
Louisa mengerjapkan matanya perlahan. Tatapannya masih sedikit buram dan dia langsung terduduk begitu mengingat apa yang membuatnya pingsan tadi.
"Akhirnya kau bangun juga, Loui. Kau membuatku hampir kena serangan jantung melihat kau mendadak pingsan," kata Jack.
"J_jack aku melihat ada harimau tadi."
"Ya memang. Dia salah satu hewan peliharaan keluarga kami, Loui. Maaf membuatmu terkejut," ujar Jack. Dia mengusap lembut rambut Louisa.
"Pe_peliharaan ...?" Louisa kehabisan kata-kata. Dia terdiam cukup lama, netranya menatap bingung pada Jack.
"Kau mau berkenalan dengannya?" tanya Jack, senyum pria itu bahkan tak surut sejak tadi.
"Ti_ti_tidak mau, aku masih cukup waras. Kau benar-benar aneh, Jack. Bagaimana bisa memelihara hewan buas itu. Mereka sewaktu-waktu bisa menyerangmu."
"Sejujurnya aku memiliki banyak hewan buas di sini dan Zoro juga merupakan 1 dari beberapa harimau yang ada di hutan."
"Oh God. Aku mau pulang saja, Jack." Louisa memelas dengan wajah memerah seakan ingin menangis."
"Percaya padaku, Loui. Aku akan melindungimu. Mereka tidak akan menyerang kita."
Saat Louisa masih terpaku, terdengar bunyi geraman Zoro dari balik pintu. Tangan Louisa mendadak dingin dan wajahnya kembali pucat.
"Ayo kita keluar. Zoro sejak tadi menunggu di luar," ujar Jack. Louisa menggeleng lemah. Dia kembali menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Dia benar-benar tak berani jika harus berhadapan dengan hewan buas itu.
"Trust me, Loui. Aku juga tidak ingin mencelakaimu. Zoro tidak akan menyerang."
Louisa menatap suaminya lekat. Pada akhirnya dia hanya pasrah saat Jack menarik tubuhnya untuk bangun dari ranjang. Louisa berjalan di belakang Jack. Saat pintu terbuka, Zoro mengaum dengan keras. Jantung Louisa bertalu-talu mendengar auman hewan itu. Jack mengusap puncak kepala Zoro berkali-kali dan hewan itu dengan ajaibnya kini terduduk manja seperti seekor kucing.
"Lihatlah! Dia hanya ingin mengajak bermain. Sentuhlah dia, Loui."
"A_aku tidak mau, aku takut."
"Ayolah, Sayang. Kau tidak perlu takut." Jack menarik tangan Louisa dengan lembut dan meletakkan tangan Louisa di atas kepala Zoro.
Louisa hanya diam dan memandangi binatang buas itu dengan tatapan nanar. Meski suaminya bilang tidak apa-apa, dia tetap saja khawatir hewan itu akan menerkamnya.
"Zoro ini sudah sangat tua. Dia tidak akan macam-macam. Mungkin usianya tidak akan lama lagi. Zoro punya beberapa anak, salah satunya ku beri nama Zack, tapi sekarang entah kemana perginya. Ku rasa Zack juga sudah punya keturunan."
Meski takut, Louisa tetap mendengarkan penuturan suaminya tentang hewan yang satu ini dan keturunannya. Dari binar mata Jack terlihat jelas dia sangat bangga memiliki hewan itu.
"Keluarga kalian benar-benar unik," gumam Louisa sembari menatap Jack dengan lembut. Jack tersenyum. Jack menarik tangan Louisa. Zoro yang memejamkan mata karena usapan tangan Louisa tiba-tiba membuka mata, karena merasa kehilangan.
"Ayo kita menjelajahi hutan. Aku akan tunjukkan hewan lainnya padamu." Louisa yang tadinya tersenyum perlahan senyumannya sirna.
"Me_menjelajah?"
"Ya, Loui. Ayo. Mumpung masih terang."
Louisa tak tahu lagi harus berkata apa. Seharusnya bulan madu itu melakukan hal-hal yang manis, bukannya malah melakukan hal yang ekstrim seperti ini.
Jack menarik tangan Louisa dan membawanya ke kamar untuk bersiap-siap. Louisa hanya bisa pasrah tanpa perlawanan.
Jack menggendong sebuah tas ransel di punggungnya. Zoro berjalan di sisi Louisa dengan tenang. Mungkin karena usia Harimau itu sudah terlalu tua makanya terlihat malas dan ogah-ogahan dengan mangsa di sebelahnya. Jack menggenggam tangan Louisa sejak keluar dari pondok. Mereka berjalan cukup jauh dan tibalah di dekat sebuah aliran sungai kecil.
Louisa benar-benar terpukau dengan isi hutan itu, Dia bahkan masih tak menyangka hutan seluas itu merupakan hutan pribadi milik keluarga suaminya. Jack bersiul beberapa kali sampai tiba-tiba terdengar suara derap tapak kaki besar menghampiri mereka.
"J_jack suara apa itu?"
"Itu suara derap langkah peliharaanku yang lainnya."
"Oh, God. Kau membuatku kehabisan kata-kata," ucap Louisa. Wanita itu langsung merapatkan diri di belakang tubuh suaminya.
Tak lama seekor beruang madu berukuran besar tampak dari balik pepohonan, Louisa menelan salivanya kasar. Ini benar-benar gila. Louisa bersumpah dia tak akan melupakan pengalaman berkesan selama bulan madu ini.
...****************...