
Sudah 2 bulan Louisa dan Jack menetap di San Fransisco. Selama itu, Jack terus mengawasi Lucas karena dia tak mau kecolongan.
Pagi ini suasana di kamar Louisa dan Jack terasa begitu panas. Bagaimana tidak? Pagi-pagi Jack sudah membuat istrinya menjerit dan melenguh nikmat. Namun, belum usai adegan panas itu, Louisa menepuk lengan Jack yang mengungkungnya. Wanita itu buru-buru mendorong bahu Jack dan langsung melepaskan penyatuan mereka.
Louisa berlari tergesa-gesa, masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Jack langsung bangun dan memakai boxer-nya. Dia menyusul Louisa untuk memastikan kondisi istrinya itu.
"Sayang, ada apa denganmu?" Jack berniat mendekati Louisa, akan tetapi Louisa mendorong tubuh Jack dan menutup hidungnya.
"Maaf, Sayang. Bisakah kau sedikit menjauh. Aku tidak tahan dengan baumu," kata Louisa. Jack terbengong mendengar ucapan istrinya.
"Maksudmu aku bau?" Jack menunjuk dirinya sendiri. Louisa tidak mau menoleh karena tiba-tiba saja dia tidak menyukai aroma Jack. Padahal tadi selama setengah permainan dia merasa baik-baik saja.
Jack menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal. Dia bingung dengan perubahan Louisa kali ini.
Louisa terlihat lemas. Jack sebenarnya tak tega dan ingin membantu mengangkat tubuh Louisa, tapi dia khawatir, jika dirinya mendekati Louisa, Louisa akan kembali muntah.
"Baby, apa perlu aku gendong?"
"Tidak usah. Kau mandi saja, tapi jangan memakai sabunmu. Aromanya aneh."
'Aku justru merasa kau yang aneh, Sayang. Setiap hari aku memakai sabun yang sama. Bagaimana bisa baru sekarang kau protes?'
Usai mandi, Jack melihat Louisa kembali tidur dengan nyenyak. Pria itu lantas langsung bergabung dengan sang istri dan memeluknya dengan erat. Jack ikut memejamkan mata.
Jika weekend begini biasanya Louisa akan mengajak Jack pergi jalan-jalan, tapi untuk hari ini dia ingin bermalas-malasan. Apalagi tadi dirinya sempat bercinta meski hanya sebentar dan sekarang tubuhnya terasa sangat lelah sekali.
Louisa baru terbangun setelah 3 jam tertidur. Namun, bukannya kondisi tubuhnya membaik, tapi dia justru merasa semakin tak karuan. Louisa merasa kepalanya pusing dan perutnya terasa mual.
Louisa mencoba bangkit dari tidurnya. Dia tak mendapati Jack ada di kamar mereka.
"Jack." panggil Louisa. Namun, yang dipanggil tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Louisa mencoba berdiri sendiri meski rasanya kepalanya berputar-putar. Perutnya semakin bergejolak. Saat Louisa berjalan beberapa langkah pandangannya tiba-tiba gelap dan dia jatuh tak sadarkan diri.
Jack sama sekali tidak tahu jika Louisa pingsan. Dia masih di ruang kerjanya karena tadi saat di kamar, dia tiba-tiba mendapat pesan dari rekan bisnisnya untuk memeriksa surel yang dia kirimkan.
Jack melihat jam di ponselnya. Rupanya dia sudah cukup lama meninggalkan Louisa. Jack akhirnya memutuskan untuk ke kamar, karena ini juga sudah memasuki waktu makan siang. Istri cantiknya itu bahkan belum sempat sarapan juga.
Saat Jack membuka pintu, matanya langsung melebar. Louisa tergeletak tak jauh dari ranjang mereka. Jack segera mengangkat tubuh Louisa dan merebahkannya di atas ranjang.
"Oh, God. Ada apa denganmu, Sayang." Jack mencari sesuatu yang bisa dia pakai untuk menyadarkan istrinya. Setelah menemukan sebotol minyak therapi, Jack mengambilnya dan mengoleskan ke tangannya lalu meletakkan tangannya di bawah hidung Louisa.
"Ayo, bangunlah, Sayang. Jangan membuatku cemas."