Trip to Love (Jackson's Story)

Trip to Love (Jackson's Story)
Bab 49. Semuanya Telah Berakhir



Louisa membuka kelopak matanya. Matanya perlahan mengerjap, Dia melihat Jack menatap dirinya dengan wajah cemas.


"Ho_ney." Louisa memanggil Jack dengan lirih sembari mengulas senyum tipis.


"Apa yang kau rasakan sekarang, Sayang?"


"Aku sudah baik-baik saja. Maaf. Aku pasti sudah membuatmu cemas."


Jack menempelkan keningnya di dahi Louisa. "Aku yang seharusnya minta maaf. Aku tidak menjagamu dan calon anak kita."


Louisa memejamkan matanya sesaat. Saat kelopak matanya kembali terbuka, dia mengusap pipi Jack dengan lembut. Kini giliran Jack yang terpejam merasakan sentuhan lembut istrinya.


"I love you, Loui. Sekarang semuanya telah berakhir. Aku berharap kau tak lagi mendapatkan mimpi buruk. Aku sudah menghukum pria itu."


Saat Jack menjauhkan sedikit wajahnya, Louisa lagi-lagi tersenyum. Sejak membuka mata tadi, Louisa tak henti-hentinya menatap Jack sambil tersenyum.


"Aku juga mencintaimu, Jack. Amat sangat mencintaimu. Ku harap setelah ini hanya ada kebahagiaan di kehidupan kita."


"Pasti. Akan aku pastikan kau selalu bahagia setelah ini."


Pasangan itu sama-sama tersenyum lebar setelahnya. Tak lama kemudian dokter yang menangani Louisa datang.


"Selamat malam, Nyonya Louisa. Bagaimana kabarmu?"


"Sudah jauh lebih baik, Dokter. Terima kasih."


"Tidak perlu berterima kasih, Nyonya. Sudah menjadi tugasku untuk merawatmu dengan sepenuh hati."


"Tetap saja, aku ingin berterimakasih, Dokter. Berkat dokter kandunganku baik-baik saja."


"Aku hanya perantara, Nyonya. Semua ini sudah kehendak Tuhan. Sekarang yang perlu aku beritahukan pada anda, agar anda tidak terlalu stress, jika ada ganjalan di hati sebaiknya diutarakan agar tidak menjadi beban pikiran dan berakibat buruk pada kehamilan anda. Apa lagi ini adalah kehamilan pertama anda."


***


3 hari berselang, Louisa telah diperbolehkan pulang. Saat sampai di mansion mereka, baik Louisa maupun Jack begitu kaget melihat kedatangan Giani, Ben, Celine dan juga Jordan.


"Mom, Dad, kapan kalian datang?"


"Kami baru tiba 1 jam yang lalu. Sebenarnya mommy dan daddy ingin ke rumah sakit, tapi tadi Sebastian bilang kalian sudah akan check out dari rumah sakit. Jadi kami memutuskan menunggu Louisa di rumah," kata Giani. Ibu dari 4 orang anak itu mendekati menantunya dan langsung merangkul bahu Louisa dan membimbing menantunya masuk ke dalam kamar pribadi mereka.


"Kak, kenapa kakak ipar bisa sampai mengalami hal itu?" tanya Celine sembari melingkarkan tangannya di lengan Jack dengan manja.


"Itu semua salah kakak. Kakak kurang berhati-hati. Kelak jika kau memiliki suami, Kau harus mencari orang yang benar-benar kompeten untuk menjagamu."


"Aku tidak akan mengijinkan adikmu menikah cepat. Dia harus menikah di usia 25 tahun," sahut Ben cepat. Dia tidak ikhlas putrinya menikah cepat-cepat.


"Oh my ... Daddy ingin membuatku menjadi perawan tua?"


"Ya, jika perlu, kau baru daddy bolehkan menikah setelah daddy tak sanggup lagi menjagamu."


"Daddy benar-benar konyol." Celine mencebik kesal mendengar ucapan ayahnya. Jordan dan Jack hanya bisa memutar matanya malas mendengar perdebatan antara ayah dan saudara perempuan mereka.


Sementara itu di dalam kamar pribadi Jack dan Louisa, Giani sedang mengusap perut Louisa.


"Mommy sudah tidak sabar menanti kelahiran cucu-cucu mommy. Sebentar lagi Diana akan melahirkan. Lalu tak lama kemudian kau juga akan melahirkan. Pasti nanti rumah akan ramai jika kita kumpul keluarga."


"Itu sudah pasti, Mom. Aku juga sudah tidak sabar menantikan saat-saat itu."


...****************...