Trip to Love (Jackson's Story)

Trip to Love (Jackson's Story)
Bab 25. Rela Melepaskan



Jack dan Louisa baru saja tiba di mansion pukul 3 pagi. Louisa tertidur saat perjalanan kembali. Jack langsung mengangkat tubuh Louisa dengan mudah dan membawanya ke kamar miliknya.


Begitu Louisa diturunkan, matanya langsung mengerjap dengan cepat. Wajah Louisa seketika memerah saat menyadari Jack membawanya ke kamar milik Jack. Jack hanya tersenyum melihat reaksi Louisa.


"Wajahmu merah sekali, Sayang." Jack mengusap lembut pipi Louisa.


"J_jack, aku ingin mandi. badanku pasti bau."


"Kita sama-sama bau, Sayang. Kau sudah mengatakan akan melanjutkan yang tadi, bukan?"


"I_iya, tapi biarkan aku mandi, Jack."


"Loui, kau jahat sekali padaku." Jack lepaskan pelukannya dan berbaring memunggungi Louisa. Louisa terkekeh. Rupanya Jack pun juga bisa bertingkah kekanak-kanakan. Louisa memeluk tubuh Jack dari belakang.


"Jangan marah, kau tidak pantas bersikap kekanakan begini," bujuk Louisa.


Jack tidak menjawab Louisa sama sekali. Louisa berpikir sejenak dan lalu dia akhirnya memilih untuk menurunkan ego dan gengsinya. Gadis itu melepas pelukannya dan mulai melepaskan satu per satu kancing bajunya. Jack yang sedang merajuk pun akhirnya menoleh karena tak merasakan adanya pergerakan dari Louisa.


"Loui, kau?" Jack tak melanjutkan pertanyaannya karena mulutnya sudah terlebih dulu dibungkam oleh bibir Louisa.


Dalam sekejap ciuman lembut Louisa berubah menjadi ciuman yang panas karena Jack menekan tengkuk Louisa. Jack melepaskan kait b*a Louisa dengan leluasa karena baju Louisa sudah terongok di lantai.


Jack memberi pijatan lembut di dada Louisa, Gadis itu bergerak gelisah tak menentu. Jack akhirnya membalik posisinya, hingga Louisa kini berada di bawah kungkungannya. Jack melepas semua pakaian yang tersisa di tubuh Louisa dan juga melepaskan pakaiannya sendiri dengan tak sabaran. Dinginnya malam itu tak lagi dirasa karena mereka berdua sama-sama sudah terbakar api ga*rah.


Meski tanpa ikatan, Louisa sudah memutuskan untuk menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Jack. Sejak Jack menjadi pelindungnya, Louisa merasa jika Jack berhak menjadi pemilik kehormatannya.


Tak ada air mata saat mahkota sucinya terkoyak oleh pusaka Jack. Louisa bahkan tersenyum tipis sembari mengusap wajah Jack.


"Ouh, Loui."


Louisa mencengkeram bahu Jack. Saat penyatuan mereka mulai meningkat dengan gerakan tepukan yang semakin lama semakin cepat. Louisa benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak berbagi rasa dengan Jack. Dia menggigit bahu dan mencakar punggung Jack saat dirinya mencapai puncaknya.


Jack semakin mempercepat gerakannya dan tak lama kemudian dia mengerang dan untuk sesaat dia berdiam dengan posisi pusaka yang masih tertancap di lembah nikmat milik Louisa.


Jack tahu apa yang dia lakukan ini pasti akan membuat ibunya marah, tapi Jack benar-benar tidak bisa menahan diri. Setelah ini dia akan membawa Louisa ke Melbourne untuk berkenalan dengan keluarganya di sana.


Louisa membuka matanya saat Jack berguling ke samping tubuhnya. Matanya yang sayu menatap Jack dengan teduh.


"Terima kasih, Jack."


"Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih karena kau sudah membantuku menyelesaikan masalah. Terima kasih kau mau menampung gembel sepertiku."


"Kau terlalu merendahkan dirimu sendiri, Loui. Aku tidak suka. Kau itu bukan gembel. Kau adalah seorang bidadari yang tersesat."


