
Jack benar-benar mempersiapkan kepulangannya kali ini. Dia bahkan sudah mengutus Hugo untuk mencari keberadaan ayah dan kedua saudara laki-laki Louisa.
Jack ingin menikahi Louisa, meski usia mereka terbilang masih terlalu muda, tapi dia benar-benar ingin memiliki Louisa secara sah. Dia tak ingin memperlakukan Louisa seperti jala*ng, yang hanya dipakai tanpa ada ikatan.
Louisa sedang memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper. Jack melarang Louisa membawa banyak baju karena nanti dia akan membelikan Louisa baju-baju di sana. Jack tidak mengabari ibunya. Akan tetapi, dia yakin jika ayahnya pasti sudah tahu kabar kepulangannya.
"Jack, ceritakan padaku bagaimana ibumu?"
"Ibuku adalah seorang ilmuwan sama seperti kakek dan ayahku. Hanya dia berada ditingkat yang sedikit lebih rendah dari kakek dan ayahku. Dulu dia membesarkan aku dan kakak seorang diri sampai usia kami 7 tahun. Daddy ku seorang mafia sekaligus ilmuwan yang paling dicari seantero negeri, tapi karena hal itu lah, dia jadi membuat ibuku menanggung derita membesarkan aku dan kakakku seorang diri."
"Pasti berat menjadi ibumu."
"Tentu saja. Maka dari itu, sebelum kau hamil aku ingin mengenalkanmu pada orangtuaku."
"Ha_hamil?"
"Ya, aku ingin punya anak, Loui. Maukah kau mengandung benih-benihku?" tanya Jack menggoda. Louisa yang awalnya serius menatap Jack akhirnya membuang muka. Telinganya tampak memerah dan sangat menggemaskan.
"Loui, kenapa kau diam? Apa kau tidak mau?"
"Diamlah! Kau benar-benar membuatku malu, Jack. Jangan bicara mesum seperti itu. Apa kau tidak malu jika ada yang mendengarmu?"
"Siapa yang akan mendengar kita, Loui? Kamar ini kedap suara. Bagaimana? Apa kau mau?" tanya Jack sembari memeluk tubuh Louisa dari belakang dan mengusap perut gadis itu.
"A_aku .... " Louisa ragu untuk berkata iya, tapi dalam hati dia berkata jika dia tak mungkin menolak karena saat ini dirinya sudah benar-benar jatuh cinta pada Jack.
"Ten_tu aku mau, Jack."
"Benarkah? Kau tidak sedang menyenangkan hatiku saja, 'kan?"
Louisa membalikkan badannya dan menatap Jack dengan tatapan teduh. Tangannya terulur untuk membelai pipi Jack. Jack memejamkan mata sesaat merasakan sentuhan hangat tangan Louisa.
"Apa aku terlihat terpaksa sekarang? Lihat mataku, Jack. Apa kau melihat keterpaksaan di mataku?"
Jack membuka matanya. Namun bukan untuk melihat mata Louisa melainkan untuk menarik tengkuk gadis itu dan melu*mat bibirnya dengan lembut.
"I Love you, Loui. Will you marry me?" bisik Jack. Louisa mengangguk dan lalu mengalungkan tangannya ke leher Jack.
"Yes, I will." Jack menempelkan keningnya dan kening Louisa. Senyum kebahagiaan terlihat jelas tergambar di wajah keduanya. Jack tidak akan ragu lagi membawa Louisa pulang sebagai oleh-oleh untuk ibunya. Dia harap ibunya akan menyambut Louisa dengan senang hati.
2 Hari berselang, Jack benar-benar membawa pulang Louisa ke Melbourne. Perjalanan yang cukup panjang membuat Louisa lebih banyak tidur ketimbang duduk menemani Jack. Selain merasa sedikit gugup. Louisa juga merasa rendah diri. Mengingat pertemuan pertamanya dengan ayah dan saudara kembar Jack yang cukup membuatnya takut saat itu, karena dari penampilannya mereka tidak terlihat seperti orang kaya pada umumnya. Entah mengapa dia merasa keluarga Jack itu sekelas keluarga Sultan.
Jack beranjak dari kursi penumpang menuju tempat tidur Louisa. Jack sengaja menggunakan pesawat pribadinya agar Louisa bisa istirahat dengan puas. Dan benar saja, selama perjalanan Louisa lebih banyak tertidur dari pada terjaga menemani dirinya. Jack merebahkan tubuhnya di samping Louisa
"Loui, jika kau tidak juga bangun. Aku akan mengajakmu bercinta di pesawat."
...****************...