanan kucing tersebut pada wadah, sedangkan Elgara menuangkan air ke dalam wadah lainnya.


Detik itu juga Oreo langsung menyantap makanannya dengan lahap. Ayra tersenyum melihat kucing tersebut sesekali tangannya mengusap tubuh Oreo. Elgara pun ikut tersenyum melihat senyuman Ayra.


"Lo suka kucing?" tanya Elgara.


"Suka. Tingkah mereka tuh lucu-lucu efektif banget buat hilangin stres," jawab Ayra sembari terus memperhatikan Oreo.


Ayra menoleh ke arah Elgara. "El, kenapa namanya Oreo?" tanya Ayra.


"Lihat aja, bulunya hitam sama putih. Warna hitam kayak biskuit oreo nya terus warna putih kayak creamnya. Ya, kan?" jelas Elgara.


"Bener juga. Gue kira lo asal kasih namanya," ucap Ayra.


"Lo mau tau gak nenek moyangnya si Oreo itu siapa?" tanya Elgara.


Ayra mengernyitkan dahi. "Siapa?" tanya Ayra.


"Doraemon," jawab Elgara.


Lagi-lagi Ayra mengernyit heran. "Kok, Doraemon?" tanya Ayra.


"Nih, lo lihat ya," ucap Elgara.


Tangan Elgara terulur meraih tikus mainan yang tak jauh dari jaraknya, kemudian Elgara menyimpan tikus tersebut di hadapan Oreo. Detik itu juga Oreo langsung berjingkrak kaget, kemudian ia berlari terbirit-birit.


"Elgara!" teriak Ayra sembari menabok lengan atas Elgara.


"Kasihan dongo–lagi makan," ucap Ayra.


Sontak Elgara tertawa puas. "Udah tau, kan, jawabannya?" tanya Elgara.


Ayra menoleh menatap Elgara, kemudian ia tertawa. "Hahaha ... jadi Oreo takut tikus kayak Doraemon. Kucing jaman sekarang aneh ya–kebalik."


Aktivitas sekaligus obrolan mereka terhenti saat ponsel Ayra berdering. Dengan cepat Ayra meraih ponselnya di dalam saku rok. Ternyata sahabatnya yang menelpon dirinya.


"Halo, Na?"


Lo lagi di rumah, kan? Gue mau ke rumah lo sekalian pinjam tas buat besok.


"Gue lagi di basecamp Vanoztra, Na. Nanti aja pas gue dah balik, gue kabarin lagi."


Oke deh, itu lo lagi ngapain?


"Lagi ngasih makan Oreo."


Hah?! Lo gabut ngasih makan ke makanan?


"Bukan gitu. Gue lagi ngasih makan kucing Elgara–namanya Oreo."


Anjrit, gue kira kewarasan lo udah hilang. Ya udah nanti kalo udah pulang kabarin gue, bye!


"Stres kali gue ngasih makan ke makanan," ucap Ayra.


Elgara berdiri dari jongkoknya. "Lagian lo ngomongnya gitu. Udah ayo duduk di sana," ajak Elgara sembari menggenggam tangan Ayra.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Seperti yang sudah direncanakan kemarin bahwa hari ini Vanoztra akan pergi ke kampung Abah Suro. Bersama keempat perempuan itu. Kini mereka sudah berkumpul di Warbah, mereka tengah menunggu Abah Suro bersiap-siap.


'Bego, bego, bego! Lo tuh harus jauh-jauh dari Vanoztra, Ra ... bukannya malah gabung sama mereka.'


'Kenapa susah banget sih, gue kira dengan awal yang mudah akan mudah juga untuk misi-misi selanjutnya, tapi gue salah.'


"Foto, yuk!" ajak Shafira.


"Ayo!" sahut Nana dan juga Maudy.


Shafira membenahi arah kamera ponselnya agar mendapatkan hasil jepretan yang bagus. Mereka bertiga mulai berpose, tapi pandangan Shafira beralih ke arah Ayra. Pantas saja ia merasa ada yang kurang.


"Ra," panggil Shafira, tapi Ayra tak menyahut gadis itu tengah melamun.


"Ayra!" panggil mereka bertiga serentak.


Sontak Ayra terperanjat kaget, ia menatap ke arah tiga temannya dengan tatapan bingung. "Kenapa?" tanya Ayra.


Maudy berjalan menghampiri Ayra, ia menarik tangan Ayra. "Ayo foto dulu," ucap Maudy.


Setelah beberapa kali berfoto Ayra terdiam kembali memikirkan soal masalahnya. Hal itu diperhatikan oleh Elgara yang berdiri tak jauh dari Ayra. Laki-laki bermata elang itu berjalan menghampiri Ayra.


'Gue terlanjur cinta sama Elgara. Rasa dendam ini berubah jadi rasa cinta. Semuanya jadi rumit setelah rasa cinta ini datang.'


'Apa gue harus ber–'


"Ra," panggil Elgara sembari menepuk pundak Ayra.


