
Markas Zeus
"Apa kalian terlalu tol*l sehingga tidak bisa hanya menangkap seorang gadis penakut?"
"Ma_af, Tuan."
"Aku tidak mau tahu ayah, aku menginginkan gadis itu, mereka harus bisa menangkapnya," ujar Lucas kesal.
"Tenanglah, Luc. Daddy yakin sebentar lagi kita pasti akan segera menemukannya."
"Kerahkan semua anak buah kita untuk menyisir gedung itu, Dad. Aku tidak mau dia sampai lepas," lanjut Lucas.
"Daddy sedang melakukannya, Luc. Apa kau ingin daddy siapkan wanita untukmu?"
"Tentu saja, Dad."
Lucas pun pergi meninggalkan ruangan Zeus. Sedang para anak buah yang tadi bertugas menangkap Louisa kini masih menunduk menunggu perintah selanjutnya. Mereka tak berani mengangkat kepala, terlebih lagi di sana ada Lucas yang bisa sewaktu-waktu memenggal kepala mereka hanya karena tak becus menangkap gadis buruannya.
"Kalian pergilah dan cari gadis itu sampai dapat."
"Baik, Tuan."
Para anak buah Zeus pun bergegas pergi dari ruangan yang menyeramkan itu. Zeus mengetuk-ngetukkan jarinya. Kemana perginya gadis itu? Namun, saat dia sedang serius berpikir, tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita. Zeus hanya menggelengkan kepalanya karena tingkah gila putranya.
"Aku harus menemukan gadis itu sebelum Lucas menjadi semakin gila."
***
Sementara itu, Louisa dan Jack saat ini sedang menikmati sarapan di sebuah toko roti, Mereka duduk di beranda toko itu sembari menyesap secangkir kopi dan coklat panas. Louisa makan sambil melamun. Jack sesekali melirik gadis itu.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Jack penasaran. Louisa menoleh dan tersenyum canggung.
"Aku hanya sedang berpikir, apakah bagi orang-orang itu, hidupku ini seperti sebuah lelucon."
"Apa aku boleh memberimu saran?" Jack menatap Louisa dengan serius. Gadis cantik itu mengangguk.
"Tentu saja."
"Begini, jika kau merasa hidupmu tidak adil itu adalah hal yang wajar, tapi kau juga harus bersyukur karena kau masih memiliki kesempatan untuk hidup dan merubah diri. Setidaknya kau harus berusaha untuk memperbaiki hidupmu agar kau tidak punya penyesalan apapun kelak. Aku yakin kau bisa Louisa. Tunjukkan pada orang-orang yang memandangmu sebelah mata, jika kau bisa bertahan dan kuat di tengah badai yang sedang melandamu."
"Thankyou, Jack. Aku akan berubah mulai sekarang. Mereka pasti akan menyesal sudah meremehkanku."
"Bagus, aku suka semangatmu. Sekarang masuklah dan pilih beberapa roti untuk menemani perjalanan kita." Jack menyerahkan 2 lembar dollar pada Louisa. Gadis itu menerimanya tanpa ragu. Louisa memesan beberapa potong roti dan juga membeli beberapa bungkus kopi dan coklat.
"Jack, dari mana asalmu?"
"Aku berasal dari Australia."
"Apa kau tidak bekerja, Jack? Maaf jika aku penasaran. Karena sejak kemarin aku terus merepotkanmu, aku takut mengganggu pekerjamu?"
"Aku bekerja freelance. Kau tidak perlu cemas."
"Apa tidak ada lowongan untukku?"
"Memangnya kau mau bekerja sepertiku?"
"Ya, setidaknya aku harus mulai bangkit dan mencari pekerjaan. Aku tidak mungkin selamanya merepotkan dirimu."
"Itu tidak masalah bagiku. Oh, ya. Bagaimana jika untuk sementara ini kau merubah penampilanmu. Yah, kita tak tahu seberapa luas daerah kekuasaan Zeus. Akan lebih aman jika kau merubah penampilanmu."
"Aku tak masalah."
"Baiklah, nanti kita mampir dulu untuk merubah penampilanmu agar tidak mudah dikenali."
Jack berhenti di kota Monterey. Dia masuk ke sebuah toko baju yang tak terlalu besar untuk membeli beberapa kemeja dan kaos. Dia berpikir ingin merubah Louisa menjadi laki-laki untuk sementara waktu. Louisa tak ikut turun karena dia masih terlelap. Jack pun juga tak tega untuk membangunkan Louisa.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Jack masuk ke sebuah cafe dan memesan secangkir kopi. Jack menghisap sebuah rokok saat Louisa turun dan mengedarkan pandangannya. Jack melambaikan tangannya, Louisa tersenyum lebar saat melihat Jack. Sesaat mata Jack terpaku melihat kecantikan gadis itu.
Louisa duduk menghadap Jack. Jack masih terus menghisap rokoknya sembari mengamati wajah Louisa.
"Ada apa?" apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Louisa. Jack menggeleng dan tersenyum.
"Pantas Lucas terus mengincarmu, kau memang cantik," kata Jack berterus terang. Wajah Louisa langsung memerah.
"Terima kasih untuk pujiannya."
"Ambillah paperbag itu. Isinya kemeja dan celana. Selama perjalanan kau harus berpenampilan seperti laki-laki."
"Baiklah, itu tak masalah. Aku juga tidak mau terlihat mencolok."
Jack lagi-lagi hanya tersenyum. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Jack lebih suka menempuh jalur highway karena dia suka melihat laut meski jarak tempuhnya semakin lama dan lumayan jauh.
...****************...