Trip to Love (Jackson's Story)

Trip to Love (Jackson's Story)
Bab 16. Di Rumah Sakit



Jack terlihat sangat marah saat melihat seorang pria paruh baya menarik Louisa dengan kasar. Dia langsung berdiri dan menarik Louisa. Jack tak menyangka penyamaran Louisa tidak berhasil mengelabuhi ayah tiri Louisa. Dia berarti harus mencoba mencari cara Lain. Namun, saat ini dia hanya ingin fokus menyelamatkan Louisa dari ayahnya yang tak bermoral.


"Lepaskan anakku," ucap ayah tiri Louisa kesal.


"Siapa kau? Dia adikku."


"Dia adalah putriku. Kembalikan dia."


"Mana buktinya jika dia putrimu?"


Louisa benar-benar takut. Dia sama sekali tak memiliki kenangan yang bagus dengan ayah tirinya. Louisa bahkan pernah dipukuli sebelum diserahkan pada Zeus dan Lucas.


Louisa juga sebenarnya tak mau terus menerus bergantung pada Jack, tapi dia memiliki trauma besar. Dia belum bisa melawan rasa takutnya.


"Selagi aku masih menghargaimu sebagai orang tua. Sebaiknya kau pergi dari sini."


"Memang apa yang bisa kau lakukan?" tanya ayah tiri Louisa mencemooh Jack. Jack tersenyum miring. Jika dia tak ingat ini adalah rumah sakit ayah Mario, sudah pasti dia akan membuat keributan di sana.


"Sebaiknya kau pergi," kata Jack menggertak. Tanpa ayah tiri Louisa tahu, Jack langsung membidikkan sesuatu dari jam yang ada di pergelangan tangan kanannya. Tak lama berselang tubuh ayah tiri Louisa jatuh tak berdaya. Jack meminta bantuan perawat dan lalu saat beberapa perawat sibuk mengurus ayah tiri Louisa, Jack langsung membawa Louisa pergi ke ruangan Jean.


Jack menerobos masuk begitu saja ke ruangan Jean. Beruntung tidak ada pasien yang sedang diperiksa oleh kakak ipar Mario itu. Jean mendelik kesal saat tahu Jack bertindak tidak sopan.


"Jack apa yang kau lakukan? Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu?"


"Ini sangat penting, Jean. Maafkan aku sudah bertindak tidak sopan."


Louisa masih linglung. Dia hanya diam saat Jack mendudukkannya di kursi. Jean segera mendekati Louisa.


"Ada apa denganmu, Louisa?"


"Dia bertemu dengan ayah tirinya. Aku hanya ingin kau memeriksanya dan memastikan kondisinya. Aku khawatir dia sakit. Wajahnya begitu pucat."


"Louisa apa kau mendengarku?" Jean menggoyang bahu Louisa. Louisa langsung tersentak kaget.


"Kak Jean." Louisa langsung memeluk perut Jean karena posisi Jean berdiri di sampingnya. Sejenak Jack dan Jean membiarkan Louisa menangis, menumpahkan segala rasa yang ada di hatinya agar dia lega.


Jean mengusap punggung Louisa dengan lembut. Jack menatap iba pada Louisa. Gadis itu pasti merasa ketakutan saat ini. Saat tangisan Louisa mulai mereda, Jean mengurai pelukan Louisa.


"Apa ayahmu menyakitimu?" tanya Jean.


"Tidak, tapi tadi dia berkata akan mengembalikanku pada Zeus. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Kau hanya perlu percaya pada Jack. Dia pasti bisa membantumu lepas dari bayang-bayang Zeus dan juga yang lainnya," kata Jean.


"Apa tidak apa-apa? Aku takut justru nanti akan membuat Jack mendapat masalah karena menolongku."


"Baiklah, aku akan memeriksa lukamu dulu. Nanti setelah ini kita pikirkan sama-sama langkah yang akan kau ambil kedepannya."


"Jean, aku titip Loui sebentar, aku akan mengecek kondisi ayahnya," ucap Jack. Saat pria itu berdiri, Louisa menahan tangan Jack.


"J_ack, berhati-hatilah."


"Pasti." Jack mengacak rambut Louisa dengan lembut dan lalu segera meninggalkan ruangan Jean.


Tanpa berniat mengulur waktu, Jean langsung memeriksa luka di bahu Louisa yang seharusnya sudah mengering. Jean mencoba menekan luka Louisa. Gadis itu terlihat biasa saja.


"Bagaimana? Apa masih sakit?"


"Tidak, Kak. Ini sudah tidak terlalu sakit."


"Luka jahitannya sudah menutup dengan sempurna, Louisa. Untuk selanjutnya kau harus tetap berhati-hati. Jangan sampai terluka lagi.


"Pasti, Kak. Terima kasih."


Jack cukup lama mengurus ini dan itu. Dia meminta pada pihak rumah sakit untuk merahasiakan apapun informasi yang mereka tahu tentang Louisa. Jack juga terpaksa menghubungi Carlos ayah Mario untuk mendapatkan ijin atas hal itu. Setelah itu, Jack langsung kembali ke ruangan Jean setelah melihat ayah tiri Louisa sudah ditangani oleh pihak rumah sakit.


Meski pemeriksaan dirinya telah selesai. Louisa tetap berada di ruangan Jean karena dia takut untuk keluar dari ruangan itu.


"Kak, maafkan aku, tapi bolehkan aku di sini dulu sampai Jack datang?"


"Tentu saja boleh, pasienku tidak terlalu banyak hari ini. Jadi aku punya banyak waktu untuk menemanimu," kata Jean. Louisa mengangguk lega.


Tak berselang lama, Jack masuk. Dia langsung menghampiri Louisa. Jean tersenyum, dia mengenali tatapan mata Jack untuk Louisa. Itu bukan tatapan iba melainkan tatapan sayang atau mungkin juga tatapan Cinta. Sorot mata Jack berbinar terang saat melihat Louisa.


"Jean, bagaimana lukanya?"


"Lukanya sudah menutup dengan baik. Bisa dikatakan sudah sembuh sepenuhnya, Louisa juga tidak merasa sakit saat lukanya ditekan."


"Jika begitu terima kasih. Aku akan segera membawanya pergi. Apa kau tidak melihat ada perbedaan antara Louisa sebelum menyamar dan saat menyamar seperti ini?"


"Louisa memiliki wajah yang sangat cantik apalagi matanya. Meski dia menyamar aku merasa aku masih bisa mengenalinya."


"Jika begitu kelak aku akan lebih hati-hati saat membawanya keluar. Terima kasih Jean." Jack lalu membawa Louisa untuk segera pergi dari rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Louisa hanya diam termenung. Jack tak mau mengganggunya. Mungkin Louisa perlu waktu untuk menenangkan diri.


...****************...