
Jack masih tersenyum dia menggeser piringnya ke samping. Louisa menatap heran, apa Jack tidak mau memakan masakannya?
"Ada apa? Apa kau tidak mau?"
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang akan ku katakan sekali dan seterusnya harus kamu ingat. Sejak awal aku sudah bilang jika aku akan melindungimu. Jadi segala hal yang bersangkutan dengan Zeus, Lucas dan ayah tirimu, kau tidak perlu lagi memikirkannya. Semua akan menjadi urusanku. Jangan membuang energimu."
"Tapi target mereka adalah aku, Jack. Aku tidak mungkin menutup mata jika sesuatu terjadi padamu karena melindungiku." Sorot mata Louisa mulai berkabut. Setetes air mata lolos menuruni pipinya yang putih merona.
Jack mengusap air mata Louisa dengan lembut. "Kenapa kau cengeng sekali? Sekarang sebaiknya kita makan dulu. Untuk masalah ini kita bicarakan nanti. Aku tidak mau steak-nya dingin dan dagingnya keras."
Louisa mengangguk meski hatinya masih belum puas. Jack terlalu baik padanya. Dia tak bisa jika nanti harus melihat Jack terluka.
"Ada apa dengan wajahmu? Apa kau takut terjadi sesuatu padaku?" tanya Jack sembari kembali memegang garpu dan pisaunya. Louisa mengangguk. Wajahnya terlihat sekali sangat mengkhawatirkan Jack.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan bertindak sendirian. Sekarang makanlah."
Jack dan Louisa akhirnya makan dengan tenang meski sesekali Louisa tampak melirik Jack dari ekor matanya, tapi pria itu sepertinya tidak menyadarinya.
Selesai makan, Louisa membereskan meja makan. Namun, tangan Jack buru-buru mencegahnya.
"Kenapa?" tanya Louisa dengan alis yang bertaut.
"Beristirahatlah, biar aku yang membereskannya."
"Tapi-"
"Menurutlah, Loui. Aku suka dengan gadis penurut." Jack mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum samar. Wajah Louisa langsung memerah. Jantungnya mulai bekerja tak beraturan.
Louisa akhirnya mengalah dan masuk ke dalam kamar. Dia memegangi dadanya yang berdebar kencang.
"Apa aku perlu ke rumah sakit untuk memeriksakan jantungku? Kenapa sekarang aku mudah sekali berdebar?" gumam Louisa.
Wajah Louisa terlihat takut sekaligus khawatir pada Jack. Dia berharap laki-laki itu akan baik-baik saja. Namun, untuk keluar dan melihat apa yang terjadi, Louisa sungguh benar-benar takut.
Di luar kamar Louisa, Jack mengumpat keras saat tiba-tiba mesin pembersih lantainya meledak cukup keras dan mengejutkannya. Sepertinya ada yang konslet dari alat itu.
Jack langsung membuka pintu kamar Louisa, dia khawatir gadis itu ketakutan karena bunyi ledakan itu cukup keras. beruntung benda itu tak mengeluarkan asap sehingga tidak menimbulkan keributan di gedung apartemen itu.
Jack langsung mendekati Louisa. "Loui, kenapa kau bersembunyi?"
"J_jack ... i_itu tadi suara apa?" tanya Louisa dengan nada gemetar. Ada raut cemas di wajahnya yang memucat. Gadis itu hanya membuka sedikit selimutnya hingga hanya kepala dan wajahnya saja yang terlihat.
"Mesin pembersih lantainya meledak. Ku rasa mungkin mesinnya konslet." kata Jack mengulum senyum. Louisa terbelalak. Dia sudah benar-benar ketakutan tadi.
"Mesin pembersih lantai?"
"Iya, mesin kecil yang berputar-putar sepanjang hari itu."
"Oh-." Celine kehabisan kata-kata. Dia tak tahu harus sedih atau senang mendengar penjelasan Jack.
"Perlu ku temani tidur?"
"Ti_tidak, Jack. Tidurlah sendiri di kamarmu."
"Sayangnya aku tidak menerima penolakan, Loui."
Jack langsung melepas kaosnya dan membaringkan tubuhnya di samping Louisa. Louisa hanya bisa pasrah saat tangan kekar pria itu melingkar di perutnya.
...****************...