
Steve dan Nielson akhirnya mengikuti mobil pria asing yang mengatakan jika dia tahu keberadaan Louisa. Mobil itu berhenti di sebuah cafe yang jaraknya lumayan jauh dari klub malam Zeus.
Pria itu turun dan lalu menghampiri mobil dua bersaudara itu. "Ayo turun. Aku akan memberitahu keberadaan adik kalian."
"Kenapa tidak bicara saja di sini langsung."
"Tidak bisa."
Nielson dan Steve akhirnya turun dan mengikuti pria tersebut. Mereka masih ragu. Apakah pria itu bisa dipercaya atau tidak, tapi selain orang ini, mereka tidak memiliki petunjuk apapun untuk menemukan adik perempuan mereka.
Dalam kebimbangannya, Nielson dan Steve akhirnya duduk di sebuah ruangan privasi yang dipesan oleh pria itu.
"Pesanlah minuman dulu. Aku harus menghubungi seseorang," ujar pria tersebut. Demi mendapatkan informasi mengenai keberadaan adiknya, Nielson dan Steve akhirnya memesan masing-masing segelas jus. Sedangkan pria itu kini sudah duduk dengan tenang dan tampak sedang menghubungi seseorang.
"Halo, Tuan. Saya sudah menemukan kedua kakak kandung nona Louisa. Kebetulan tadi mereka ada di klub malam Zeus.
("Ubah panggilan melalui video, Hugo.")
"Baik, Tuan."
Hugo pun akhirnya mengubah panggilannya menjadi panggilan video call. Tak butuh waktu lama, wajah Jack dan Louisa nampak memenuhi layar ponsel Hugo.
"Kakak!" Louisa berteriak penuh haru saat melihat dua kakaknya duduk di belakang Hugo. Air matanya seketika menganak sungai.
"Kenapa baru sekarang mencariku? Aku sudah lama menunggu kalian," sambungnya.
"Loui, bagaimana kabarmu. Dimana kamu sekarang. Kami akan menjemputmu?" Hugo mengarahkan ponselnya pada Steve dan Nielson.
"Aku sekarang sedang berada di rumah calon suamiku, Kak."
"APA? Calon suami?"
"Iya, Kak. Aku akan menikah tak lama lagi."
"Beritahu kami dimana alamatnya. Kami akan menyusul ke sana," ujar Steve dengan mata berkaca-kaca. Meski masih memakai seragam kebesarannya namun, hatinya yang begitu merindukan Louisa memperlihatkan jika pria itu masih memiliki sisi hati yang lembut.
"Orangku nanti yang akan mengantar kalian sampai di kediamanku dengan selamat. Di mana ayah kalian?"
"Ayah kami sudah tiada 1 tahun yang lalu."
"Aku turut berdukacita," kata Jack tulus. Dia mengusap kepala Louisa yang bersandar di dadanya. Dia tahu, Louisa juga pasti ingin mendengar kabar ayahnya.
"Kakak, kalian harus hadir di acara pernikahanku. Ikutilah Hugo. Dia akan membawa kalian bertemu aku di sini."
"Baiklah. Kami akan mengikuti pria ini."
Jack menepuk-nepuk punggung Louisa dengan lembut. Saat ini mereka berdua berada di restoran hotel dekat dengan bandara. Mereka baru saja tiba dan Louisa mengeluh lapar.
"Sudah, Sayang. Jangan terus menangis. Nanti mommy mengira aku menculikmu."
Louisa mengusap matanya kasar. Ya, sebentar lagi dia akan bertemu dengan ibu Jack. Jangan sampai pertemuan pertama mereka meninggalkan kesan buruk.
"Maafkan aku, Jack. Jika begitu aku akan ke toilet sebentar untuk mencuci wajah."
"Baiklah. Apa perlu aku temani?" tanya Jack. Louisa menggeleng dan berlalu pergi ke toilet. Jack menunggu Louisa sembari menghubungi Hugo lagi untuk memberi perintah padanya agar segera menyusul dengan penerbangan tercepat.
Saat berada di toilet, Louisa melihat 2 orang gadis masuk sambil tertawa cekikikan. Mereka seperti baru saja mengagumi sesuatu.
"Apa kau melihat pria tadi yang memakai kaos putih dan topi ch*nnel tadi. Ku rasa dia benar-benar tampan. Apa menurutmu dia sudah punya pacar?"
Mendengar kasak kusuk kedua wanita itu, kedua mata Louisa seketika terbelalak. Bukankah Jack hari ini juga memakai kaos putih dan topi ch*nnel? Apa jangan-jangan mereka memang sedang membicarakan calon suaminya? Benar-benar perlu di beri pelajaran.
"Kalian membicarakan pria yang duduk di dekat jendela?" tanya Louisa pada kedua gadis itu.
"Ya, bagaimana kau tahu, apa kau juga mengaguminya?" dua gadis itu tampak penasaran dan menatap Louisa lekat.
"Tentu saja aku mengaguminya. Dia calon suamiku. Sudah sepantasnya aku mengaguminya," jawab Louisa dengan santai sambil berlalu keluar. Sesampainya di luar, Louisa menghentakkan kakinya dan memasang wajah kesal.
"Benar-benar menyebalkan punya kekasih yang tampan. Aku harus menebalkan telinga untuk mendengarkan wanita lain memujinya."
Jack yang melihat kedatangan Louisa dibuat heran dengan wajah cemberut gadis itu.
"Kenapa? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Jack.
"Ada yang membuatku kesal. Ya ada."
"Siapa? Dan bagaimana orangnya?"
"Yang menggangguku itu adalah kau. Kenapa kau harus tebar pesona dan membuat banyak wanita terpikat padamu?"
"Loui, kau tidak serius dengan ucapanmu kan? Kapan aku tebar pesona?"
"Kau mungkin tidak sadar melakukannya, tapi aku kesal banyak yang memujimu di depanku. Itu benar-benar menyebalkan."
Jack hanya tersenyum. Apa ini yang dikatakan cemburu?
...****************...