
"Lo sendiri yang susun rencana buat hancurkan Vanoztra, tapi lo sendiri yang gagalin rencananya. Otak lo di mana, sialan?!" tanya Nathan sembari menatap Ayra tajam.
Ayra membungkam mulut, ia sama sekali tak menjawab perkataan Nathan. Tubuh Ayra terasa lelah. Tadinya ia akan langsung pulang ke rumah, tapi saat keluar dari rumah sakit, Ayra ditarik oleh Nathan dipaksa untuk ikut ke basecamp.
"Ayra," panggil Nathan, tapi tak digubris oleh sepupunya itu.
Merasa geram dengan sikap Ayra, Nathan mendongakkan kepala Ayra cukup kencang. Hingga gadis itu meringis sakit. Dengan cepat Ayra menepis tangan Nathan yang berada di puncak kepalanya.
"Gue doain lo bisu, anying!" ketus Nathan.
"Ck! Gue kan udah bilang sama lo, kalo gue tuh terlanjur cinta sama Elgara."
"Lo paham gak, sih? Ketika ngerasain cinta sama seseorang, meskipun gue benci sama dia. Kalo rasa cintanya masih ada tetap aja hati gue gak terima dia dipukulin," jelas Ayra.
"Otak lo bego!" ketus Nathan.
Ayra memutar bola matanya malas. "Makanya jangan nge-jomblo mulu! Biar paham rasanya jatuh cinta itu gimana!" bentak Ayra.
Brak!
Nathan menggebrak meja membuat Ayra sedikit terperanjat. Tangan Nathan terulur mencekal kedua pipi Ayra. Matanya kembali menajam pada gadis itu.
"Sakit, dongo!" ketus Ayra sembari menepis tangan Nathan.
"Gue gak terima Alaskar gagal hancurin Vanoztra!" jelas Nathan.
"Tapi kita berhasil kalahin mereka," sahut Ayra.
"Itu gak cukup! Gue pengennya Elgara mati! Dengan begitu gue bisa hancurkan gangster sialan itu!" ucap Nathan.
Ayra bersedekap dada sembari menatap Nathan. "Udah cukup, Nat. Alaskar udah jadi penyebab kematian ketua Vanoztra batch 19, kan?"
"Bersaing dengan cara sehat aja. Gak perlu saling menghabisi nyawa," jelas Ayra.
"Dan gue pengen sekarang, Alaskar damai dengan Vanoztra!" ucap Ayra.
Bugh!
Satu pukulan Nathan berhasil mendarat di pipi Ayra hingga gadis itu tersungkur ke lantai dan pinggangnya membentur kursi. Ayra berdiri kembali sembari menatap tajam, ia mengepalkan tangannya kuat.
"Apa lo bilang? Alaskar damai dengan Vanoztra?!" tanya Nathan dengan raut wajah penuh amarah.
"Sampai kapan pun gue gak akan biarkan hal itu terjadi!" bentak Nathan sembari menunjuk wajah Ayra.
Ayra menepis jari Nathan yang menunjuk wajahnya. "Umur lo lebih dewasa dari gue, Nat, tapi cara berpikir lo itu kayak anak TK!"
"GANTI OTAK LO!" ketus Ayra.
"KURANG AJAR LO AYRA!" bentak Nathan, kemudian ia melayangkan pukulan.
Kepalan tangan Nathan berhasil Ayra hindari. Lantaran kesal pada sepupunya satu ini, Ayra melayangkan pukulan tepat di bagian hidungnya. Alhasil darah mengucur dari hidung Nathan.
"GUE GAK AKAN KAYAK GINI KALO LO GAK MULAI, BANGSAT!" ketus Ayra.
"Mulai detik ini gue gak akan menginjakkan kaki lagi ke basecamp ini! Gue berhenti jadi bagian Alaskar!" ucap Ayra, kemudian ia melepaskan jaketnya.
Sebelum melangkah pergi keluar basecamp gadis itu melemparkan jaketnya. Jaket tersebut mendarat tepat di wajah Nathan.
"ARRGGH!" teriak Nathan dengan napas yang memburu.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Di pagi hari kelima pemuda tersebut berkumpul bersama Elgara. Lantaran kondisi Elgara dan yang lainnya masih belum membaik, mereka memutuskan tetap diam di rumah sakit.
"Jadi, Ayra itu adik Micholas? Dan penyusun strategi penyerangan Alaskar?" tanya Anres yang diangguki Elgara.
"Iya, selama ini dia memata-matai kita untuk menghancurkan Vanoztra. Karena Ayra gak terima atas kematian Micholas," jelas Elgara.
