
Di sudut kota San Fransisco, tepatnya di sebuah club malam milik Lucas. Pria yang baru saja kehilangan ayah dan juga markas besarnya itu, kini sedang melampiaskan amarahnya dengan menye*tubuh* beberapa jalan* dalam satu ruangan. Dia tak tahu musuh mana yang telah menghancurkan semua miliknya dalam waktu semalam. Tak ada jejak sama sekali yang bisa di telusuri oleh anak buah Lucas. Hal itu membuatnya semakin menggila.
Suara erangan dan desa*han menjijikan saling bersahutan dari para pela*cur yang dipakai Lucas. Tubuh mereka penuh memar dan dua diantaranya dalam keadaan terikat rantai, tapi tak ada satu pun yang berani menolak pria psikopat itu.
Pintu ruangan tempat Lucas berpesta s*x terbuka. Berdiri dua orang pria berseragam tentara masuk dengan wajah marah dan menodongkan senjata api. Mereka berdua adalah kakak Louisa.
Lucas menatap penuh amarah pada dua pria tersebut. Mereka sepertinya sudah bosan hidup.
"Siapa kalian? Beraninya kalian masuk ke ruanganku?"
"Katakan di mana adik kami, Louisa?" tanya Nielson kakak pertama Louisa.
Bagaimana pun mereka berdua telah lama mencari informasi keberadaan Louisa dan ibunya. Dulu saat mereka terpisah dari Louisa mereka masih anak-anak berusia belasan tahun dan belum memiliki kekuatan apapun untuk mempertahankan ibu dan adik perempuan satu-satunya. Maka dari itu, mereka bertekad menjadi tentara agar bisa melindungi ibu dan adiknya. Namun, setelah keluar dari militer, mereka justru harus menerima kenyataan pahit jika ibunya telah lama meninggal dan adik kesayangan mereka telah dijual sebagai pelunas hutang ayah tirinya. Betapa malang sekali nasib Louisa.
Dan berkat bantuan dari temannya di kemiliteran, Nielson dan Steve akhirnya mendapat kabar terakhir jika adiknya dijadikan kurir narkoba oleh pemilik klub malam Zeus. Hingga di sinilah mereka sekarang.
Mereka berdua harus mengotori mata mereka dengan melihat tubuh telan*jang para pela*ur yang dipakai Lucas. Nielson benar-benar mengutuk aksi Lucas itu. Apalagi beberapa dari mereka sudah tampak tak berdaya.
Lucas tertawa, Louisa? Gadis itu sudah memporak-porandakan hasratnya dan menghilang begitu saja.
"Louisa? Aku tidak tahu dimana dia. Dia sudah kabur."
"Jangan berbohong!" sahut Steve.
Nielson dan Steve saling melempar tatapan. "Baik. Kami akan pergi, tapi jika suatu saat Louisa terbukti masih kau pekerjakan, Kami akan meratakan tempat ini."
Lucas tak menjawab apapun, dia hanya diam hingga kedua orang itu pergi. Lucas berteriak kesal selepas kedua kakak Louisa pergi. Dia lantas beranjak dan memakai kembali pakaiannya. Lucas meninggalkan wanita-wanita itu begitu saja. Sampai di depan pintu ruangannya, dia melihat 3 anak buahnya tumbang dalam keadaan terikat bersandar di dinding. Lucas semakin mengepalkan tangannya. Tanpa Zeus ayahnya, dia seperti seekor singa yang tak memiliki kekuatan apapun.
Nielson dan Steve menghela napas panjang. Mereka keluar dari tempat itu dengan wajah lesu.
"Tunggu!" Teriak seorang pria yang sejak tadi mengamati gerak gerik mereka.
Nielson dan Steve menoleh. Mereka melihat seorang pria yang mungkin seumuran dengan mereka.
"Ada apa memanggil kami?"
"Ikut denganku! Ada yang ingin aku katakan."
"Apa kita saling mengenal?"
"Tidak, tapi aku tahu kalian sedang mencari adik kalian."
"Kau kenal adik kami?" tanya Steve bersemangat. Akan tetapi, pria itu buru-buru menahan bibir Steve. Jangan sampai Lucas mendengar hal ini. Pria itu lalu menyeret tubuh tegap Steve hingga mau tak mau Nielson pun mengikutinya.
...****************...