Trip to Love (Jackson's Story)

Trip to Love (Jackson's Story)
Bab 22. Berlatih Menembak



Jack sudah diijinkan pulang. Dia tak lagi pulang ke apartemen melainkan sebuah mansion mewah pemberian ayahnya. Mansion itu memiliki luas bangunan 2000 meter persegi. Kata ayahnya tempat itu cukup untuk menghimpun pasukan.


Jack sama sekali tak menolak pemberian ayahnya. Namun, ada yang lain dari Louisa. Dia tampak menjaga jarak dengan dirinya. Saat Jack mengajak Louisa room tour, Begitu mereka tiba di kamar utama, Jack segera menutup pintu dan memojokkan Louisa di dinding. Louisa tentu saja terkejut bukan main. Tak hanya sampai di situ, Jack tiba-tiba memaksakan ciuman panas di bibir Louisa hingga membuat Louisa tak berdaya.


Louisa saat ini hanya bisa memejamkan mata berusaha menikmati sentuhan bibir Jack. Tanpa disadari olehnya, dirinya semakin tertaut dengan Jack.


"J_jack." Suara Louisa bergetar.


"Kenapa kau sejak tadi bersikap tak acuh padaku?"


"I_itu karena ...."


"Loui, tahukah kau? Aku sepertinya semakin terjerat olehmu. Aku jatuh cinta padamu. Tidak bisakah kau hanya percaya padaku dan jangan pernah meragukanku, apa lagi berniat pergi dariku."


"Aku takut Jack. Aku tidak bisa melihatmu terluka lagi gara-gara aku."


"Maka jika begitu belajarlah untuk menjadi kuat, Loui. Kau harus bisa bela diri dan menembak. Jadi saat aku melindungi dirimu dari musuh di depan, kau juga melindungiku dari belakang. Bagaimana?"


"Kau terlalu banyak menaruh harapan padaku, Jack."


"Kita akan tahu nanti setelah mencobanya. Jangan pesimis Loui. Aku tahu kau lebih dari mampu."


Jack mengusap lembut rambut Louisa. Gadis itu hanya diam sembari menggigit bibir bawahnya. Jack benar-benar yakin Louisa lebih dari mampu untuk mempelajari semua ilmu yang nanti akan dia ajarkan.


***


Dua hari kemudian, Jack kedatangan banyak orang berpakaian serba hitam. Louisa sampai heran dari mana datangnya orang-orang itu. Mereka semua mengangguk hormat pada Jack. Pria itu masih bersikap biasa saja dan seolah tak terganggu dengan kehadiran mereka. Sebastian dan Hugo tiba paling akhir mereka sesaat menundukkan kepalanya memberi hormat pada Jack.


"Semua sudah tiba, Tuan."


"Berapa jumlahnya?"


"200 orang."


"Daddy benar-benar berlebihan." Jack memutar bola matanya malas. Pantas saja sejak tadi tak ada habisnya. Ternyata ayahnya menurunkan 200 orang untuk membantunya.


"Tempatkan mereka di belakang. Biarkan mereka beristirahat. Besok aku mau semua berkumpul pukul 8 di lapangan belakang."


Jack sesaat mengurut pangkal hidungnya. Pelipisnya terasa berdenyut. Louisa tetap diam tak ingin mengganggu Jack.


"Kau siap latihan hari ini?" tanya Jack, Pria itu kini menoleh sepenuhnya menatap Louisa yang tingginya hanya sebahunya saja.


Louisa mengangguk sembari tersenyum tipis. Jack menarik tangan Louisa dengan lembut dan membawanya ke belakang mansion. Louisa tak habis pikir seberapa kaya ayah Jack, sampai-sampai dia dengan mudahnya membelikan Jack sebuah rumah yang sangat besar dan mewah beserta halaman luas di belakangnya. Ada tempat berlatih menembak, Ada tempat pacuan kuda dan ada halaman yang luas di belakang entah untuk apa fungsinya.


Jack membantu Louisa memasang sarung tangan dan penutup telinga. Lalu Jack mengambil sebuah senjata api dan menyerahkannya pada Louisa.


"Coba kau bidik kearah lingkaran yang ada di sana. Kuncinya hanya fokus."


Louisa menerima senjata itu dari tangan Jack. Jack lalu memegangi tangan Louisa dan membantu gadis itu mengarahkan senjatanya ke arah sasaran tembak. Jantung Louisa berdebar kencang manakala Jack menghimpit tubuhnya.


"Apa harus serapat ini, Jack." Louisa merasa tak nyaman, apalagi saat ini mereka berdua sedang berada di ruang terbuka.


"Ya, agar tidak ada yang berani melirikmu sembarangan."


"Kau benar-benar konyol, Tuan." Louisa lalu mengarahkan fokus matanya ke sasaran tembak. Tangannya berkeringat karena cukup grogi.


DORR!!


Suara letusan senjata api terdengar memekakkan, beruntung Louisa memakai penutup telinga. Ada seringai tipis terulas dari bibir Jack. Dia melihat lubang tak jauh dari titik pusat sasaran.


"Cukup bagus, Loui. Sekarang kau harus lebih fokus. Cobalah."


Jack melepaskan pelukannya dan duduk di sebuah kursi. Louisa kembali membidik ke arah sasaran tembak yang berjarak dari tempatnya berdiri kurang lebih sekitar 10 meter.


Louisa memejamkan matanya sesaat sembari mengatur napas. Dia mulai menutup sebelah matanya dan lalu ....


DORR!!


Peluru kembali melesak dan kali ini bidikan Louisa tepat sasaran. Pelurunya menembus titik tengah sasaran. Jack tersenyum bangga. Sejak awal dia yakin Louisa pasti bisa.


"Bagus, Loui."


...****************...