Trip to Love (Jackson's Story)

Trip to Love (Jackson's Story)
Bab 32. Sah



Waktu yang ditunggu pun telah tiba. Jack sekarang sedang berdiri menatap pantulan dirinya di cermin kamar pribadinya. Dia tersenyum puas menatap dirinya yang berbalut dengan kemeja dan jas berwarna putih. Di lehernya sudah terpasang dasi kupu-kupu yang menambah kesan sempurna pada penampilannya.


Jack sama sekali tak terlihat gugup. Dia benar-benar sudah yakin dengan keputusannya menikahi Louisa. Dia bahkan tak sabar untuk segera mengucapkan janji suci di hadapan pendeta.


"Bagaimana penampilanku, Mom?" tanya Jack merapikan jasnya. Giani yang sejak tadi berada di ruangan Jack kini tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Kau terlihat sangat sempurna, Jack. Mommy tak menyangka kau kini juga telah menemukan belahan jiwamu. Mommy hanya ingin berpesan padamu, Jangan pernah menyakiti hati pasanganmu. Selalu terbuka satu sama lain. Dan jika rumah tangga kalian sedang dilanda masalah, segera selesaikan dengan kepala dingin."


"Aku akan selalu mengingat pesan mommy. Aku tidak akan menyakiti Louisa, Mom. Aku begitu mencintainya. Dia sungguh pasangan yang aku inginkan."


Giani tersenyum dan lalu memeluk Jack. Air matanya langsung mengalir begitu saja. Dia sangat bahagia hingga terharu. Karena tak menyangka putranya sudah tumbuh besar dan bahkan kini sudah akan menikah.


"Mom, jangan menangis. Kau akan merusak riasannya," tegur Celine pada Giani. Giani tertawa dan mengusap pipinya dengan lembut.


"Maafkan mommy, Sayang. Mommy hanya terlalu bahagia. Pada akhirnya kedua kakakmu menikah juga."


Jared memasuki kamar Jack. Dia mengatakan jika acara akan segera dimulai. Dia meminta semuanya bersiap.


Jika Jack terlihat santai, lain halnya dengan Louisa. Gadis itu tak henti hentinya menggerakkan kakinya karena cemas. Nielson melirik Louisa dan menggelengkan kepalanya.


"Rileks, Loui. Jangan terlalu tegang," ujar Nielson. Steve hanya tersenyum melihat wajah kakaknya yang tampak tak jauh beda dengan Louisa. Hanya saja, Nielson lebih pintar mengendalikan dirinya. Hingga Louisa tidak menyadari jika sebenarnya Nielson juga terlihat tegang.


Nielson dan Steve menggandeng Louisa dan menyerahkannya pada Jack.


"Tolong jaga selalu adik kami. Jika dia bersalah, tegurlah dia dengan baik-baik. Jika kelak kau tak menginginkannya lagi, jangan katakan pada Loui, tapi kau bisa mengatakannya pada kami, maka kami sendiri yang akan menjemputnya."


"Hal itu tidak akan pernah terjadi kakak ipar. Kalian tenang saja. Aku mencintai adik kalian dengan sepenuh hati," jawab Jack tanpa ragu.


Nielson dan Steve tersenyum puas dan pada akhirnya mereka berdua mundur dan duduk di kursi yang telah disediakan.


Pernikahan Jack juga dilakukan secara sederhana. Namun, tidak dengan hadiah pernikahan yang telah disiapkan keluarga Jack. Hadiah pernikahan dari Jack untuk Louisa terlihat sangat mewah. Jack benar-benar menghargai Louisa. Dari perhiasan berlian, tas branded, kunci mobil Ferrari dan masih banyak lagi yang lainnya.


Tak berapa lama Jack dan Louisa telah mengucapkan janji suci mereka. Dan kini Jack mencium bibir Louisa dengan penuh kelembutan. Wajah Louisa memerah karena belum terbiasa melakukan ciuman di depan umum seperti sekarang.


"J_jack, aku malu." Louisa menyembunyikan wajahnya di dada Jack. Jack terkekeh, dia sedikit mendorong bahu Louisa agar bisa leluasa menatap wajah istrinya itu.


"Kau tidak akan malu, kita ini suami istri. Jadi sah saja jika kita bermesraan." Wajah Louisa semakin tak terkontrol merahnya mendengar ucapan Jack.


...****************...