
*Bukan Zona Bocil. Skip kalau kalian masih di bawah umur.*
Louisa mengusap sudut mata Jack yang basah. Senyumnya mengembang dan tatapan mata Louisa sesaat terpaku pada suaminya. Baru kali ini Louisa melihat sisi lain dari suaminya. Biasanya Jack sangat menyebalkan dan sering menggodanya, tapi kali ini Jack terlihat begitu sendu dan sedih.
"Aku baik-baik saja, Jack. Ini juga bukan salahmu. Apa yang mommy ucapkan jangan diambil hati. Aku diam karena sedang merasa tak nyaman."
"Apanya yang membuatmu tak nyaman, Sayang?" tanya Jack.
"Sepertinya biusku sudah habis. Kakiku rasanya sakit sekali," ucap Louisa lirih.
"Aku akan panggilkan dokter untukmu. Biar dia memeriksa lukanya."
"Tidak perlu, Jack. Berikan saja obat yang tadi diberikan dokter padaku."
Louisa mengulurkan tangannya meminta obat yang tadi diserahkan dokter pada Jack. Jack segera mengambilnya di atas nakas dan menuang segelas air untuk Louisa meminum obatnya.
"Apa kau keberatan jika beberapa hari lagi kita masih di sini? dokter menyarankan padaku untuk memberikan suntik anti rabies secara berkala sampai kondisimu dinyatakan membaik," kata Jack. Louisa mengangguk sebagai jawaban. Dia juga merasa ngeri jika sampai terkena rabies.
"Maafkan aku, Loui." Jack mendorong belakang kepala Louisa hingga kening mereka menyatu.
"Aku akan terus meminta maaf padamu. Kesalahanku kali ini sangat fatal. Bahkan jika Nielson dan Steve mendengar kau seperti ini, aku yakin mereka akan membawamu pergi jauh dariku. Aku tidak bisa jauh darimu, Loui. I love you, Louisa. Aku benar-benar bisa mati jika jauh darimu. Melihatmu terluka tadi saja, membuatku seakan hampir mati," ucap Jack lirih.
Louisa menatap netra suaminya dengan lembut. Sebelah kakinya yang sakit dia tekuk ke atas dan tak lama, Louisa juga menyentuh tengkuk Jack sedikit mendorongnya hingga bibir mereka saling beradu. Louisa melu*mat lembut bibir suaminya yang baru saja mengucapkan kata cinta yang begitu manis. Jack pun akhirnya terbuai dan membalas ciuman Louisa dengan sama lembutnya.
Dua insan itu bagai dimabuk asmara. Tangan Jackson mulai sulit dikendalikan. Tangannya menyusup ke dalam baju Louisa dan mengusap punggung Louisa dengan gerakan yang sangat perlahan. Mendapat sentuhan seperti itu, gairah Louisa mulai terbakar. Dia bahkan lupa jika kakinya terluka. Louisa mendorong tubuh Jack hingga terlentang. Tanpa banyak kata Louisa merangkak naik ke atas Jack.
"Bolehkah aku memimpin?" tanya Louisa. sorot matanya telah tertutup kabut g*irah yang membara. Dia langsung menarik baju atasannya hingga lolos dari tubuhnya. Jack mengangguk. Mereka berdua lalu melepas kain demi kain yang melekat di tubuh mereka dan kali ini Louisa benar-benar memimpin penyatuan mereka siang itu hingga Jack dan Louisa sama-sama mendapatkan pelepasannya.
"Kakimu sudah tidak sakit?"
"Tentu saja sakit, tapi aku tidak mau mensia-siakan kesempatan," ujar Louisa. Tak lama dia meringis kesakitan saat turun dari atas tubuh Jack.
"Jika mommy tahu apa yang kita lakukan sekarang, bisa-bisa aku dikebiri." Jack membantu menurunkan kaki Louisa
"Aku akan membelamu, My love." Louisa mengusap rahang Jack. Jack mengecup bibir Louisa lagi dan melu*matnya. Dia membalik posisi Louisa. Saat ini Louisa membelakangi Jack. Jack kembali melesakkan senjatanya di inti tubuh Louisa. Louisa mende*sah sembari mencengkeram seprei saat senjata Jack memasukinya begitu dalam. Mereka kembali menyatu dan beradu desa*han
...****************...