
Jack dan Louisa terlihat sangat senang. Jack langsung mengabari ibunya mengenai kehamilan Louisa. Saat ini Louisa sudah diperbolehkan pulang. Jack sedang memasukkan resep obat dan vitamin untuk Louisa. Wanita itu duduk tak jauh dari tempat Jack.
Saat Louisa sedang menatap punggung suaminya, dia terkejut melihat seorang wanita memeluk suaminya dengan erat. Louisa pun langsung berdiri dan menarik wanita itu.
"Hei, apa yang kau lakukan pada suamiku?" ujar Louisa kesal. Jack yang terkejut pun seketika menoleh.
"Janice."
"Ya, Darling it's me."
"Kau mengenalnya, Honey?" tanya Louisa, dia menatap tajam ke arah suaminya. Wanita mana yang tak cemburu melihat suaminya dipeluk wanita lain dan menyebalkannya itu adalah mantan kekasih suaminya.
"Dia mantan pacarku, dulu."
"Oh. Apa kalian ingin bernostalgia? Aku akan memberi kalian waktu," kata Louisa ketus.
Jack menoleh dan menatap raut wajah kesal istrinya. Dia tersenyum dan memeluk Louisa di depan Janice.
"Kau jangan cemburu. Dia hanya masa laluku," ujar Jack. Janice mengerutkan alisnya.
"Darling."
"Stop memanggilnya Darling. Dia suamiku." Louisa menatap Janice tajam dari balik lengan suaminya.
Jack mengurai pelukannya dan menatap Janice datar.
"Kita tidak ada urusan lagi sejak lama. Ku harap kau segera pergi dari sini."
"Aku minta maaf, Darling. Aku ingin kita kembali seperti dulu," ujar Janice tak tahu malu.
Janice adalah mantan terakhir Jack sebelum bertemu Louisa. Jack memutuskan Janice karena wanita itu berselingkuh. Dia juga sebenarnya tahu jika Janice hanya memanfaatkan dirinya saja untuk keuntungan pribadinya. Itulah mengapa bagi Jack wanita itu tidak ada apa-apanya.
"Kau jangan bercanda, Janice. Aku sudah menikah sekarang. Dia masa depanku dan sebentar lagi aku akan memiliki anak. Jadi jangan membicarakan sesuatu yang tidak akan mungkin bisa mau dapatkan."
"Bullshit."
Jack mengambil obat Louisa dan langsung menarik Louisa pergi dari sana. Janice tetap mengejar Jack, hingga mereka menjadi tontonan beberapa orang yang ada di sana.
"Selesaikan urusanmu dengannya dulu. Ingat jangan bersentuhan fisik dengan wanita itu. Atau aku akan memotong bagian tubuhmu yang tersentuh olehnya."
"Aku tidak mau. Biarkan saja dia," ujar Jack.
"Tapi ini sangat menyebalkan. Kita menjadi tontonan."
Janice berhasil menyusul Jack. Dia menarik lengan Jack. Louisa dengan kasar menghempas tangan Janice. Entah dapat keberanian dari mana, tapi Louisa mendadak menjadi seperti singa yang garang.
"Kau benar-benar tidak tahu malu, ya mengejar suami orang?"
"Aku ada urusan dengannya. Tidak ada urusannya denganmu."
"Dia adalah milikku, tentu saja ini menjadi urusanku. Jangan memancing kemarahanku, Nona." Louisa menatap tajam ke arah Janice, wanita itu merasa sedikit terintimidasi oleh tatapan Louisa.
"Sayang, sudahlah. Jangan meladeninya. Kau dan calon anak kita harus sehat dan bahagia. Jangan memikirkan wanita ini."
"Jack! Kau jahat sekali padaku. Padahal aku sangat mencintaimu."
Jack tersenyum miring. "Cinta? Cinta yang seperti apa yang kau agung-agungkan itu? Cinta yang mampu menghianati demi sebuah proyek untuk ayahnya? Atau cinta yang diam-diam mengencani sahabat sendiri? Jangan bicara omong kosong seolah kau ini korban di sini. Aku sejak tadi diam karena aku masih mempertimbangkan pertemanan kita dulu. Jadi jangan bertingkah macam-macam."
Jack kembali menarik Louisa dengan lembut dan membawanya pergi dari sana. Janice tak lagi berani mengikuti Jack. Dia benar-benar sudah kehilangan pria itu sekarang.
...****************...
"