
Jack dan Louisa masih tidur dengan posisi saling berpelukan padahal sinar mentari sudah menembus rimbunnya pepohonan di dalam hutan. Pondok yang letaknya sedikit lebih tinggi dan menyerupai rumah pohon, tapi dalam versi mewah itu, kini tampak begitu terang berkilau di dalam hutan.
Louisa merenggangkan tubuhnya yang terasa letih. Dia menoleh di sebelahnya Jack masih terlelap memeluk perutnya. Namun, tak begitu erat. Perlahan Louisa menggeser tangan Jack, kemudian dia bangun dan bergegas ke kamar mandi.
Wajah Louisa tampak segar setelah tadi dia mencuci muka dan menggosok giginya. Louisa mengikat rambut panjangnya asal-asalan. Namun, itu justru malah membuat Louisa terlihat seksi.
Wanita itu memutuskan untuk ke dapur membuat sarapan untuk Jack. Louisa sejenak berdiri menatap ke sekeliling hutan. Suasana yang terang membuatnya lebih bisa melihat sekitar pondok itu.
Louisa segera mengambil beberapa bahan makanan dari dalam kulkas dan mulai mengolahnya. Dia akan membuat sandwich telur dan bacon juga menggoreng beberapa sosis sebagai tambahan. Saat sedang fokus memasak sosis, tiba-tiba perut Louisa dipeluk dari arah belakang. Senyum Louisa mengembang saat melihat Jack sudah bersandar manja di bahunya.
"Kau meninggalkanku?" ujar Jack dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku melihat kau tidur sangat pulas. Aku tidak tega membangunkanmu," jawab Louisa sembari mengusap rahang Jack yang mulai ditumbuhi bulu.
"Aku kehilangan kehangatan," gumam Jack seperti merajuk. Louisa terkekeh dan lalu mengecup pipi Jack.
"Maafkan aku, Sayang. Aku membuatkan sarapan untuk kita. Duduklah dulu!"
Jack pun akhirnya duduk di kursi yang berada di sebelah dapur. Matanya tak lepas memandangi Louisa.
Louisa menyajikan 2 piring sandwich di meja makan. Lalu dia membuatkan Jack kopi dan sekaligus menyiapkan air putih untuk suaminya itu.
"Ayo makan, aku sudah sangat lapar. Bahkan kakiku sampai gemetaran."
"Kau gemetaran karena kegiatan panas kita semalam, Baby. Bukan karena kau lapar," ujar Jack sembari memotong sosisnya dan menggigitnya. Wajah Louisa langsung bersemu, dia menggigit garpunya dan menatap Jack malu-malu.
"Me_menje_lajah hutan?" tanya Louisa terbata. Membayangkannya saja sudah sangat mengerikan. Jujur saja dia takut ada hewan buas di sana.
"Ya. Apa kau takut?" tanya Jack.
"Ya. aku rasa memang aku takut. Apa lagi kita tidak tahu binatang apa saja yang hidup di hutan ini."
"Aku tahu," jawab Jack santai.
"K_kau tahu?" wajah Louisa terlihat menegang.
"Jangan takut, Loui. Semua yang ada di hutan ini adalah kepunyaan kami. Jadi aku tahu binatang apa saja yang dibiarkan hidup di hutan ini. Mereka semua adalah peliharaan kami."
Tring!!
Sendok yang ada di tangan Louisa mendadak jatuh di atas piring menimbulkan suara nyaring. Bagaimana tidak? Di situasi yang sangat menegangkan ini, di belakang Jack tepatnya di balik pintu kaca seekor Harimau besar menatap ke arahnya sembari menunjukkan gigi taringnya.
Melihat wajah syok Louisa, Jack menoleh ke arah tatapan mata istrinya. Jack tersenyum melihat Zoro. Dia pun langsung berdiri dan membuka pintu kaca itu. Louisa yang masih dikuasai perasaan takut dan syok tiba-tiba langsung jatuh tergeletak di lantai.
Jack menoleh mendengar suara seperti suatu benda yang jatuh, matanya langsung terbuka lebar melihat istrinya jatuh pingsan.
"Oh God, Loui." Jack segera berlari menghampiri istrinya sedangkan Zoro masuk ke dalam pondok dengan langkah tenang.
...****************...