Mereka semua serentak mengusap wajahnya kasar. Mereka masih tak percaya bahwa selama ini Ayra adalah bagian dari Alaskar. Lantaran gadis itu begitu cerdik menutupi identitasnya hingga tak ada satu pun yang tau.
"Kenapa lo baru cerita sekarang, babi!" tanya Brio.
"Gue nunggu waktu yang pas buat cerita semua ini. Makannya kemarin-kemarin gue suruh lo semua buat jauhin Ayra," jawab Elgara.
Anggara menghela napasnya. "Gue kecewa sama Ayra, padahal setahu gue Ayra tuh baik banget. Ternyata dibalik itu dia punya maksud yang membagongkan," ucap Anggara.
"Tapi gue lihat dia tulus cinta lo, El," ujar Mario yang diangguki semuanya.
"Jadi gini awalnya, dia tuh benci sama gue, pengen balas dendam, tapi lama kelamaan dia malah jatuh cinta sama gue," jelas Elgara.
"Sama aja kayak lo," sahut Mario.
Elgara menjitak kepala Mario. "Gue kan pacaran sama dia cuma pengen buktiin feeling gue, bro. Gue gak cinta sama Ayra," jelas Elgara.
"Bentar deh, seinget gue pas kemarin waktu war gue denger ada yang ngomong 'lo tau kan, Ra, lo itu kelemahan gue, kenapa lo harus berdiri di hadapan gue sekarang?' telinga gue normal deh," ucap Anggara sembari mengusap-usap dagunya.
Pletak!
"ANJIM!" Anggara terkejut saat Elgara memukul kepalanya menggunakan botol minum.
"Akh! Sialan El, kepala gue sakit yang ini kemarin kena kayu, anjir," ucap Anggara meringis sembari mengusap kepalanya.
"Lebay lo tai!" ketus Brio sembari merangkul pundak Anggara.
Segelas susu habis diteguk oleh Ayra. Gadis itu segera membereskan meja makannya. Setelah itu Ayra segera bergegas pergi menuju kamar untuk membereskan barang-barang yang akan ia bawa.
Saat masuk ke dalam kamarnya Ayra mengedarkan pandangan–menatap setiap sudut kamarnya. Bibir Ayra mengembang membentuk senyuman, tetapi hatinya terasa berat akan meninggalkan kamar ini.
"Kok gue ngerasa sedih ya, tinggalin kamar ini," ucap Ayra.
"Kamar ini selalu jadi saksi pertama di saat gue nangis, di saat gue ketawa–"
"Aaaa ... kok jadi mellow sih. Udah ah, gue harus beres-beres sekarang," ujar Ayra.
Gadis itu segera meraih sebuah koper yang berada di samping lemari, kemudian Ayra membuka lebar koper tersebut. Detik berikutnya Ayra memasukkan satu persatu pakaian dan barang-barang yang dianggap penting.
Semua pakaian sudah masuk semua ke dalam koper. Kini Ayra tengah memilih barang-barang untuk dibawa atau dibuang. Kebanyakan Ayra membuang barang tersebut karena Ayra rasa tidak penting.
"Boneka gajah ini ... terakhir kalinya gue main sama Elgara," ucap Ayra sembari menatap boneka nya.
"Gue bawa deh, lagian gue yang dapetin ini boneka." Ayra memasukkan boneka tersebut pada tas.
"Finally! Huh ... akhirnya beres juga. Udah ya, gak ada yang ket–"
Ucapan Ayra terhenti setelah pandangannya menatap pada benda yang berada di atas meja belajarnya. Gadis bermata coklat itu meraih sebuah kalung–kalung astronot pemberian Elgara.
"Gue gak bisa bawa kalung ini. Karena di sana gue benar-benar pengen lupain Elgara. Gue balikin Elgara aja deh, masih bagus soalnya," ucap Ayra.
Ayra mendudukkan tubuhnya di kursi, tangannya meraih sebuah pulpen dan menyobekkan selembar kertas. Detik berikutnya Ayra menuliskan sebuah surat di atas kertas tersebut.
Sejenak Ayra memejamkan matanya mencoba menghentikan air mata yang terus mengalir. "Akan ada orang yang lebih pantas untuk memakai kalung ini," ujar Ayra sembari tersenyum kecut.
Dering ponsel Ayra mengalihkan pandangannya. Dengan cepat Ayra menjawab telepon tersebut yang tak lain dari Maudy.
"Halo?"
Lo udah siap-siap?
"Udah Mod, baru beres."
Nanti kita ke rumah Nana dulu, Shafira udah ada di sana. Katanya mereka gak bisa ikut kita ke bandara.