Jack tiba-tiba terdiam, dia seperti sedang memikirkan sesuatu, Louisa tampak penasaran, tapi dia tak berani bertanya.


"Loui, apa kau mau pergi ke Melbourne bersamaku? Aku ingin mengenalkan dirimu pada keluargaku."


"Ta_tapi, Jack. Apa ini tidak terlalu cepat?"


"Tidak. Bagiku selama 3 bulan ini aku sudah cukup mengenalmu dan aku ingin kau mengenal keluargaku, sebelum nanti akhirnya kau menjadi salah satu bagian dari kami."


Kini Louisa yang mendadak diam, dia tak tahu harus menjawab apa sekarang. Jack masih menatapnya begitu dalam dan membuat Louisa akhirnya mengangguk.


Jack seketika tersenyum dan menarik tubuh polos Louisa kedalam dekapannya.


"Terima kasih, Sayang," ujar Jack, mencium kening Louisa. Louisa memejamkan matanya dan merasakan kehangatan mulai menjalari hatinya. Dia merasa Jack adalah pria yang begitu sempurna tanpa cela. Louisa semakin mengagumi sosok pria itu karena dia mau menerima dirinya yang penuh dengan kekurangan.


Mereka berdua kembali melakukan penyatuan, hingga pagi menjelang. Louisa baru memejamkan mata saat jam menunjukkan pukul setengah 7. Jack benar-benar menghabisinya dalam semalam.


Pukul 10 Jack terbangun terlebih dahulu, Dia tersenyum saat melihat Louisa meringkuk nyaman dalam dekapannya. Perlahan Jack menggeser kepala Louisa dari lengannya. Jack menggerakkan lengannya yang sedikit kebas karena menjadi bantal tidur Louisa. Jack bergegas ke kamar mandi, karena hari ini dia akan menerima laporan hasil pekerjaan Sebastian dan Hugo.


Jack turun menuju dapur untuk membuat segelas susu dan juga secangkir kopi. Pria itu juga memasukkan roti kedalam pemanggang Jack benar-benar terampil. Gaya hidupnya yang bebas sejak dulu juga mengasah skill kemampuannya untuk mengurus diri sendiri dan sekarang dia bahkan ingin mengurus Louisa juga.


Jack membawa segelas susu dan roti panggang naik ke kamarnya. Dia meletakkan nampannya di atas meja dan lalu mengusap pipi Louisa dengan lembut.


"Loui, bangun."


"Hng, aku lelah, Jack. Beri aku waktu lagi. Pinggangku sakit sekali."


"Aku sudah membuatkan susu dan juga roti panggang untukmu. Kau harus sarapan setelah itu lanjutkan tidurmu. Aku akan berada di ruang kerja seharian nanti."


"Ya, baiklah. 5 menit lagi aku akan meminum susunya dan memakan rotinya," jawab Louisa dengan mata terpejam.


Jack menggelengkan kepalanya. Sepertinya Louisa memang benar-benar kelelahan. Dia hanya mengecup kening dan bibir Louisa sekilas lalu dia segera turun. Saat berada di bawah, Jack sudah melihat Sebastian dan Hugo. Jack langsung memberi kode agar mereka segera masuk ke ruang kerja.


Jack membawa cangkir kopinya dan berjalan dengan santai. Dia duduk di kursinya sedang Hugo dan Sebastian tetap berdiri, karena mereka belum dipersilahkan duduk.


"Duduklah, kalian!"


Sebastian dan Hugo langsung menempati sofa panjang yang ada di sudut dekat dengan meja Jack.


"Bagaimana?"


"Semuanya sudah beres, Tuan. Lucas terlihat marah dia bahkan menghajar sebagian anak buahnya yang selamat dari serangan kemarin.


"Aku yakin butuh waktu lumayan lama untuk Lucas bangkit dari semua ini. Kecuali dia punya pendukung yang kuat. Aku akan kembali ke Melbourne untuk beberapa hari. Ku harap kalian tetap awasi pergerakannya. Jangan sampai kecolongan."


"Baik, Tuan."


...****************...