Lamunan Ayra terbuyarkan, ia menatap Elgara yang berada di hadapannya. "Hem?"


"Lo kenapa? Baik-baik aja, kan?" tanya Elgara.


"I-iya gue baik-baik aja, kok," jawab Ayra sembari tersenyum.


Beberapa menit kemudian mereka sudah mulai bersiap-siap akan berangkat pagi hari ini. Bukan hanya lima anak Vanoztra saja, tapi anak Vanoztra yang lainnya pun ada yang ikut juga walaupun tidak sepenuhnya ikut.


Anres menyerahkan helm pada Abah Suro. "Nih, Bah," ucap Anres.


"Res, lo hati-hati ya bawa motornya. Jangan kebut-kebutan. Inget lo lagi sama Abah Suro," jelas Elgara.


"Siap, El!" jawab Anres.


"Ya udah berangkat sekarang aja. Udah kumpul semua, kan?" tanya Abah Suro.


"Udah, Bah," jawab Elgara.


"Kita berangkat sekarang. Sebelum itu kita berdoa dulu menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa dimulai," ucap Elgara.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Wahh ... indah banget ya pemandangannya," ucap Maudy sembari mengedarkan pandangan ke sekitar desa tersebut.


Shafira menghirup udara nya sembari memejamkan mata, kemudian bibirnya mengembang membentuk senyuman. "Sejuk banget udaranya, padahal udah mau siang."


"Air sungai di sini masih jernih, ya. Coba di kota kayak thai tea," ujar Ayra.


"Kayak milo," sahut Nana.


Serentak mereka berempat tertawa atas ucapannya. Setelah anak Vanoztra selesai memarkirkan motor-motornya, mereka melanjutkan perjalanannya menuju rumah Abah Suro yang tinggal beberapa meter lagi.


Tidak mungkin jika mereka menaiki motor menuju rumah Abah Suro. Karena arah menuju rumah Abah Suro harus melewati sawah.


Shafira mencekal lengan Anggara cukup erat, lantaran jalannya licin dan juga sempit. Gak lucu kalo Shafira terpeleset yang pastinya ia akan terjatuh ke sawah. Karena sisi kanan dan kirinya terdapat sawah.


"Awas jatuh, Sha," ucap Anggara yang diangguki Shafira.


Gadis itu semakin berhati-hati, tapi karena kaki nya yang bergemetar karena takut–Shafira jadi tidak fokus berjalan. Detik berikutnya yang ditakuti oleh Shafira benar-benar terjadi. Kaki Shafira tiba-tiba terpeleset.


"Aaaa!" teriak Shafira.


Duk!


Dengan sigap Anggara menarik tangan Shafira. Laki-laki itu berhasil menahan tubuh Shafira yang akan terjatuh. Kalo saja ia telat sedikit pasti Shafira sudah jatuh ke sawah.


Tapi ... dibalik keselamatan Shafira, ternyata ada orang yang tengah sial. Orang itu Mario, Mario menatap Anggara dengan tatapan emosi dan pasrah. Seluruh pakaiannya, bahkan wajahnya kotor karena tanah sawah.


Serentak mereka semua menoleh ke belakang melihat ke arah Shafira dan juga Anggara. "Kenapa, Gar?" tanya Nana setengah berteriak.


"Kepeleset, tapi gak apa-apa, kok," jawab Anggara.


"Gak apa-apa, kan, Sha?" tanya Anggara sembari memastikan gadis itu.


"Iya, gak apa-apa, kok," jawab Shafira.


"Gue gak ditanya?" tanya Mario kesal.


Sontak mereka semua membelalakkan matanya melihat Mario yang sudah berlumuran tanah. Sedari tadi Anggara tidak menyadari bahwa Mario ada di bawah sana. Detik berikutnya tawaan mereka meledak melihat Mario yang begitu mengenaskan.


"Lo ngapain anying, di bawah situ?" tanya Brio.


"Cosplay jadi keong, lo?" tanya Anggara, kemudian tertawa serentak.


"Setan! Gue jatuh anjir, gara-gara lo, Gar. Sialan, aing kesenggol!" ucap Mario dengan raut wajah kesal.


"Lah, gue kagak tau kalo nyenggol lo. Sorry-sorry aja," ujar Anggara.


Tak ada habisnya mereka menertawakan Mario. Bukannya langsung membantu Mario, mereka malah tertawa terbahak-bahak merasa puas dengan kesialan Mario. Setelah puas menertawakan Mario, Elgara mengulurkan tangannya.


"Udah anjir, kasihan anak orang," ucap Elgara.


Mario menerima uluran tangan Elgara, laki-laki itu segera berdiri. Ia tercengang melihat seluruh pakaiannya sangat kotor.


Merasa kesal karena Anggara, Mario mengusap kasar mulut Anggara. Mengakibatkan lumpur yang berada di tangan Mario mengenai mulut Anggara.


"Bangsat!" ketus Anggara tak terima.