"Oke, sepulang dari Nana, gue mau ke Elgara dulu ya."
"Gue mau balikin kalung, Mod."
Ya udah deh kalo mau balikin kalung.
Setelah itu Ayra segera beranjak dari kursinya, ia memasukkan kalung beserta suratnya pada tas kecil. Langkah Ayra menuju keluar kamar terhenti sejenak, ia mengambil dus kecil yang berisi dua anak ayam.
"Ciko, Ciki, sekarang kalian tinggal sama Shafira ya. Makasih udah temenin hari-hari gue," ucap Ayra sembari menatap anak ayam tersebut dari celah dus.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Elgara terduduk dari baringnya, ia menundukkan kepalanya dengan raut wajah sendu. Entah mengapa hari ini Elgara merasa rindu terhadap Ayra, ia berharap Ayra datang untuk menjenguknya lagi.
"El," panggil seseorang di ambang pintu.
Laki-laki bermata elang itu segera mendongakkan kepalanya sembari tersenyum–menatap ke ambang pintu. Detik berikutnya senyuman di bibir Elgara luntur begitu saja.
Ternyata apa yang diharapkan oleh Elgara tidak sesuai realitanya. Dikira Elgara, Ayra yang datang, tapi ternyata yang datang malah Alia. Gadis itu berjalan menghampiri Elgara dengan menjinjing tas dan juga kantong plastik.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Alia sembari mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Mendingan," jawab Elgara.
"Makanya jadi manusia tuh diem jangan banyak tingkah. Udah tau manusia itu punya satu nyawa, tapi kamu malah so-so an berantem. Kalo kamu kucing gak masalah," jelas Alia, kemudian menyimpan kantong plastik yang berisi buah-buahan.
"Bacot lo, mau ngapain ke sini?" tanya Elgara.
"Gantiin malaikat Izrail buat cabut nyawa kamu!" sahut Alia, kemudian memutar bola matanya malas.
"Setan!" ketus Elgara.
"Ya lagian pake nanya udah tau orang mau jenguk. Apalagi kalo bukan ngejenguk, ngelayat, hah?" tanya Alia.
Elgara mengerjapkan matanya beberapa kali. Kini ia melihat sosok Alia yang berbeda, benar-benar berbeda. Yang biasanya gadis itu akan terus menunduk ketika Elgara berbicara, tapi kini Alia berani menatap Elgara.
'Ajaran Ayra, emang beda. Sampai-sampai gue lihat sisi Alia yang sama kayak Ayra sekarang.'
"Oh iya El, aku datang kesini bukan inisiatif aku sendiri mau jenguk kamu ya, tapi aku disuruh sama Ayra buat anterin buah-buahan dan juga ini," jelas Alia sembari menyerahkan tas kecil pada Elgara.
Tangan Elgara terulur menerima tas tersebut. Perlahan Elgara membuka tas kecil itu, ia langsung meraih sebuah kalung dan juga selembar surat. Dengan ragu Elgara membaca surat tersebut.
Hai El, gimana keadaan lo? Gue harap lo udah sehat.
Gue mau balikin kalung ini ke lo. Karena gue yakin akan ada orang yang pantas pakai kalung ini. Sebelumnya kalung ini pernah putus, tapi udah gue perbaiki.
Hari kemarin adalah hari terakhir gue ketemu lo. Karena hari berikutnya gue udah gak di Indonesia lagi. Gue bakalan tinggal di London sama Mama, Papa.
Gue pamit ya El, mungkin suatu hari nanti kita bakalan ketemu lagi entah di mana, entah kapan dan entah dengan siapa kita nanti :)
Jaga kesehatan dan jaga diri lo baik-baik, good bye and see you Elgara!
Elgara meremas kertas tersebut. Mata laki-laki itu penuh dengan air mata. Elgara menundukkan kepalanya sejenak. Detik berikutnya air mata Elgara menetes membasahi selimut yang menutupi bagian kakinya.
"El, kamu baik-baik aja, kan?" tanya Alia sembari memegang pundak Elgara.
Elgara menyeka air matanya. "Ayra mau ke London, gue harus temui dia sebelum dia berangkat," ucap Elgara.
"Tapi El, kondisi kamu belum–" Ucapan Alia terhenti lantaran laki-laki itu tetap berjalan keluar ruangan dengan langkah yang lemas.
"Duh, Ayra–Ayra mau ke London? Kok dia gak bilang ya. Aduh ... aku harus temenin Elgara," ucap Alia, kemudian ia berlari menyusul Elgara.
