
Jack dan Louisa tiba di L.A saat waktu sudah hampir malam. Itu karena Jack dan Louisa sering berhenti untuk sekedar melepas penat atau juga mengisi perut mereka. Sebenarnya isi kulkas mobil campervan itu sangat lengkap, tapi saat ini kondisi lengan Louisa masih belum bisa dipakai untuk bergerak bebas.
Jack menghentikan mobilnya di tepi pantai, malam ini mereka akan bermalam di sana. Jack keluar dari campervan sembari merenggangkan tangannya. Louisa masih di dalam campervan dan duduk dengan gelisah. Jack sesaat menoleh dan mengeryit menatap tingkah Louisa.
"Ada apa?" tanya Jack.
"Jack, apa aku boleh mandi?"
"Tentu saja, apa mandi juga memerlukan ijin dariku."
"Tidak, bukan begitu. Kau tahu kan aku tidak bisa menggerakkan lenganku secara bebas. Aku kesulitan melepaskan pakaian ini." Louisa berbicara sabil menunduk, Jack mengusap wajahnya kasar dan mengacak rambutnya frustasi. Dia ini pria normal. Bagaimana bisa gadis itu memintanya membantu melepas pakaian.
"Kini kau benar-benar masalah untukku, Louisa."
"Maafkan aku. Anggap saja kau tidak pernah mendengar ucapanku tadi, Jack."
"Segeralah ke kamar mandi. Aku akan menyusulmu." Louisa mengangguk dengan wajah yang tersipu malu. Sedangkan Jack mendes*h frustasi. Dia menatap punggung Louisa yang sekarang berjalan ke kamar mandi, Jack kembali naik ke dalam campervannya dengan perasaan berdebar, dia pun mengikuti langkah Louisa.
"Jadi sekarang tugasku melepas pakaianmu dan nanti saat kau selesai aku harus memasangkannya?"
"Tidak. Bukan begitu. Aku bisa memasangnya sendiri nanti, tapi untuk melepaskannya, aku sedikit kesulitan," kata Louisa. Dia pun sebenarnya malu untuk mengatakan ini pada Jack, tapi mau bagaimana lagi, Jack satu-satunya orang yang bisa dia percayai dan satu-satunya orang yang dia kenal.
Jack memutar seting lampu campervannya agar sedikit redup sehingga bayangan Louisa tak akan nampak dari luar.
"Maaf jika aku merepotkan, Aku akan belajar melepas baju sendiri setelah ini."
"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Sejak awal aku sudah bersedia membantumu, jadi aku akan melakukan semuanya dengan tuntas."
"Terima kasih."
Saat ini Louisa berdiri berhadapan dengan Jack. Jack perlahan membuka kancing baju Louisa. Jantung Louisa berdebar kencang. Bahkan mungkin saja saat ini Jack bisa mendengar suara degup jantung Louisa, hanya saja Jack memilih untuk pura-pura tak mendengarnya. Pria itu tak mau membuat Louisa malu.
Jack sama sekali tak menunduk. Dia khawatir akan hilang kendali melihat tubuh seksi milik Louisa. Perlahan Jack membantu, Louisa menarik kemejanya. Louisa mendesis dan tanpa sadar mencengkeram kaos Jack.
"Sakit?" tanya Jack. Louisa hanya mengangguk. Mau tak mau Jack akhirnya menunduk untuk memastikan apa yang dia lakukan sudah benar. Namun, saat Jack menunduk, dia justru terpaku dengan dada Louisa yang terbungkus br* berwarna hitam. Jack menelan salivanya kasar.
Jack segera menyelesaikan tugasnya dan lalu meninggalkan Louisa begitu saja. Louisa berkali-kali menghela napasnya untuk menormalkan degup jantungnya yang bergelombang.
Louisa perlahan menarik turun celananya. Beruntunglah dokter Jean memberinya beberapa celana Sport yang tak terlalu melekat di tubuhnya. Louisa segera mengguyur tubuhnya. Gadis itu tak mau berlama-lama karena dia khawatir justru akan sakit dan malah merepotkan Jack.
Louisa mencoba memasang kemeja barunya dan ternyata itu berhasil meski memakan waktu cukup lama.
"Apa kau bisa melakukannya sendiri, Loui?"
"Ya, Jack. Aku bisa. Sebentar."
Louisa keluar dengan penampilan yang tampak lebih segar. Sebuah kemeja berwarna pink dusty yang cukup besar. Dan ....
"Kau tidak pakai celana?" tanya Jack karena jujur saja Louisa kini terlihat hanya memakai kemejanya saja. Wajah Louisa merah padam.
"A_aku memakainya. Ini celana pendek. Ini sudah malam. Aku tak akan nyaman tidur memakai celana panjang." Louisa menarik kemejanya ke atas dan memperlihatkan tak hanya hotpantnya, tapi juga memperlihatkan pahanya yang mulus tanpa disadarinya.
"Ok, turunkan kemejamu. Apa kau ingin menggodaku?"
"Ti_tidak, Jack. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu." Wajah Louisa kembali menunduk. Jack tak suka melihatnya. Dia mengangkat dagu Louisa dan dan menatap Louisa dalam.
"Jangan selalu menunduk jika berbicara. Tatap aku Louisa. Sikapmu yang seperti ini, jika kau berada di luar, kau sama saja memancing pria-pria baji*gan untuk melecehkanmu. Mulai sekarang jika bicara dengan siapapun tegakkan wajahmu. Tatap lawan bicaramu dengan tajam."
Netra Jack dan Louisa kini terkunci. Louisa seakan bisa tenggelam di netra coklat muda milik Jack.
"Jangan tundukkan wajahmu dan terus tatap mataku," kata Jack. Louisa seperti terhipnotis ucapan Jack. Dia hanya mengangguk. Lalu ....
Fuuh!!
Jack meniup wajah Louisa. Dia terbahak melihat reaksi terkejut gadis itu.
"Jangan terlalu lama memandangiku. Aku takut kau akan jatuh cinta padaku."
...****************...