"Udah ayo jalan lagi. Kasihan Abah Suro nunggu kita," ajak Anres sembari menepuk-nepuk pundak Mario.


"Treatment masker kopi lo, Gar?" tanya Anres di akhiri tawaan.


"Tau anying, pundung aing mah!" ketus Mario, kemudian melenggang pergi.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Nih, makanannya. Maaf ya kayak gini makanannya. Di desa mah apa atuh ya," ucap Abah Suro sembari menyimpan piring yang berisi beberapa makanan.


"Gak apa-apa, Bah. Lagian kita ke sini mau main bukan mau makan, tapi makasih, Bah," ujar Elgara sembari tersenyum.


"Sok atuh dimakan," pinta Abah Suro yang diangguki semuanya. (Silakan)


Mereka masing-masing langsung mengambil makanan tersebut. Bagi mereka makanan desa itu memiliki rasa yang unik dan enak juga. Abah Suro tersenyum melihat kebersamaan mereka.


Setiap hari Abah Suro merasa senang tinggal di kota. Lantaran semenjak anak Vanoztra sering berkumpul di Warbah, ia tak pernah merasa sendiri lagi. Abah Suro sudah menganggap mereka semua seperti anaknya sendiri.


"Em ... enak banget! Ini tuh kesukaan gue ..." ucap Maudy sembari mengunyah makanan tersebut.


"Lagian makanan apa yang lo gak suka, semua suka lo mah. Daki dugong juga pasti lo suka," sahut Nana.


"Ya, kagak gitu juga!" ketus Maudy.


"Eh, gengs, cobain ini deh enak banget. Dulu Oma gue selalu bikin kue ini," ucap Ayra, kemudian ia menyuapkan pada Nana, Maudy dan Shafira secara bergantian.


Mereka bertiga mengunyah kue tersebut secara perlahan untuk merasakan rasanya. Detik berikutnya mereka bertiga menatap Ayra dengan mata yang berbinar.


"Gila, enak banget!" ucap Nana.


"Gue pengen lagi dong," ujar Maudy sembari meraih kuenya.


"Nama kuenya apa, Ra?" tanya Shafira.


"Kalo gak salah ini tuh kue cucur namanya. Ya, kan, Bah?" tanya Ayra.


Abah Suro menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "Betul, itu namanya kue cucur. Terus yang dimakan Neng Maudy tadi namanya combro," jelas Abah Suro.


"Kalo yang ganteng ini namanya Mario," ucap Mario sembari menyurai rambutnya ke belakang, lalu mengedipkan matanya menatap Maudy.


"Sengklek," gumam Maudy.


"Abah ini minumnya," ucap seorang perempuan sembari membawa nampan yang berisi beberapa gelas yang sudah terisi air minum.


"Maaf ya lama," ujar perempuan tersebut.


"Iya gak apa-apa, makasih," sahut Ayra sembari tersenyum.


Pandangan Mario tak bisa beralih pada gadis tersebut. Sesekali Mario mengerjapkan matanya, bibirnya ternganga melihat kecantikan perempuan tersebut. Begitu manis yang dilihat oleh Mario, ia merasa menyukainya pada pandangan pertama.


"Sstt!" Anres menyenggol lengan Brio.


Brio langsung menoleh ke arah yang sedang Anres perhatikan. Bukan hanya Brio, anak  Vanoztra yang lainnya pun ikut melihat. Detik berikutnya mereka tertawa kecil memperhatikan Mario yang tengah ternganga.


"Napas lo bau ******, mingkem!" ucap Brio sembari menyuapkan combro pada mulut Mario.


Sontak Mario terperanjat kaget, ia menoleh ke arah teman-temannya dengan kesal, kemudian Mario mengunyah combronya sembari memperhatikan gadis itu yang kini sedang mengobrol dengan Ayra dan yang lainnya.


"Bah, itu anak Abah?" tanya Mario.


"Iya, anak Abah yang terakhir," jawab Abah Suro.


"Duh, cantik Bah, namanya siapa?" tanya Mario.


"Namanya Sekar," jawab Abah Suro sembari tersenyum.


Mario tersenyum setelah tau nama perempuan tersebut. "Bisalah, Bah. Restuin Mario sama Sekar," ucap Mario yang langsung dijitak oleh Anggara.


"Jangan Bah, jangan mau restuin. Si Mario mah buaya, bahaya," jelas Anres yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Mario.


"Sekar," panggil Mario sembari tersenyum.


Sekar menoleh ke arah Mario. "Iya, ada apa?" tanya Sekar.


"Nama kamu Sekar, ya?" tanya Mario.


"I-iya, nama saya Sekar," jawab Sekar.


"Indah banget namanya. Sekar–"


"Sekarung napasku," ucap Mario sembari tersenyum.


Mereka semua bersorak dan tertawa atas ucapan Mario, sedangkan Sekar ia tersenyum malu. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mati-matian menahan hatinya yang tengah terbakar. Maudy melirik sekilas ke arah Mario, kemudian ia mendelikkan matanya.