"Elgara tunggu!" teriak Alia.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Kini Elgara dan Alia menaiki taksi menuju bandara. Daritadi Elgara tidak bisa tenang, ia takut Ayra sudah berangkat. Berkali-kali Elgara meminta sopir taksi tersebut melajukan mobilnya cepat.
"Ck! Pak bisa cepetan enggak?" tanya Elgara.
"Iya-iya, baik," jawab sopir tersebut.
"Kalo gak bisa cepat udah deh saya aja yang nyetir," pinta Elgara.
"Sabar dong, El. Kita juga harus hati-hati nanti kalo tabrakan gimana?" jelas Alia.
Di sisi lain Ayra dan Maudy tengah terduduk di kursi bandara. Mereka menunggu jadwal pemberangkatan. Raut wajah Ayra terlihat tidak ceria, beberapa kali Maudy mencoba menghibur Ayra, tapi tetap saja gadis itu murung.
"Ayolah, Ra, senyum ..." ucap Maudy sembari menatap Ayra.
"Ah, elah! Mikirin mulu Elgara. Please deh, kita mau ke London. Di sana banyak bule-bule yang ganteng, bahkan lebih ganteng dari Elgara dan di sana juga–"
"Banyak sugar daddy. Aaaa! Senang banget gue mau borong sugar Daddy di sana. Pasti lebih tebal tuh duitnya," ucap Maudy sembari tersenyum bahagia.
"Otak lo sugar Daddy mulu jengah gue dengarnya," sahut Ayra.
"Lo gak tau sih rasanya jalan sama ATM berjalan itu gimana. Bahagia banget Ra ... lo wajib coba!" jelas Maudy.
Ayra hanya menghela napasnya, lalu ia menggelengkan kepalanya perlahan atas sikap sahabatnya. Beberapa detik kemudian, mereka beranjak dari kursi. Karena lima menit lagi mereka akan segera berangkat.
Elgara dan Alia baru saja tiba di bandara. Pandangan laki-laki itu menatap ke setiap orang yang berada di bandara. Elgara mencari sosok yang ingin ia jumpai.
"Itu Ayra!" ucap Alia sembari menunjuk.
Senyuman terbit di bibir Elgara. "AYRA!" teriak Elgara memanggilnya.
Bukannya Ayra yang menoleh, tapi Maudy yang menoleh. Saat tau Elgara yang memanggil Ayra, sontak Maudy membelalakkan matanya.
Maudy memberikan isyarat pada Elgara untuk pergi, tapi Elgara tidak mengerti. Laki-laki itu malah terus memanggil nama Ayra. Bukan benci pada Elgara, hanya saja Maudy tidak ingin sahabatnya itu terus memikirkan Elgara nantinya.
"AYRA!" panggil Elgara.
"Pulang, Elgara! Sana ih!" ucap Maudy tanpa suara.
"Kayak ada yang panggil gue," ucap Ayra membuat Maudy menatap ke arahnya.
"E-enggak kok, gak ada yang panggil lo," dusta Maudy.
Ayra menghentikan langkahnya sejenak. "Serius? Tapi gue–" Gadis bermata coklat itu hendak menoleh ke belakang, tapi digagalkan oleh Maudy.
"Enggak ada Ayra! Gak percayaan deh," ucap Maudy sembari merangkul pundak sahabatnya, agar Ayra tidak menoleh ke belakang.
"Udah ayo, ah! Buruan jalannya, Ra," pinta Maudy sembari menarik lengan Ayra agar berjalan cepat.
Alia mengernyitkan dahinya. "Kok Maudy nyuruh kita pulang sih?" tanya Alia.
Pandangan Elgara beralih pada ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Maudy, Elgara segera membaca pesan tersebut. Alia yang merasa penasaran ia mengintip layar ponsel Elgara.
Maudy : El, sorry gue gak kasih tau Ayra kalo lo datang ke bandara.
Gue gak mau dia sedih El, kalo dia ketemu sama lo pasti Ayra bakalan terus kepikiran lo nanti nya.
Sorry ya, gue sama Ayra pamit. Bye, see you!
Elgara menghela napasnya sembari menganggukkan kepalanya beberapa kali. Laki-laki itu membenarkan perkataan Maudy, karena emang benar di sana Ayra harus memikirikan mimpinya, bukan memikirkan Elgara.
Semoga hari-hari lo di sana bahagia. Jangan berpikir untuk lupain gue, Ra. Karena di sini gue akan selalu ada memeluk semua kenangan ditemani oleh rasa rindu -batin Elgara.
"Ayo!" ajak Elgara pada Alia.
"Pulang?" tanya Alia.
"Kita cari tempat makan. Temenin gue makan siang," ajak Elgara, kemudian ia menggenggam tangan Alia.