Trip to Love (Jackson's Story)

Trip to Love (Jackson's Story)
Bab 7. Ikutlah Aku



Louisa baru saja tersadar, tapi dia tak mendapati siapapun ada di dalam sana. Louisa menatap langit-langit kamar rawat inap nya dengan tatapan kosong.


"Kau sudah sadar?" Jack baru saja dari ruangan Carlos ayah Mario. Dia meminta 2 botol Ace02 beserta alat injeksi untuk berjaga-jaga saat mereka sudah dalam perjalanan nanti.


Rencananya malam ini juga Jack akan membawa Louisa pergi dari kota itu untuk sementara waktu.


"Jack, Menurutmu apa sebaiknya aku menyerah saja pada mereka? Aku takut apa yang aku lakukan ini akan membahayakan dirimu," ujar Louisa tanpa menoleh menatap Jack. Dia masih menatap langit-langit kamar rawat inapnya dengan berbagai pikiran yang berkecamuk.


"Sebaiknya kau makan, ini sudah hampir malam, setelah ini aku akan membawamu pergi, Louisa. Aku sudah berucap akan melindungimu. Apapun yang terjadi kedepannya sudah bukan lagi salahmu, tapi itu karena keputusanku."


Jack duduk di kursi yang berada tak jauh dari ranjang pasien. Dia membuka menu makan malam Louisa dan membantu mengatur bed Louisa agar gadis itu bisa menikmati makanannya.


"Kau tahu kenapa aku menolongmu?" tanya Jack kembali memulai percakapan. Louisa menggeleng. Karena memang kenyataannya dia tak tahu.


"Aku punya seorang adik perempuan usianya 16 tahun, aku dan kakakku sangat menyayanginya. Saat melihatmu terluka dan pingsan aku jadi teringat dia. Adikku suka berkelahi dan membuat masalah. Everytime dan everywhere."


Louisa tersenyum getir. Pasti sangat menyenangkan memiliki kakak seperti Jack, tapi nyatanya dia malah tak tahu di mana kedua kakaknya berada.


"Adikmu pasti sangat beruntung memiliki saudara seperti kalian. Tidak seperti aku. Aku bahkan tidak tahu di mana mereka berada sekarang."


"Kau memiliki saudara?"


"Ya, aku punya dua kakak laki-laki. Ayahku membawa mereka pergi saat berpisah dengan ibuku. Dia tak mau membawaku karena menurut ayahku anak perempuan itu tak berguna," kata Louisa tersenyum getir. Jack menggenggam tangan Louisa tanpa sadar. Dia hanya ingin menguatkan Louisa. Jack merasa iba pada Louisa. Pasti sakit sekali menerima kenyataan itu.


"Jangan menatapku begitu, Jack. Tatapan matamu itu sangat melukai harga diriku."


"I'm sorry, Louisa. Setelah ini kita pergi dari sini. Semakin cepat semakin bagus. Sekarang habiskan makananmu dulu. Aku akan mandi sambil menunggumu selesai makan," kata Jack, berdiri sembari menyampirkan tas ranselnya di bahu.


"Apa kau sudah makan, Jack?"


"Sudah. Kau tidur cukup lama tadi. Jadi aku makan duluan." Jack menjawab sembari berjalan ke kamar mandi.


Setelah pintu kamar mandi tertutup, Louisa tersenyum samar.


Pukul 11 malam, Jack benar-benar membawa Louisa pergi dari rumah sakit menaiki campervan. Kondisi Louisa cukup baik setelah mendapat suntikan ace02.


Louisa duduk di samping Jack. Dia sungguh terpukau dengan mobil yang seperti rumah itu. Louisa duduk menyamping menghadap ke arah Jack.


"Kau tidak tidur?" tanya Jack, sejujurnya dia risih ditatap seintens itu oleh Louisa.


"Aku bahkan baru saja terbangun dari tidurku, Jack. Aku tidak mengantuk sama sekali. Apa aku mengganggumu?"


"Tidak. Bukan begitu. Jangan salah paham, aku merasa tak nyaman kau menatapku terus menerus seperti itu."


Louisa tertawa, Jack seketika menoleh dan sempat terpaku melihat tawa Louisa yang begitu cantik itu.


Aku yakin sudah banyak wanita yang menatapmu sepertiku, Jack. Aku tahu kau pasti sangat populer di kalangan para gadis."


"Tebakanmu tepat sekali, hanya saja mereka tidak menatapku sedekat dirimu," jawab Jack, tatapan matanya masih terus fokus pada jalanan yang mulai tampak sepi. Louisa lagi-lagi tertawa kecil.


"Kita akan kemana Jack?" tanya Loiusa. Dia merasa campervan Jack sudah mulai meninggalkan San Fransisco.


"Entahlah, mungkin ke Los Angeles atau ke Long Beach yang penting kita jauh dulu dari San Fransisco. Selagi aku mencari informasi mengenai organisasi mafia milik Zeus dan bisnis apa yang sedang ia tekuni."


"Maaf jika aku mengganggu liburanmu."


"Tidak masalah, tapi kau tidak berpikir ini gratis, kan?" tanya Jack menggoda Louisa.


"Kau mau apa dariku? Jelas-jelas kau tahu, kau sedang memungut seorang gelandangan. Aku tidak punya apapun untuk menyenangkanmu."


"Nanti jika masalahmu selesai, aku baru akan mengutarakan keinginanku."


...****************...